
Dalam kesucian hamba berdiri dengan satu i’tikad dari bilangan yang tak satu pun manusia mengerti misteri dari ayat yang tersirat dan tersurat. Kemuliaan bagi hamba Mu yang sadar arti kesatuan hati dan jiwa untuk satu jalinan penghambaan sebagai hamba Mu.
Hamba tetapkan hati hamba dalam kepasrahan ikhtiar yang usai hamba tuntaskan, kini dengan keteduhan hati terimalah hamba yang sadar akan segala kekurangan dan kelemahan karena hanya Engkaulah Yang Maha Besar dari kebesaran yang manusia pun tak mampu membayangkan.
Hamba hadapkan jiwa dan wajah dalam satu qoda’ dan qodar yang Kau tetapkan kepada hamba, semua bukti Ke-Maha Agung-an Mu. Tiada satu pun yang mampu menyekutukan dan bersekutu dengan Mu.
Segala pujian hanya untukMu, Tuhan yang menguasai rentang waktu dan isyarat penciptaan serta ruang yang tak mampu kami sentuh. Raja manusia dari segala raja. Ke mana lagi akan hamba sandarkan segala pengharapan dan penghambaan diri ini jika bukan kepadaMu?
Tunjukkanlah jalan yang hanya Engkaulah yang tahu, satu jalan hamba-hambaMu terdahulu yang mereka sepenuhnya mengerti arti mencinta dan dicinta. Yang jiwanya hangat tersentuh pelukan sayang dari Maha Sayang dan pengasih dari Maha Kasih. Mereka orang yang mengetahui rasa bersyukur, ruh mereka dipenuhi jiwa-jiwa yang tak pernah sepi dan kecewa dengan ketergantungan karena cintanya menggapai serambi sang Pencinta.
Dan janganlah Engkau murkai kami seperti murkaMu kepada mereka yang tak menyadari arti Ke-Esa-anMu. Hamba bertasbih kepadaMu wahai Yang Maha Tinggi, tinggi dari reka pikiran manusia tentang sifat hakikiMu.
Tak dapat kami menghindar dari pengawasan Mu, sekali pun kami berbisik dan mengumpat di hati kami, hamba yakin Engkau Maha Mendengar.
Segala pengharapan dan kepedihan hati, gundah gulana, suka bahkan duka dari hambaMu. Santun hamba ucapkan pula untuk kekasihMu yang mencinta Engkau melebihi cintanya kepada yang lain.
Seorang remaja yang tumbuh dalam kemuliaan serta jalan hidupnya yang bermartabat, seorang suami dari istri sholehah, seorang ayah dari anak berbudi mulia dan seorang pemimpin perang yang memerangi dengan adat dan adab peperangan, baginya kemanusiaan dan belas kasih etikanya. Kemuliaan para penghulu serta keturunannya, Muhammad yaa Musthofa. Salam sejahtera dari satu kebajikan.
Lima waktu sudah tertuntaskan kewajibannya. Kini saatnya berbagi waktu dengan bunda. Banyak yang harus disampaikan dan dipertanyakan.
Pintu masjid ditutup dan Syahrel pun mulai mematikan lampu ruangan satu persatu. Haji Arsyad bin Umar menunggu di halaman masjid, ada yang ingin disampaikan rupanya. Tangan kanan Haji Arsyad mengepalkan uang ratusan ribu, dari jauh ia mengamati Syahrel.
“Rel, Syahrel!” suara terdengar dari halaman masjid.
Mata Syahrel melihat dengan seksama lelaki tua yang bersorban putih, dihampirinya lelaki itu.
“Pak Haji? Saya pikir siapa yang manggil saya. Ada apa Pak?”
“Ini ada amanat dari pengurus masjid." Diberikannya uang itu.
“Apa ini?”
“Sedikit uang dari jerih payah ente," ucap Kong Haji seperti yang biasa disapa orang.
“Ah, Pak Haji ada-ada saja!”.
“Lumayan Rel untuk sekedar ngupi ame rokok.”
“Aduh Pak Haji, saya ikhlas kerja di masjid.”
__ADS_1
“Ikhlasnya ente hanya Allah yang menilai dan kite orang hanya memberi sedikit imbalan. Udah...terima aja!”
“Terima kasih Pak Haji.”
“Bagaimana kabar Bunda ente?” tanya lelaki tua kelahiran Jakarta enam puluh tahun silam.
“Alhamdulillah, baik Pak Haji.”
Sepanjang jalan mereka asyik berbicara, terkadang terselip tawa, entah apa yang dibicarakan keduanya. Sampai di pertigaan jalan obrolan mereka terputus karena selisih jalan.
Sesampainya di rumah, bunda sudah menyiapkan makan untuk Syahrel. Namun bunda sudah tertidur dengan pulasnya, mungkin letih menunggu syahrel yang tak kunjung datang, sampai-sampai suara pintu terbuka pun tak dihiraukannya.
Syahrel pun melangkah pelan, takut bunda terbangun.
“Sudah pulang nak?”
Terkejut Syahrel, “Baru saja Bunda.”
“Cepatlah makan, Bunda sudah siapkan sedari tadi.”
“Iya, nanti saja. Aku belum lapar.”
“Lama sekali pulangnya?”
Bunda pun beranjak dari tempat tidur, sedikit tergopoh ia berjalan.
“Bunda mau ke mana?”
“Ambil air wudhu, Bunda belum sholat.”
Diambilnya kursi, Syahrel merayap ke langit-langit rumah, dua ruas bambu diambilnya.
Rupa-rupanya dua celengan dari bambu. Sudah hampir dua tahun dan hal ini tidak diketahui bunda. Hasil penjualan koran dan upah dari masjid dipisahkannya. Tiba-tiba...
“Rel, sedang apa kamu nak?”
Sreeet…gubrak. Syahrel terkejut dan jatuh. Untungnya tabungannya tak ikut jatuh. Bunda bergegas menghampiri Syahrel.
“Kamu tidak apa-apa Rel?”
__ADS_1
“Sedikit sakit Bunda," jawab Syahrel sambil mengusap kepala yang terbentur kursi.
“Apa yang kamu lakukan di atas?”
“Ada suara yang mengusik di sana, jadi aku mengusirnya.”
“Kenapa kamu terkejut?”
“Suara bunda. Aku pikir bunda belum selesai sholat.”
Bunda mengambil kencur, diusapkannya ke sekujur tubuh Syahrel yang sakit.
“Pakai bajumu.”
“Sudah lebih baik Bunda.”
“Rel, ada yang bunda mau tanyakan. Tadi pagi bunda melihat kamu di depan rumah Pak Anggoro. Apa yang kamu bicarakan ke Dita nak?”
“Dita hanya membeli tabloid dan koran untuk tugas kuliahnya Bunda, itu saja.”
“Ada hal yang kamu harus ketahui, bukan bunda melarang kamu untuk dekat dengannya, kalau sekedar berteman bunda masih bisa terima. Bunda khawatir kamu menaruh hati dengannya. Jangan nak, kita berbeda segalanya. Terlebih masalah agama.”
Syahrel memotong pembicaraan bunda, “Aku sudah mengetahuinya Bunda dan aku pun sempat terkejut melihat kalung yang dikenakannya. Tetapi Bunda jangan khawatir, aku punya batasan untuk hal itu.”
“Baguslah nak kalau kamu bisa berbuat seperti itu. Carilah gadis sederhana saja dan seiman dengan kita. Insya Allah hidup kamu lebih tentram dalam kesederhanaan, dibanding berlimpah harta tetapi berdiri di atas perbedaan agama dan jangan sampai cinta membutakan akal sehatmu. Dengarlah ucapan Bunda, percayalah nak.”
“Iya, aku pasti mendengarkan nasehat Bunda.”
“Hanya itu pesan Bunda dan jangan tidur terlalu larut, sayangi badan kamu.”
“Iya Bunda.”
Detak jarum jam terdengar sampai di telinga, sudah tak terdengar lagi orang beraktifitas. Diliriknya jam yang bertengger di dinding, tepat jam Dua Belas malam. Dilema dalam perasaan, berbohong dengan keadaan.
Awal yang kurang baik untuk melangkah, Syahrel berat untuk memilih. Di satu sisi ucapan Bunda yang lembut tetapi dalam isyaratnya, di sisi lain rasa penasaran untuk mengenal Dita berganti rasa cinta.
Namun ada perbedaan yang mendasar bagi hubungan ini yaitu perbedaan agama. Apa yang mesti Syahrel lakukan?
Andai Dita tahu perasaan yang disimpan Syahrel. Apa yang harus diperbuatnya? Mungkin setahu Dita Syahrel hanya sebatas penjual koran. Tanpa ia sadari, diam-diam Syahrel menaruh perasaan terhadapnya.
__ADS_1
Mungkinkah hal ini terjadi ya Allah? Dosakah hamba menaruh perasaan di atas perbedaan?
Berikan hamba petujuk Mu. Jangan karena cinta membutakan hamba dan membuat jauh dari Mu, sematkan cinta yang suci.