SATU CINTA, DUA BENUA

SATU CINTA, DUA BENUA
Cinta Apa Angkot


__ADS_3

Keputusan yang cukup berat mesti diambil oleh Syahrel, ia tidak mau melihat bunda menangis lagi. Isaknya terasa sesak di dada. Syahrel berjanji di hati, pantang membuat bunda menangis lagi.


“Bunda, maafkan Syahrel," sambil mendekap hangat pelukan bunda.


“Jangan karena cinta kamu terlena nak.”


“Iya Bunda. Syahrel pamit jalan. Assalamu’alaikum," sambil melaju dikayuhnya sepeda dinas.


Masih terbayang perangai Dita. Hubungan mereka memang baru sesaat, mumpung belum terlalu jauh mengenalnya tetapi tak ada jarak sedikit pun. Pelan sekali Syahrel mengayuh sepeda, koran dilempar dari rumah ke rumah pelanggannya.


Tak seperti biasa, mata tertunduk memperhatikan jalan, terlebih saat melalui rumah Pak Anggoro, sepeda dikayuh secepat mungkin seolah tidak mau memperhatikan rumah yang beberapa hari lalu membuatnya penasaran dengan gadis sintal berambut panjang itu.


Nasihat Pak Haji Arsyad terngiang di telinga.


“Ingat Rel, jangan karene orang yang baru ente kenal, ente durhake ame orang yang udeh ngandung dan besarin ente," ucapan Haji Arsyad tersimpan di hati.


Meski mulut mengatakan mau menjauh tetapi harapan untuk bertemu Dita masih Syahrel


nanti. Mencoba menghapus segala perangai, membohongi hati kecil untuk mengatakan ‘aku cinta dia‘.


“Tin tin..,"klakson panjang mengejutkan Syahrel.


“Woi….! Mata loe buta?” Teriak lelaki berkumis di dalam mobil. Kaca terbuka otomatis, senyum gadis manis berucap panik.


"Rel, maaf ya!” Gadis itu segera menghampiri


Syahrel. Darah segar keluar dari pelipis mata, pandangannya pun buram. Syahrel terpejam, tak sanggup mengangkat kepala. Lelaki berkumis pun ikut panik setelah mengetahui si majikan mengenal Syahrel.


“Maaf  Non, dia melamun," lelaki itu membela diri.


“Cepat bawa dia ke rumah sakit!”


Di pelipis mata ada luka enam jahitan. Tubuh Syahrel terkulai lemas di tempat tidur UGD, beberapa kali ia sempat pingsan. Gadis itu gugup menanti penjelasan dari dokter mengenai keadaan Syahrel.


“Dokter,teman saya tidak apa-apa kan?”


“Kondisi badannya belum pulih benar. Masalah pendarahan di luka sudah kami atasi, hanya tinggal menunggu hasil CT scan.”


“Berapa lama?”


“Dua jam dari ia masuk ruangan laboratorium.”


“Tapi dia tidak apa-apa kan Dok?”


“Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa," jawab Dokter dengan senyum, menenangkan kepanikannya.


“Terus bagaimana Dok?”


“Tunggu saja hasil CT scan, oke?” Pria berkemeja putih itu meninggalkan halaman UGD.

__ADS_1


Di lorong rumah sakit, dari pintu masuk wanita tua mengenakan kerudung hitam berjalan tergesa-gesa, di belakang wanita tua itu seorang gadis cantik menemani langkahnya.


“Dimana Syahrel?” Tanya Bunda.


“Ada di dalam, tetapi tidak boleh masuk dahulu sebelum ada hasil CT scan.”


“Bagaimana kejadianya, Sil?” Dengan cemas Dita bertanya kepada Sisil.


“Pak Sukir menabrak sepeda Syahrel di perempatan jalan depan komplek. Syahrel melamun, kami sudah memberikan klakson tapi dia tidak dengar," Bunda pun mendengar penjelasan gadis yang biasa disapa Sisil.


Air matanya menggenang di pelupuk mata. Sisil menceritakan kronologis kejadian. Bunda pun tak henti berdoa, memohon keselamatan Syahrel.


Dua jam kurang lima belas menit, perawat memanggil keluarga Syahrel. Bunda, Sisil dan Dita.


“Ini hasil CT scan dan tinggal menunggu


penjelasan Dokter Irwadi," tak lama sang dokter yang dinanti datang juga.


“Ibu orang tua dari Tuan Syahrel?” Dokter Irwadi menerka.


“Benar Dok.”


“Syukur tidak ada luka dalam," diamatinya selembar plastik transparan hasil foto sinar


X.


“Malam ini kemungkinan Tuan Syahrel kami bolehkan pulang," puji syukur mereka panjatkan.


“Dok, apakah kami sudah bisa melihat keadaan Syahrel?”


“Oh, boleh... Silahkan.”


Di dalam ruangan, terkulai tubuh kurus dengan bibir pucat. Di pelipis mata kain kasa dan plester menempel.


“Bunda…,"lesu Syahrel menyapa.


“Kamu tidak apa-apa nak?”


“Tidak apa-apa Bunda.”


“Rel…,"suara lembut keluar dari bibir Dita.


“Dita…”


“Maafin supirku ya?” Sisil pun menyela sapa.


“Ah tidak apa, aku yang ceroboh.”


“Apa yang kau rasakan Rel?”

__ADS_1


“Hanya sedikit nyeri di pelipis Bunda,"jemari tangan mencoba menyentuh luka.


“Aku tebus dulu obatnya ya tante?" Tawaran Sisil karena ini sudah menjadi tanggung jawabnya.


“Terima kasih  nak,"dengan tatapan yang teduh.


“Aku yang minta maaf," masih tersimpan di paras wajah Sisil rasa bersalah, kepanikan ikut menyertai langkahnya guna menebus resep obat yang diberikan Dokter Irwadi.


Dita tak dapat berkata sedikit pun, pijar tatapan wajahnya ikut berdoa atas kesembuhan Syahrel.


Pandangan Bunda begitu dingin melihat Dita yang duduk di samping tubuh lesu Syahrel. Sesekali Syahrel berusaha duduk bersandar, tetapi kondisi tubuhnya belum memungkinkan.


Jemari tangan Dita tiba-tiba memegang erat tangan Syahrel yang tertutup selimut garis hitam.


“Sabar ya Rel," ujar Dita dengan suara parau.


Syahrel hanya menganggukan kepala seiring melepaskan sentuhan lembut jemari Dita karena ia kembali mengingat nasehat Haji Arsyad.


“Maaf...," perlahan Dita melepaskannya. Bunda sibuk membersihkan luka ringan di kaki Syahrel, seolah tak menyaksikan kejadian yang baru saja terjadi.


“Sudah Bunda, Syahrel sudah merasa agak mendingan." Syahrel menghela tangan bunda yang tiada henti membasuh lukanya. Sisil tiba di paviliun Flamboyan kamar 302 yang ditempati Syahrel.


“Ini obatnya," Sisil datang dengan nafas tersengal.


“Terima kasih, Sil. Kamu sudah terlalu baik,"puji Syahrel saling beradu pandang.


“Kamusudah mau pulang Rel?”Sela Dita dengan tatapan dingin, seolah tak mau hati Syahrel berpaling darinya.


Syahrel mengangukkan kepala, memberi isyarat dia mampu untuk bergegas pulang. Bunda menuntun Syahrel berjalan, tertatih meninggalkan kamar tersebut.


“Naik mobil ku saja Rel,"Sisil mengajukan penawaran.


“Lebih baik kamu cek dulu mobil papa ada yang lecet atau tidak. Kalau ada yang lecet, kamu harus bertanggung jawab atau…..," Dita sedikit mengancam.


“Biar kami naik taxi saja,"jawab Syahrel.


“Jangan, kondisi kamu belum pulih seratus persen Rel," Ucap Dita.


“Biar kamu bareng Dita, aku ke bengkel dulu dengan Mas Sukir9"Sisil mengalah.


Terpaksa Syahrel memilih ikut bersama Dita. Bunda hanya mengikuti kemauan mereka saja, yang penting bisa kembali ke rumah dan secepat mungkin kesehatan Syahrel  dapat pulih seperti sediakala.


Selama perjalan, tak sepatah kata pun keluar dari mulut Syahrel dan bunda. Suasana jadi sedikit canggung. Sampai akhirnya Dita memberanikan diri.


“Tante, mampir dulu di toko buah ya?”


“Kita langsung pulang saja!” Jawab Bunda.


“Oh, ya sudah deh." Dita merasakan sambutan yang kurang baik.

__ADS_1


Batin Syahrel menjerit, memahami kebaikan Dita, tetapi ada bunda yang harus ditaati dengan kerendahaan hati. Syahrel merasakan ada celah hati yang ingin ia berikan.


Ya, ada kata yang tersimpan menanti waktu yang tepat. Ada ikrar yang tertahan untuk terucap. Tetapi semua ada kata kunci yang sampai kepada sang pencinta, doa dan keikhlasan dari bunda.


__ADS_2