
Author Pov.
Elin tentu senang karena ibunya sudah sadar, tapi ia masih ingin tahu kenapa Javier bisa mengenal sang ibu hingga ibunya bisa memberi pesan pada pria itu untuk menjaganya.
Elin tidak bisa bersabar lebih lama lagi, ia ingin mendesak Javier untuk menceritakan kapan dan dimana Javier mengenal sang ibu.
"Ku pikir kau sudah bisa menjelaskannya padaku, Kak!" tuntut Elin pada pria itu.
Javier menghela nafas pendek, kemudian menoleh pada Elin untuk menatap lamat-lamat pada gadis itu.
"Hmm, aku mengenal bibi Arbei sejak aku kecil, beliau pernah bekerja di Mansion orangtuaku," jelas Javier memulai segalanya.
"Jadi, pertemuan kita memang sudah kau atur?" tebak Elin mengingat Javier bisa melakukan apa saja dengan kekuasaannya.
"No. Aku tidak pernah menduga bisa bertemu denganmu di Kasino milik Aro. Tapi harus ku akui jika aku terkejut mendapatimu disana."
"Kau tidak mengaturnya, tapi kau langsung mengetahui aku adalah putri dari mantan pelayanmu?" sarkas Elin dengan kekehan sumbang.
"Perlu kau ketahui, Elin ... aku memang sudah mengenalmu sebelum pertemuan kita di tempat Aro waktu itu."
Dahi Elin langsung mengerut keheranan. "Maksudnya?" tanyanya bingung.
"Kau sendiri yang mengatakan bahwa kau pernah mengalami kecelakaan dan menyebabkanmu amnesia temporer. Kau melupakan sosokku dimasa lalu, Elin."
"Benarkah? Jadi, sebelumnya aku juga sempat mengenalmu?" Elin menutup mulutnya yang ternganga. "Really? Aku benar-benar tidak mengingatnya."
"Ya, maka dari itu aku menyimpulkannya sendiri saat kau mengatakan pernah mengalami amnesia."
"Kenapa kau tidak memberitahuku sejak awal, Kak?"
"Aku pikir itu tidak akan berdampak apapun bagimu."
"Setidaknya aku tau bahwa kau adalah salah satu orang yang pernah ku kenal di masa lalu."
__ADS_1
Javier hanya menyungging senyum tipis khasnya tanpa berniat membahas hal ini lebih lanjut.
Elin tampak diam beberapa saat, sampai akhirnya ia mengingat sesuatu. Gadis itu lantas mengeluarkan liontin yang tadinya terselip di bagian dalam bajunya.
"Jadi, liontin ini adalah ..." Mendadak Elin mengingat jika ibunya pernah mengatakan bahwa benda itu adalah pemberian dari mantan majikannya.
"Hm, itu pemberian ibuku," timpal Javier menyambung ucapan Elin yang menggantung.
"Ibumu orang yang baik, kak."
"Oleh karena itulah aku pun menjadi orang baik," kata Javier dengan senyum percaya dirinya.
Elin menahan tawanya, sesungguhnya ia selalu menyukai sikap Javier. Meski pria itu dingin, sombong dan arogan dimata orang lain tapi kadangkala Javier sering bersikap hangat padanya. Selama dua Minggu ini Elin berusaha menjauhi Javier dan berlagak mendekati Jack hanya untuk melupakan pria yang sudah terlanjur disukainya dalam kurun waktu singkat tersebut.
"Aku harap ibu bisa segera membaik setelah hari ini."
"Yup. Kau harus semakin sering menjenguk dan menjaganya."
"Bolehkah aku bermalam di Rumah Sakit saja demi menjaga ibuku, Kak?"
"Ya, kau boleh," kata Javier akhirnya. Ia akan mencari pelarian malam ini.
Elin sempat ingin berseru untuk mengucapkan terimakasih pada pria itu tapi mendadak ia mengingat kebiasaan Javier yang sudah terlanjur terbiasa tidur bersamanya.
"Tapi, bagaimana kakak tidur malam ini? Apa tak masalah jika tidak ada aku?"
"Aku akan tidur sendiri, bukankah aku juga harus berusaha belajar tanpa dirimu karena suatu saat kau akan ku bebaskan kembali?"
Entah kenapa setiap mengingat hal itu justru hati Elin terasa dicubit keras. Sebenarnya bukan cuma Elin, Javier pun merasakan hal yang sama, meski ia sudah menjanjikan hal itu pada Elin-- berniat membebaskan gadis itu suatu saat nanti--tapi ia sendiri tidak tau kapan dia akan bisa terlelap tanpa Elin disisinya, karena mau bagaimanapun Javier sudah terlanjur terbiasa dengan gadis itu.
"Baiklah, Kak. Asal jangan mencari orang lain untuk menggantikan aku untuk menemani tidurmu," kata Elin tanpa disadarinya.
Javier terkekeh pelan. "Tampaknya kau sangat takut jika pekerjaanmu diambil alih oleh orang lain," kelakarnya.
__ADS_1
Elin senang karena akhirnya ia dan Javier bisa terlibat percakapan panjang yang ringan seperti ini, sehingga buru-buru ia menimpalinya.
"Iya, aku takut. Bukankah kau yang mengatakan jika wanita diluar sana terlalu agresif dan sering merayumu, jadi lebih baik kau tidak coba-coba untuk mencari mereka untuk menggantikan posisiku malam ini."
Sekarang Javier beneran tertawa lepas.
"Kalimatmu itu seolah kau adalah pasanganku saja," candanya.
Dan wajah Elin langsung memerah karena ucapan yang Javier berikan. Ia pun menyadari jika ucapannya tadi sudah melampaui batas wajar, seolah-olah dia adalah pemilik pria itu.
"Maaf, Kak. Aku cuma tidak mau kau repot dengan para wanita lain nantinya."
"Oh ya? Aku tak akan kerepotan jika aku meladeni mereka," ujar Javier random dan mata Elin langsung melotot mendengarnya.
"Sudahlah, aku akan melihat ibu. Dan ya, kalau kau mau mencari wanita lain untuk menggantikan ku, jangan lupa suruh Jack datang kesini juga untuk menggantikanmu menemaniku!" balas Elin tampak sengit.
Javier mengulumm senyum melihat kepergian Elin yang bersungut-sungut, meski demikian ia sudah merasa lega karena pada akhirnya ia dapat memberitahukan Elin mengenai masa lalu mereka yang sempat mengenal meski tidak menceritakan sepenuhnya.
Javier memilih menghubungi ibunya untuk memberitahukan keadaan Bibi Arbei dan respon sang ibu malah marah-marah.
"Kenapa kau baru mengatakan pada ibu jika Bibi Arbei sakit keras? Kirimkan alamat Rumah Sakitnya pada ibu dan ibu akan kesana untuk menjenguk Bibi Arbei!" serobot Elara, ibu Javier.
"Baiklah, Bu."
Setelah ibunya memutus panggilan, Javier bingung apakah ia akan lanjut menghubungi Jack untuk menjaga Elin di Rumah Sakit atau tidak. Entah kenapa sekarang ia tidak mau asistennya itu bertemu dengan Elin pun sebaliknya. Javier seakan sengaja membuat mereka sama-sama tidak bertatap mata.
Apa ini ada kaitannya dengan ucapan Elin yang mengatakan akan mendekati Jack karena mulai menyukai pria itu? Tapi, kenapa juga Javier harus menghalang-halanginya?
Javier menggeleng samar, Jack tidak perlu dihubungi, pikirnya. Karena Javier sendiri yang akan tetap berada di Rumah Sakit untuk memantau Elin dan Bibi Arbei. Lagipula, Javier masih was-was apabila Liam menemukan Elin disini karena cepat atau lambat kakak tiri Elin itu akan mendengar kabar lalu mencari keberadaan Elin yang sudah keluar dari Kasino milik Aro.
"Hhhh ..." Javier melenguh panjang. "Tugasku bertambah sekarang," katanya dengan nada lesu. Mau bagaimana lagi, ia juga sudah terlanjur berjanji pada Bibi Arbei untuk menjaga Elin.
Akan tetapi, yang sebenarnya terjadi adalah Javier lah belum menyadari jika kebiasaan yang sudah dilaluinya bersama Elin selama ini justru menimbulkan rasa lain yang belum ia pahami maknanya. Rasa takut kehilangan dan rasa tidak mau ditinggalkan itu yang terbentuk ketika ia dan Elin sudah terbiasa bersama-bersama karena ruang dan waktu yang Javier ciptakan sendiri.
__ADS_1
Untuk itulah, mungkin Javier perlu waktu yang lebih lama untuk menyadari semua ini. Begitu?
...Bersambung .......