SATU CINTA, DUA BENUA

SATU CINTA, DUA BENUA
06.00 WIB


__ADS_3

Angin pagi masih tersisa basahnya, embun pun masih terlihat menetes di pucuk daun mangga. Iringan burung gereja menari di atas ranting, beberapa ekor lainya turun mencari kerikil jumut di atas tanah, ada pula yang membawa jerami ke sarangnya. Sungguh satu anugerah kebaikan yang tersirat di pagi hari.


Syahrel menempatkan sepedanya di samping pos keamanan, gembok kecil mengikat kunci di rantai sepedanya. Segera ia menghampiri Pak Kardi, petugas keamanan yang di utus Haji Arsyad. Tak disangka, Haji Arsyad sudah tiba lebih awal dari Syahrel.


“Assalamu’alaikum” Syharel mencium tangan kanan Haji Arsyad.


Sukir lagi asik sarapan sebungkus nasi dan kopi yang sengaja Haji Arsyad bawakan untuknya.


“Ente sudah siap Rel?”


“Insya Allah Pak Haji.”


“Kite tungguin cecunguk makan dulu,"entah dari mana istilah cecunguk Haji Arsyad temukan, dan tak tahu arti harfiahnya cecunguk.


“Ente ngeroko Kir?”


“Tidak usah Pak Haji, sudah cukup.”


“Bukannya ane mau nawarin ente, ane cuma tanya ente aja. Masih sukur ane bawain ente sarapan!”


Mimik muka Sukir terlihat malu, yang semula ia pikir Haji Arsyad mau memberikanya rokok barang sebatang.


“Udeh jangan bayakbtingke lagi ente, cepet ane mau bawa ente ke si Anggoro.”


“Kar, ente tunggu di sini ye, tunggu intruksi dari ane.”


“Beres Wan Haji, komando saya terima.”


Tak ada pengawalan khusus yang Haji Arsyad perlakukan kepada Sukir, seperti layaknya orang yang sudah mengenal cukup lama, tetapi sebelumnya, “Ente kabur, tenggorokan ente ane buat nggak bisa makan. Mau ente?”, ancamnya.


“Iii…iya Pak Haji!" Sukir terlihat gugup.


Syahrel, Sukir dan Haji Arsyad berjalan beriringan. Ketiganya terdiam tak sepatah kata pun yang terucap, wajah Syarel sedikit khawatir dan merasa ada yang membuatnya tak sanggup untuk menginjakan kakinya untuk pertama kali di rumah mewah milik Pak Anggoro.


Bukan hanya itu saja, sosok Dita yang membuatnya tak mampu tuk berkata apa pun, dan masih teringat umpatan Dita yang diucapkannya saat Syahrel dituduh menyembunyikan Sisil, sepupunya.


“Mau kemana Pak Haji?” Sapa salah seorang warga yang mengenal Haji Arsyad.


“Ini ane mau ke rumah Bapak Dewan, Anggoro. Biasa ada urusan dikit.”


Beberapa meter berjalan, datang lagi warga yang mencium tangan beliau dengan pertanyaan yang sama.


“Mau kemana Pak Haji?”


“Ade urusan sedikit.”


Kurang lebih Lima orang yang mempertanyakan hal serupa kepada Haji Arsyad. Meskipun lebih banyak yang menyapanya dengan senyum atau ucapan salam biasa.


Tercermin siapa sebenarnya Haji Arsyad,borang kaya yang tak pernah angkuh dengan hartanya, sampai detik ini saja ia mau berjalan kaki hanya mengawal Sukir dan membantu Syahrel menyelesaikan masalahnya.

__ADS_1


“Sampe juga ane di rumah majikan ente,"ucapnya di depan gerbang halaman yang tinggi.


Tangan Sukir menjalar ke balik pintu gerbang, ada saklar bell. Lelaki mengenakan kaos hitam terlihat di sela jeruji besi.


“Kir, dari mana saja sampean, pulang pagi. Untungnya tuan belum bangun.” Mang Karman membukakan pintu gerbang.


“Sudah cepat buka, jangan banyak tanya.”


“Non Dita sudah bangun?” Tanya Sukir.


“Belum Memangnya ada apa Kir?”


“Cepat bangunkan mereka, nanti sampean juga tahu,”Sukir berbisik


“Walah, urang bikin masalah pisan," seloroh Mang Karman dengan bahasa Sunda.


Satu jam lebih, mereka menanti Pak Anggoro. Haji Arsyad terlihat kesal, ia merasa dipermainkan. Kalau tak memandang agama, mungkin Haji Arsyad sudah bertindak membabi-buta.


Di menit ke lima belas dan jarum panjang mulai bergeser arahnya. Muncul juga Pak Aggoro, Ibu Rosdian Sirait dan putri tunggalnya diikuti Bi Darsih serta Ibunda Sisil, nyonya Inge yang sejak semalam menginap di kediaman Anggoro.


“Kebetulan ente semua pada ngumpul.”


“Adaapa Pak Haji?”Tanya Pak Anggoro santun, karena ia tahu siapa Haji Arsyad.


Kalau beliau mau bergelut di dunia politik, mungkin empat tahun lalu ia sudah duduk di Senayan.


“Maksudnya?” Nyonya Rosdian kurang mengerti apa yang diucapkan Haji Arsyad.


“Sukir coba ente jelasin ke majikan ente.”


Sukir tertunduk dan tak berani menanatap muka majikannya.


“Anu tuan, anu nyonya. Saya meneror rumah Den Syahrel dengan surat kaleng.”


Syahrel menunjukan tiga lembar barang bukti, sementara Haji Arsyad pamit sebentar.


“Kalian teruskan saja pembicaraan ini, ane mohon izin sebentar ada urusan sedikit.”


Syahrel terkejut dengan ucapan Haji Arsyad, dia bingung dengan ulah beliau.


“Mau kemana Pak Haji?”


“Ente jangan banyak tanya, dengerin aja itu si Sukir.”


“………..,”


Syahrel mangangguk, mencoba mengerti apa yang diperintahkan Haji Arsyad. Mungkin ada pekerjaan yang menyangkut usahanya.


Mereka melanjutkan lagi penejelasan yang dipaparkan Sukir. Dan menjelaskan kromologis peristiwa semuanya. Banyak pernyataan Sukir yang membuat semua yang hadir terperangah.

__ADS_1


“Sebenarnya botol minuman yang tuan temukan itu milik saya atas pemberian Non Sisil yang pada saat itu ia depresi dengan kehamilanya.”


“Maaf Tuan...Nyonya saya berbohong selama ini, tetapi semua itu saya lakukan karena saya simpati dengan masalah yang dihadapi Non Sisil. Bukan itu saja, saya meneror Den Syahrel pun karena perintaaah….," penjelasan Sukir terputus.


“AKU!!!” Sisil muncul bersama Haji Arsyad dan Pak Kardi.


“Karena selama ini, aku menyimpan perasaan cinta kepada seorang lelaki yang berbeda


agama, latar belakang status sosial, yang aku anggap tidak mungkin, hingga akhirnya aku mencari tempat untuk aku curahkan isi hatiku, kepada Ivan. Lelaki yang juga mempunyai permasalahan sama dengan aku, karena cintanya tak kamu sambut Dita. Dan akhirnya kami merasa nyaman untuk berbagi cerita dan cinta. Bodohnya Aku, hanyut dalam rayuan lelaki gombal seperti dia”.


Seisi rumah tercengang dengan masalah yang selama ini membuat semua tak nyenyak tidur.


Dita meneteskan air mata, karena hal ini di luar dugaanya. Sisil yang ia percayai ternyata mengkhianatinya. Syahrel pun tersudut dalam masalah ini, titik permasalahnya berpangkal dari dirinya.


Syahrel pun tak tahu harus berbuat apa, dan secara tidak langsung terungkap perasaan Syahrel yang selama ini ia simpan. Semakin jelas, ternyata lelaki yang selama ini Dita cintai menyimpan cacat yang fatal.


"Aku minta maaf, untuk semua terlebih kepada mama, Bunde Ros, Amang Boru, karena aku, nama baik kalian tercoreng. Aku tak mampu menjadi seorang yang kalian harapkan," tangisnya tak dapat ia simpan, sesalnya.


“Untuk kamu Dita, maafkan aku yang telah merebut dia darimu. Tetapi ingatlah, kekuatan cinta dapat merubah semuanya. Tak ada yang dapat menghalangi cinta, ungapkan semua perasaan cintamu, belajarlah berani menghadapi kenyataan dan jangan kamu simpan perasaanmu, belajar untuk menentang sesuatu yang tidak berkenan di hati kamu," masih tergenang air mata Sisil.


“Dan kamu Syahrel, cobalah lebih sensitif akan perasaan wanita. Aku tidak menyalahi kamu, tetapi seharusnya kamu rasakan disetiap perhatian yang aku berikan, itu semata karena aku jatuh hati kepadamu. Aku wanita, yang tabu mengungkapkan perasaan terlebih dahulu, tetapi seharusnya kamu mengerti. Memang banyak wanita yang berani mengungkapkan perasaanya, tetapi harga diri wanita tercermin dari sikap dan lakunya. Karena aku menyadari, aku bukanlah wanita yang mudah menggumbar kata cinta, tetapi wanita mudah tersanjung akan perhatian yang diberikan seorang lelaki.  Saat inilah aku ungkapkan perasaanku, agar jelas permasalahan yang kini kita hadapi, dan dengan kejadian ini aku bisa banyak belajar tentang apa itu perasaan, apa itu cinta dan batasan-batasan cinta. Untungnya ada Haji Arsyad yang bisa memberikan aku pencerahan akan hakikat hidup, walau hanya melalui telepon tadi malam, ia meyakinkan aku untuk berani menghadapi kenyataan ini semua, karena semakin aku menghindari masalah ini, semakin aku dihantui rasa bersalah. Dan untuk Mas Sukir, terima kasih sudah menjaga rahasia yang aku percayakan kepada mas, walau kurang hati-hati dalam menjaganya,"isak tangisnya meredah.


“Maafin mama nak, yang tidak mengerti perasaanmu,"Nyonya Inge membasuh sembab matanya dengan tisu.


Seisi rumah dibuat Sisil tercengang, dan menyadari akan kurangnya perhatian orang tua dan selalu menuntut anak untuk menjadi apa yang mereka inginkan, tetapi harapan berbeda dengan kenyataan.


Syahrel pun menghampiri Sisil


“Maafkan aku Sil, aku tak pernah tahu perasaan yang kamu simpan untukku, dan aku bukanlah lelaki yang berani untuk mengungkapkan kata cinta. Semula aku berpikir, lelaki itu orang yang kamu pilih untuk menemani disetiap hari-harimu, itu yang ada di benakku saat pertama aku lihat kamu asik bercanda di restauran dengan pria yang aku baru pahami, itu lelaki yang sering Dita ceritakan kepadaku. Tetapi dari kamu aku banyak belajar sekarang. Sekali lagi maafkan aku Sil”.


Seakan tak mau ketinggalan juga, Haji Arsyad menghampiri Sukir, “ini hand phone ente yang ane pinjem semalam.


Tanpa sepengetahuan ente, ane balik lagi ke gudang. Ane ngeliat ente tidur pules banget, takut tidur ente keganggu ane nggak berani bangunin ente, takut dose," dengan gaya bahasa Betawi campur Arab.


"Tidak apa-apa Pak Haji," jawab Sukir. Haji Arsyad membalasanya dengan senyum.


“Tapi jangan diulangin yah Pak Haji, dosa”, sindir Sukir. Kontan senyum berganti raut


muka kesal. Tak lama, jemari lembut dan dingin mengejutkan Haji Arsyad, “Masya


Allah, ente ngagetin ane.”


“Terima kasih Pak Haji atas saran dan nasehat yang sudah diberikan, hingga saya mampu hadapi masalah berat ini”, salam santun tersentuh hangat jemarinya.


“Iye. Saran ane, ente kudu sabar kalau mau jadi wanita yang kuat”.


Dengan air mata, Sisil mencoba memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan dari tekanan jiwa dan kesalahannya yang selama ini membayanginya.


Tetapi kenyataan yang ada, jauh dari dugaan. Justru semua memaafkannya, dan berniat merawat Sisil sampai proses bersalin.

__ADS_1


__ADS_2