
Karena kondisi Elin sudah membaik, ia diizinkan untuk pulang oleh Dokter. Hal ini kembali menyadarkan Elin bahwa ia tidak memiliki tempat untuk kembali kecuali hanya pada Javier.
"Aku bahkan tidak punya rumah," batin Elin yang kepikiran dengan tempat tinggalnya selanjutnya. Mengingat ibunya yang telah tiada, tidak ada kesempatan untuk Elin kembali ke rumah orangtuanya. Lagipula, disana ada Liam yang sangat dihindari oleh Elin.
Meski Elin sangat ingin membalas segala perlakuan Liam kepadanya, tapi ia sadar bahwa sampai saat ini ia belum memiliki power untuk melawan kakak tirinya itu. Karena hal itu pula, Elin mana mungkin berani untuk menuntut hak atas rumah yang dulu ia tempati bersama Liam dan keluarganya.
"Ayo kita pulang!" Tiba-tiba suara Javier terdengar, ia baru saja selesai mengurus administrasi untuk Elin di Rumah Sakit tersebut, sekarang saatnya membawa gadis itu kembali ke Apartmen.
"Apakah kesepakatan kita masih berlanjut?" tanya Elin, karena lagi-lagi Javier mengajaknya untuk pulang bersama, itu artinya Elin benar-benar akan kembali ke Apartmen pria tersebut dan menyambung kesepakatan mereka untuk menjadi teman tidur Javier lagi.
"Tentu saja, kecuali jika kau sudah menjawab ajakanku untuk menikah."
Elin membuang pandangannya ke arah lain, ia tidak mau melihat Javier diujung sana.
Javier pun tak ingin membahas hal ini lebih lanjut, mengingat kondisi kesehatan Elin yang baru saja pulih. Ia tak mau memaksakan gadis itu. Yang jelas, ia akan tetap menunggu jawaban dan keputusan Elin terkait hal ini, selama Elin belum menolaknya maka ia dan Elin masih memiliki kesempatan untuk menyambung kesepakatan mereka. Setidaknya, itu akan berlanjut hingga kurun waktu sebulan, dimana tenggang waktu itulah yang diberikan oleh Ayah Javier agar bisa membebaskan Elin selamanya.
"Apakah jika aku menolakmu maka kesepakatan kita akan berakhir?" ujar Elin yang kembali menanyakan hal itu, padahal Javier sudah terdiam cukup lama dan tak mau membahasnya lebih lanjut.
"Ya. Aku hanya diberi waktu satu bulan untuk tetap bisa bersamamu. Sembuh atau tidak dari trauma itu, maka aku harus tetap membebaskan mu."
Elin mencerna kalimat Javier baik-baik. Dia dapat menyimpulkan jika ia tak memiliki banyak waktu untuk menjawab ajakan Javier. Pilihannya hanya ada 2. Iya atau tidak. Jika ya, maka mereka akan menikah meski tanpa cinta dari pria itu. Tapi jika tidak, maka Javier akan membebaskan Elin seperti yang sudah disepakati dengan Ayahnya. Dan kalau itu terjadi maka Elin akan hidup seorang diri tanpa siapapun didunia ini.
"Baiklah, aku akan menjawabnya, Kak."
Javier menatap Elin dengan sorot terkejut. Tidak tau kenapa dia merasa berdebar menunggu jawaban dari gadis itu. Ia juga tak menyangka jika Elin akan menjawabnya sekarang.
"K-kau akan menjawabnya?" Perasaan Javier mendadak tidak enak, padahal ia berharap Elin jangan menjawab secepat ini karena ia masih tenang dalam posisi seperti sekarang dimana mereka tidak diharuskan untuk segera menikah ataupun segera berpisah. Javier ingin memanfaatkan waktu satu bulannya dengan baik dan berharap untuk sembuh. Dengan begitu, ia tak perlu menikah dengan Elin, pun tak usah membebaskan gadis itu sesegera mungkin.
"Aku tau kau tidak mengharapkan pernikahan itu," kata Elin memulai.
Javier terdiam di depan hospital bed dimana Elin masih berbaring disana.
__ADS_1
"... aku juga tau jika kau sulit melepaskan aku disaat kondisi traumamu belum sembuh."
Kini Elin menatap lekat pada mata Javier. Ia teringat akan ucapan Cassie yang memintanya untuk lebih jeli dan melihat perasaan pria itu dari sorot matanya.
"Aku ... sangat berterima kasih padamu karena pernah menebusku dari tempat perjudian. Jadi, anggaplah kebersamaan kita selama ini sebagai bentuk rasa terima kasihku atas kebaikanmu itu."
Entah kenapa perasaan Javier mencelos saat kalimat itu tercetus dari bibir Elin. Sekarang, ia semakin merasa tak enak hati. Javier tidak siap menikah, namun ia juga tak siap jika ditolak oleh Elin karena itu berarti Elin akan meninggalkannya selamanya.
"Aku sudah mendapat keputusan untuk penawaranmu, Kak." Elin tiba-tiba meraih tangan Javier dan menggenggamnya, tidak ada penolakan dari pria itu, justru Javier merasa sikap Elin ini mengisyaratkan sesuatu yang buruk akan segera terjadi.
"... aku menolak untuk menikah denganmu," sambung Elin kemudian.
Tatapan Javier langsung tertumpu pada mata Elin saat itu juga, ia tidak percaya jika Elin benar-benar telah menolaknya. Ada sorot kecewa dimatanya namun ia juga lega karena tidak harus menikahi Elin secepatnya. Javier seperti berada ditengah-tengah kebimbangan sekarang.
"K-kau menolakku?" tanya Javier dengan suara yang terdengar bergetar.
Elin mengangguk, ia masih menggenggam jemari Javier dan kini tatapan mereka saling tertautt satu sama lain.
Javier menggeleng, ingin membantah perkataan Elin tapi ucapan gadis itu ada benarnya. Dia memang tidak mencintai Elin, kan?
"Lalu, bagaimana dengan aku, Elin?" Entah kenapa lagi-lagi suara Javier bergetar saat mengucapkan hal itu.
Elin mengulas senyum tipis yang nampak getir. "Kenapa kau menanyakannya padaku? Tentu saja kau akan baik-baik saja. Apa kau pikir aku menolak ajakan menikah ini hanya karena memikirkan diriku sendiri? Tidak, kak. Aku melakukan ini juga karena memikirkan mu, aku tidak mau kau menikahi aku dengan keterpaksaan. Itu akan memberatkanmu," ujarnya panjang lebar.
"Tapi, Elin ..."
Elin melepas genggaman tangannya pada Javier, lalu ia menggeleng pada pria itu.
"Sudah, Kak. Aku juga tau, jikapun aku menerimamu kau tetap tidak akan bahagia."
"Tapi setidaknya kita masih bisa bersama," lirih Javier.
__ADS_1
"Bersama dalam ikatan tanpa rasa? Maaf, aku tidak bisa."
"Baiklah. Sekarang apa rencanamu?" tanya Javier yang tidak mau memaksa Elin lagi.
"Bebaskan aku, Kak. Kau tidak perlu menunggu sebulan untuk melakukan itu. Biarkan aku pergi," tukas Elin.
Mata Javier terbelalak. Ia belum siap untuk hal ini meski tadi ia yang mengatakan pada Elin bahwa jika gadis itu menolaknya maka Elin akan terbebas darinya.
"... aku akan sangat berterima kasih jika kau membiarkanku hidup tanpa rasa sakit hati. Kebersamaan kita yang semakin lama akan membuat hatiku semakin sakit karena perasaanku hanya bertepuk sebelah tangan padamu."
Javier manggut-manggut. Satu tangannya terkepal erat entah untuk mengekspresikan emosinya yang mana. Atas penolakan Elin atau karena permintaan gadis itu yang ingin segera bebas darinya. Dia tidak pernah menyangka jika ternyata rasanya sangat berat seperti saat ini.
"Baiklah. Aku akan membebaskanmu, Medeline Forza."
Sudut mata Elin mendadak terasa berair, ia yakin bahwa saat ini juga ia tidak dapat membendung hujan yang akan segera jatuh dipipinya.
"Thank you, Kak. Terima kasih karena kau benar-benar membebaskanku sekarang," ujar Elin dengan suaranya yang sangat pelan. Itu karena ia memaksakan untuk bicara padahal sejatinya ia sudah sangat ingin menangis saat ini juga.
Tanpa kata-kata, Javier pun segera berbalik pergi, ia keluar dari ruangan dimana Elin berada.
"Aku hanya berusaha mengabulkan keinginanmu, tidak ku sangka ternyata ini cukup berat bagiku," gumam Javier didepan pintu ruangan.
Sementara disana, Elin akhirnya menumpahkan airmata yang sejak tadi sudah memenuhi pelupuk matanya.
"Maafkan aku, Kak. Maafkan aku," isak Elin.
Elin tau ini sangat berat baginya. Apalagi ia tak memiliki siapapun lagi kecuali Javier. Tapi, ia juga tak mungkin berharap pada pria itu terus karena pada akhirnya nanti, cepat atau lambat Javier akan tetap meninggalkannya dan itu akan jauh lebih sakit ketika perasaannya pada pria itu semakin membesar.
...Bersambung ......
Sampai disini, gimana menurut kalian, guys? Kirim komentarnya ya dan jangan lupa tekan jempol utk berikan like buat bab iniππππ
__ADS_1