SEBATAS TEMAN TIDUR

SEBATAS TEMAN TIDUR
49. Hanya mau uang? (Author POV)


__ADS_3

Dengan sorot intimidasi yang kentara, Liam berjalan ke arah Elin tanpa keraguan.


"Mau apa kau menemuiku?" tanya Elin dengan suara bergetar, namun sebisa mungkin ia menegakkan kepala agar Liam tidak membaca ketakutannya. Yang Elin mau adalah Liam tau bahwa ia tidak gentar sedikitpun dengan kemunculan pria itu.


Lagi-lagi Liam menyeringai, jaraknya dengan Elin saat ini hanyalah beberapa langkah. Ia melirik gadis tomboi disamping sang adik dan ia tau jika itu adalah pengawalnya.


"Woa, kau bahkan sudah memiliki bodyguard layaknya orang-orang penting, Elin," sarkas Liam kemudian.


"Pergilah, jangan menemuiku lagi, aku tau kau memiliki dendam pada Kak Javier dan tidak puas karena tak dapat memanfaatkanku lagi, kan?"


Liam tertawa sumbang. "Yah, kau benar. Harus ku akui kau memang cerdas, Elin. Tapi, jika kau mengira aku akan melakukan hal fatal dengan melukaimu maka itu tidak benar. Aku hanya menginginkan uang. Kau pasti memilikinya, kan?" ujarnya santai.


Elin melirik Carla sejenak dan wanita tomboi itu memberi kode untuk segera pergi.


Elin mengangguk samar kemudian melengos dari hadapan Liam tanpa mau menggubrisnya lagi.


"Jika hari ini kau tidak memberiku uang, ku pastikan kau akan menyesal, Elin. Ingatlah bahwa memberiku sedikit uang akan jauh lebih baik ketimbang aku mengganggu dan membayang-bayangi hidupmu terus."


Langkah Elin terhenti, ia menoleh pada Liam dengan sorot mata penuh kebencian.


"Berjanjilah untuk menjauh jika aku memberimu uang," kata Elin membuat kesepakatan.


"Yah, yah ... tentu saja aku akan melakukannya. Aku akan pergi sejauh yang aku bisa dan tidak mengganggumu lagi."


Elin membuka tasnya dan mengeluarkan uang cash yang ia punya. Uang itu adalah sisa dari tabungan yang ia miliki, karena Javier memang tidak pernah memberikan Elin uang cash.


"Pergilah sejauh mungkin dan jangan pernah muncul lagi dihadapanku." Elin menyerahkan semua uangnya pada Liam.


Liam tersenyum miring. "Ini kurang banyak, Elin. Bahkan ini tidak bisa membuatku meninggalkan kota Hamburg," katanya kemudian.


Carla sudah maju selangkah untuk melindungi Elin, dia tidak segan-segan untuk menghadiahi Liam dengan pukulan jika pembicaraan ini menyulut kemarahan Elin, namun Elin menggeleng pada Carla sebagai isyarat bahwa dia yang akan menghadapi sikap menyebalkan Liam. Menurut Elin, Liam memang hanya menginginkan uangnya, bukan melukainya jadi Carla tak perlu turun tangan.


"Kau ingin memerasku?" tanya Elin pada Liam.


"Tidak juga, tapi aku yakin uangmu sekarang sangat banyak."


"Aku tidak memiliki uang lagi," jawab Elin apa adanya.


Liam berdecih. "Itu tidak mungkin. Kau bahkan menjalin hubungan dengan seorang billionare seperti Javier," tukasnya.

__ADS_1


"Yah, tapi itu uangnya, bukan uangku."


"Kalau begitu, uang ini ku terima tapi aku tak bisa pergi terlalu jauh."


"Hentikan permintaan bo dohmu, Tuan. Kau memeras Ms. Elin," sela Carla yang sudah tidak tahan lagi dengan kesepakatan Elin dan Liam.


"Jangan ikut campur, ini adalah urusanku dengan adikku," kata Liam memperingatkan. Liam menatap Elin lagi. "Jika kau tidak memiliki uang cash lagi, kau masih bisa mengirimnya lewat rekening, Elin," lanjutnya.


"Aku sudah berusaha berbaik hati padamu. Jika kau terus seperti ini maka kau tidak akan pernah berhenti," ujar Elin menohok.


"Kau ..." Liam tak dapat berkata-kata saat Carla maju selangkah lagi dan menunjukkan tinjunya pada pria itu.


"Baiklah, aku akan pergi hari ini, tapi ku pastikan aku akan terus mengganggumu Elin, karena yang ku butuhkan hanyalah uang."


Liam berlalu dari hadapan Elin, sebenarnya ia hanya mau menggertak Elin saja dan melihat penjagaan untuk gadis itu yang ternyata Elin hanya dijaga oleh seorang pengawal wanita.


Jika dulu, mungkin Liam memang hanya menginginkan uang, uang dan uang. Tapi sekarang, ia tidak hanya membutuhkan uang, ia menginginkan kehancuran Javier juga mau mendapatkan Irina. Untuk itulah ia mendatangi Elin hari ini, hanya untuk melihat celah mana yang bisa ia masuki untuk menjalankan rencananya bersama Irina.


"Hallo, Irina?"


"...."


"Aku sudah mendapatkan celah untuk memulai rencanaku, tapi sokong aku dengan bantuan orang-orangmu."


Pertemuan Elin dengan Liam tentu langsung dilaporkan Carla pada Javier. Tapi mendengar aduan Carla, mereka menyimpulkan jika yang diinginkan Liam hanyalah uang.


"Jangan terlalu mengkhawatirkan pertemuanku dengan Kak Liam. Dia hanya menginginkan uang saja." Elin berusaha menjelaskan pada Javier bahwa Liam tidak butuh apapun selain uang.


Javier dan Elin sama-sama tidak tau jika Liam sudah membuat rencana dan bersekongkol dengan Irina untuk memisahkan mereka.


Javier memang mengkhawatirkan pertemuan Elin dengan Irina tempo hari, tapi setelah beberapa hari berlalu dan tidak ada gangguan dari gadis itu maka Javier berusaha meyakinkan diri bahwa Irina tidak lagi terobsesi padanya.


Dan kedatangan Liam yang hanya menginginkan uang, membuat mereka menyimpulkan jika Liam tidak seberbahaya itu, Liam hanya akan mengganggu Elin jika nanti uangnya telah habis.


"Benarkah?"


"Ya, dia hanya mau uangku, Kak. Dia mau aku mengeluarkannya dari kemiskinan. Aku memberinya agar dia berjanji untuk pergi jauh dan tidak muncul lagi dihadapanku, tapi dia merasa itu kurang."


"Kalau dia hanya menginginkan uang maka aku akan memberinya. Asal dia menepati kesepakatan bahwa dia akan menjauh dari hidupmu."

__ADS_1


Meski entah kenapa ada keraguan dihati Javier, tapi ia berusaha mempercayai Elin. Elin bilang jika semuanya masih bisa diselesaikan secara baik-baik maka Javier tak perlu memakai kekerasan untuk menyingkirkan Liam.


Inilah yang Liam mau, ia menunjukkan pada Elin dan Carla bahwa yang dia utamakan hanyalah uang agar mereka lengah. Tanpa pernah mereka ketahui bahwa yang paling Liam inginkan adalah diri Elin sendiri.


Akan tetapi, Javier tidak bodoh. Ia tidak mau dikelabui oleh rencana licik Liam. Ia tetap meminta Elin untuk waspada dan jangan pernah bepergian sendiri atau keluar dari Apartmen jika tidak ada hal yang sangat mendesak.


"Pernikahan kita tinggal menghitung hari. Aku harap, Liam tidak muncul sampai acara pernikahan kita nanti."


Elin juga berharap seperti itu. "Ya, Kak. Aku juga berharap begitu. Tapi aku yakin, hidup Liam memang hanya untuk uang. Setelah dia mendapatkan uang lagi, pasti dia akan pergi dengan sendirinya," paparnya.


"Entah kenapa aku tidak yakin. Orang seperti Liam tidak akan pernah puas, dia akan terus meminta meski kita sudah memberinya banyak di hari ini."


"Jadi, apa hal yang paling pantas untuk dia terima, Kak?"


"Aku akan memikirkannya, mungkin memindahkannya ke negara lain lebih baik," putus Javier.


Elin setuju-setuju saja dengan usulan itu, lagipula ia sudah tak mau ada gangguan dari Liam.


"Ya, Kak. Semoga kau bisa segera mengurusnya."


"Baiklah."


Elin teringat dengan permasalahan Javier di perusahaannya hari ini.


"Ehm, bagaimana dengan ruangan yang mengalami kebakaran itu, Kak?"


"Semuanya sudah diselesaikan meski pun ada beberapa berkas yang ikut terbakar."


"Lalu? Bagaimana?"


"Mungkin beberapa hari ke depan aku akan sangat sibuk dan pulang malam. Karena keadaan ini mempengaruhi pekerjaanku juga."


Elin mengelus senyuman. "Tidak masalah, Kak. Semoga urusanmu segera siap sebelum hari pernikahan kita," katanya pengertian.


"Ya, aku juga menginginkan semuanya rampung sebelum aku sibuk denganmu," ujar Javier penuh arti.


Elin tertawa sambil geleng-geleng kepala.


...Bersambung ......

__ADS_1


Hai hai ... semoga Readers ku dalam keadaan sehat ya semuanya.


Udah lama nih, othor gak buat GA alias Give Away. Nah, kali ini othor mau bagi-bagi GA ya. Pertanyaannya bakal berkaitan sama novel ini dan itu bakal othor sebar disini nanti, di akhir bulan ya... Pengumuman pemenangnya baka diumumkan di awal bulan. Jadi, siap-siap ya. Dan baca terus kelanjutan novel ini untuk tau info selanjutnya terkait GA. Makasih🙏🙏🙏


__ADS_2