SATU CINTA, DUA BENUA

SATU CINTA, DUA BENUA
Yah, Hanya Dinding Kamar


__ADS_3

Sudah memasuki hari ke Tujuh sejak bunda meninggal dunia, Syahrel pun lebih banyak mengurung diri dalam kamar. Tak satu orang pun dapat menemuinya, baik rekan wartawan yang ingin mewawancarai, para penerbit yang ingin melanjutkan kontrak kerja, selalu sama jawaban yang Jama’ terima.


“Mas Syahrel tidak bisa diganggu, ada naskah yang sedang ia buat”, hanya itu jawaban yang mampu Jama’ berikan. Selebihnya, perihal meninggalnya bunda yang seproporsional mungkin bisa ia jelaskan. Sejauh pertanyaan seputar kehidupan Syahrel, Jama’ tak mau memberikan informasi.


Selama satu minggu Jama’ hanya sekali melihat Syahrel keluar kamar. Itu pun hanya untuk menunaikan sholat Jum’at. Sampai batas ketidakwajaran itu menggusarkan Jama’ untuk memberanikan diri membuka pintu kamar Syahrel.


“Sudah seminggu Aa tidak keluar kamar, aku takut sesuatu terjadi padanya. Maafin urang geus  nyaloncong.” Gubrak! Pintu kamar berkali-kali Jama’ buka secara paksa. Benar apa yng dikhawatirkan Jama’, Syahrel sudah tertunduk tak berdaya. Seluruh tubuh Syahrel mengeluarkan keringat dingin, wajahnya pun nampak pucat dengan bibir yang kering, detak nadinya pun begitu lambat. Jama’ langsung meminta bantuan dan membawa Syahrel ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan pertama.


Hasil tes laboratorium dan pemeriksaan Syahrel terserang penyakit lever akut.


“Setelah dilakukan pemeriksaan ternyata Tuan Syahrel mengalami gangguan lever dan sudah memasuki tahap sirosi atau kematian jaring aktif pada lever”, jelas dokter Setiawan selaku spesialis penyakit dalam.


“Apa bisa sembuh Dok?” Jama’ begitu mengkhawatirkan keadaan kakak angkatnya.


“Satu-satunya jalan hanyalah transplantasi hati.”


“Apa itu Dok?”


“Cangkok hati. Tetapi  dibutuhkan pendonor dan dokter spesialis penyakit dalam.”


“Biarlah saya yang menjadi pendonor.”


“Biayanya besar Mas," imbuh dokter Setiawan.


“Saya akan coba mencari bantuan.”


Jama’ mulai mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, mulai dari meminta royalti dan sumbangan beberapa rekan kerja Syahrel, hingga akhirnya terkumpul jumlah uang yang diminta pihak medis. Zahra begitu rajin menjaga Syahrel sepulang kerja. Walau badannya terasa lelah tetapi ia merasa berkewajiban menjaga Syahrel.


“Perkenalkan, ini dokter Putik, beliau yang akan membantu proses operasi.” Mereka pun saling sapa.


Sebelumnya ia tak menyangka kalau pasien yang akan dicangkok hatinya adalah Syahrel. Putik mencoba memastikan kembali kalau yang di hadapanya itu lelaki yang ia kenal dan beberapa kali bertemu.


“Syahrel?!” Gadis asal Jambi itu terkejut melihat tubuh yang tergolek di hadapannya; seorang penulis yang hampir seluruh karyanya ia miliki, lelaki yang beberapa bulan lalu rutin bertemu dengannya.


Beberapa dokter melakukan briefing sebelum proses operasi, segala persiapan dan resiko yang mungkin terjadi sudah dianalisis. Putik meminta waktu sepuluh menit untuk melakukan sholat sunnah dan mensterilkan tubuh.  Ini sudah menjadi kebiasannya ketika ia akan melakukan operasi yang berresiko tinggi karena manusia hanya bisa berencana dan berusaha, selebihnya Allah yang menentukan segalanya.


 


                                                                            è oOo ç


Saat-saat menegangkan bukan hanya di dalam ruang operasi, di luar pun banyak yang mengkhawatirkan keadaan Syahrel. Beberapa rekan seniman dan sastrawan pun ikut menjenguk. Kuli tinta turut memantau setiap waktu tak mau tertinggal informasi. Ratusan fans Syahrel tertunduk, berdoa dengan khitmat.


Dua belas jam operasi berjalan. Berhasil atau tidaknya tergantung keadaan fisik si pasien. Kalau fisiknya lemah, kemungkinan Syahrel tak mampu melawati masa kritis dan begitu pula sebaliknya.

__ADS_1


“Bagaimana keadaan Bung Syahrel, Bu Dokter?” Tanya beberapa rekan wartawan.


“Kemungkinan baru siuman dan perlu istirahat yang cukup.”


Memasuki hari ke dua setelah operasi, Zahra menemani Syahrel. Dia yang memberikan segala apa yang dibutuhkan lelaki itu, baik obat-obatan maupun makanan. Selain orang terdekat Syahrel, Zahra juga seorang dokter. Jadi tak perlu khawatir mengenai masa pemulihan Syahrel.


“Sudah diminum obatnya?” Suara itu terdengar samar.


“Siapa?” Syahrel penasaran dengan suara lembut yang menyapanya.


Tiba-tiba ia muncul di balik tirai putih penyekat ruangan. Seorang dokter, tangannya memegang stetoskop.


“Hah? Putik?! Kok kamu tahu aku ada di sini?”


“Hai, bagaimana keadaa kamu? Sudah membaik? Siapa yang tidak tahu seorang penulis sedang dirawat di rumah sakit ini?”


“Alhamdulillah, baik. Kenalkan ini Zahra, dia juga seorang dokter.”


Jemari kedua gadis itu saling menggenggam satu sama lain. Tatapan Zahra tertunduk dan kembali berkonsentrasi meracik obat untuk Syahrel.


“Kamu praktek di rumah sakit ini juga?”


“Hm, iya. Ternyata kamu juga seorang penulis. Jadi bukan hanya firasat saya saja kalau anda seorang sastrawan.”


“Penulis tidak sama terkenalnya dengan artis dan tak semulia tugas para dokter, hanya orang-orang tertentu saja yang tahu. Jadi tak ada kedudukan tinggi bagi seorang sastrawan dan penulis di negeri ini, lain halnya kalau di Jerman dan negara-negara Eropa, sastrawan hampir sama dengan sejarahwan dan artis-artis di negaranya.”


“Ah tidak juga, mungkin di hati-hati yang lain kedudukan seorang penulis itu sama seperti selebritis”, sindir Putik.


“Maksudnya?”


“Penulis punya kedudukan agung bagi pembaca fanatiknya.”


“Hahaha, bisa saja ibu dokter satu ini," Syahrel sudah mampu tersenyum walau kondisinya masih lemah.


“Aw…," Syahrel mengerang. Luka bekas operasi meregang efek dari tertawa, Zahra begitu khawatir. Mata Putik melihat tanda-tanda yang berbeda dari caranya merawat Syahrel.


“Anda istrinya Bung Syahrel ya?”


“Bu, bukan.”


Zahra begitu asyik dengan aktifitasnya, seolah dia tidak mendengar percakapan mereka, mimik wajahnya menyimpan perasaan cemburu. Begitu juga dengan Putik yang menyembunyikan perasaan lain kepada Syahrel.


“Boleh aku minta izin pada kalian untuk istirahat sejenak?”

__ADS_1


Mendengar permintaan Syahrel, keduanya meninggalkan ruangan. Putik kembali berkatifitas dan Zahra pun pamit pulang.


“Kalau begitu aku juga mau pamit kembali ke tempat kerja.”


Secepat mungkin Zahra membalikkan tubuhnya, seakan ada kesal yang ditinggalkan.


“Zahra," Syahrel memanggilnya kembali.


“Ada apa Ka?”


“Maaf kalau ada kata-kata kakak yang salah.”


“Oh, tak apa. Aku pergi ya? Assalamu’alaikum.”


Syahrel menjawab dengan suaranya yang parau,”Wa’alaikum salam. Hati-hati di jalan.”


Sudah hampir sebulan Syahrel di rumah sakit dan baru hari ini ia diperbolehkan pulang. Walau kembali lagi sepi tetapi ada rasa tenang yang ia miliki. Jama’ masih setia menemani segala getir hidup yang Syahrel alami. Dialah kamus besar kehidupannya, sebagian diary kisah Syahrel hampir diikutinya.


Melihat kondisi kakak angkatanya Jama’ begitu khawatir, seakan tak ingin melewati semenitpun tanpa memperhatikan keadaan Syahrel. Para pembesuk silih berganti, termasuk Zahra dan Putik yang terlihat bersaing mencari perhatian Syahrel.


Seusai menunaikan sholat tahajjud, Syahrel merasa rindu pada Bunda. Air matanya menetes disetiap doa yang dipanjatkan.


Tidak bisa dielakan, bahwa Bunda-lah yang menjadi pelipur lara, memandang wajahnya menjadi penawar rasa letih bagi Syahrel, dialah Ibu sekaligus Ayah baginya.


“Bunda, aku rindu. Tak cukup hanya dengan meneteskan air mata dan doa. Aku mau bunda di sini, temani kesendirianku membelai kulit wajahku. Aku rindu basahnya bibir Bunda yang tak lepas mendoakanku. Kini hanya sepi menyelimuti malam-malamku yang terasa begitu panjang. Tak ada lagi nasehat dan lantunan ayat suci yang setiap hari aku dengar selepas sholat. Tak ada lagi yang membangunkanku untuk qiyamul layl. Kini semuanya aku kerjakan sendiri.


Ya Allah, berikan aku kekuatan untuk dapat tegar hadapi ini semua. Ajarkan aku cara bersyukur dalam musibah dan merasa cukup dengan segala karuniaMu. Bantu aku, hamba yang tak berdaya ini. Maafkan segala kesalahan dan kelalalianku. Aku yakin tanpa ku pinta Kau pun memberikan. Duhai pemilik hati, jangan kau balikkan hatiku di saat keimananku sudah kokoh dan kembalikan aku secara fitrah seperti sediakala saat aku terlahir dari rahim Bundaku. Wahai pencinta yang kesempurnaan cintanya adalah satu penghargaan yang terindah bagi seorang alim dan ahli ibadah seumpama  seorang bayi yang rindu air susu bundanya.


Ya Rabb, pelipur laraku dan penyekat airmataku…


Jangan biarkan kelemahan ini menjadi alasan untukku enggan bersujud. Dan jangan biarkan iblis menipu dayaku untuk protes kepada Mu, menghujat langit dan benci terlahir ke dunia, atas kemalangan yang menimpa garis hidup yang telah kau tulis dengan tinta emas dalam lembaran hidupku. Aku hanyalah lelaki akhir zaman yang tak setabah Ali bin Abi Thalib dan tak segagah Abu Dzar Alghifary. Sematkanlah untukku jiwa-jiwa pahlawan Badar yang mampu menoreh nama Mu yang agung hingga tercabik perut di tanah juang,


Illahi, andai ini malam-malam terakhirku…


Basahi bibirku dengan kalamMu yang suci, tegarkan hatiku hadapi sakitnya sakarotul maut yang rosulku pun sendiri tak kuasa menahan sakitnya. Janganlah kepergianku menjadi duka yang mendalam dan jangan pula apa yang aku tinggalkan menjadi fitnah dan bencana. Andai permintaanku kau kabulkan, aku ikhlas untuk kembali.


"Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Robmu dengan ridho dan diridhoi, maka masuklah kedalam golongan hamba-Ku dan masuklah kedalam surga-Ku."


Tak jauh dari tempat tidurnya Jama’ terlihat tertidur pulas. Syahrel berupaya menggapai laptop yang selalu mau mendengar segala keluh dan kesahnya selama ini. Mulailah ia menekan tombol power, menunggu sejenak dan menekan icon microsoft word, tak lama muncul lembar kerja baru.


Jemarinya kembali menari di atas keyboard setelah sekian lama terkulai lemah. Tubuhnya masih bersandar di atas


bantal dengan posisi duduk dan kaki yang dibiarkan terbujur karena semakin hari semakin membengkak.

__ADS_1


__ADS_2