SATU CINTA, DUA BENUA

SATU CINTA, DUA BENUA
Ini Hati, Bukan Roti


__ADS_3

Syahrel sudah kehilangan dua orang yang ia kasihi, Haji Arsyad dan Dita. Haji Arsyad  pergi dan tak akan kembali, sedangkan Dita pergi namun tak tahu kapan akan kembali. Mereka meninggalkan banyak sekali cerita, nasehat hidup yang kini sudah tidak bisa lagi terdegar di telinga Syahrel.


Haji Arsyad pergi dengan meninggalkan sejilid buku nasihat dan arti sebuah kehidupan lewat pesan dan cerita yang beliau utarakan sebelum wafat. Sedangkan Dita pergi meninggalkan senyum dan kelakar manja juga satu kalimat yang sampai saat ini Syahrel pun tak bisa mengartikannya. “Jika sudah mampu kamu buktikan itu, aku mau kamu jemput aku tuk mengikatkan lambang kesetiaan”, kalimat ini yang masih tersimpan di hati Syahrel dan ucapan Tuan Anggoro, ”Apa yang kamu bisa andalkan dari lelaki yang hanya seorang pesuruh Masjid dan tukang koran!!!”. Itu memotifasi Syahrel untuk bisa menapak dengan yakin kehidupan.


Hari-hari yang dilalui begitu hampa, baru kemarin ia mendengar suara Dita di kios ini, kini gadis itu pergi dan tak tahu kapan akan kembali. Begitu juga di saat Syahrel melangkahan kaki ke masjid, tak ada lagi suara merdu ayat Al-qur’an yang  Haji Arsyad lantunkan, walau ada Ustadz Yahya yang sama memiliki suara merdu, tetapi suara Haji Arsyad memiliki karakter yang berbeda, penekanan kata dalam Alqur’an serta penjiwaannya dalam memahami bahasa Alqur’an menjadi nilai tambah untuk beliau.


“Aku tidak mau masa mudaku, habis di dalam kios ini. Aku harus melihat dunia luar dan resiko kehidupan yang akan terjadi nanti. Aku harus berusaha menjadikan pagi ini lebih baik dari pagi-pagi yang lalu. Tapi apa yang bisa aku lakukan?”


Keinginan Syahrel meninggalkan kios untuk merentah hari esok yang lebih berbeda, kini mengalami kebuntuhan, Syahrel tak tahu apa yang mesti ia lakukan. Sejenak ia merenung, mencari jalan untuk bisa membuat sedikit perubahan dalam hidupnya.


“Aku akan coba!”


Syahrel membuka beberapa majalah remaja dan tabloid, ia mencatat semua alamat redaksi. Dan bergegas meninggalkan kios, untuk pulang ke rumah dan mengambil beberapa buku tulis yang sudah bertahun-tahun ia menulis beberapa cerpen, novel dan puisi sastra lainnya. Syahrel berusaha merapihkan kembali dan mengedit beberapa tulisan yang nantinya ia berikan ke bebeberapa redaksi majalah dan penerbit.


Syahrel tidak lagi kembali ke kios, melainkan ke tempat rental computer. Di sana ia menghabiskan waktunya dengan menulis ulang beberapa hasil karya tulisnya.


“Mas, rental computer berapa per jamnya?” Tanya Syahrel yang memang baru pertama kali menginjakan kaki di tempat itu.


“Dua ribu lima ratus.”


“Bisa ngeprint?”


“Bisa Mas.”


Syahrel memilih tempat di ujung ruangan, mengingat tempat tersebut lebih nyaman dan tidak sering dilalui pengunjung lainnya. Syahrel memulai menulis ulang dan merapihkan beberapa cerpen yang menurutnya bisa mewakili kriteria penerbit, seperti cerpennya yang berjudul, Cinta di Kaki Rinjani, Bunga di Hari Ulang Tahun, Serumpun Doa di Arafah, Ups, Cinta memang kelewatan, dan beberapa kumpulan prosa yang akan ia rangkum dalam satu judul, Jangan Kau Bicara Tentang Genre dan Pesona Wajah RA Kartini untuk Wanita Negeri.


“Mas, untuk menyimpan data ini bagaimana?”


“Tergantung Mas, mau di simpan di CD atau flashdisk. Mungkin Mas bawa flashdisk?”


“Saya tidak bawa apa-apa, hanya buku tulis ini.”


“Di sini kita jual flashdisk juga. Apa Mas berminat?”Pegawai itu menawarkan Syahrel dengan begitu persuasif.


“Berapa harganya?”


“Yang 2 Giga, tujuh puluh ribu”


Lelaki itu memperlihatkan benda berbentuk persegi panjang yang masih terbungkus rapih.

__ADS_1


“Jadi semuanya berapa?”


“Flashdisk tujuh puluh ribu dan rental komputer empat jam sepuluh ribu. Jadi semuanya delapan puluh ribu.”


Syahrel memberikan selembar uang seratus ribu rupiah.


“Sebelumnya saya minta maaf belum selesai pekerjaan saya. Jadi belum bisa saya print.”


“Tidak apa-apa Mas”


“Jam berapa biasanya rental ini buka?”


“Jam sembilan pagi kita sudah buka kok Mas.”


“Insya Allah besok saya balik lagi dan kalau bisa minta tempat yang di ujung ruangan ini.”


Syahrel menunjukan tempat tersebut.


“Beres Mas, bisa diatur," pegawai itu begitu ramah menyambut hal yang Syahrel ajukan.


“Terima kasih Mas.”


“Sama-sama,"  lelaki itu membalas ucapan Syahrel. Syahrel mulai meninggalkan profesinya sebagai penjual koran, kini ia terlihat lebih asyik memilih menghabiskan waktu di rental tersebut. Syahrel mampu beradaptasi dengan para pegawai rental dan penjual perlengkapan komputer itu.


 


Sudah empat hari Syhrel meninggalkan kios dan lebih rutin ke tempat rental komputer, hari ini beberapa cerpen dan prosa sudah selesai ia kerjakan dibantu pegawai bernama Anto.


“Terima kasih atas bantuan Mas Anto yang mau turun tangan merapihkan tugas saya.”


“Sama-sama Mas, aku juga memang suka membaca cerpen dan novel. Aku suka tulisan Mas yang berjudul Cinta di Kaki Rinjani. Hebat penokohannya, rencanya untuk apa tulisan-tulisan ini?”


“Mau saya berikan ke penerbit atau redaktur lainnya.”


“Mudah-mudahan berhasil, saya doakan semoga dari tempat rental saya ini bisa melahirkan seorang penulis muda.”


“Amien”


“Mas, di print sekalian.”

__ADS_1


“Siap.”


Begitu semangatnya Anto membantu Syahrel menyelesaikan beberapa tulisan tersebut, karena memang ia suka dengan karya tulis.


“Jadi berapa semuanya Mas Anto?”


“Untuk Mas saya kasih diskon dua puluh persen. Semuanya lima puluh ribu tetapi Mas Syahrel cukup kasih ke saya empat puluh ribu.”


Setelah dijilid dan dibungkus rapih dengan map coklat, keesokan harinya Syarel akan mengirim tulisan-tulisan itu ke beberapa penerbit.


                                                                            ç OoO è


 


Usai menyelesaikan rutinitas yang biasa ia lakukan pada pagi hari, Syahrel bersiap-siap untuk memberikan naskah-naskah tersebut ke beberapa penerbit. Di saku hanya selembar uang Lima Puluh Ribu sebagai bekal untuk ia sampai ke beberapa tujuan perusahaan majalah dan penerbit.


Bunda tidak mengetahui hal ini, Syahrel sengaja meneyembunyikan, khawatir bunda tidak bisa menerima keadaan ini. Karena hanya kepada Syahrel ia menumpuhkan hidup dan nafkah.


Sampailah Syahrel di sebuah perusahaan majalah. Tetapi Syahrel merasa asing dengan tempat-tempat yang ia kunjungi. Semua harus di melalui birokrasi dan aturan-aturan yang rumit. Tulisannya banyak menuai kritikan, tetapi bagi Syahrel ini sebagai motifasi ia untuk lebih baik lagi.


Ada beberapa ucapan miring yang ia terima, sebut saja namanya Munadi, seorang fotografer di media yang cukup terkenal, ia menyindir tajam tulisan dan jenjang akademik yang dimiliki Syahrel. Padahal tak ada kaitannya dengan hal yang ingin ajukan. “Haruskah seorang penulis memilki jenjang akademis strata satu, atau diploma, memangnya


seorang yang hanya lulusan SMA tidak boleh menjadi penulis? Aneh.” Syahrel sedikit emosi dengan ucapan sang fotografer itu, yang mengeritik jenjang pendidikan Syahrel.


Tetapi Syahrel tidak putus semangat, ia tetap meneruskan perjalannya, walau jarak penerbit satu dengan yang lain berjauhan sekali lokasinya, tetapi walau terik matahari menusuk pori-pori, walau peluh tercampur keluh inilah relisasi hidup yang harus dihadapi.


Tujuan Syahrel sekarang, ia mencari angkutan umum yang mengarah ke jalan waru di belahan Timur Jakarta, di sana ada satu penerbit buku-buku remaja Islam. Dari terminal Pulogadung Syahrel harus naik lagi angkot ke arah Rawamangun.


“Mas, naskahnya biar kami terima dahulu baru beberapa hari kami kabarkan lagi. Tetapi jangan dulu dikirim


ke penerbit lain," wanita yang diawal pertemuan memperkenalkan diri dengan nama sapaannya, Nurul. Ia seorang editor di perusahaan penerbit tersebut, begitu hangat ia menyambut Syahrel, dengan senyum. Wanita yang mengenakan jilbab berwarna biru langit dan satu style pakaian muslimah modern begitu cepat menyesuaikan diri dengan tamu yang ia hadapi. Tak lupa pula ia menjelaskan sistem kerjasama yang mereka tawarkan, ada sistem putus dan royalti.


Uang disaku sisa Sepuluh Ribu, Syahrel mulai bimbang untuk meneruskan perjalanannya ke penerbit berikutnya, dia harus bertemu dengan Setiawan G Sasongko, seorang penulis disebuah perusahaan media, dibilangan Jakarta Pusat, yang menulis sebuah buku motifasi untuk para penulis, Syahrel harus sampai ke tempat tersebut. Dengan bekal seadanya dan menahan lapar, ia berusaha memberikan nasakah lain ke tempat itu.


Syukurlah beliau ada di tempat, sepintas mendengar penjelasannya jarang sekali Mas Setiawan ada di tempat. Sejam lebih beliau mau meluangkan waktu untuk bercerita jalan hidupnya sampai menjadi seorang penulis.


“Awalnya tulisan saya ditolak penerbit. Sampai teramat kesalnya saya buang tulisan saya ke tempat sampah. Anehnya, tulisan itu kini diminta beberapa penerbit, " begitu hangat sambutan beliau untuk seorang penulis pemula seperti Syahrel. Tak ada jenjang karir yang membatasi antara penulis senior dengan seorang penulis pemula.


Setiap pengalaman hidup yang ia alami penuh dengan hal untuk, sesekali ia menyisipkan tawa saat bercerita mengenai jalan karirnya, yang menurut beliau cukup aneh.

__ADS_1


“Hidup ini misteri Rel,"ucap beliau dengan memperlihatkan beberapa tulisan yang pernah diterbitkan oleh beberpa penerbit, yang salah satunya. Penerbit buku-buku Islam yang sebelumnya Syahrel datangi.


“Kalau di tempat ini, tulisan saya yang diterima mengenai cerita anak-anak, mengenal hari-hari Hijriyah dan sejarahnya. Tetapi sama halnya dengan beberapa penerbit lainnya, Mas Setiawan juga akan mengabari naskah yang Syahrel kirim, kemungkinan beberapa minggu ini.”


__ADS_2