SEBATAS TEMAN TIDUR

SEBATAS TEMAN TIDUR
64. Ekstra Part 1


__ADS_3

Ketika Javier membawa Elin masuk ke kamar pengantin mereka, tiba-tiba suasana berubah canggung. Jika dulu mereka terbiasa berada dikamar yang sama, tapi sudah 2 tahun ini mereka tidak melakukan kebiasaan tersebut. Alhasil, mereka digelayuti rasa aneh yang sebenarnya mereka rindukan.


"Uhm, a-aku mau mandi dulu," ujar Elin dengan tergagap.


Javier membaca gelagat gadis yang sudah menjadi istrinya itu dan dia dapat menebak jika saat ini Elin sedang merasa gugup. Akhirnya, Javier hanya merespon ujaran Elin dengan anggukan seraya mengulumm senyumnya.


Suara ketukan pintu membuat atensi Javier teralihkan. Ia berderap untuk melihat siapa yang datang ke kamarnya--sesaat setelah Elin benar-benar sudah masuk ke bilik kamar mandi.


"Ya?"


Javier melihat ada seorang porter alias pengangkut barang disana.


"Saya mau mengantarkan barang titipan, hadiah untuk Mr. dan Mrs. Gladwin dari Ms. Cassandra Logan."


Javier menerima bungkusannya dan mengucapkan terima kasih pada pria tersebut.


"Apa yang Cassie berikan untuk hadiah pernikahan kami?" gumam Javier sambil memutar-mutar kotak berbentuk persegi yang kini berada ditangannya.


Bersamaan dengan itu, Elin sudah keluar dari kamar mandi dengan gaun pengantin yang masih melekat ditubuhnya.


"Kau tidak jadi mandi dan mengganti pakaianmu?" tanya Javier heran.


Elin menggaruk pelipisnya sekilas. "Uhm, aku kesulitan membuka resleting gaunnya," ujarnya merujuk pada bagian punggungnya sendiri.


Javier mengangguk paham, dia meminta Elin berbalik badan agar dapat membantu menangani persoalan Elin dengan gaunnya itu.


"Apa itu?" celetuk Elin saat melihat sebuah bingkisan yang diletakkan Javier dipinggiran tempat tidur king size mereka.


"Hadiah dari Cassie." Javier menyahut sembari menarik turun resleting gaun yang Elin kenakan.


"Oh, apa isinya?"


"Aku juga belum membukanya," jawab Javier. Dia selesai menurunkan resleting gaun Elin dan sedikit menahan nafas ketika melihat punggung terbuka milik wanitanya.


"Sudah?"


Suara Elin menyadarkan Javier pada kenyataan.


"Y-ya, sudah."


Elin memegangi gaun bagian depannya agar pakaian itu tidak lolos begitu saja dari tubuhnya sebab resleting dibelakang punggungnya sudah terbuka sepenuhnya.


"Baiklah, a--aku mandi dulu." Elin berusaha bersikap se-biasa mungkin untuk menutupi kegugupannya, namun sikap keki nya tetap terbaca dipandangan mata Javier.


"Apa kau tidak mau membuka hadiah dari Cassie dulu?"


"Tidak, nanti saja sesudah mandi. Atau kau saja yang membukanya, Kak."


"Bolehkah?"


"Tentu saja, itu hadiah untuk kita berdua, kan?"


Javier mengangguk dan akhirnya Elin berjalan cepat untuk kembali masuk ke kamar mandi.


Javier membuka tiga kancing teratas dari kemeja yang masih ia kenakan. Kemudian kembali meraih hadiah dari Cassie yang cukup membuatnya penasaran.

__ADS_1


Saat Javier membuka hadiah itu. Dia sedikit heran karena hanya melihat sebuah flashdisk disana.


Javier berdecak lidah. Apa yang sebenarnya Cassie rencanakan. Javier menyetel flashdisk tersebut agar dapat melihat file didalamnya dari layar tv yang ada di kamarnya.


Sebenarnya Javier sudah memiliki dugaan akan isi dari benda itu, namun dia tetap memutarnya untuk membuktikan bahwa tebakannya tidak salah.


Dan benar saja, saat durasi videonya mulai berjalan, Javier langsung mengesah panjang sambil memijat pelipisnya.


Damned. Javier mengumpat, namun dia juga terkekeh disaat yang sama. Cassie ini benar-benar ... ah, dia kehilangan kata-kata. Sebenarnya Javier juga tidak berminat menonton kelanjutan videonya, karena dia tau praktek langsung akan jauh lebih menyenangkan. Haha.


Sepersekian detik berikutnya, Javier justru dikejutkan oleh suara Elin yang berseru dibelakangnya.


"Kak, film apa yang kau tonton?!"


...***...


Karena hadiah dari Cassie, Elin jadi salah sangka pada Javier. Javier sudah menjelaskan pada Elin bahwa dia tidak menikmati film bi-ru yang tadi terputar di tv, jangankan menikmati, menontonnya saja tidak.


Javier tak terlalu memperhatikan, dia bahkan masih larut dalam perasaan lucu karena hadiah dari sepupunya itu. Tapi, sayangnya pemikiran Elin tidak demikian. Elin melihat sendiri jika Javier menatap ke arah tv besar dimana disana sedang memutar film yang mempertontonkan adegan yang ... ya, sudahlah.


"Sudah ku bilang, itu adalah hadiah yang Cassie berikan." Javier masih mencoba menjelaskan.


"Kenapa dia memberikan hadiah seperti itu?" tanya Elin tak habis pikir.


"Mana ku tau, mungkin dia mau memberikan referensi untuk malam pertama kita," kata Javier menahan gelak.


Elin geleng-geleng kepala. Ia yang sudah mengganti pakaiannya dengan piyama, langsung menghempaskan diri ke atas tempat tidur.


"Selamat tidur, Kak!"


"K-kau akan tidur?" tanya Javier ragu. Dia takut mengutarakan keinginannya pada gadis yang baru saja menyandang gelar sebagai istrinya.


"Hmmm." Elin bergumam, disusul dengan menguap panjang.


Javier garuk-garuk kepala. Dia pikir, dia takkan memaksa Elin untuk menghabiskan malam pertama mereka hari ini juga. Lagipula, masih banyak waktu untuk mereka. Javier tau Elin pasti lelah.


"Selamat tidur, Wifey ..." bisik Javier, lalu mengecup dahi Elin yang sudah terpejam. Pria itu memutuskan bangkit kemudian memasuki kamar mandi.


Elin menahan geli didalam posisinya, tentu ia tidak benar-benar tertidur, ia hanya mau menguji Javier dan ternyata pria itu tidak menyinggung malam pengantin mereka sama sekali.


"Aku tidak salah pilih suami," kata Elin yang terkikik dalam hatinya.


Elin beranjak dari tempat tidurnya, mengganti piyamanya dengan sebuah lingerie berwarna hitam. Elin tidak mungkin melewatkan malam pertamanya dengan Javier begitu saja, dia bersiap dengan kilat sebelum Javier keluar dari kamar mandi.


Saat Elin baru selesai menyemprotkan parfum di lehernya, bersamaan dengan itu pintu kamar mandi pun terbuka. Javier tampak keluar dari sana.


Elin melirik Javier dari pantulan cermin, pria itu tampak ber-te-lan-jang dada dengan secarik handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Sudah lama sekali Elin ingin menyentuh perut kotak-kotak itu, merasakan otot-ototnya yang liat. Dia mengulumm senyum dalam posisinya.


Javier sendiri terpaku melihat Elin yang duduk didepan meja rias. Bukankah Elin sudah tidur tadi?


"K-kau tidak jadi tidur?" tanya Javier dalam posisinya yang diam ditempat.


Elin menoleh sekilas pada pria yang sudah menjadi suaminya itu. "Ku pikir ada yang lebih menarik daripada tidur," ujarnya.


Javier terbelalak saat melihat Elin berdiri dan mendekat padanya. Gadis itu tampak seperti sengaja menggodanya, itu terlihat dari pakaian yang Elin kenakan. Tapi, darimana Elin belajar hal seperti ini? Bahkan Javier saja sampai terpana saat melihatnya.

__ADS_1


"Kita bisa menghabiskan malam pengantin kita, Kak!" tutur Elin, dia mendekat memeluk tubuh tegap Javier yang mematung seperti orang linglung.


"Te--tentu saja," jawab Javier mendadak gugup.


Elin mengadah pada pria itu untuk melihat reaksinya, ternyata Javier tampak kaku sekali. Apakah pria itu gugup? Sangat diluar prediksi Elin. Hahaha.


Elin mengalungkan kedua tangannya di leher Javier lalu menatapnya lekat-lekat.


"Kau tidak mau menyentuhku, Kak?"


Javier tersenyum tipis. Detik itu juga dia mengangkat tubuh Elin ke atas ranjang pengantin mereka.


...***...


"Sepertinya kita harus mengulanginya lagi nanti," bisik Javier ditelinga Elin yang tampak sudah sangat lelah meladeninya.


"Huumm ..." Hanya itu sahutan yang Elin berikan sebagai respon, setelahnya gadis yang sudah sah menjadi istri Javier sepenuhnya itu langsung memejamkan mata.


Javier menyelimuti tubuh polos mereka berdua, kemudian menyusul Elin untuk tidur.


Keesokan paginya, Javier sengaja tidak membangunkan Elin. Dia bangun lebih dulu dengan tubuh yang terasa segar dan ringan. Pria itu menatap seseorang yang tidur meringkuk disisinya dan seulas senyuman terbit diujung bibirnya.


"Thank, God. Dia sudah menjadi istriku," gumam Javier dengan suara yang pelan, ia tak mau mengganggu tidur Elin. Ia hanya merasa lega dengan keadaan ini dimana ia dan Elin benar-benar sudah menikah.


Javier memutuskan mandi pagi dan tepat setelah dia selesai dengan kegiatan itu, pihak pelayanan kamar datang membawakan sarapan mereka.


"Kak, kenapa tidak membangunkanku?" Suara Elin terdengar, dia tampak menggeliat sembari meregangkan tubuhnya diatas tempat tidur.


Javier menoleh sembari mendorong troli makanan mereka.


"Kau sudah bangun? Ayo sarapan."


"Uhm, aku belum mandi, Kak." Menyadari itu, Elin terkesiap sendiri kemudian langsung berjalan cepat menuju kamar mandi. Dia menyeret selimut untuk menutupi tubuhnya yang masih terekspos.


Javier terkekeh melihatnya. Sebenarnya apa yang membuat Elin malu lagi padanya? Dia sudah melihat semua, pikirnya.


Javier menunggu Elin di sofa sembari memainkan gadgetnya. Dia mendapat pemberitahuan dari Jack terkait pekerjaannya, juga mendapat laporan dari Willy mengenai keadaan Liam dalam ruang penyekapannya.


Javier jadi teringat bahwa Elin belum mengetahui soal Liam, apakah dia harus bilang pada istrinya sebelum mengeksekusi pria itu?


Javier tak mau ada penyesalan nantinya, ada baiknya dia akan menanyakan pendapat Elin dulu meski mungkin saja keputusan Elin juga akan bisa merubah keputusannya. Entahlah, yang jelas Javier tak ingin menutupi apapun dari sang istri.


"Ada masalah?" tanya Elin yang baru selesai mandi. Dia mengenakan bathrobe dan terlihat sangat segar sekali.


Javier menggeleng sambil tersenyum, matanya memperhatikan Elin dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Aku menyesal karena tidak membangunkanmu, harusnya tadi kita mandi bersama."


Elin geleng-geleng sambil tertawa pelan. "Sudahlah, ayo sarapan."


Javier pikir, dia akan menceritakan soal Liam pada Elin setelah menikmati sarapan mereka.


...***...


Maaf ya, malam pengantinnya harus di skip. Udah bolak-balik edit karena takut gak lolos review 🙏 apakah di part selanjutnya mau detail? Wkwkwkk🤣 Aku gak janji sih.

__ADS_1


__ADS_2