
“Rel, apa saja yang kamu lakukan di luar sana?Tak pernah bunda tahu," Bunda sudah lama merasakan
gelagat aneh Syahrel, yang sering meninggalkannya sendiri.
“Percayalah bunda, tak ada tinggkahku yang melanggar aturan. Aku bantu-bantu teman saja.”
“Bukan bunda tak percaya nak, tetapi janganlah terlalu sering kamu tinggalkan bunda seorang diri, tidakah kamu khawatir kalau terjadi apa-apa dengan bunda?”
“Bunda, jangan berpikir seperti itu, aku pun khawatir. Tapi semata-mata semua ini aku lakukan untuk kita.”
“Bunda kesepian nak.”
Setetes air mata jatuh menjalar di batang hidung, Syahrel begitu hangat memeluk bunda.
“Satu hari nanti bunda akan tahu, apa yang aku lakukan untuk Bunda”, ujarnya dalam hati.
“Tak perlu kamu kasih aku uang yang banyak, kecukupan materi atau apa pun itu nak. Sedikit namun berkah dan halal itu cukuplah untuk bunda.”
“Insya Allah bunda, apa yang aku berikan untuk bunda itu halal.”
Mungkin bunda khawatir dengan uang yang diberikan Syahrel akhir-akhir ini tak seperti saat ia bekerja sebagai pedagang koran.
“Dan satu hal lagi yang bunda khawatirkan, kalau di luar sana apakah kamu masih tegang menunaikan sholat nak?”
“Bundaku sayang, tak perlu juga bunda khawatirkan masalah itu. Syahrel masih sadar siapa syahrel dan apa kewajiban Syahrel dengan Allah.”
Semakin erat keduanya memeluk, memang akhir-akhir ini banyak sekali yang harus ia kerjakan, teradang ia bermalam di kantor lantaran materi tulisan yang ia mesti selesaikan. Sesering itu juga Syahrel meninggalkan bunda seorang diri.
“Bunda, aku istirahat dulu. Besok aku
harus bantu-bantu temanku lagi.”
“Tidurlah nak, jangan lupa berdoa.”
Begitu lembut bunda mengusap kepala Syahrel, tak pernah ia anggap Syahrel sudah tumbuh besar. Perlakuan bunda, masih menganggap Syahrel anak belasan tahun.
è OoO ç
Selamat Datang Di CIBOLEGER ( Daily Note )
Patung selamat datang, kokoh berdiri. Sosok keluarga petani yang sederhana dan dua anaknya menyambut kedatangan para wisatawan lokal maupun turis mancanegara. Nuansa spiritual begitu terasa. Liputan ku kali ini, mengulas sisi komunitas dan budaya Baduy serta pola sosial, satu tantangan baru yang harus aku jalani. Perjalananku selanjutnya, dari Ciboleger ke kampung Kadukedug, ini pilar awal perjalan tugas dan wisata.
Di kampung Kadukedug aku bertemu dengan seorang Jaro Dainah atau istilah lain kepala dusun. Dari beliau aku menggali informasi dan petunjuk khusus atau juga ajian pantang laku, larangan-larangan. Berladang, profesi utama masyarakat setempat. Ada 50-an perkampungan di desa Kanakes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, desa ini terletak sekitar 123 kilometer arah barat daya Jakarta. Matahari terik menyengat, di ujung jalan terlihat fatamorgana mengaburkan pandangan.
Panasnya pun terlihat dari untaian kabel penerang jalanan yang memuai. Pangkal tenggorokan tersendat tegunnya, mungkin terlalu panas. Secangkir air aren, cukup menghapus dahaga.
“Sruuuup, glek..gleg…gleeek…gleeegk…aaaaah."
Alhamdulillah, kerontang tenggorokan sedikit basah lantaran air aren tadi, sari dari perasan pangkal pohon aren yang difilterisasikan. Rasanya hampir sama dengan tebu, tetapi yang membedakan antara keduanya, soal aroma dan kentalnya. Kalori yang hilang dari tubuh sudah terganti, dan perjalanan pun aku teruskan ada tiga kampung di baduy dalam yang terbentang dari utara ke selatan yang harus aku kunjungi.
Syukurlah ada Jama’, anak angkat dari Jaro Dainah yang bernama Kang Aropat. Dia masih paham bahasa Indonesia, walau dialeknya masih tercampur logat Sunda dialek Sunda–Banten Aku menghentikan perjalanan sejenak, dan mecari tempat peristirahatan.
“Kang Jama’, saya mau Sholat Dzuhur. Ada musholah di sekitar sini?”
“Teu Ayya Aa," maksudnya tidak ada, hanya sedikit aku memahami bahasa Sunda.
Aku memilih alternative lain, sholat di atas irigasi persawahan, aku temukan kedamain di sini. Sejenak aku tafakur, bentangan ladang dan persawahan begitu luas menghampar, di bawah langit yang tak bertiang. Subhanallah, MahamBesar Nya Engkau yaa Rabb.
“Siap melanjutkan perajalannya Aa?” Jama’ pun merasa sudah pulih kembali tenaganya.
“Kamu tidak sholat?”aku berbalik tanya.
“Pasundanan Aa," dia menjawabnya singkat.
“Agama apa itu?”
“Bukan agama, tetapi kepercayaan yang kita pegang.”
“podo wae Mas,"gumam ku dalam hati.
“Pasundanan Jati Sunda.”
Aku mencoba toleransi dengan apa yang ia anut.
“Bisa dijelaskan, apa itu Pasundanan Jati Baru?”Aku penasaran.
“Pesundanan Jati Sunda atau orang-orang kami biasa menyebutnya Sunda Wiwitan.”
“Maksudnya?” ini hal baru yang harus aku pelajari.
“Setiap orang wajib menjaga mandala. Mandala itu, wilayah suci tempat para leluhur kami tinggal yang sudah ditentukan oleh para raja.”
__ADS_1
“Animisme rupanya," aku mencoba menelaah.
“Terus!”
“Sunda Wiwitan bertalikan pada pemujaan kepada arwah nenek. Inti kepercayaan kami ditunjukkan dengan adanya pikukuh atau ketentuan adat mutlak yang kami percaya dalam kehidupan sehari-hari.”
“Apa itu pikukuh?” semakin penasaran aku dibuatnya.
“Patuh atau kepatuhan," jawab Jama’ dengan logat Sunda.
Tau istilahnya, "Lojor heunteu beunang dipotong, pèndèk heunteu beunang disambung.”
“Artinya?”
“Panjang jangan di potong, pendek jangan disambung," Jama’ kembali menjelaskan.
“Bisa lebih dijelaskan," aku tidak memahami nilai-nilai ini.
“Contohnya begini Aa, pikukuh di tempat ini, dalam berladang tidak boleh menggunakan bahan kimia atau alat bajak lainnya, seperti dengan hewan atau mesin. Dan dibolehkan hanya dengan tugal, atau bambu yang diruncingkan, pokonya serba apa adanyalah.”
“Oh aku paham sekarang.”
“Kitu Aa, Nyaho teu?”
“Nyaho," aku jawab seadanya.“Lalu dari mana kamu yakin, bahwa nenek moyang mampu memberi sebuah mukjizat atau pertolongan kepada masyarakat Baduy?” terpaksa aku sedikit mengusik.
“Dari cerita para puun dan orang tua kami," jawaban yang sulit aku terima.
“Maksud saya, dari mana kamu yakin nenek moyang yang sudah meninggal puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu mampu menolong masyarakat Baduy?”
“ …………………," Jama’ sedikit bingung dengan ucapanku.
“Begini saja, di depan kamu ada seekor macan yang baru saja menggit kaki saya dan kamu berhasil membunuh macan tersebut. Menurut kamu, masih mampukah macan yang sudah kamu bunuh tadi, menggit saya atau kamu lagi?” aku gunakan filsafat perumpaan, agar dia paham.
“Tidak.”“Apa alasan kamu?”
“Sudah mati.”
“Kan ada Rohnya, yang bisa menggit?”
“Tetap saja Aa, Roh tidak bisa menggit, menakut-nakuti mungkin bisa." Dari ucapannya sudah aku buka wacana pemikiran logikanya.
“………………………," lelaki berikat kepala hitam itu tertegun dan terdiam, lalu dia menggelengkan kepalanya, secara otomatis dia memberikan pernyataan pembenaran.Sedikit aku abaikan pekerjaanku, demi meluruskan pandangan seorang anak muda, yang terkurung dari pemikiran kerdil, Jama’ termasuk anak yang cerdas.
“Berapa umur kamu sekarang?”
“Lima Ratus Dua Puluh Satu kali Purnama.”
“………………..," aku terdiam, dan sedikit bingung dengan jawabannya.
Aku menghitung umur Jama’, acuanku bahwa purnama itu muncul empat belas hari sekali. Lima ratus dua puluh Satu dibagi empat belas hari, hasilnya tujuh ribu dua ratus sembilan puluh empat, aku bagi satu tahun tiga ratus enam puluh lima hari, kurang lebih umur Jama’ sembilan belas tahun.
“Umur kamu kurang lebih sembilan belas tahun.”
"Mungkin.”
“Memangnya kamu tidak mengenal hitungan kalender atau tahun masehi?”
Tidak,” aku tidak mau melanjutkan pertanyaan ini, mengingat semakin dekat matahari tergelincir.
“Kita lanjutkan perjalanan kita Jama’.”
“Baik.”
Membutuhkan waktu empat jam Baduy Dalam mendiami tiga kampung yang yaitu Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Jarak kampung Cibeo dan Cikeusik bisa ditempuh selama sekitar empat jam berjalan kaki. Jalan di kampung-kampung Baduy Dalam dan sebagian besar Baduy Luar banyak yang berupa tanjakan dengan kemiringan antara 45 sampai 60 derajat.
Baduy Dalam dikelilingi kampung-kampung Baduy Luar. Kampung yang berbatasan langsung dengan Baduy adalah Ciboleger. Waktu tempuh Ciboleger ke Kaduketug-kampung Baduy yang berimpit dengan Ciboleger hanya sekitar tujuh menit. Udara di kampung Baduy tergolong bersih dan segar. Salah satunya karena suku Baduy pantang menggunakan alat transportasi, karena itu asap dari knalpot pun tidak dijumpai di kampung ini.
Bagi Jama’ perjalanan seperti ini sudahlah hal biasa, tetapi untukku ini satu tantangan yang boleh dibilang menantang. Sambil menikmati alam, kami bertukar informasi sampai ke hal pribadi. Jama’ begitu antusias mendengar profesiku, bagi ia apa yang aku geluti sekarang pun memberikan satu hal baru.Dan ada hal yang mengejutkanku, saat menjelang maghrib terpaksa aku sholat dalam perjalan, tiba-tiba saja Jama’ berdiri di sisiku mengikuti gerakan Sholat.
Setelah salamul akhir, aku menangis terharu.“Aa, saya mau belajar ini.”Seisi rimba raya seakan menghembuskan angin segar untukku, jutaan malaikat seakan berdoa seraya mengucapakan salam,
Assalamu’alaikum wa ahlan khaeran yaa Ahlul Jannah, aku menangis terharu, lelaki yang baru aku kenal tadi siang dengan keyakinannya yang tak dapat digoyahkan, kini berputar tiga ratus enam puluh derajat. Allahu Akbar, aku sanjungkan kepadaMu, duhai pemilik hati. Begitu mudahnya Engkau berkehendak Yaa Rabb.
“Ini apa namanya Aa?” Jama’ benar-benar awam.“Ini namanya sholat.”
“Sholat itu apa Aa?”
“Wujud atau tanda Syukur kita akan nikmat yang sudah diberikan oleh Sang Pemilik Alam ini.
“Siapa dia Aa?”
__ADS_1
“ALLAH.”
“ALLOOOH?” Jama’ mengikuti ucapanku.
“Kamu benar mau belajar?”
“Iya,' dia menganggukan kepalanya.
“Tanpa paksaan?”
“…………………, " dia kembali mengangguk.
“ Pikiran saya tidak mungkin yang sudah mati bisa menolong, mereka saja sudah tidak mampu, bagaimana bisa menolong saya.”
“Apa yang menjadi Pikukuh saya untuk bisa belajar”
“Satu hal, jangan kau dustakan ALLAH dan Muhammad sebagai utusannya.”
“Kalau itu, mudah-mudahan saya siap.”
“Ikuti ucapan saya.”Aku memulai membacakan dua kalimah Syahadat untuknya,
“Asyhadu ‘ala illahailallah.”Jama’ mengikutinya,
“Asyhadu ‘ala illahailalloh," sedikit kaku lidahnya.
“Waa Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah.”
“Waa Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah,"Jama mengejanya.
“Barakallahu alaikum wa rahmatallah alaika," aku ucapkan dan sekaligus doa untuknya, tetapi justru dia mengikuti ucapanku.
Aku pun tersenyum,Jama’ berucap, “terimakasih Aa”.
Kini dia adalah saudaraku, siapa yang mengusik dia sama saja mengusik diriku, aku kini sebagai penjaganya.
“Aa, boleh aku ikut ke Jakarta?”
“ ……………………..," aku terdiam, pikiranku menerawang ke suasana rumah dan lingkungan.
“Jama’, aku pun tidur beralaskan tikar. Rumahku tak seluas apa yang kamu pikirkan dan Jakarta itu keras.”
Sejurus akal dan hati ku ajak berdialog.“Namun kini Jama’ bukan siapa-siapa lagi, dia kini saudaraku sekaligus dia menjadi tanggung jawabku juga”, hati berseteru mempertimbangkan keadaan. Dengan niat yang tulus, akhirnya aku meng-iya-kan. Untuk masalah selanjutnya, biar aku bicarakan baik-baik dengan Bunda, mudah-mudahan beliau bisa menerima.
Perjalananku berakhir di desa Cikeusik, Baduy dalam. Di sini hanya beberapa gambar saja yang aku ambil dan selebihnya Jama’ yang menjelaskannya. Baik struktur organisasi, pola sosial dan adat serta budaya mereka.“Di sini pimpinan tertinggi dipegang oleh seorang puun Aa, dan petugas kepuunan di bawahi seorang Jaro tugasna menjalankeun kepemerintahan sehari-hari”, panjang lebar Jama’ menjelaskan struktur pemerintahan di Baduy Dalam.
Subhanllah, begitu indah Allah menciptakan perbedaan dan ragam Budaya yang dimiliki bangsa ini, teramat sayang jika tidak dijaga dan dipelihara. Perjalananku kali ini semakin mempertebal keimananku dan satu hal yang tak akan aku lupakan, kini aku memiliki saudara baru dia seorang remaja cerdas, walau sedikit terlihat primitif tetapi semua itu masih bisa diperbaiki sedikit demi sedikit. Lagi pula perawakan Jama’ tak mencirikan dia sebagai warga Baduy, dia mampu berakulturasi dengan pola hidup modern. Terlihat dari cara berpakain, memegang buku dan beberapa alat elektronik lainnya.
Yang lucunya, dia terperanjak saat lampu blitz kamera menyala, secepat mungkin ia berlindung di balik pepohonan, mirip film Tarzan.
è OoO ç
**Weimar, Jerman Timur *(***Daily Activity Dita )
Ini liputanku yang sekian kalinya bersama Jhon, dia yang membawaku berkeliling kota, dan sering mengajak aku ketempat-tempat yang mempesona sekaligus romantis. Jhon juga yang mengihburku saat aku sedih atau pun jenuh bekerja.
Aku menikmati pekerjaan ini, dibilang kerja tetapi seperti tamasya. Apa lagi kalau aku kebagian rubrik wisata kuliner. Kunjungan kami kali ini ke sebuah museum kota Weimer, di kota tua nan cantik inilah Republik Jerman yang pertama berdiri, setelah kejatuhan sistem monarki.
Nama kota ini diabadikan sebagai Republik Weimar, tempat konstitusi Jerman dirancang dan disetujui. Kota tua ini terletak tak jauh dari Erfurt, ibu kota Negara Bagian Thuringen. Kota di bekas wilayah Republik Demokrat Jerman Timur ini menjadi tempat kelahiran filsuf dan budayawan Johann Wolfgang von Goethe. Kini rumah itu dijadikan sebuah museum, sekaligus pusat intelektual Jerman.
Begitu sejuk udaranya, ditambah lagi dengan keindahan bangunan bergaya Barok, tak jauh dari tempat ini berdiri pula sebuah Schiller Wohnhaus, atau Rumah Schiller, kota kecil yang begitu asri dengan bangunan-bangunan tua yang tertata begitu apik, walau terlihat sedikit sepi dan mencekam.
Bunga-bunga Lili mulai terlihat kuncup bunganya, menambah romantisnya suasana. Jhon pun mengambil beberapa contoh gambar untuk sampul majalah terbitan esok, kalau pun ia menemukan background yang pas untuk hunting Photo, ia memanggil dan menyuruhku berpose. Sesekali ia mengurai rambutku, jarinya menyentuh lembut kening dan telingaku. Aku melihat tatapan matanya yang sedikit menyimpan satu rahasia, yang aku pun tak tahu arti ini semua.
Mataku pun terpanah, menatap bola matanya yang biru. Aroma tubuh maskulinnya menusuk hidung dan pusat sarafku. Seolah ia membiusku dengan ketampanannya. Setangkai bunga Lili, ia selipkan di telingaku dan nafasnya menderu di telingaku, naluriku sebagai wanita normal merasakan sentuhan hebat yang selama ini tidak pernah aku rasakan.
Dikelilingi keindahan kota Weimar, bunga-bunga merekah, dan kumbang pun singgah di mahkotanya, ah musim semi yang indah. Ku pasrahkan hati dan raguku di pelukan Jhon. Aku teringat Syahrel, lelaki yang tak mampu mengucapkan kata cinta, lelaki yang aku kagumi kepandaian dan lelaki yang kurang memahami bahasa tubuh wanita. Andai ia tahu perasaanku, mungkin ia akan ungkapkan perasaannya.
“Maafkan aku Syahrel," matanya terpejam dan larut dalam suasana romantis. Bunga pun merunduk tak kuasa menolak bisikan sang kumbang Eropa.
____________¤¤¤____________
Baduy, Banten ( Catatan Syahrel )
Pandanganku terpanah dengan keindahan bunga di tengah belukar. Obrolanku terhenti, mataku asyik melihat seokor kupu-kupu yang merayu manja di atas mahkota bunga. Aneh, di tengah rerumputan dan belukar, tumbuh setangkai bunga liar. Begitu Indah, tak lama kupu-kupu itu pergi datang seekor kumbang besar, singgah dan mencoba mengisap sari bunga itu. Sungguh bersahabat ekosistem alam, begitu selaras dan harmonisnya. Lagi-lagi aku berucap kagum, Subhanallah, Maha Suci Engkau yaa Allah.
Ini hari terakhirku di kampung yang menyimpan harta kekeyaan Budaya negeriku. Dimana perbedaan dapat selaras hidup berdampingan dan begitu harmonisnya. Ternyata perbedaan dapat menyatu dalam satu syair nyanyian alam.
Aku bersimpuh dan berdoa dalam sholatku yang terakhir, di tengah-tengah masyarakat yang menganut kepercayaan animisme, aku dirikan ritual tauhid. Bukan untuk bersih tegang, atau menonjolkan kehebatan agama yang sudah diperjuangkan nenek moyangku, belasan abad yang lalu. Tetapi karena aku menghargai keberagaman kepercayaan yang ada.
Sepulangku dari sini, aku membawa buah tangan yang sangat berharga, mutiara yang nampak di tengah-tengah jeramih, kini terlihat jelas harganya, Jama’ sahabat dan sekaligus saudaraku.
__ADS_1