SATU CINTA, DUA BENUA

SATU CINTA, DUA BENUA
Tak Ada Hil yang Mustahal


__ADS_3

Alhamdulillah, puji Tuhan akhirnya semua dapat terungkap. Allah tunjukan bahwa Ia selalu berpihak kepada kebenaran. Satu masalah dapat di atasi, berkata Haji Arsyad yang entah bagaimana membalas segala kebaikannya.


Semula aku tidak menyangka cara-cara penyelesaian yang Haji Arsyad tempuh, gerak dan lakunya tak dapat aku pahami, tetapi ada saja jalan keluarnya yang terbilang nyeleneh. Sering kali aku bertanya kepada beliau tentang hal-hal yang ia kerjakan, yang menurutku tidak sesuai dengan logika atau nalar akal manusia.


Jadi inget inget perjalanan Nabi Musa yang berguru dengan Nabi Khaidir. Setiap kali nabi Khaidir melakukan sesuatu hal yang menurut nabi Musa di luar kemanusiaan, sering kali beliau melanggarnya. Namun ada hikmah di balik tindakan yang dilakukan nabi Khaidir, yang keberadaannya kini masih menyimpan kontrafersi itu. Begitu juga dengan Haji Arsyad yang setiap kali bertindak tak bisa terbaca apa maunya.


Banyak hikmah dibalik kejadiaan ini, apa yang kita rencanakan berbeda dengan kenyataannya, apa lagi kalau tidak kita rencanakan, mungkin tambah berantakan. Di sini aku menyadari, untuk lebih sensitif lagi memahami dan menghargai serta mengerti siapa itu wanita dan apa mau mereka.


Aku tidak mau memvonis diriku sendiri karena bersalah tidak menyikapi perasaan Sisil, bukan pula aku aku sok jual mahal. Tetapi aku bukanlah tipe lelaki yang mudah mengungkapkan perasaan cinta.


Jujur, Sisil termasuk kategori wanita cantik, secara fisik dia memiliki banyak kelebihan, terlebih lekuk tubuhnya yang indah, kalau dipandang dari sudut lelaki normal pada umumnya, belum lagi, dagunya yang memiliki belahan sejajar dengan garis hidung dan bibir.


Ada hal lain yang membuat aku sedikit berpikir, ya tentang perasaan Dita saat mendengar penjelasan Sisil. Ternyata hamilnya Sisil adalah ulah dari orang yang ia cintai. Aku merasakan jeritan hatinya dan masih teringat beberapa waktu yang lalu saat Dita menceritakan masalah hubungannya itu.


Aku yakin ia masih menyimpan perasaan cinta untuk lelaki itu. Kalau dipikir-pikir, hidup ini penuh teka-teki yang tidak bisa kita membaca kemungkinan yang akan terjadi, apa yang diinginkan sang penulis naskah. Tetapi cukuplah untukku sejenak mengucapkan segala puji bagi Allah yang sudah membebaskan aku dari fitnah dan kejadian yang aku hadapi.


                                                                            è OoO ç


“Rel, lagi ngapain?” Sapa Dita yang secara tiba-tiba mengejutkan Syahrel dari balik jendela kios yang ukurannya hanya sebatasa kepala orang dewasa.


“Eh Dita! Lagi ngisi TTS nih.”


“Aku ganggu nggak?”


“Nggak sih. Memangnya ada apa?”


“Iseng aja, mau ngajak kamu jalan-jalan.”


“Kali ini maaf Dit. Bukan aku menolak tawaran kamu, hari ini belum ada pemasukan sama sekali. Mungkin karena tadi pagi hujan, jadi orang enggan tuk keluar rumah atau mampir sejenak untuk membeli koran.”


“Hmm…begini aja, sebagaian koran kamu aku bayarin. Bagaimana?”


“Memangnya mau kemana?” Belum sempat Syahrel menjawab penawaran Dita, ia balik bertanya.


“Aku suntuk, kita cari suasana yang lain yuk!”


“Kenapa kamu nggak minta ditemani yang lain saja?”


“Saudara kamu, atau teman kampus mungkin,”tambahnya.


“Rel, ini hari minggu. Lagian juga mereka punya kesibukan masing-masing. Lagi pula ini sudah masuk liburan semester, paham!" Dita membalasnya dengan kesal.


“Yaudah, tunggu sebentar. Aku rapihkan kios dulu.”


“Begitu dong.”


Begitu kurang berkenan Syahrel untuk menutup kios, pemasukannya sedikit mengalami penurunan. Ada beban biaya yang harus ia tanggung, semenjak Bunda tidak lagi bekerja.


“Dit, kalau begini terus aku bisa kehilangan pelanggan.”


“Kan tidak terlalu sering aku minta tolong sama kamu.”


“Memangnya mau kemana? Pulangnya jangan terlalu sore yah!”


“Sudahlah ikut saja. Belum pergi sudah ngomongin pulang.”


“Bukan begitu, aku harus tiba di masjid sebelum adzan maghrib.”


“Aku tahu. Lagi pula nanti sore aku juga harus ke gereja. Ada rapat anak sekolah minggu.”


“Maksudnya sekolah minggu?”


“Kalau di agama kamu semacem..., taman Al qur’an, setingkat play group.”


“Oh, ngaji maksudmu?”


“Apa itu ngaji?" Dita baru pertama kali mendengar istilah ngaji.


“Membaca dan mempelajari Al-qur’an.”


“Bukan Rel, jadi kalau di agamaku istilah ngaji sama halnya dengan...., tidak ada deh. Mungkin hampir sama dengan kidung atau puji-pujian.”


“Bukan Dit, kalau kidung itu sama dengan sholawat,”


“Sholawat. Apa itu?”


“Nyanyian suci, suara langit." Jawab Syahrel.


“Seperti ini yah, sholatulloh salamulloh ala toha rosulallah...”


Dita mengikuti irama sholawat, namun lidahnya kaku dan penggejaan katanya tidak beraturan.


“Begini, Sholatullah Salamulloh ala Toha Rosullillah…”Syahrel mencoba membenarkan kata dan iramanya.


“Kok kamu tahu nyanyian itu?” Syahrel melanjutkan pertanyaanya.


“Di TV sering diputar, kalau bulan puasa.”


“Rel, kalau kita ngobrol terus, kapan selesainya kamu nutup kios?” Sindir Dita.


Mendengar sindiran Dita, Syahrel sedikit mengeluarkan kata-kata, tangannya mulai bekerja. Satu persatu majalah dan koran di masukan ke dalam peti, tempat biasa Syahrel menyimpan barang dagangan.


“Alhamdulillah, sudah rapih,"  Syahrel menepuk kedua jemari tangan kanan dan kirinya.


Kios pun sudah tertutup rapat, Syahrel masih memeriksa sekeliling kios. Takut-takut masih ada celah yang terbuka. Dita pun sudah duduk di jok kemudi, Syahrel merapihkan pakaian dan memeriksa kembali barang bawaan serta kunci kios.


“Sudah siap Pak?” Sindir Dita dari dalam mobil, seolah mau mengantar bossnya pergi.


“Siap Bu. Bismillahi Rahmani Rahim.”


Sedan hitam pun melaju dengan elegan, rotasi bannya terlihat pasti untuk berjalan menghantarkan mereka kemana pun tujuannya.


                                                                                    è OoO ç


“Sebenarnya aku mau cerita sama kamu”,Dita memulai pembicaraan.


“Tentang kejadian kemarin?” Syahrel langsung menebak.


“Ya begitulah. Jujur aku sock mendengar Sisil hamil gara-gara lelaki yang nggak tahu terima kasih.  Mau rasanya aku mencabik muka Sisil dan Ivan.”


“Nama itu lagi yang Dita sebut," gumam Syahrel di dalam hati.


“Belajarlah menjadi orang yang bisa menerima kenyataan, walau seperih apa pun itu Dit,”


“Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurutNya. Begitu pula sebaliknya," tambah Syahrel menasehati Dita.


“Tetapi mereka tidak memikirkan perasaan orang.”


“Dit, apa kamu juga memikirkan peraaan mereka?”


“Maksud kamu?”


“Apa saat kamu berbagi cerita dengan Sisil kamu memahami perasaan Sisil dan saat kamu melepas Ivan dari hidupmu, apa kamu juga merasakan perasaannya?”


“ ……..” Dita terdiam memikirkan pertanyaan sekaligus koreksi untuknya.

__ADS_1


“Tidak. Yang aku pikirkan hanya ungkapan perasaan yang aku rasakan.”


“Jadi wajarkan, kalau mereka bertindak seperti itu. Atau mungkin karena keadaan yang memaksa untuk mereka menjalin hubungan. Intensitas waktu mereka bertemu pun menjadi penyebab terjalinnya hubungan tersebut.”


“Kok kamu tahu?”


“Logikanya, setiap apa yang kamu keluhkan kepada Sisil tentang Ivan, secara langsung atau pun tidak langsung disampaikan kepada Ivan. Dan akhirnya apa yang kamu kelukan menjadi bahan obrolan mereka dan akhirnya yah seperti ini, mak comblang jatuh hati.”


Terselip senyum mengejek di bibir Syahrel.


“Ah, kamu bisanya ngeledek.”


“Bukannya ngeledek. Toh, memang kenyataanya Dit.”


Dita sedikit gugup mengendalikan kemudi.


“Tapi kok Ivan tega ya?”


“Bukannya tega. Tapi dia keburu sadar,"guyon Syahrel.


“Maksud kamu, dia khilaf selama ngejalanin hubungan sama aku. Wah, ini penghinaan luar dalam namanya.”


“Bercanda Dit.”


“Santai aja Rel, aku sudah terbiasa kok.”


Beberapa menit keadaan menjadi sepi, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka.


“Kok aku merasa nyaman ya dengan Syahrel… Ah, ini hanya sesaat saja!”, kata hati berargumen mencoba berdiskusi tentang perasaan dan keadaan.


Dita mencuri pandang, matanya menjurus menatap rona wajah Syahrel.


“Aku harus kembali kepada konsekwensi aku semula. Memegang janjiku kepada Bunda, tak akan aku ingkari janjiku. Biarlah aku hanya mengagumi Dita tanpa harus memiliki, tetapi aku sayang. Jangan Syahrel, ingat janji kamu, jangan kamu buat Bunda menangis lagi," perasaan dan pikiran beradu pendapat, hati bicara tentang cinta, tetapi akalnya menjawab lain dan bertolak belakang dengan perasaan. Syahrel mengingat kembali janji dan air mata Bunda.


“Rel,” saat bersamaan pula,”dit”, Syahrel memanggil Dita.


Dan keduanya kembali diam.


“Kamu dulu," Syahrel memperkenankan Dita berbicara terlebih dahulu.


“Nggak ada apa-apa, aku hanya mau bilang, sebentar lagi kita sampe.”


“Aku pikir.”


Apa yang keluar dari mulut Dita ternyata berbeda dengan apa yang dipikirkan Syahrel.


“Kamu pikir apa Rel?”


“Aku pikir masih jauh.”


“Aku kira.”


Dita pun mengharapkan Syahrel mengatakan sesuatu yang membuat ia tersanjung atau setidak-tidaknya memuji pakaian yang ia kenakan. Tanpa Syahrel sadari penampilan Dita berbeda, tidak seperti biasa. Hari ini ia menegenakan dress blush berwarna coklat marum, dipadu celana jeans dengan aksesoris beberapa gelang dan kalung nampak begitu indah melekat dan ada yang sedikit menarik, Dita mengenakan sepatu high heel, pemandangan yang tak biasa.


“Kamu kira apa Dit?”


“Aku kira sudah dekat. Eh, ternyata tempat yang aku maksud masih jauh.”


Dita mencoba mengalihkan apa yang terpikir di benaknya.


“Ini cowok nggak ngerti apa perasaan cewek. Atau memang ia tidak menyimpan perasaan sayang untukku”, Dita kembali memikirkan tentang perasaan yang kini bergejolak di hati.


“Dita, boleh aku bertanya kepada kamu sekali ini?”


“………………..” Syahrel kembali terdiam.


“Ayo Rel, ucapin kata cinta untukku," gumam Dita dalam hati.


“Mmmmm, memangnya kita mau kemana sih Dit?”


“Nonton.”


Meleset lagi dugaan Dita.


“Nonton apaan?”


“Nonton kucing berantem!!” Jawab Dita dengan intonasi tinggi dan kesal tetapi terselip senyum di bibir.


“Kok kamu kesal Dit?”


“Habisan kamu naaanyaaa terus. Tinggal duduk manis dan nemenin aku jalan-jalan. Kan kamu tahu aku lagi suntuk.”


“Oh iya ya aku lupa.”


Dita kembali mengemudi, kali ini kecepatan   ditambah, dan terlihat jarum speedometer bergetar tak stabil.


“Dit, bisa pelan-pelankan bawanya?”


“Ini sudah pelan Pak Syahrel.”


“Bahaya, kalau terjadi apa-apa aku belum penuhi sunnah rosulku.”


“Maksud kamu?”


Pedal gas di angkat sedikit, tak perlu lagi menginjak kopling. Sedan milik Dita Autometik, berlahan kecepatan pun menurun.


“Maksud aku…aku belum menikah.”


“Oh, kamu punya kepikiran nikah juga Rel?”


“Semua manusia normal pasti punya pikiran mau nikahlah.”


“Bagus…bagus.”


“Memangnya kamu tidak memikirkan hal itu?”


“Sepertinya masih jauh aku memikirkan hal itu, masih trauma. Lagi pula belum ada pria yang beruntung mendapatkan aku.”


“Kamunya kali terlalu selektif.”


“Bagi aku, mencari seorang pendamping hidup itu perlu selektif. Dengan alasan biar tidak kecewa nantinya. Dan satu hal yang kamu harus tahu Rel, bahwa aku bukanlah tipe cewek yang mudah jatuh hati. Tetapi kalau sudah sayang, setiaku tak akan pernah pudar.”


Begitu menggebu-gebu Dita menjelaskan perihal pendamping hidup.


“Oh, maksud kamu biar tidak terulang kembali apa yang kamu alami sekarang?”


“Hmm, mungkin," jawab Dita datar.


“Nah, kalau kamu sendiri bagaimana Rel?”


“Bagaimana apanya maksud kamu?!”


“Yah, mengenai pendamping hidup.”


“……………,” Syahrel tertegun sejenak.

__ADS_1


“Arti pendamping hidup, bagiku… Hmm, dia menjadi tempatku bersandar saat aku letih dan saat aku terjatuh, tempatku berbagi saat susah atau pun senang, dia kekasihku juga sebagai teman hidupku. Dia mampu mengerti kodratnya seorang wanita, dan yang pastinya dia sayang sama bunda.”


“Kalau dilihat dari penjelasan kamu, ada satu pertanyaan lagi untuk kamu Rel. Bagi kamu penampilan fisik itu perlu tidak?”


“Sebelumnya, aku jelaskan ke kamu dulu kriteria pendamping hidup itu yang seperti apa, ini berdasarkan buku yang pernah aku baca. Itu ada 4K, Pertama keimanan, kedua keturunan,  ketiga kekakyaan, dan yang terakhir kecantikan.”


“Semua memiliki pemahaman yang relatif," tambahnya.


“Semula aku pikir, kamu bukanlah tipe lelaki yang tidak memikirkan masa depan, ternyata sampai memilih pasangan hidup saja sudah memiliki konsep.”


“Nah, kalau kamu sendiri?”


“Bagiku kriteria pendamping hidupku kelak, cukup dia mampu membuatku nyaman.”


Ternyata pernyataan Dita begitu singkat dan padat.


“Untuk fisik?”


“Nggak perlu tampan, percuma punya pendamping hidup tampan tetapi dia tidak membuatku nyaman dan yang penting juga dia proposional.”


Obrolan mereka  terlihat serius.


“Perbedaan yang lain?”


“Apa maksudnya?”


“……………………,” kata sudah terangkai tetapi berat untuk diucapkan.


“Materi, maksud kamu? Untuk masalah yang satu itu, Papa sering mengajari aku, kalau mencari calon suami dia harus punya kemandirian dan kemapanan usaha.”


Syahrel merasa terusudut dengan ungkapan Dita yang singkat dan padat, semakin berat untuknya mengungkapkan perasaan yang selama ini tersimpan jauh di hati.


“Mungkin keadaan seperti ini lebih baik, dari pada aku mengungkapkan perasaan sayangku kepada Dita. Ada dua kemungkinan yang akan aku hadapi, kemungkinan pertama, kalau Dita tidak menerima, mungkin sikapnya akan berubah dan menjauh dariku, ini akan menutup kesempatan aku untuk bisa melihat paras cantiknya. Dan kalau pun aku diterima menjadi kekasihnya, banyak masalah yang akan aku hadapi. Tetapi sampai kapan aku simpan perasaan ini.” Dalam lamunan.


Syahrel termenung dan berpikir, sorot matanya menoleh ke luar. Seakan ia mau menjerit menahan perasaan yang sulit ia ungkapkan, hati berkata cinta tetapi kenyataan yang akan dihadapinya berbeda.


“Akhirnya sampai juga.” Sentak Dita mengejutkan Syahrel dalam lamunan.


Space Billboard reklame film yang akan ditayangkan begitu besar terpampang, studio satu menyangkan film action yang dibintangi artis-artis luar ternama, di studio dua ada penayangan film drama komedi, studio tiga film misteri.


“Memangnya kita mau nonton film apa Dit?”


“Kucing berantem.”


“Ah kamu masih bercanda. Terakhir aku nonton di bioskop sekitar tiga tahun lalu. Aku jadi canggung masuk mall.”


“Kan ada aku!”


Mereka pun melangkah memasuki gedung theater yang terlihat begitu eksklusive. Setiap dinding tertata wall atau permadani indah, belum lagi lantainya, bentangan karpet berwarna merah membuat pengunjung seoalah menjadi raja. Senyum dan sapa petugas menyambut hangat, seakan kami menjadi bagaian dari keluarga mereka. Tetapi ada satu hal yang membuat jantung Syahrel terperangah dan berdetak kencang, rupanya Dita memesan satu room VVIP, bukan karena harganya yang mahal tetapi kenyamanan yang Dita cari.


Kini hanya Dita dan Syahrel yang menempati ruangan yang memang sengaja disiapkan untuk keluarga. Pikiran Syahrel tidak menentu, dua remaja di dalam satu ruangan yang gelap, jangankan manusia yang masuk, nyamuk pun tidak diperkenankan masuk di ruangan VVIP tersebut.


Sebelum masuk, Syahrel mengucap istighfar berkali-kali. Jauh dari dugaannya semula. Syahrel hanya mengenal bioskop seperti umumnya, pengunjung menempati kursi yang sudah tersedia, setiap studio dipenuhi hampir ratusan pengunjung. Tetapi sungguh berbeda dengan apa yang kini Syahrel tempati. Ruangan tersendiri, dengan sebuah layar plasma yang cukup besar, dengan sofa eksklusif  lengkap dengan selimut.


“Astaghfirullah ‘aladzim, Dita tempat apa ini?”


“Studio VVIP, memangnya ada yang aneh ya Rel?”


“Mungkin bagi kamu hal ini biasa, tetapi untuk aku ini cukup aneh. Aku duduk di lantainya saja yach Dit, biar kamu yang duduk di sofa itu.”


Seisi ruangan tersebut penuh dengan nuansa merah marum, begitu juga dengan sofa, yang sebenarnya dua sofa dijadikan satu, tanpa pembatas. Suara audio yang begitu keras di setiap sudut ruangan disertai pengaturan cahaya lampu yang bisa ditata menurut keinginan si pengunjung.


“Rel, aku sudah mahal-mahal memilih tempat ini, jadi tolong hargai aku.”


“Maaf  Dit, bukan aku menolak tetapi aku takut.”


“Takut apa, takut aku gigit?”


“Bukan. Aku lelaki normal dan kamu juga. Aku khawatir nanti terjadi hubungan singkat alias konsleting.”


“Yaelah, aku juga punya batasan Rel.”


“Aku harap kamu mengerti.” Syarel meminta Dita untuk dapat memahami siapa dia dan siapa Dita.


Syahrel pun tetap kekeuh dengan pendiriannya, sampai film selesai Syahrel tetap duduk di lantai dan Dita begitu menikmati penayangan film dramatikal yang begitu menawan, arahan sutradara muda dalam negeri.


“Kapan aku bisa membuat cerita sehebat ini?” Kalimat itu muncul setelah Syahrel menyaksikan film tersebut.


“Bukannya jalan hidup kamu itu cerita yang lebih hebat dari film tadi?”


“Karena jalan hidup manusia itu satu misteri yang diketahui oleh Tuhan,"tambah Dita melanjutkan pembicaraan dari angan Syahrel.


“Kasihan Anji yang tidak bisa memiliki cintanya Cindy.” Syahrel mengingat kembali tokoh dalam film tersebut.


“Andai itu terjadi sama kamu bagaimana Rel?”


“Aku akan tegar hadapi


semua. Lagi pula masih banyak wanita selain Cindy, ada Bella yang juga


mengharapkan cintanya Anji.”


Komentar mereka tentang


film tersebut terpotong.


“Eh, ngomong-ngomong aku


mau ke gereja, aku antar kamu pulang dulu, baru aku berangkat ke gereja. Kamu


mau aku turunin dimana?,”


“Di masjid Dit, sudah mau menjelang maghrib.”


“Kamu begitu taat dengan aturan agama. Sampai masalah nonton saja kamu kaitkan dengan masalah agama. Jarang aku temui pria yang seperti kamu Rel, beruntung aku bisa mengenal kamu. Andai bukan karena payung, mungkin kita tidak bisa seakrab ini.”


“Itu berlebihan, aku sama seperti lelaki pada umumnya, namun kalau bukan karena agama mungkin hidupku sudah tidak bisa lagi aku kendalikan. Bukankah setiap agama mengajarkan nilai kebaikan dan kebajikan?”


“Betul. Tetapi banyak juga yang meninggalkan ajaran agama itu, terlebih pergaulan remaja saat ini, semakin menyadarkan aku dan menyesali dosa yang sudah aku kerjakan. Beruntung aku bisa mengenal orang seperti kamu Rel, walau pun kita berbeda agama, tetapi selama aku mengenal kamu, tidak ada sedikit pun sifat membenci agama orang lain, terlebih ketaatan kamu beribadah.”


“Alhamdulillah, sekali lagi Dit, ucapan kamu itu berlebihan. Aku lelaki biasa dan normal.”


“Jujur, jarang aku temukan lelaki seperti kamu.”


“Jujur juga, sebentar lagi kita sampe.” Syahrel mengalihkan sanjungan Dita.


“Thanks ya Rel sudah mau nemenin aku seharian. Dan ini uang pengganti koran kamu.” Dita mengambil selembar uang seratus ribu rupiah.


“Bukannya aku mengemis Dit, tetapi ini demi kelangsungan usaha aku dan keluarga. Jadi aku terima pemberian kamu, namun sekali lagi aku juga mengucapkan terimakasih.”


Sampailah Syahrel di tempat yang ia maksud, pelataran masjid.


“Hati-hati Dit. Pesan aku, taati apa yang kamu imani, dan realisasikan dalam kehidupan, kelak akan kau temukan arti kehidupan. Dan sekali lagi termikasih kamu sudah mengajari aku untuk mengenal kemewahan. Hehehe, biar aku tidak norak kalau masuk ke bioskop seperti tadi. ”


“Sama-sama Rel. Assalamu’alaikum Pak Ustadz," sindir Dita.

__ADS_1


__ADS_2