SATU CINTA, DUA BENUA

SATU CINTA, DUA BENUA
Seluas Langit Membentang


__ADS_3

"Rel, untuk tugas kamu pertama meliput asal usul kota Jambi. Segala akomodasi sudah menjadi tanggungan perusahaan. Tetapi kami mau hasil yang kamu kerjakan tidak mengecewakan kami!” Satu berkas tentang beberapa wilayah dan ragam budaya Jambi diberikan Pak Hermawan sebagai navigasi Syahrel.


Puji syukur aku panjatkan, mendengar penugasan itu aku senang tetapi ada satu amanah yang harus aku tanggung, laporan kunjungan dan hasil tulisan. Mudah-mudahan aku mampu menjalankan tugas ini. Dan ini pertama kalinya perjalanan aku menggunakan pesawat, tak tahu bagaimana tata cara dan adminitrasinya pun aku buta.


Mau bertanya tetapi sedikit berat aku mengucapkannya dan kemana aku harus bertanya. Semua karyawan di tempat ini tak ada yang aku kenal. Aku hanya tahu beberapa istilah saja, seperti boarding pass, take off dan


landing  itu saja yang aku sering dengar dan apa yang dimaksud airport tax saja aku sama sekali tidak paham. Ah, nanti saja aku tanyakan hal ini dengan Zahra, mudah-mudahan ia tahu.


Tetapi bagaimana aku harus bicarakan hal ini kepada bunda. Aku tidak mau sampai Bunda tahu kalau aku melepas pekerjaan aku semula, karena kios yang aku tempatkan sebenarnya itu jerih payah Bunda untuk menghidupkan keluarga dan sekolah ku dulu. Lagi pula aku mau merahasiakan hal ini dari bunda karena ada kejutan yang aku mau berikan untuk Bunda,


Yah, celengan bambu tempat aku menyembunyikan uang untuk bunda pergi Haji. Hampir tiga tahun aku mengumpulkan uang itu, aku tidak mau Bunda tahu. Aku mau melihat bunda bangga dengan apa yang aku usahakan selama ini, mudah-mudahan membuat beliau senang. Biaya ongkos naik Haji setiap tahunnya melonjak, untuk saat ini saja yang aku dengar dari Almarhum Hai Arsyad bisa mencapai puluhan juta.


Tetapi tekadku bulat, aku ingin di penghujung usia Bunda yang hampir menginjak umur lima puluh tahun, beliau dapat menikmati fasilitas yang akan aku berikan kelak. Ah, manusia hanya berencana tapi Allah-lah yang menentukan semua.


                                                                                è OoO ç


Aku melihat Zahra termenung di ujung beranda rumah, mungkinkah ia memikirkan mendiang Abahnya?


“Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikum salam. Eh Kak Syahrel tumben-tumbenan mau mampir?”


“Ah, kamu tidak boleh begitu. Kok pake tumben?”


“Habisan semenjak Abah sudah nggak ada, kak Syahrel jarang berkunjung ke rumah.”


“Maaf. Bukannya kak Syahrel lupa, tetapi ada sedikit kesibukan yang kakak harus jalani.”


“Oh.”


“Ummi dimana Ra?”


“Mungkin lagi istirahat di dalam, satu hari ini Ummi sibuk mengurus usaha Abah.”


“Kamu terganggu kalau kak Syahrel berkunjung ke rumah?.”


“Ah, nggak kok kak. Memangnya ada apa?”


Aku sedikit canggung membicarakan hal ini, takut Zahra tertawa. Tetapi biar aku tidak malu nantinya, “bukannya malu bertanya sesat di jalan”.


“Zahra janji dulu, kalau kakak cerita kamu jangan tertawa.”


“Iya deh Zahra janji.”


Gadis itu mengangkat ke dua jari telunjuk dan tengahnya sebagai simbol bahwa ia berkomitmen dengan ucaapannya.

__ADS_1


“Begini Zahra, kakak ada sedikit kerjaan ke Jambi.”


“Enak dong jalan-jalan,"belum selesai aku bicara Zahra sudah menyela pembicaraanku.


“Bukan untuk jalan-jalan. Aku hanya cerita sama kamu saja, mohon kamu berjanji untuk tidak mencerita kan hal ini kepada siapa pun!”


“Aduh kak Syahrel janji-janji melulu.”


“Ya sudah kakak tidak jadi cerita.”


“Iya Ka, Zahra janji.”


“Bagus.” Aku melanjutkan cerita mengenai perihal kedatanganku.


“Kakak mau naik pesawat, tapi kakak Syahrel tidak tahu bagaimana caranya?”


“Ah..ha.ha.ha,ups!”


“Kamu ingkar janji Zahra.”


“Maaf Kak, bukan aku menertawai kak Syahrel. Zahra teringat teman Zahra yang salah naik pesawat karena ia baru naik pesawat.” Zahra terlihat membela diri.


Melihat Zahra tertawa aku merasa senang walau sedikit membuat kau berfikir. Zahra saja yang aku tanyakan mengenai hal itu tertawa apa lagi orang lain yang aku tanya.


“Ok.ok kak, Zahra akan ajari.”


“Awal datang ke Airport, kakak harus reservasi tiket atas nama kak Syahel atau daftar kembali dengan petugas yang biasanya berjajar semacem teller di Bank. Nah habis itu, kak Syahrel berikan tiket dan identitas kak Syahrel tersebut. Baru kakak akan diberikan tiket baru yang di situ tertera nomor kursi yang nantinya menjadi tempat duduk kak Syahrel di pesawat. Zahra tanya, KTP Kak Syahrel bukan seumur hidupkan?”


“Maksud Zahra, umur kak Syahrel sudah udzur?”


“Bukan begitu, biasanya kalau ada penumpang memiliki KTP seumur hidup itu tidak boleh naik pesawat.”


“Loh kok bisa?”


“Kan Kak Syahrel tahu, kalau orang yang memiliki KTP seumur hidup itu tandannya sudah tua alias udzur jadi  khawatir jantungan.”


“Hmm… jadi kamu ngeledek!”


Untuk kedua kalinya aku dongkol dengan ejekan Zahra, tetapi aku memakluminya, itu hanya selingan kelakar Zahra saja.


“He…He, bercanda Kak. Jangan terlalu serius, nanti KTP kakak jadi seumur hidup loh.”


“Lanjut.”


“Habis itu ada petugas yang akan memeriksa tiket, lalu Kak Syahrel menuju tempat pemerikasaan barang bawaan, kakak cukup meletakan barang bawaan kak Syahrel dan secara otomotis ia akan berjalan. Pokoknya kakak lihat orang-orang saja, sehabis itu anggota badan kakak akan diperiksa dengan menggunakan alat metal detector, inget jangan bawa pedang.”

__ADS_1


“Loh kok!!, memangnya kenapa?”


“Ini bukan zaman nabi kak, yang kemana-mana bawa pedang.”


“Ah kamu ini, lagi pula untuk apa Kak Syahrel bawa pedang!”


“Siapa tahu Kak Syahrel nekat!”


“Lanjut.”


“Habis itu sebelum masuk ke ruang tunggu di terminal keberangkatan domestik atau keberangkatan dalam negri Kak Syahrel harus membayar Airport tax. Setelah itu, kakak tinggal menunggu customer service memberi pertunjuk pesawat yang akan membawa Kak Syahrel terbang. Lalu, sesampainya di dalam pesawat jangan lupa nomor kursi. Setelah itu, pramugari cantik akan menemani keberangkatan Kak Syahrel sampai ketempat tujuan.”


“Mudah-mudahan antara teori dan praktek tidak jauh berbeda.”


“Pastinya kak, kurang lebih seperti itu. Ups, hampir lupa satu hal yang harus Kak Syahrel ingat.”


“Apa tuh?”


“Hhhh…Oleh-olehnya.”


“Aku pikir apa!”


“Aku tidak bisa janji Ra.”


“Tidak apa-apa kak, aku hanya bercanda.”


“Tetapi aku akan usahakan.”


Tidak mungkin aku melupakan kebaikan Zahra, apa yang aku janjikan akan aku bawakan untuknya.


“Memangnya Kak Syahrel mau kemana?”


“Jambi, tetapi aku mohon jangan kamu ceritakan kepada siapa pun, Alhamdulillah aku diterima sebagai penulis di sebuah media. Walau honornya tidak seberapa, tetapi inilah cita-citaku yang harus ku raih.”


“Alhamdulillah, semoga keberuntungan menyertai karir Kak Syahrel.”


“Amien.”


Walau setiap aku menatap wajah Zahra, membuat aku sedih. Karena aku tahu bagaimana manjanya ia saat almarhum masih ada. Kini tak ada lagi tempat untuk ia memanjakan diri, dan aku pun mencoba memahami karakter Zahra.


“Ra, sudah malam. Aku izin pulang. Salam untuk Ummi.”


“Siap bos.”


“Assalamu’alaikum.”

__ADS_1


“Wa’alaikum salam.” Zahra begitu lembut menjawab.


__ADS_2