SATU CINTA, DUA BENUA

SATU CINTA, DUA BENUA
Karyawan Langit


__ADS_3

Hanya dua jam Syahrel tidur, sekarang sudah harus pergi ke masjid. Ada dua tugas yang harus ia penuhi. Tugas utama merawat masjid dan tugas kedua memberikan infaq milik Haji Arsyad dan keluarga untuk pembangunan kubah menara masjid, yang nantinya empat pengeras suara diletakan di sana, dengan demikian adzan dan seruan masjid dapat didengar masyarakat sekitarnya.


Dengan kilas mata yang masih menyisahkan kantuk, Syahrel melangkahkan kaki memenuhi kewajiban pada Tuhan dan manusia. Walau shalat subuh terbilang rakaatnya sedikit, tetapi amat berat dikerjakan. Saat asyik terlelap tidur harus terbangun mendengar suara-suara langit dikumandangkan sang muadzin. Bagi mereka yang terbiasa mengerjakannya, dengan ringan melangkah dan menyempurnakan wudhu.


Tetapi jarang sekali terlihat masjid dipenuhi jamaah shalat subuh, sekalipun ramai itu hanya saat bulan Ramadhan saja. Lain halnya dengan Syahrel, mungkin karena kebiasaan yang dipupuk sang bunda dan kesadarannya sedari kecil, membuat ia terbiasa dan menjadi bagian yang tidak bisa terpisahkan. Sehari tak menunaikan subuh, satu hari itu ia menyesal.


Dua rakaat sholat tahiatul masjid genap ia kerjakan, namun masih ada dua rakaat sholat sunah qabliah subuh ia sertakan. Barulah, shalat wajib ia kerjakan berjamah. Kali ini ia tidak lagi mendengar suara merdu Haji Arsyad saat melantunkan ayat-ayat pendek dikala shalat, begitu khas kalau beliau memimpin shalat. Kini beliau terbaring di ruangan yang penuh kecemasan, sebuah tempat dimana erangan dan keluh hampir memenuhi dinding-dinding ruangan.


Usai Ustadz Yahya mengimami dan rangkaian puja dan pujian dihantarkan menembus arsy, harapan dalam doa pun membasahi bibir para jamaah. Begitu juga dengan Syahrel, remaja yang sedang dihadapakan dengan pencarian jati diri, tuk mengenal siapa sebenarnya ia dan bagaimana ia harus memaknai arti sebuah kehidupan.


Dalam doa ia menyimpan kata yang terlontar dari mulut  Pak Anggoro, jiwa pun berontak dengan keadaan. Mencoba berbisik kepada Tuhan, meminta satu petunjuk, satu langkah yang yakin untuk meraih kesempurnaah ibadah kepadaNya. Tak lupa sebait doa ia hantarkan untuk ayahanda yang sudah tiada, dan untuk seorang wanita mulia yang kini hidup bersamanya. Terselip pula, nama Dita dan Haji Arsyad dalam doa, entah apa yang ia pinta.


“Ya Allah, kabulkanlah doa hamba. Kemana lagi aku berbisik akan keluh dan kesah kalau bukan padaMu.“


 


Penutup doa pun sudah ia ucapkan, wajah pun ia basuh dengan jemarinya seraya mengakhiri serangakian kata pengharapan, keluh dan kesah. Meminta untuk dapat tegar hadapi semua cobaan yang akan dihadapi. Ia pun beranjak dari tempatnya besimpuh. Kini tugasnya menanti Ustadz Yahya merampungkan doa, karena ada amanat dari Haji Arsyad.


 


“Pak ustadz, ini ada titipan dari Pak Haji. Ia tidak bisa mengantarkannya sendiri. Karena beliau sedang dirawat.”


“Iya Rel, saya sudah dengar kabarnya dari Zahra saat berpapasan jalan sebelum ke masjid. Insya Allah, habis sholat dzuhur jamah masjid mau menjenguk beliau. Saya terima infaqnya, mudah-mudahan Haji Arsyad dapa sabar menghadapi ujian Allah. Dzazakumullah khaeran katsir. “


Mereka pun terpisah, tetapi Syahrel harus melaksanakan tugasnya sehari-hari. Merapihkan masjid, lalu bergegas membeli koran dan majalah.


Mungkin karena kurang tidur, Syahrel lebih memilih istirahat di dalam kios dibandingkan mengerjakan hal lain. Tubuh lelaki itu terbaring di atas balai bambu, tatapan kosong memandang langit-langit.


“Kasihan Zahra, besok ia sudah wisuda tetapi keadaan orang tuanya memaksa ia untuk bisa mandiri," pikiran Syahrel teringat ucapan Zahra di rumah sakit.


Tak lama Syarel terlelap tidur. Belum sempat mimpi mewarnai tidur, suara lelaki dengan logat jawa membangunkannya.


“Den…den….bangun," Mas Sukir mencoba membangunkan Syahrel.


 


Garis mata ia coba kembangkan, mengulik sosok lelaki yang membangunkan tidurnya.


“Oh Mas Sukir, ada apa tumben?”


“Maaf  Den, ganggu istirahat sampean. Non Sisil Den!!”


“Ada apa dengan Sisil?”


“Anu Den…anu…meninggal tadi subuh.”


“Innalillahi,….terus jenazahnya dimana sekarang?”


“Langsung di bawa ke Medan tadi pagi.”


“Dita ikut?”


“Non Dita tidak ikut. Karena besok wisuda.”


“Dan satu lagi yang harus Aden tahu!”


“Apa Mas ?”


“Sehabis wisuda besok, Non Dita dipaksa tuan ikut ke….anuu…opo yah, jadi lali aku Den!!!”


“Anuu…., luar negeri itu opo ya….”


Syahrel tak sabar menanti kata yang keluar dari mulut Mas Sukir.


“Apa Mas?”


“Sebentar, ta inget-inget lagi.”


“Apa Mas?!!!”


“Oh iya Jerman.”


“Sampai kapan?”


“Enda tahu Den”


“Mendadak soalnya. Hari ini saja saya diperintahkan Tuan Anggoro tuk ambil paspor dan tiket pesawat.”


Syahrel semakin tidak mengerti dengan keadaan semua, Dita pergi dengan menyisahkan kata yang belum sempat Syahrel pahami.


“Sudah ya Den, hanya mau menyampaikan informasi itu saja.”

__ADS_1


 


Semenjak kejadian Sisil, Mas Sukir sering sekali menyampaikan semua informasi  perkembangan keluarga Pak Anggoro.


 


“Terimakasih Mas untuk informasinya," Syahrel pun lemas mendengar kabar itu, semakin jauh Syahrel terpisah dengan Dita.


 


                                                                                            è oOo ç


 


Dua kabar yang tidak berkenan itu sampai di telinga Syahrel. Ia pun bingung harus berbuat apa, menyesali keadaan pun tidaklah berguna.


“Aku harus menjumpai Dita sebelum dia berangkat ke Jerman.”


 


Walau tak satu pun koran yang terjual, terpaksa ia harus menutup kios untuk sementara waktu, langkahnya sebisa mungkin dipercepat.


 


“Mumpung Pak Anggoro tidak ada di rumah," ucapnya dalam hati.


Jarak dari kios ke kediaman Dita lumayan jauh tak menyurutkan Syahrel, kendati kurang istirahat tetapi Syahrel harus bisa berjumpa dengan Dita. Terik matahari menyengat mata dan kulit, terlihat kerut di kening Syahrel berusaha melawan sinar matahari.


Namun tak seorang pun terlihat di rumah mewah itu, “Masya Allah, aku lupa Mas Sukir bilang Dita ke kampus”, Terpaksa Syahrel berbalik arah, harapannya pun kosong.


Masih menyimpan penyesalan atas kebodohannya, dengan tertatih letih ia kembali ke kios. Di pertengahan jalan ia berjumpa dengan ustadz Yahya.


“Rel, dari mana”


“Habis ke rumah sahabat Pak ustadz.”


“Rel, boleh saya minta tolong?”


“Nolongin apa Pak ustadz?”


“Bantuin saya angkat kubah menara masjid. Saya cari Pak Syarif, kata istrinya dia lagi ada kerjaan renofasi. Saya juga harus menjenguk Haji Arsyad. Jadi saya minta kamu juga awasi pemasangannya.”


Syahrel tidak bisa menolak.


“Sebelumnya maaf jadi merepotkan.”


Syahrel menyembunyikan kondisinya, tetapi tugas masjid pun menjadi tanggung jawabnya. Lagi pula, ini yang diinginkah Haji Arsyad. Beliau mau mendengar suara adzan terdengar dari kubah ini.


Pekerjaan yang cukup menyita waktu, ia tinggalkan kios yang sampai ia tutup tadi belum seperak pun ia dapat untung. Tetapi harus bagaimana lagi, ustadz Yahya yang meminta, orang kedua berpengaruh di lingkungan masjid setelah Haji Arsyad.


Menjelang sore Syahrel kembali ke rumah, hanya sekedar membersihkan badan dan mengganti pakaian, lalu ia kembali lagi ke masjid menunaikan sholat maghrib, sekaligus melihat hasil kerja keras mengangkat kubah, karena sudah bisa digunakan untuk mendengarkan suara seruan tu berkumandang, selanjutnya ia harus menuntaskan sholat isya, barulah Syahrel dapat beristirahat dengan cukup.


“Rel, kemungkinan Haji Arsyad sudah di rumah malam ini”, ucap ustadz Romli, sekertaris pengurus masjid.


“Pak ustadz tahu dari mana?”


“Kan kita semua jenguk beliau sehabis zuhur. Memangnya ustadz Yahya tidak kasih kabar ente?”


“Belum.”


“Ibu ente juga ikut rombongan kita kok”


“Syukurlah kalau memang benar begitu Pak ustadz.”


 


Tak ada perubahan dengan waktu yang lalu, Syahrel harus mematikan lampu dan memeriksa bak pengisi air. Setelah itu barulah, ia bebas untuk melakukan hal yang lain. Mendengar kabar pulangnya Haji Arsya mengurungkan niat ia untuk istirahat. Ia harus menjenguk beliau.


 


 


                                                                        è OoOç


 


 


Besok adalah hari yang dinanti Zahra, bukan hanya Zahra saja tetapi ribuan mahasiswa yang setelah lelah bergelut dengan buku, mendengar cuap-cuapan para dosen memberikan materi dan tugas, serta diakhiri skripsi yang menjadi penutup serangakaian pembuktian dari hasil ilmu yang meraka kais selama di bangku perguruan tinggi. Merupakan kebanggaan tersendiri, bagi mereka yang mengecap disiplin ilmu dan spesialisasi tersebut.


Dihadiri handai dan taulan serta orang-orang terdekat, saat mengenakan toga, pakaian kebesaran bagi mereka

__ADS_1


yang sebenatar lagi menyandang titel strata satu atau setingkat lainnya. Kekhusyuan dan khitmad mengikuti agenda acara sampai nanti penyematan pita, diringi penyerahan ijazah dan adminitratif lainnya.


Uhf, andai saja aku diberikan kesempatan itu, mungkin sudah jauh aku mengais ilmu ke luar negeri sekalipun, harapan itu seakan menjadi hal yang tidak mungkin untuk Syahrel.


“Selamat yah yang besok mau diwisuda, calon dokter," Syahrel memberikan ucapan itu kepada Zahra yang sedang merapihkan pakaian toganya.


 


“Terimakasih kak.”


“Abah dimana Zahra?”


“Di ruang tengah mungkin, masuk aja kak.”


“Iya”


Zahra pun mengiringi Syahrel untuk menjumpai Abah atau Haji Arsyad yang sedang terbaring.


“Assalamu’alikum”


“Wa’alaikum salam. Eh, ente Rel?”


“Iya Pak Haji, jadi ganggu istirahatnya.”


“Ah, nggak apa-apa, kalau ente yang jenguk.”


“Bagaimana Pak Haji, sudah mendingan?”


“Alhamdulillah, Rel,”


“Sampai di rumah jam berapa Pak Haji?”


“Jam setengah enam, sore tadi," begitu berat terdengar suara Haji Arsyad.


“Syukurlah, istirahat yang cukup Pak Haji. Biar cepat pulih.”


“Iya, ane juga sadar terlalu diporsir kegiatan dan kurang istirahat.”


“Sudahlah, Pak Haji istirahat saja. Saya juga mohon pamit pulang.”


“Terima kasih ente sudah mau ngejenguk ane. Eh, barusan ane denger speaker masjid begitu keras suaranya. Sudah selesai kubahnya?”


“Alhamdulillah sudah Pak Haji, berkat Pak Haji juga.”


“Ah, itu jerih payah jama'ah.”


“Termasuk Pak Haji juga.”


“Istirahatlah Pak Haji.”


“Ya ane mau istirahat dulu, biar subuh ane bisa denger suara adzan. Sudah terlalu rentah badan ane, memang harus banyak istirahat Rel.”


“Saya mohon pamit Pak Haji. Assalammu’alaikum.”


“Wa’alaikum salam.”


Syahrel menjumpai Zahra kembali.


“Ummi mana Ra?”


“Istirahat mungkin, kecapean kak.”


“Kakak pulang ya Ra, salam sama ummi.”


“Insyaallah Zahra sampaikan.”


“Sekali lagi selamat atas wisudanya.”


“Ah, Kakak apa sih, kan besok acaranya.”


“Yah sekalian maksudnya.”


“Heheheh, termikasih kak.”


“Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikum salam.”


 


Serangkaian kegiatan yang melelahkan rampung Syaherl kerjakan, kini saatnya menunaikan hak untuk tubuh meregang lelah. Kantuk yang sudah tidak bisa ia tahan lagi. Sesampainya di rumah, Syahrel benar-benar sudah tak sanggup lagi menopang tubuh dan akhirnya.

__ADS_1


Bismika Allahumma Wa’amut, tertutup rapat retina dan kelopak mata.


__ADS_2