
Malam ini, akhirnya Javier bisa kembali tertidur nyenyak. Melihat Elin yang meringkuk dalam pelukannya membuat ketenangan tersendiri di dalam dirinya hingga turut mengantarkannya dalam tidur yang pulas.
Elin pun demikian, tidur dalam pelukan Javier membuatnya nyaman. Apalagi hatinya tidak perlu dilanda rasa takut jika sewaktu-waktu seseorang jahat akan mendobrak pintu kediamannya. Harus Elin akui jika tempat yang paling aman baginya adalah disisi Javier.
Keesokan harinya, keduanya terbangun nyaris bersamaan. Elin ingin membuatkan Javier sarapan seperti kebiasaannya saat mereka masih tinggal bersama, tapi Javier mencegah keinginan gadis itu.
"Sesekali biar aku saja yang membuatkan sarapannya," kata Javier yang membuat Elin terpana mendengarnya.
Dengan gerak cekatan, pria itu berderap menuju dapur dan memulai aksinya yang mengatakan ingin membuat sarapan untuk mereka berdua.
Tak berapa lama, Elin datang dan menghampiri Javier sembari menguncir rambutnya tinggi-tinggi.
"Kau yakin akan memasak untuk sarapan kita, kak?"
"Tentu saja," jawab Javier sambil melirik Elin yang tampak cantik meski dalam keadaan baru bangun tidur seperti saat ini.
"Kau bisa memasak memangnya?"
"Uhm, tidak juga. Tapi aku mau memasak untukmu." Javier mengedipkan satu matanya pada Elin membuat gadis itu tersenyum sambil menggeleng-geleng keki.
Elin duduk di stool bar dan memperhatikan Javier yang mulai memasak. Elin menuang air putih ke dalam gelas dan meneguknya.
Dalam posisinya, sesekali Javier melirik Elin. Gadis itu terlihat sangat menggoda jiwa kelelakiannya. Sebenarnya, sejak awal Javier sudah merasakan hal ini setiap dia dekat dengan Elin. Hanya saja, dulu dia selalu menepis perasaan itu hanya karena ingin terus menganggap Elin sebagai bocah kecil dan sebatas teman untuk menemani tidurnya.
"Kapan kita akan menikah?" celetuk Javier dan melemparkan senyum penuh arti pada Elin.
Elin hanya mengulumm senyum, lalu menggeleng samar pertanda ia pun belum menemukan waktu yang tepat. Entahlah, meski Javier sudah mengajaknya menikah tapi Elin memang belum terpikir mengenai tanggal untuk hari sakral tersebut.
Elin memilih untuk meneruskan minumnya dan menandaskan air dari dalam gelas.
Javier berjalan menghampiri Elin dengan kedua tangan yang sudah memegang piring berisi omelette untuk sarapan mereka masing-masing.
"Ini, makanlah ..." Javier meletakkan makanannya di meja.
"Apa ini layak dimakan?" tanya Elin dengan wajah yang menahan geli, tentu ia bercanda dengan perkataannya itu.
"Sure, cobalah ..."
Elin tidak meraih garpunya, ia hanya membuka mulutnya dihadapan Javier.
"Aaaa ..." kata Elin.
__ADS_1
Melihat itu, Javier pun tertawa pelan. "Dasar manja," gumamnya atas sikap Elin, namun tentu ia menyukai hal itu dan berharap Elin akan ketergantungan dengannya seperti dia yang sudah tak bisa melepaskan gadis itu jauh-jauh.
Javier menyuapi Elin dan menunggu komentar sang gadis terhadap makanan yang dimasaknya.
"Bagaimana? Kau tidak ku racuni, kan?" canda Javier yang melihat Elin mengunyah omelette-nya.
Elin manggut-manggut. "Ini enak!!" serunya tampak bahagia, Javier ikut senang tapi kemudian Elin melanjutkan kalimatnya.
"... meski sedikit asin!"
Javier segera ikut menyuap omelette-nya juga dan ingin cepat-cepat memuntahkan itu sangking asinnya.
Elin terbahak melihat reaksi wajah Javier.
"Bagaimana bisa kau memakan dan menelannya, sedangkan aku saja ingin memuntahkannya, my dear," keluh Javier .
Elin tertawa kembali, tawa yang renyah dan apa adanya. Sangat lepas sekali.
"Itu karena kau mengatakan bahwa itu layak dimakan."
"Oh, God. Tapi jika itu tidak enak, kau tidak perlu memakannya."
"Itu juga terjadi karena aku mempercayaimu, Kak." Elin tersenyum dan mengelus rahang Javier yang kokoh.
Elin mengangguk-angguk kepalanya. "Kalau begitu jangan bicara lagi," ucapnya.
Dan Elin membungkam bibir Javier dengan bibirnya sendiri. Tentu Javier tak menolak, ia menerima dengan ikhlas jika Elin mau terus menciumnya seperti ini.
Ciuman itu akhirnya dikendalikan oleh Javier dan mulai turun ke leher Elin yang tidak ditutupi oleh rambutnya karena tadi elin sudah menguncirnya tinggi-tinggi.
Sebenarnya, sejak tadi Javier memang tergoda dengan leher jenjang gadisnya ini dan sekarang dengan senang hati ia menciuminya dan mengecupnya berkali-kali.
Javier memberikan tanda kemerahan disana dan membuat Elin mendesahh keras.
"Ahh!!"
Akan tetapi, saat Javier terbuai dan mau melanjutkannya terus, Elin sigap mendorong dada Javier.
"Kita belum menikah, Kak. Dan aku mempunyai prinsip untuk yang satu ini," ujar Elin dengan nafas yang tersengal karena sebenarnya ia juga menikmati perlakuan panas Javier di tubuhnya.
Javier paham jika batas yang diberikan Elin padanya hanyalah sampai disini. Dengan wajah yang sedikit kecewa Javier akhirnya berkata pelan.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita menikah besok?"
Elin hanya merespon itu dengan mengalungkan kedua tangannya di leher Javier kemudian merapatkan tubuh mereka layaknya berpelukan.
"Jangan terlalu terburu-buru ... aku ingin semuanya berjalan sesuai dengan semestinya."
"Tapi aku---"
"Kau harus menahannya, kak!" ucap Elin seakan tau isi kepala Javier.
Javier menghela nafas berat. "Baiklah, aku menghargai prinsip yang kau punya dan aku tau batasanku sampai dimana. Tapi, jangan harap kau bisa menghindar dariku lagi saat kita sudah menikah."
"Of course, jika kita sudah menikah maka aku milikmu sepenuhnya," bisik Elin tepat di telinga Javier.
"Oh ... jangan mengujiku, My Dear," katanya dengan suara berat.
Elin menahan gelak, kemudian membiarkan Javier berlalu menuju kamar mandi seorang diri.
"Maaf," lirih Elin yang tentu tak dapat di dengar Javier lagi.
Akhirnya, Elin melanjutkan hal yang tadi gagal Javier lakukan yaitu membuat sarapan untuk mereka berdua. Dia tak mungkin melanjutkan lagi untuk memakan omelette asin yang tadi Javier buat.
Javier keluar dari kamar mandi beberapa belas menit kemudian. Disaat itu, Elin sudah menyelesaikan masakannya.
"Kau pasti lapar kak," ujar Elin dengan senyum yang dikulumm. Ia tau jelas Javier habis melakukan apa di kamar mandi.
"Yeah, kau masak apa?"
"Aku tak tau apa yang paling ingin kau makan jadi aku hanya membuat kentang panggang dan sosis," katanya.
"Taukah kau yang paling ingin ku makan saat ini adalah dirimu?"
"Hah?" Mata Elin melotot penuh kebingungan.
Javier pun terkekeh, tapi ia tak mengulangi lagi ucapannya untuk memperjelas.
"Sudahlah, ayo kita makan." Javier menarik Elin untuk ikut duduk disisinya. "Apa ini layak dimakan?" tanyanya kemudian dan itu jelas membuat Elin tertawa.
Mereka melewati pagi itu dengan hangat dan saling bercengkrama. Elin senang karena akhirnya Javier kembali bersikap seperti ini padanya, padahal saat Javier memaksanya untuk pulang kemarin, pria itu benar-benar terlihat marah dan mengeluarkan aura dingin--yang Elin sendiri tak yakin jika Javier akan bisa kembali menjadi Javier yang hangat.
...Bersambung ......
__ADS_1
Dukung karya ini terus yaa... jangan bosen2 tinggalin komentarnya. Meski kadang othor gak balas, tapi othor pasti baca komentar kalian yang kadang bikin senyum-senyum sendiri🤭🤭