SATU CINTA, DUA BENUA

SATU CINTA, DUA BENUA
Jangan Kau Sebut Nama itu


__ADS_3

Ada tugas yang belum tuntas Syahrel kerjakan, ada janji yang mesti ia penuhi. Meski sekujur tubuhnya terasa sakit, terlebih di pangkal paha, Syahrel harus penuhi janji itu.


Cuaca di luar terlihat mendung, tak ada bintang, tak ada bulan, hanya hembusan angin kencang merobek pori-pori.


Suara jangkrik pun membisu seketika, mungkin mereka tahu akan ada hujan yang turun, mau bagaimana lagi, majalah pesanan Haji Arsyad harus sampai ke tangan beliau malam ini.


Walau kemungkinan Haji Arsyad bisa memaklumi keadaan Syahrel untuk memberi alasan lain atas tidak sampainya majalah pesanan untuk Zahra malam ini. Namun, manusia yang dipegang adalah janjinya, biar tak ada hisab di yaumil akhir nanti atas keingkarannya tak memenuhi janji.


Syahrel tidak mau masuk dalam kategori orang munafik yakni jika berjanji selalu ingkar. Syahrel takut akan hal itu, lagi pula kalau majalahnya laku terjual ada laba penjualan yang bisa Syahrel sisihkan.


“Bunda, Syahrel mohon izin mengantarkan majalah pesanan Haji Arsyad untuk Zahra," Syahrel mencium tangan bunda, meminta izin.


“Pergilah Rel, tapi ingat waktu ya nak?” Dahi Bunda mengernyit, matanya sembab.


“Iya. Masya Allah Bunda, Syahrel lupa," Syahrel bergegas mengambil sekantung buah Klengkeng yang ia beli siang tadi.


“Ini Syahrel belikan buah kesukaan Bunda.”


“Terima kasih nak. Jazakumullah khairan katsir...”


Walau hanya sekantung buah tetapi bagi bunda perhatian Syahrel lah yang terpenting untuknya.


“Bunda, Syahrel jalan ya. Assalamu’alaikum," Syahrel kembali meminta izin.


“Wa’alaikum salam. Ingat pesan Bunda ya nak.”


“Iya Bunda," dikecupnya kening bunda karena ia khawatir membiarkan bunda sendiri.


Dikenakannya jaket, di luar keadaan cuaca sedang tidak menentu. Langkah kaki Syahrel terasa berat, setiap sendinya terasa nyeri sampai ke telapak kaki.


Syahrel membayangkan tubuhnya terhempas di tempat tidur sambil mendengarkan bunda bercerita tentang masa mudanya. Syahrel senang mendengar keadaan tempo dulu yang serba kekurangan, tak ada listrik dan mencari makan untuk sekedar saja susah.


Terkadang hanya umbi kecil yang bunda makan atau ketela pohon pengganti nasi jika tak ia temukan nasi satu harian, bisa juga pucuk daun singkong yang dijadikan lalapan.


Sepuluh meter lagi Syahrel sampai di kediaman Haji Arsyad. Sebuah rumah mewah tetapi berbeda dengan rumah mewah lainnya yang dibatasi pagar setinggi sepuluh meter. Rumah Haji Arsyad begitu asri, banyak tanaman buah yang hidup di pekarangan rumah beliau.


Ada beberapa hewan jinak yang ia pelihara dengan baik, seperti burung Bekisar, ayam Kalkun dan Kelinci beliau biarkan hidup liar dalam sangkar yang luas.


Koleksi tanaman anggrek hidup subur di kelilingi miniatur air mancur., suara gemericik air begitu harmonis terdengar saat malam hening, dihias lampu taman yang menyala begitu indah pijarnya. Badrun, karyawan Haji Arsyad yang menjaga dan memelihara semua.


“Assalamu’alaikum," salam terengar seirini ketukan di daun pintu. Berkali-kali Syahrel mengucapkan salam, tak terdengar si penghuni rumah.

__ADS_1


Mungkin jarak dari ruang tamu dan ruang keluarga begitu jauh atau suara Syahrel yang tak terdengar. Ini ketukan dan salam terakhir yang akan Syahrel ucapkan, jika tak ada jawaban juga terpaksa Syahrel harus kembali ke rumah.


“Assalamu’alaikum Pak Haji!!!” Ucapnya sekali lagi, kali ini dengan suara lantang.


 Nampak bayangan seseorang menghampirinya.


 “Wa’alaikum salam, sebentar...!" Wanita berkerudung membukakan pintu.


Suara lembut terekam betul di pikiran Syahrel. Ia menerka dalam hati, pasti itu  suara Zahra.


“Eh, Kak Syahrel," benar dugaan Syahrel, suara itu memang keluar dari bibir tipis Zahra.


 “Pak Hajinya ada?”


 “Sebentar Kak, aku lihat dulu. Silahkan masuk Kak.”


“Biar aku tunggu di luar saja Zahra.”


Zahra meninggalkan Syahrel sejenak. Wajah Zahra terlihat cerah, bibir kecilnya begitu basah, kantung matanya dihias sipat hitam begitu mempesona.


Tak perlu bersolek berlebihan karena Zahra sudah cukup cantik parasnya.


Tak lama Haji Arsyad menjumpainya, Zahra pun mengiringi langkah beliau.


“Assalamu ’alaikum,"Syahrel menggapai jemari Haji Arsyad dan meletakkan permukaannya di kening.


“Wa’alaikum salam,' jawab Haji Arsyad dengan suara parau.


“Maaf Pak Haji menggangu.”


“Kaga ape-ape, emang ane yang nyuruh ente ke mari, bawa majalahnye?”


“Bawa Pak Haji,' ditunjukannya majalah pesanan Haji Arsyad.


“Berape duit?"


“Lima belas ribu Pak Haji.”


 “Zahra, ambilin uang Abi atau ente minte dulu ame Ummi.”


Belum sampai Zahra ke dalam rumah, Ummi sudah menghampirinya.

__ADS_1


“Mi, bawa uang receh lima belas ribuan nggak?”


“Ade nih kalu dua puluan mah," Ummi Halimah memberikan uang tersebut. Syahrel mencari  uang di saku celana.


“Udeh, kaga useh ente kembaliin, anggep aje ongkos kirim.”


“Terima kasih Pak Haji.”


“Same-same.”


“Kalau begitu saya mohon pamit.”


“Ente mau ke mane? Buru-buru amat? Belon


juga diadonin dodol...," maksud Haji Arsyad belum disuguhin minum atau makanan ringan.


“Sudah malam, takut ganggu istirahat Pak Haji dan keluarga.”


“Ah, bise aje ente ngelesnye! Udeh kaye supir bajaj ente. Hidup ente penuh basa-basi, bilang aje ente mau istirahat, hehehe," celetuk Haji Arsyad yang ketus kalau bicara.


Bagi yang baru kenal mungkin akan berpikiran negatif tentang ucapannya. Memang begitu gaya bahasa orang Betawi.


Syahrel tersipu malu, seakan hatinya bicara, “Pak Haji tau aja kalau saya mau istirahat.”


“Ya udeh, kalu entu mau ente. Yang penting ane kaga ngusir ente ye.”


“Ummi, Zahra, saya mohon pamit dulu," mereka hanya mengangguk, Zahra membalas dengan senyum.


“Assalamu ’alaikum.”


“Wa’alaikum salam," jawab mereka kompak.


 “Terima kasih Kak Syahrel," ucap Zahra. Tangannya memegang majalah.


“Sama-sama Zahra.”


Rintik hujan perlahan mulai turun. Kalau dilihat dari cahaya lampu penerang jalan,


jentik airnya terlihat jelas.


Syahrel mempercepat langkah kakinya supaya lekas sampai ke rumah sebelum hujan turun lebih deras. Syahrel menutup kepalanya dengan jaket yang ia kenakan.

__ADS_1


__ADS_2