
Indera pendengaran ku tidak sengaja mendengar keributan. Seperti suara-suara gerak kaki yang kesana-kemari, juga suara pintu yang dibuka dan ditutup. Mataku mengerjap, mencoba meraih kesadaran secara penuh akibat tidur nyenyak ku semalam. Dan saat kelopak mata ini benar-benar telah terbuka, aku melihat Tuan Gladwin yang tengah sibuk didepan lemari pakaian dikamar yang kini juga menjadi kamarku.
"Mhh, Tuan ..." Ku beranikan diri untuk menyapanya seraya aku mendudukkan diri di pinggiran ranjang.
"Ya?" Dia menyahut, namun tidak menoleh, sibuk dengan hal yang tengah ia lakukan. Sesekali tampak menggaruk tengkuknya sendiri.
Aku membaca gelagatnya yang bingung, sehingga aku pun bertanya padanya.
"Ada yang bisa ku bantu?"
"Tidak, lanjutkan tidurmu. Kau baru tidur dua jam, kan?"
Aku melirik jam weker diatas nakas yang menunjukkan pukul 5 pagi. Seperti malam-malam sebelumnya, malam tadi benar-benar ku lewati dengan tidur yang sebenarnya tanpa adanya gangguan Tuan Gladwin yang ku pikir akan memakanku dikediamannya.
Malah aku merasa sangat nyenyak sekali.
"Aku sudah tidak berminat melanjutkan tidur." Aku beranjak, berdiri dibelakang tubuh jangkung itu. "Biarkan aku membantumu, Tuan. Agar aku memiliki kegunaan disini. Setidaknya kau tidak perlu menyesal karena telah mengeluarkan uang untuk membeliku. Aku mau bermanfaat untukmu dalam hal-hal kecil," tuturku.
Pria itu menoleh, keningnya tampak mengernyit heran dengan kalimatku. Terserahlah, yang jelas aku tidak mau hanya diam tanpa melakukan apapun disini. Meski aku tidak mungkin menyerahkan diri padanya, setidaknya biar aku bekerja untuk membantunya. Bukankah dia sendiri yang mengingatkan aku-- jika aku harus tau terima kasih?
"Kau ku tebus, bukan ku beli," ujarnya dengan nada penuh peringatan. Namun, tubuh itu menyingkir seperti isyarat memberi akses padaku untuk membantunya. "Kalau kau benar-benar mau membantuku, carikan aku dasi yang sesuai dengan kemejaku," lanjutnya datar.
Aku melirik pada kemeja navi yang sudah ia kenakan, lantas aku mengangguk memahami maksudnya. Aku mencari dasi, sementara pria itu berlalu keluar dari kamar.
"Elin ... sekalian kaus kaki!" teriaknya dari luar.
Aku mengulumm senyum, ternyata hidup Tuan Gladwin sangat ribet sekali karena tidak ada yang mengurusnya.
Baiklah, sekarang tugas itu akan ku ambil alih sebagai bentuk rasa terima kasihku karena dia telah berhasil mengeluarkanku dari tempat perjudian milik Tuan Aro.
Aku harus mulai terbiasa menikmati semua ini. Lagipula, Tuan Gladwin tidak menyentuhku sama sekali dan aku hanya dia jadikan sebatas teman untuk menemani saat dia tertidur.
Aku menarik sebuah dasi dengan motif garis-garis yang ku rasa cocok untuk dikenakan pria itu. Lalu aku beralih ke laci lain yang mungkin menyimpan kaus kaki.
Aku keluar dari kamar setelah mendapatkan kedua benda itu, rupanya Tuan Javier tengah sibuk di dapur sekarang. Dia tampak menunggu mesin pemanggang roti berbunyi.
Aku mendekat dan menyodorkan dua benda yang tadi ku carikan.
"Silahkan, Tuan."
__ADS_1
"Thank," sahut pria dingin itu.
"Biar ku bantu mengolesi rotinya dengan selai."
Dia tak menolak, hanya berdehem singkat.
Sebuah roti dengan isian selai cokelat ku sajikan padanya dan dia mulai melahapnya.
"Kau mau ku buatkan teh atau kopi?" tanyaku saat melirik jika dia hanya meneguk segelas air putih.
"Boleh, asal tidak merepotkan mu."
Aku mengangguk dan beralih ke pantry demi membuatkan dia segelas teh hangat.
"Terima kasih," ucapnya dengan senyuman tipis.
Baru kali ini aku melihat dia tersenyum setulus itu. Dan penampakan tersebut justru membuatku terpana.
Ah, apa yang kau pikirkan Elin? Aku berusaha menegur diriku sendiri yang mengangumi ketampanannya.
"Kau bisa diandalkan. Maaf jika besok atau keesokan harinya lagi aku akan kembali merepotkan mu."
"Bukankah Tuan yang mengatakan padaku bahwa aku harus tau berterima kasih?"
Dia hanya diam tanpa respon. Aku pun menundukkan pandangan, karena entah kenapa aku tidak berani menatapnya yang kini juga tengah menatapku tanpa kata-kata.
"Mmh, ya sudah. Aku pergi. Lakukan apapun yang kau inginkan disini. Dan ingat, jangan ceroboh hingga menyebabkan sesuatu yang buruk terjadi."
"Misalnya?" tanyaku.
"Lupa mematikan kompor, atau semacamnya."
"Ya, aku mengerti."
Aku hendak berbalik menuju kamar saat tanpa sengaja melihat dasi yang sudah dikenakannya. Itu tampak miring dan aku mengulumm senyum karenanya.
"Kenapa?" tanya pria itu.
"Dasinya miring."
__ADS_1
Aku refleks menujunya, sedikit berjinjit demi membenarkan dasi yang sudah ia pasang entah sejak kapan, mungkin saat tadi aku memanggang roti.
Lalu, entah keberanian dari mana, justru aku telah lancang membenarkan dasi milik Tuan Gladwin.
Saat aku mendongak, mata tajam pria itu juga tengah menyorotku. Disitulah aku baru menyadari jika aku sudah bertindak terlalu jauh.
Meski tidak ada peringatan atau larangan dari Tuan Gladwin, kendati dia juga terkesan menerima perlakuanku, tapi tetap saja jika aku sudah melewati batasanku tanpa ku sadari.
"Maaf, Tuan. Maaf jika aku lancang."
Pria itu hanya bergumam pelan sebagai jawaban. Tak lama dia benar-benar berlalu dari hadapanku.
Aku menatap kepergiannya dengan perasaan yang aneh. Entah kenapa ada rasa lain dihatiku. Pria itu ... ah, sudahlah.
Setelah kepergian Tuan Gladwin, aku berusaha membiasakan diri di Apartmen besar ini. Tidak mau lancang dengan mengecek ke setiap ruangan, aku hanya berinisiatif membersihkan ruangan yang biasa dilalui.
Ruang tamu, ruang tv dan dapur menjadi tujuan utamaku bersih-bersih. Setidaknya kegiatan ini lebih baik ketimbang aku harus berdiam diri tanpa tau harus melakukan apapun. Lagipula, di rumah orangtuaku juga aku terbiasa melakukannya. Bahkan sejak ibu masuk rumah sakit, aku juga biasa memasak untuk Liam.
"Apa aku masak juga untuk Tuan Gladwin, ya?" Aku bermonolog, dan aku mengingat pesan pria itu tadi yang mengatakan jangan sampai aku lupa mematikan kompor. Berarti tak masalah jika aku memasak.
Aku pun memeriksa isi kulkas dan menemukan banyak bahan makanan disana.
"Baiklah, aku akan memasak saja. Siapa tau nanti siang dia pulang," kataku.
Jika nanti Tuan Gladwin benar-benar kembali di jam makan siang maka aku tinggal menghangatkan semua makanannya di microwave.
Dengan cukup cekatan aku memasak beberapa lauk untuknya dan untuk diriku sendiri tentunya. Aku juga belum sarapan tadi, hanya menyaksikan Tuan Gladwin menghabiskan roti bakarnya sendirian.
"Minimal aku harus berguna untuknya, tak apa jika aku hanya dijadikan pembantu daripada aku harus menjadi pendamping para penjudi lagi," batinku.
Menjelang siang, aku menunggu Tuan Gladwin pulang, meski dia tidak mengatakan apapun padaku mengenai ini. Entah kenapa aku berharap dia benar-benar pulang ke rumah.
"Ah, apa yang aku harapkan? Kenapa aku harus mengharapkan kepulangannya?"
Aku sendiri benar-benar bingung kenapa aku harus bersikap seperti ini. Apa aku mulai merasakan kebaikan tuan Gladwin padaku? Benarkah? Meski aku tidak bisa menampik kebaikannya, tapi jauh didalam lubuk hatiku, aku masih terus merasa was-was apabila dia benar-benar akan memanfaatkanku lebih dari saat ini.
Setidaknya, perasaan mawas diri dan waspada itu memang masih bercokol dihatiku. Aku takut, jika semua kebaikan Tuan Gladwin yang mulai ku rasakan saat ini hanyalah kamuflase saja.
...Bersambung ......
__ADS_1