
"Apa kau bahagia setelah bertemu dengan mereka?" Nathan bertanya pada Elin yang duduk di kursi roda.
"Yah. Thank you so much, Nath."
Nathan berjongkok didepan Elin untuk mensejajarkan tinggi mereka. Ia menggenggam kedua tangan gadis itu membuat Elin menatapnya dengan sorot kebingungan.
"Berjanjilah kau akan hidup lebih baik setelah ini. Agar pengorbananku hari ini tidak sia-sia." Seulas senyum terbit dibibir Nathan.
Elin melepas satu tangannya dari genggaman Nathan, kemudian dia yang beralih meletakkan jemarinya di punggung tangan pemuda itu.
"Kau pemuda yang baik. Aku tidak akan melupakan apa yang sudah kau lakukan untukku hari ini."
Elin tidak mungkin lupa jika semua ini berkat Nathan. Pemuda itu yang sempat mengirimkan surat ke alamat Elara sebab Elin hanya memberikan alamat rumah wanita itu karena Elin tidak hafal nomor ponselnya. Setelah itu, Nathan bahkan mencari tau nomor telepon kediaman Elara agar mudah menghubungi wanita yang diakui Elin sebagai kerabat tersebut.
Hingga hari ini, pagi-pagi sekali Nathan sudah berangkat ke Hamburg untuk menemui Elara secara langsung. Kemudian dia kembali pulang ke Berlin di hari yang sama.
Elin tau dia sudah merepotkan Nathan hanya untuk tetap melindungi identitasnya. Elin juga sadar dengan yang Nathan maksud sebagai pengorbanan untuk Elin, karena pemuda itu lebih memilih membantu Elin keluar dari kediaman neneknya meski itu sangat berat baginya, daripada tetap membiarkan Elin disini namun terus melihat penderitaan gadis itu.
"Satu hal lagi, bolehkah jika kita tetap menjalin komunikasi setelah ini? Rutinlah memberiku kabar, agar aku bisa tau keadaanmu." Nathan menatap lurus-lurus pada kedua bola mata Elin.
"Apakah aku harus menjanjikan hal itu?"
"Yah, kau harus," sahut Nathan cepat.
Elin menarik nafasnya sejenak. Ia tau ada hal yang sengaja ia tutupi dari Nathan sehingga pemuda ini seolah terus mengharapkannya.
"Nath, aku akan mengabarimu sesekali," kata Elin lembut. "Tapi, berjanjilah juga satu hal padaku," lanjutnya.
"Apa?"
"Carilah gadis yang bisa membuatmu bersemangat."
"Aku sudah menemukannya," jawab Nathan mantap. "Dan itu adalah dirimu," sambungnya kemudian.
Elin melerai genggaman tangan mereka sambil menggeleng pelan
"Sudah ku bilang jangan harapkan aku."
Nathan menatap Elin dengan nanar seolah tak percaya kalimat seperti itu meluncur dari bibir mungil Elin.
"Why?" lirih Nathan.
"Aku tidak bisa, Nath."
"Kau bahkan belum mencobanya."
Elin tetap menggeleng sebagai isyarat penolakannya.
"Apa karena aku lebih muda darimu? Kau meragukan keseriusanku?"
"Bukan begitu. Tapi karena aku memang tidak bisa." Elin menatap Nathan ragu-ragu, meski sorot mata pemuda itu tidak lepas sedikitpun daripadanya.
__ADS_1
"Aku pikir, kebersamaan kita selama 1 tahun belakangan ini bisa mengubah pemikiranmu atau menyentuh sedikit saja perasaanmu agar mau melihat pada kesungguhan ku, Elin."
"Itulah sebabnya selama ini aku sulit mengakui jati diriku sebenarnya padamu, Nath."
"Aku sangat menyukaimu, bahkan sejak pertama kali kita bertemu. Kau ingat, kan... aku mengikutimu seperti anak ayam? Itu terlihat bodoh tapi itulah kenyataan yang ku lakukan!" tukas Nathan.
"Maafkan aku, Nath."
Untuk beberapa saat, keduanya terdiam. Sampai akhirnya Nathan bersuara kembali.
"Baiklah. Aku tidak akan memaksamu. Tapi ... bolehkah aku memelukmu untuk yang pertama dan mungkin yang terakhir kalinya?"
Elin tersenyum kemudian membuka lebar bentangan tangannya. Nathan terkekeh sekilas melihatnya, meski pancaran mata pemuda itu tak bisa berbohong bahwa dia merasakan kesedihan yang amat dalam.
"Aku akan merindukanmu dan segala perhatianmu padaku, Nath," kata Elin dalam pelukan mereka. Ia menganggap ini sebagai pelukan persahabatan antara ia dan Nathan.
"Aku juga akan merindukanmu, bahkan sangat merindukanmu."
Nathan tau ini perpisahan yang berat untuknya tapi ia juga sadar jika ini lebih baik ketimbang Elin terus berada dikediaman sang nenek.
...***...
Beberapa tahun tak bertemu, tentu membuat Elin dan Elara merasakan rindu dan haru yang bersatu padu. Tapi didalam diri Elin, dia juga merasa ada kecanggungan saat kembali bertemu dengan kedua orangtua Javier.
"Javier sedang berada di Kroasia. Sudah dua Minggu disana dan saat Bibi mau mengabarinya mengenai kabar tentangmu ini, dia sulit dihubungi. Maaf ya," kata Elara dengan tutur lembutnya.
"Tidak apa-apa, Bibi. Mungkin Kak Javier sedang sibuk sekali," jawab Elin. Dia berusaha memaklumi kesibukan Javier.
Elin menarik nafas dalam-dalam. Ia pikir Javier bisa hidup baik-baik saja tanpa dirinya, nyatanya pria itu memang hancur seperti keinginan Irina dan Liam yang sudah merencanakan semua ini.
"Apakah kau tau siapa yang merencanakan semua ini, termasuk memalsukan kematianmu?" Shane ikut menimpali sambil menoleh ke jok belakang mobil dimana Elin dan Elara duduk disana, sementara Shane berada di jok depan--tepatnya disamping sopir yang mengemudikan mobil.
Elin mengangguk. "Cathy ... maksudku, Irina. Dia bersekongkol dengan Liam, kakak tiriku, Uncle!" ujarnya dengan raut geram.
"Kakak tirimu?"
"Yah, yang ku tau Liam dan Irina menjalin hubungan. Tapi sebelumnya, Irina pernah terobsesi pada Kak Javier, itulah yang pernah Kak Javier katakan padaku ..."
"Nama Irina terdengar tak asing," gumam Shane dalam posisinya. Ia akan mencaritahu mengenai gadis itu dan tentu takkan melepaskan Irina dan Liam begitu saja.
"Apakah kau mau langsung pulang ke Hamburg? Atau mau menginap disini dulu satu malam?" tanya Elara pada Elin.
"Terserah Bibi dan Uncle saja."
"Sebaiknya kita langsung kembali saja dengan pesawat malam, agar Javier juga bisa mengetahui kabar ini secepatnya. Besok Uncle akan memintanya pulang," ujar Shane pada Elin.
Elin pun mengangguk. Ia juga tak sabar untuk bertemu dengan pria yang paling dia rindukan itu.
...****...
"Dua Minggu yang lalu, dia heboh memintaku ke Kroasia, dan hari ini dia juga yang memaksaku untuk segera pulang," gerutu Javier setelah menerima panggilan dari Shane, ayahnya.
__ADS_1
Shane memang mendesak agar Javier kembali ke Hamburg hari ini juga. Akan tetapi, dia belum mengatakan soal Elin karena permintaan gadis itu sendiri. Mereka berniat membuat kejutan untuk Javier.
"Apakah anda akan pulang hari ini mengikuti keinginan Ayah anda, Tuan?" tanya Jack disisi ruangan Javier.
Javier menarik nafas panjang. "Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku disini begitu saja. Tapi, aku juga tidak mungkin menentang keinginan bapak tua itu," ujarnya menjawab pertanyaan Jack.
"Jadi, apa keputusan anda?"
"Siapkan pesawatku. Aku akan pulang."
Jack mengangguk dan keluar dari ruangan Javier yang ada di kantor cabang Kroasia.
Javier mengusap kasar wajahnya sendiri. Ia sebenarnya sudah betah berada di Kroasia selama dua Minggu ini karena dengan begini ia akan bisa melupakan kenangan-kenangannya bersama Elin saat di Hamburg. Yah, meski dia pun tak yakin dengan hal itu, karena sudah dua tahun ini Javier tak bisa mengatasi permasalahan hatinya sendiri.
Ponsel pribadi Javier berdering. Ia tau ini akan terjadi jika dia mengaktifkan benda pipih itu. Sebuah nama tercantum dilayar dan itu adalah seorang yang Javier hindari. Vivian.
"Ada apa, Vivi?" Mau tak mau Javier menerima panggilan tersebut untuk mendengar apa yang sebenarnya Vivian inginkan darinya.
"Oh, Jav ... akhirnya aku bisa menghubungimu. Kau kemana saja? Aku tidak mendengar kabarmu beberapa hari ini."
"Aku sibuk." Javier dengan mode datarnya.
"Jav, kapan kau kembali dari Kroasia? Mommy mengundangmu datang kerumah. Mengajakmu makan malam bersama."
"Sorry, aku terlalu sibuk dan belum tau kapan akan kembali," dusta Javier.
"Begitu ya." Suara Vivian terdengar kecewa dari seberang sana.
"Ya, have a nice day, Vivi. Sampaikan salam ku untuk Aunty Connie. Telponnya aku tutup," ujar Javier dan benar-benar membuktikan ucapannya dengan memutus panggilan tersebut.
"Hah, dia tidak menyerah juga," kata Javier merujuk pada tingkah Vivian yang masih kekeuh mengejarnya.
Vivian adalah anak dari Connie--teman Elara. Kedua wanita itu sepakat mau menjodohkan Javier dan Vivian setelah melihat Javier tidak kunjung move on dari kepergian Elin.
Waktu itu, Elara hanya berniat membuat Javier membuka hatinya untuk gadis lain. Lagipula, dia merasa Elin sudah meninggal dan tidak seharusnya Javier terus meratapi bahkan mengharapkan Elin kembali. Tapi usaha mereka belum menunjukkan hasil karena selalu Vivian yang agresif mengejar Javier tapi pria itu tetap tidak menunjukkan ketertarikan.
Padahal, Vivian cukup cantik dan dia memiliki garis keturunan bangsawan. Bukankah seharusnya Javier bisa menyukai gadis itu? Vivian juga gadis yang baik, dia tampak lembut dan muda seperti Elin.
Sayangnya Javier tak mau memperkeruh keadaan dengan menambah Vivian dalam hatinya. Javier sudah tiba pada sebuah keputusan dimana dia memilih tidak akan menikah dengan gadis manapun.
Javier tidak mau merasakan kehilangan untuk kedua kalinya jika nanti dia bisa jatuh hati pada Vivian juga. Javier merasa cukup dengan semua yang dia alami selama ini dan tak mau membuat semuanya rumit disaat ia mulai merasa memiliki.
"Jack, apa pesawatku sudah siap?" Javier bertanya pada Jack lewat tablephone disisinya.
Dan setelah mendengar sahutan dari asistennya itu, Javier mengangguk-anggukkan kepalanya. Javier akan pulang ke Jerman hari ini juga, syukurnya perjalanan itu tidak akan memakan waktu lama.
"Sebenarnya apa mau pak tua itu hingga mendesakku untuk segera pulang?" gumam Javier merujuk pada permintaan ayahnya.
...Bersambung ......
Up lagi gak???? Tinggalkan kopi di meja othor yaaa🙏🙏🙏🙏
__ADS_1