
Belum sempat Syahrel mengganti pakaiannya, baru saja ia menyelesaikan sholat isya di masjid dan maksud hati selepas pulang ia diundang Haji Arsyad untuk menemani ia berdiskusi dan tukar pendapat.
Namun rencanya terganjal masalah yang tidak diduga. Sekelompok orang mendatangi rumahnya. Kakinya bergetar, detak jantung pun tak menentu, desir keringat dingin bercucuran dari pori-pori kulitnya.
"Ada apa gerangan?Apa yang terjadi dengan Bunda?!!" Ditanya Syahrel dalam hati.
Sepeninggalannya ia tak perhatikan gejala aneh dengan Bunda, tetapi mengapa sepulangnya Syahrel dari masjid sudah banyak orang mengunjungi rumahnya, ia pun berlari mendekati rumahnya, dan menangis, ia menyesal meninggalkan bunda pergi ke masjid.
Tak berapa jauh ia mendekati pelataran, sosok gadis yang ia kenal dan ia harapkan cintanya muncul di hadapanya. Walau sedikit heran tetapi setidaknya melegakan hatinya yang kalut dan khawatir dengan bundanya, air matanya pun dihela dengan kopiah rajutan dari bunda.
“Ada Apa Dit, tumben?"Tanya Syahrel dengan senang hati menyambut kedatangan Dita untuk kesekian kali.
“Sudah, jangan banyak basa-basi!!!”
“Semakin tidak mengerti aku Dit?!!”
“Topeng. Macam orang beragama, tapi di hati loe menyimpan sifat binatang!”
Syahrel semakin bingung dengan perangai Dita yang ia kenal lembut dan baik, kini berganti gadis yang liar, ucapanya pun tak mencerminkan seorang terpelajar. Dua lelaki kekar berdiri di belakang Dita, postur tubuhnya besar dan berotot di sekujur lengan dan belikatnya.
“Hati-hati kalau kamu bicara, jangan kau bawa agama dalam urusan ini.”
“Permasalahannya apa pun aku tak tahu," tambahnya kesal.
Tak lama bunda keluar dari balik daun pintu dan menangis.
“Masya Allah, kenapa Bunda?,”
“Sudahlah nak, baiknya jujur saja dimana kau sembunyikan Sisil?!”
“Apa maksudnya Nda?”
“Mereka bilang kamu menghamili Sisil dan menyembunyikannya!”
Syahrel mendekati Bunda dan memeluknya, seraya mengusap air matanya yang tumapah membasahi pipinya.
“Sudah Bunda jangan menangis biar aku selesaikan masalah ini.”
“Yakinlah, aku tak sekeji dugaan Bunda.”
Di dalam rumah, Sukir, Karman dan Nyonya Rosdian menatap Syahrel dengan buas, seolah-olah siap menerkam mangsanya.
“Dimana kau sembunyikan Sisil?” Tanya Nyonya Rosdian
“Dari mana anda tahu, saya menyembunyikan Sisil?”
“Tak bisa anda berbicara baik-baik, selayaknya orang berpendidikan?” Tambahnya.
“Untuk orang seperti loe nggak perlu dengan cara baik-baik," Dita melempar makian untuk
Syahrel.
“Kelak kau akan menyesal dengan tuduhanmu, Dita," gumam Syahrel di hati.
Dita merasa menang karena mempunyai saksi akurat tentang perkara ini.
“Saya tanya, dari mana anda memperoleh informasi kalau saya menghamili Sisil dan menyembunyikannya?" Kesabaran Syahrel di ujung batas.
“Sudah jawab dulu, dimana kamu sembunyikan Sisil?” Selak salah satu dari lelaki yang diduga bodyguard bayaran.
“Anda siapa dan punya kepentingan apa dalam masalah ini?”
Kedua lelaki itu geram dan menahan emosi, kedua tangan sudah mengepalkan jemarinya.
“Ini salah paham,"Syahrel membela diri.
Syahrel memeluk Bunda dan berusaha menenangkan Bunda yang tidak henti-hentinya menangis.
“Tak ada penyamun yang mau berkata jujur," Celetuk Nyonya Rosdian.
“Maaf tante, dari mana informasi yang menganggap saya menghamili Sisil dan menyembunyikannya?" Berkali-kali Syahrel mempertanyakan hal tersebut.
Sukir sang narasumber tunduk terdiam dan tak banyak bicara. Mata Syahrel memperhatikan gelagat semua yang hadir.
“Pak Sukir," nama itu keluar dari mulut Dita. Syahrel sudah menduganya.
“Pak Sukir, sayakembali bertanya kepada bapak. Apa yang anda tanggkap dari pembicaraan saya dan Sisil?”
“A…aa…anu Den, Non Sisil hamil” Lelaki kurus dan berkumis tebal itu menjawabnya dengan gugup.
“Yah, itu benar. Tetapi tahukah anda maksud dan tujuan ia datang ke kios saya?”
“Tidak Den.”
__ADS_1
“Mengapa anda berasumsi saya yang menghamilinya dan lebih kejamnya lagi anda menuduh saya menyembunyikannya, dari mana faktanya?” Syahrel berusaha memberikan pengertian dan mencari kebenaran tentang perihal tersebut.
“Tidak Den, saya tidak menuduh demikian.”
“Lalu mengapabmeraka mendatangi saya, seolah-olah menghakimi saya dengan demikian dan yang saya sayangkan bunda harus terseret dalam masalah ini?”
“Sudah jangan banyak bicara tunjukan dimana Sisil?” Dita kembali berguming. Syahrel tak menyangka gadis tambatan hatinya berlaku buas.
“Silahkan periksa rumah saya, kalau benar saya menyembunyikan Sisil silahkan bawa saya kepada yang berwajib atau kalian mau menghakimi saya, silahkan!”
Dua bodyguard memerikasa seisi rumah, tak lama hanya seperempat jam. Karena ruangan rumahnya yang sempit. Dan keduanya melaporkan tak ada yang mereka temukan.
Akhirnya dengan tangan kosong mereka meninggalkan kediaman Syahrel, tanpa kata maaf .
“Aneh, orang yang mengaku terpelajar tetapi tak ada sedikit pun etikanya," ketusnya kesal.
Mata Syahrel tak lepas mengantar kepergian Dita, yah hanya tatapan mata yang menemani Dita sampai ke ujung pintu, gadis yang membuatnya penasaran hingga detik ini, dengan kejadian ini Syahrel berusaha memaklumi keadaan Dita.
è oOo ç
Tugasku sekarang meyakini bunda agar pikirannya tak berlarut dengan masalah yang aku hadapi, tak bisa aku melihat bunda murung dan gelisah dalam tidurnya. Mataku tak hentinyabmelihat gelagat tidur bunda yang sebenarnya tak tidur, matanya menyimpan bahasa seorang ibu yang tak bisa tidur nyenyak saat anaknya dirundung masalah.
Hampir lima menit sekali bunda mengumpat matanya yang belum terpejam di balik selimut
koyaknya. Aku yakin setiap orang tua pasti tak membiarakan anaknya merudung malang dalam masalah, walau tak banyak yang dapat mereka lakukan, namun kegelisahan mereka menjadi bahasa akan kasih dan kehangatan yang ia berikan.
Begitu halnya dengan Bunda, air mataku sering sekali aku seka saat melihat Bunda terlelap tidur, aku menyesal tak bisa membahagiankan orang tuabsatu-satunya.
Sering sekali aku membuat bunda menangis, dengan ulahku yang memang tak sengaja aku perbuat.
Masih ingat kecelakaan yang terjadi beberapa waktu lalu, saat aku lalai mengendalikan sepadaku, hingga aku terserempet mobil Tuan Anggoro. Itulah saat pertama kali aku, Sisil dan Dita mulai terlihat akrab. Bukan saja meninggalkan luka, tetapi juga meninggalkan perasaanku yang sampai saat ini aku pun tak tahu sebagai apa aku ini.
Saat itu juga air mata Bunda jatuh karena tidak suka dengan kedekatanku dengan Dita khususnya. Mungkin yang menjadi alasan mendasar adalah perbedaan yang membuat Bunda berat untuk menerima semua ini. Aku pikir air mata yang keluar menjadi air mata yang tidak boleh lagi keluar dari seorang yang aku anggap telapak kaki keberkahan, karena di bawah telapak kakinyalah syurga itu diletakan.
Ternyata harapanku lain dari kenyataan, hari ini aku membuat hatinya terluka kembali. Sungguh penyesalan yang teramat besar untukku, anak yang tak pandai berterima kasih. Semakin aku berjanji, semakin mudah pula aku mengingkari.
Belum selesai Syahrel merampungkan catatan hariannya, suara asing mengusik ketenangan malam.
“Prranggg," kaca rumahnya di timpah seseorang yang tak meninggalakan idenditas serta bentuk wajah.
Syaraf kaki seakan sudah tak melekat lagi di sela tulang, keringat dingin mulai bercucuran. Dalam gelap Syahrel memberanikan diri mendekati sumber suara tersebut. Sebongkah batu yang di bungkus kertas putih.
“LHO UDAH MENGUSIK HIDUP GW."
Kata itu yang tertulis dalam bungkus batu tersebut, rak tahu ulah siapa.
“Untungnya Bunda tak terbangun.”
Syahrel tidak begitu serius menanggapi hal tersebut, namun tidak ada salahnya ia mengantisipasi kemungkinan yang akan m terjadi. Ini pasti ada hubungannya dengan masalah yang Syahrel hadapi. Tetapi anggaplah angin lalu, kalau terlalu ia pikirkan, ini akan menjadi beban yang berat.
è oOo ç
Masih basah pembicaraan di kediaman Pak Anggoro, seputar menghilangnya Sisil. Hari ini semua keluarga berkumpul, baik dari pihak orang tua kandung Sisil, dan keluarga besar Anggoro.
Pembahasan hanya satu, dimana Sisil berada. Delapan kepala begitu serius dalam satu meja yang sering digunakan Tuan Anggoro mengadakan rapat kecil dengan rekan kerjanya.
Tak ada senyum yang keluar dari bibir mereka, tatapan mata mereka begitu dingin melihat satu sama lain. Pak Karman, Bi Darsih dan Pak Sukir turut mengikuti pembahasan ini.
Sukir asik berkutit dengan Hand phone-nya yang ia sembunyikan di bawah meja, Mang Karman dan Bi Darsih terlihat pula jenuh mengkuti agenda acara hari ini.
Mungkin mereka tak terbiasa dengan hal semacam ini, cara mereka menyelesaikan masalah, hanya sebatas perbincangan biasa saja, tidak seperti apa yang mereka ikui sekarang.
Nyonya Inge sempat kaget saat mendengar anaknya hamil, dia tidak menyangka. Sisil yang dikenal anak yang santun dan penurut itu, tiba-tiba berubah menjadi anak yang liar. Ada apa gerangan dengan putriku? Tanda tanya besar di hati sang Mamah.
Hasil pertemuan kali ini menarik satu kesimpulan, pencarian Sisil ke teman-teman dekatnya, serta mencari informasi dari sanak saudara yang terdekat, tidak menutup kemungkinan Sisil tinggal bersama sanak saudara.
Dan pertemuan selanjutnya dua hari ke depan. Saat semuanya meninggalkan ruangan, hanya Sukir yang masih asyik berkutit dengan Hand phonen-nya.
“Kir, maneh teh norak pisan kaya baru punya HP saja,"sindir Mang Karman dengan logat sundanya.
“Iya, sampean norak Kir," Bi Darsih menambahakan.
“Ayo kembali bertugas, acaranya miting-mitingannya sudah selesai," celah Mang Karman.
“Sampean-sampean iki sirik saja”, Pak Sukir membela diri dengan gaya bicara, penekanan saja yang kental dengan bahasa Jawa.
Mereka pun beriringan meninggalkan ruangan tersebut, Sukir masih asik mengetik SMS, jemarinya terlihat kaku, ia mengeja satu persatu huruf dari keypad handphone. Acap kali Sukir pun berbisik saat menerima telepon.
“Kir, pembantu mana lagi yang jenenge satroni? Inget bojo sampean di Klaten sana!" Sindir Bi Sarsih dengan nada menggoda. Sukir tak menghiraukan, ia tetap melanjutkan pembicaraan dari ponselnya.
Nyonya Inge terlihat meninggalakan kediaman Pak Anggoro setelah usai berpamitan dengan keduanya. Cembung kantung air mata terlihat membesar, mungkin lantaran letih memikirkan keberadaan putrinya itu.
“Kenapa kau takbcerita sama mama nak,bkalau kau punya masalah," keluh Ibunda Sisil dalam hatibyang hampir kehilangan kompas dalam mencarinya.
__ADS_1
“Mama tak akan memarahi kau. Kalau begini, kemana mama harus mencari kamu. Pulanglah nak,"tambahnya.
Sedari kecil
Nyonya Inge terpisah dengan Sisil, karena permintaan kakaknya, Rosdian Sirait.
Menurut tradisi, jika pasangan suami-istri belum juga dikaruniakan keturunan, disarankan mengasuh anak sebagai anak pancingan.
Tradisi ini dipercayai sudah berpuluh-puluh tahun lamanya. Resep ini terbilang mujarab, hampir rata-rata mereka yang mempercayai hal ini, berhasil mempunyai keturunan. Entah pembenaran menurut agama belum diketemukan hukum tersebut.
èoOo ç
Sudah dua hari Bunda tak banyak bicara kepadaku, bibirnya hanya berucap sebatas mengingatkanku sholat dan makan. Selebihnya hanya diam, membuatku terasing di rumah padahal kami hanya tinggal berdua saja, kalau bunda terdiam begini kepada siapa aku bicara.
Aku menyadari walau ini tak sepenuhnya kesalahanku, semua belum jelas siap yang benar dan siapa yang salah.
Ada hal yang membuat aku sedih, semenjak kejadian malam itu, bunda meninggalkan pekerjaanya di rumah Pak Anggoro.
Walau belum ada keputusan bahwa bunda diberhentikan, tetapi beliau punya alasan sendiri. Aku tak berani mempertanyakan hal tersebut, karena ini akibat dari ulahku.
Semakin berat tanggungan hidup, andai benar
Bunda berhenti kerja di rumah Pak Anggoro. Aku tak mampu melarangnya, itu hak Bunda. Yang pasti, aku menyesali kejadian ini, bukannya membahagiakan beliau justru aku membuat bunda terancam kehilangan pekerjaannya.
Malam-malamku semakin gelisah memikirkan solusi yang tepat untuk keluar dari masalah ini.
“Ya Allah, kini terasa betapa lemahnya aku. Ampuni segala khilafku,"aku tengadahkan tangan dalam hening malam, karena hanya pada malam hari aku temukan koreksi kehidupan.
Yaa Rabb, jangan kau berikan ujian yang hamba tak mampu memikulnya.
Kasihanilah ragaku yang rapuh dalam keterbatasan.
Wahai pemiliki jiwa-jiwa yang tenang, Tuhan yang Maha Mendengar jerit hati umatnya, Jangan kau biarkan aku redup dalam kasih dan sayang Mu.
Jangan pula Engkau siksa bunda atas kesalahanku.
Yaa Rabb, tidak cukupkah air mata penyesalan yang keluar dari dua katupnya ini menjadi wakil untuk sesalku.
Engkau Maha Tahu besarnya itikadku untuk membahagiakan Bunda, tetapi semakin besar keinginan itu semakin besar pula angin yang menerpa.
Sering aku melihat Bunda menyeka air matanya karena kesalahanku. Berikan aku kekuatan untuk membahagiakan beliau, jangan kau renggut umurnya sebelum aku mampu mengukirkan senyum di dua bibir yang selalu basah dengan doa untukku.
Yaa Rabb, dalam keberkahan hening malam, perkenankanlah doaku.
Pulpen masih menempel di jemari, berlahan mata Syahrel terpejam dan tak lama ia tertidur, sudah sering hal ini ia lakukan.
Terlihat air mata masih membasahi dua sela kelopak matanya. Selang lima belas menit, “bletaaakk”, suara itu terulang kembali di hari kedua.
Syahrel terbangun, spontan ia membuka jendela, berlahan mencari sumber suara langkah orang yang berlari. Sesigap itu pula, langkah kakinya beranjak menghampiri benda yang dilempar oleh orang misterius itu.
Lagi-lagi secarik kertas, kali ini tulisan tebal berwarna biru.
AKU TAHU, HIDUPMU PUN KINI TAK TENANG. SAMA HALNYA SEPERTI AKU. bertanda ‘ HATI YANG TAK PERNAH KAU TAHU’.
Ucapan kalimat ini membuat Syahrel termenung sejenak dan bertanya pada akal dan hatinya, tak pernah ia menyakiti hati siapa pun, tetapi siapa gerangan yang merasa ia sudah ku lukai perasaanya. Siapa yang diam-diam menyimpan perasaan cinta sebesar ini.
“Dita, Zahra, Sisil?!” Syahrel mengingat teman lawan jenisnya hanya mereka bertiga.
“Dita?”
Kejadian ini muncul semenjak kedatangan Dita dan keluarganya ke rumah, kalau memang Dita yang melakukan hal ini, aku merasa tersanjung. Akhirnya Apa yang aku rasakan, ia pun merasakan juga.
“Ah, tetapi tak mungkin Dita sampai sebegininya mengagumi seorang lelaki. Toh, setahuku ia mencintai teman sekampusnya”, hati dan akal menjadi pertimbangan hal ini.
“Zahra?” Syahel mulai lagi bertanya pada hatinya.
Dia seorang gadis soleha dan dari orang tua yang terpandang, tidak mungkin juga ia berbuat hal bodoh seperti ini. Kalau memang dia mau mencari yang lebih dari aku pun banyak.
Haji Arsyad orang yang paling pintar mencarikan putrinya pendamping hidup. Buktinya, walau ia masih dalam pendidikan banyak lelaki yang mencoba melamarnya untuk menyematkan cincin pernikahan di jari manisnya, jadi tidak mungkin Zahra.
“Atau... Sisil?” Terka Syahrel di hati.
Ah, tidak mungkin Sisil, jelas-jelas ia hamil oleh lelaki yang aku lihat bersamanya waktu di restoran. Sekarang aku pun tak tahu dimana rimbanya, dan karena ia pula aku hadapi masalah ini.
“Lalu siapa ya?" Sudah tak ada lagi dugaan Syahrel, karena yang selama ini dekat dengan ia, hanya Sisil, Dita dan Zahra, walau sebatas berteman.
Beberapa detik pikirannya termangu kosong, jemarinya masih menggenggam surat kaleng, semula Syahrel berfikir apa yang ia alami sekarang ini hanya bisa terjadi di film atau sinetron saja, kini ia mengalami hal serupa.
Tak banyak yang Syahrel bisa lakukan, dua kertas itu ia satukan dalam lipatan buku tulis.
“Ya Allah, cobaan apa lagi ini”, keluhnya seiring menghembusan nafas dalam-dalam. Akhir-akhir ini Syahrel kurang istirahat, kulit wajahnya terlihat pucat.
Sejak saat itu juga, perutnya tak terisi makanan, rasa laparnya ia lawan hanya dengan segelas teh hangat atau es teh manis.
__ADS_1
Hampir menjelang subuh, matanya tak lagi redup mengantuk. Ia gelisah dengan masalah yang ia hadapi, pikirannya berkutat mencari jalan keluar,perlahan ia menemukan langkah-langkah yang mesti ia lakukan.
“Mulai nanti malam," sentaknya dengan sedikit senyum.