
Javier POV.
_____
Medeline. Tanpa pernah ku sangka, aku bertemu lagi dengan gadis itu. Mungkin dia tidak mengingatku, tapi aku tentu sangat mengingatnya.
Awalnya aku ragu jika itu adalah Medeline yang ku kenal, tapi sebuah liontin yang ia kenakan, membuatku tidak bisa memungkiri jika itu adalah dirinya karena itu adalah pemberian ibuku.
Harus ku akui, Elin tumbuh menjadi gadis yang cantik dan anggun. Matanya seperti boneka. Tubuhnya semampai dengan rambut cokelat yang agak bergelombang, dia bukan lagi gadis kecil seperti yang dulu ku kenali, dia menjelma menjadi gadis yang mampu menarik minat lelaki.
Pertemuan kembali antara aku dan Elin di sebuah Kasino milik Aro tempo hari, tentu membuatku terkejut.
Pertanyaan pertama yang ada dibenak ku adalah kenapa dia bisa berada ditempat seperti ini?
Dan jawabannya sungguh diluar perkiraanku.
"Dia dijual oleh Liam padaku ... dia adalah adik Liam," terang Aro saat aku menanyakan tentangnya.
Bagaimana bisa aku tidak tau jika Elin adalah adik dari Liam? Apa yang ku lewatkan selama sepuluh tahun belakangan?
Aku mengenal Elin ketika umurku menginjak angka 19 tahun. Kala itu, Elin masih berusia sekitar 8 atau 9 tahun. Dia adalah anak dari salah satu pelayan di Mansion orangtuaku di Jerman, Bibi Arbei namanya. Tapi, setahuku Bibi Arbei hanya memiliki Elin sebagai anaknya, aku tidak tau jika Elin memiliki kakak dan itu adalah Liam?
Liam sendiri adalah rivalku dalam banyak hal. Pria picik itu tak segan melakukan berbagai cara untuk menjatuhkanku, walau sejak awal Liam tau jika dia tidak akan bisa mengalahkanku dari segi apapun.
Aku memang patut berbangga diri akan hal ini, karena Liam memang bukan saingan yang berat bagiku. Dia terlalu mudah, mudah ditebak dan mudah dikalahkan. Meski begitu, Liam tetap selalu berusaha menjatuhkanku dan membuatku harus selalu waspada pada segala tindak-tanduknya.
Liam bersikap begitu padaku, sejak seorang gadis incarannya justru tunduk dibawah kakiku dan terang-terangan menolaknya karena mengejarku.
Sedang Irina--nama gadis itu--bukanlah seorang yang masuk dalam list tipeku. Aku tentu mengabaikannya dan hal itu justru memantik api permusuhan pada diri Liam terhadapku, karena menurutnya aku sudah menyakiti hati gadis itu.
"Cari tau tentang Elin. Bagaimana bisa Elin adalah adik dari Liam?" Aku memberi titah pada Jack--Asistenku.
Malam itu, aku meminta Elin untuk menemaniku. Meski biasanya aku ditemani oleh Gwen, tapi kehadiran Elin disana menarik atensiku dan tidak berminat dengan wanita lain.
Lagipula, Gwen terlalu agresif dan aku tidak terlalu menyukai hal itu karena yang ku butuhkan hanya sebatas teman untuk tidur.
Pertama, aku mau mengetes Elin. Memintanya untuk mengganti pakaian dengan sebuah bathrobe, aku ingin tau apakah ia sama seperti wanita penggoda lainnya atau tidak. Padahal, jika dikaji ulang, aku sendiri tidak betul-betul mau dia mengganti pakaiannya dengan bathrobe yang ku berikan. Sekali lagi, aku hanya mau mengujinya.
Dan ternyata, Elin sama sekali tidak bergeming. Dia tak mau menuruti kemauanku yang aneh. Ya, itu memang aneh, bahkan bagi diriku sendiri yang tidak pernah-pernahnya bertindak demikian, bahkan dengan Gwen sekalipun karena wanita itu yang kerap kali menggodaku lebih dulu.
__ADS_1
Awalnya, aku juga ingin melampiaskan kekesalan ku pada Liam, dengan cara mencoba merusak kegadisan Elin karena dia adalah adik si ke parat itu. Tapi, melihat wajah polos dengan mata yang sarat akan ketakutan itu, mendadak aku tak tega. Belum lagi aku mengingat saat Elin kecil masih tinggal di Mansion orang tuaku. Aku tak bisa. Dia pernah menjadi seperti kerabat dalam lingkup keluargaku.
Akhirnya, malam itu aku benar-benar terlelap disampingnya. Sialnya, aku justru merasa tenang saat dia menjadi orang yang menemaniku tidur.
...***...
"Aku bertemu Elin, Bu." Aku menceritakan pertemuanku dengan Elin pada ibuku lewat sambungan telepon.
"Elin? Medeline?" kaget Ibu.
"Yah, Medeline anaknya bibi Arbei."
"Dimana? Ibu merindukannya, Jav. Ibu mau bertemu dengannya, ya? Dia pasti sudah menjadi gadis yang cantik sekarang."
"Akan ada saatnya Ibu bisa menemuinya. Tapi, tidak sekarang."
"Kenapa?"
Aku bisa mendengar helaan nafas kecewa ibu dari seberang sana.
"Aku masih membutuhkannya, Bu."
Sepertinya ibu sudah bisa menebak situasinya sekarang.
"Begitulah, Bu."
"Jav! Kau tau itu salah, Sayang."
"Mau bagaimana lagi, Bu? Aku tidak bisa merasakan tidur dengan tenang sejak kejadian itu. Dan sekarang Elin adalah obat untuk ketenangan ku dalam tidur, biarkan dia menjadi teman tidurku. Lagipula, dulu Elin juga sering tidur di ruang tv saat aku juga ada disana dan menonton televisi."
"Itu berbeda, Jav. Dulu Elin masih kecil. Kau juga masih remaja. Dulu kau mungkin menganggapnya adik. Tapi sekarang kalian sudah sama-sama dewasa, kalian bisa melewati batasan!" Suara ibu terdengar meninggi.
"Tidak akan, Bu. Elin hanya sebatas teman tidurku, agar aku bisa mendapatkan ketenangan dalam tidur yang sudah lama tidak ku dapatkan. Ibu tidak usah khawatir, aku akan menganggap Elin seperti dulu selayaknya adikku dan tidak akan terjadi apapun diantara kami."
"Javier, ibu tau kau kesulitan dalam menangani problem tidurmu, tapi bisakah kau mencari orang lain? Jangan seorang gadis yang bisa saja kau rusak masa depannya, Nak."
"Aku tenang saat tidur bersamanya, Bu."
"... terlebih itu Elin. Dia sudah seperti anak bagi ibu," sela ibu.
__ADS_1
"Jadi, ibu mau aku mengajak tidur seorang lelaki? Agar aku dianggap tak normal?" sergahku.
"Bukan begitu, Jav. Ibu hanya tak mau kalian melewati batas."
"Ibu tenang saja."
"Atau ..."
"Atau apa, Bu?" Aku mendengar nada aneh dari suara ibu, seperti hendak memberi sebuah ide yang diluar prediksiku.
"Nikahi saja Elin."
Benar kan, ibu ada-ada saja. Saran ibu itu justru membuatku tertawa kencang.
"Sudah ku bilang Elin itu seperti adik bagiku, Bu. Aku tidak akan menikahinya hanya karena aku nyaman tidur bersamanya."
"Tapi itu jalan keluarnya. Kau dan dia bisa saling mencintai nanti."
"Sudahlah, Bu. Anggap hal ini selesai. chase closed, aku hanya ingin memberitahu ibu mengenai pertemuanku dengan Elin. Itu saja."
...***...
Awalnya, aku hanya berniat mendatangi kasino Aro untuk bermain-main, karena Aro memiliki banyak hutang padaku, tapi tidak disangka aku kembali kesana justru untuk menemui Elin lagi.
Di hari ketiga, aku malah melihatnya disentuh oleh para pria yang mengaku pejabat tapi perilaku mereka seperti bi adap.
Mereka tunduk saat melihat kedatanganku. Tentu saja, itu karena mereka tau siapa aku. Meski usiaku lebih muda dari mereka, tapi para tua bangka ini tidak akan ada yang berani menuntutku untuk menghormati mereka. Terkadang aku bersyukur karena uang selalu bisa membuatku berada diatas segalanya.
Entah kenapa aku kesal sekali pada mereka dan akhirnya memutuskan untuk menebus Elin saja dari tempat Aro.
Tentu keputusan itu sudah ku pikirkan matang-matang. Aku selalu punya komitmen dan tidak akan menarik hal-hal yang sudah ku katakan secara sadar.
"Apa kau tertarik padanya Tuan Gladwin?" tanya Aro saat tau aku begitu marah mendapati Elin yang bekerja hari ini, padahal aku sudah memintanya untuk cuti.
"Jangan membuat spekulasi. Dia masih kerabatku, jadi katakan berapa biaya untuk menebusnya."
Dan hari itu aku membawa Elin ke Apartmenku, dengan berbagai pertimbangan tentunya karena aku sudah mengetahui jika Elin dan Liam ternyata hanya saudara tiri. Bibi Arbei menikah dengan Ayah Liam beberapa tahun lalu saat dia memutuskan untuk resign dari pekerjaannya sebagai pelayan di Mansion orangtuaku.
"Mulai saat ini, Elin akan berada dalam kendaliku. Hingga suatu saat nanti dia bisa ku gunakan untuk membalas kelakuan Liam. Lagipula, aku masih membutuhkannya, sampai aku benar-benar sembuh dari trauma itu dan bisa tertidur dengan tenang, tanpa dirinya."
__ADS_1
...Bersambung ......