
Bohong jika Elin tidak menyukai semua ini. Siapapun perempuannya, pasti akan menyukai hal romantis yang saat ini dibuat khusus untuknya.
Dan mengenai jawaban Elin atas ajakan menikah dari Javier, tentu saja dia menjawab 'bersedia' menikah dengan pria itu.
Bahkan, tanpa tempat dan situasi seromantis inipun, Elin akan tetap menerima Javier menjadi pendampingnya.
Sebuah cincin batu safir berwarna biru disematkan Javier pada jari manis Elin, membuat keduanya melemparkan senyum satu sama lain. Bahagia, itulah yang mereka rasakan. Semoga kebahagiaan ini selamanya, itulah yang mereka harapkan.
"Kita akan menikah besok."
Ujaran Javier itu cukup membuat Elin terkejut.
"Really?"
Javier mengangguk. "Tidak perlu menunda, lebih cepat akan lebih baik. Kau setuju, kan?" tanyanya.
"Aku setuju asal pengantin prianya dirimu, Kak." Elin membuang pandangannya karena malu menatap Javier saat mengatakan kalimat itu.
"Hahaha." Javier tertawa. Kemudian tangannya yang masih menggenggam jemari Elin membawa itu ke depan bibirnya lalu mengecup punggung tangan gadis itu hingga membuat wajah Elin memerah.
"Disini sangat indah, Kak."
"Makanya aku membawamu kesini."
"Darimana kau tau tempat ini?" Elin menghadap pada Javier yang membalas tatapannya.
"Sebenarnya pulau ini sudah ku beli sejak dulu, untuk hadiah pernikahan kita waktu itu."
"Seriously?"
Javier tersenyum tipis. "Ya, dulunya tidak ada resort itu," katanya merujuk pada bangunan yang letaknya cukup jauh dari posisi mereka namun masih dapat dipandang mata. "Tapi sekarang semuanya sudah selesai dibangun," jelasnya.
"Kau akan menjadikan ini tempat wisata?"
"Maybe," jawab Javier tak yakin. "Tapi sejauh ini aku hanya menjadikannya pulau pribadi dan hanya keluarga yang bisa menginap di resort nya," paparnya.
"Kau bisa mendapatkan banyak keuntungan jika menjadikan tempat ini sebagai tempat wisata, karena disini sangat indah, kak."
"Aku perlu mendapat izinmu untuk melakukan itu."
"Aku?" Elin menunjuk pada dirinya sendiri.
"Ya, seperti yang tadi ku bilang, pulau ini aku beli untuk hadiah pernikahan kita."
Elin langsung mengulumm senyumnya.
"Kau senang?"
Elin mengangguk malu-malu. Javier pun merapikan helaian rambut Elin yang meriap-meriap karena deruan angin pantai, lalu menyelipkannya dibelakang telinga gadis itu.
"Kau tidak bertanya apa nama pulau ini?" ujar Javier membuat Elin jadi ingin tau.
"Apa?" tanya gadis itu.
__ADS_1
"Javeline Island."
Elin meledakkan tawanya, namun tak bisa dipungkiri bahwa dia senang mendengar nama itu.
"Apa ada yang lucu?" tanya Javier yang heran melihat respon Elin.
"Bukan lucu, Kak. Tapi itu diluar pemikiranku."
Javier mengangkat kedua bahunya dengan santai. "Aku memang tidak memintamu untuk memikirkannya," katanya cuek.
...****...
Saat seorang Javier Antonie Gladwin memutuskan untuk menikahi Elin sejak 2 tahun yang lalu, maka disaat itulah dia sudah bersumpah kepada dirinya sendiri, kepada diri Elin, bahkan kepada Sang Pencipta rasa, bahwa dia akan berusaha menjadi sosok pria yang dapat diandalkan. Baik sebagai seorang suami, ayah, dan sahabat untuk gadis yang akan segera menjadi wanitanya.
Maka dari itu, setelah semua yang mereka lalui, Javier merasa amat beruntung karena bisa kembali bersama Elin. Disandingkan dan mengucap ikrar suci hingga membuat status mereka berubah menjadi menikah.
Pada hari ini, Javier telah memilih Elin menjadi istrinya, hingga membuatnya bertekad untuk bisa menjaga Elin sejak sekarang hingga selama-lamanya. Membersamai pada waktu susah dan senang, serta pada saat kelimpahan maupun kekurangan. Tetap bersama dalam keadaan sehat maupun sakit. Hingga mereka lupa arti sebuah perpisahan, karena selalu membutuhkan kebersamaan. Mereka bukan lagi dua orang yang memutuskan menikah, tetapi sudah menjadi satu didalam ikatan suci bernama pernikahan.
"Suami adalah pakaian istri. Begitu pula istri adalah pakaian suaminya. Semoga kalian selalu diberkahi dalam pernikahan yang suci," kata Elara yang semringah menatap Javier dan Elin yang sudah resmi menikah beberapa saat yang lalu.
"Terima kasih, Bu." Javier memeluk Elara dengan hangat.
Satu beban dipundak Javier seakan meluruh, karena sekarang Elin sudah menjadi istrinya dan benar-benar menjadi miliknya yang sah.
Elin turut memeluk Elara. Dia merasakan kasih sayang layaknya dari ibu kandungnya sendiri berkat wanita itu.
"Terima kasih, Bu. Aku tau semua berkat yang kau terima sampai hari ini, karena kau sudah menjadi ibu dan istri yang baik untuk keluargamu. Maka dari itu, izinkan aku menjadikanmu contoh dan teladan agar aku bisa membina rumah tangga yang baik bersama Kak Javier, seperti rumah tangga ibu dan Daddy," kata Elin yang disambut haru oleh Elara.
Pernikahan Javier dan Elin diadakan secara tertutup di resort pribadi yang sebelumnya mereka kunjungi, tepatnya di Javeline Island.
Tidak ada kemewahan dan pesta disana. Hanya acara sakral pernikahan. Mungkin mereka akan mengadakan pestanya dibelakang hari, karena bagi Javier dan Elin yang terpenting adalah ikrar suci yang dapat mengesahkan hubungan mereka berdua.
"Kau tau, sejak aku memutuskan untuk menikah denganmu, aku tidak pernah berpikir untuk menikah dengan gadis yang lainnya."
"Apa aku harus mempercayainya?" ledek Elin atas ujaran Javier.
"Yah, kau harus mempercayai suamimu," kata Javier yang melingkarkan tangannya di pinggang Elin dari belakang. Pria itu menumpukan dagunya di bahu Elin sembari menyaksikan matahari yang mulai terbenam di bibir pantai.
"Apa kau yakin akan menua bersamaku?" tanya Elin kemudian.
"Bahkan jika ada kehidupan lain selepas ini, entah itu kehidupan kedua, ketiga atau akan ada yang lebih daripada itu ... mari kita kembali bertemu di kehidupan selanjutnya, dan tetap bersama sebagai pasangan, seperti saat ini ... saat kita masih berada didunia."
Sangking kagetnya dengan ujaran Javier, Elin sampai menoleh pada wajah pria kini tampak sangat dekat disampingnya. Elin tidak menyangka jika pria itu akan memberikan jawaban yang menandakan bahwa Javier bukan hanya menginginkan bersamanya sampai tua, melainkan terus membersamainya sampai kapanpun.
Tangan Elin mengelus lengan Javier yang masih melingkari perutnya.
"Terima kasih karena sudah mencintaiku sedalam ini, Kak," tutur Elin tulus.
"Cinta yang dulu kau ragukan," kata Javier sambil terkekeh.
"Dan kau juga selalu meragukan perasaanmu, bahkan kau tidak pernah bisa mengartikan apa yang kau rasakan, Kak!" Elin mengingatkan.
"Sorry," balas Javier. Pria itu menyurukkan wajahnya di ceruk leher Elin dan menghidu aroma wanita yang sudah menjadi istrinya tersebut. "Uhm, aku merindukan aroma tubuhmu ini," celetuknya kemudian.
__ADS_1
"Sepertinya kalian harus segera masuk ke kamar!"
Suara seseorang berhasil membuat Javier melerai pelukannya pada Elin, keduanya menoleh pada sumber suara dan melihat Cassie ada disana dengan senyum yang paling cerah.
"Cassie?" Elin menghampiri gadis itu.
"Kalian membuatku iri. Aku juga mau menikah," kata Cassie dengan raut sedih yang dilebih-lebihkan.
Hal itu membuat Javier dan Elin terkekeh.
Ini adalah pertemuan kembali antara Cassie dan Elin sejak gadis itu ditemukan.
"Sorry, aku baru tiba di Hamburg siang ini. Jadi aku baru bisa datang sekarang. Tapi aku turut bahagia untuk kalian."
"Thank you, Cassie," kata Javier yang diangguki juga oleh Elin.
Cassie memeluk Elin. "Welcome back, Elin. Ups, sorry ... maksudku Mrs. Gladwin," ujarnya berkelakar.
"Thank you, aku senang melihatmu lagi." Elin membalas pelukan Cassie yang tulus.
"Aku juga senang kau kembali. Akhirnya Javier menikah dengan gadis yang dia inginkan. Aku selalu sedih jika dia berantakan dan tidak bahagia." Cassie memasang wajah sedih yang dibuat-buat.
"Aku sangat terharu mendengarnya, Cassie," kata Javier mengolok ucapan Cassie yang berlebihan.
"Hahaha ..." mereka kemudian tertawa.
"Mana kado pernikahan untuk kami?" tuntut Javier pada Cassie.
"Oh tenanglah, aku sudah menyiapkannya."
Padahal Javier tidak benar-benar menagih hal itu, tapi jika Cassie sudah menyiapkannya maka dia turut penasaran hadiah macam apa yang diberikan sepupunya ini.
"Sudah ku letakkan di resort." Cassie malah berbisik pada Javier kemudian mengedipkan sebelah matanya.
"Memangnya apa hadiahmu? Kenapa harus berbisik begitu?" timpal Elin yang jadi penasaran.
Javier tau jika sudah begini pasti ada yang direncanakan oleh sepupunya ini, dia mengenal watak Cassie sejak kecil.
"Kau bisa melihatnya di kamarmu, Mrs. Gladwin." Cassie lantas menutup bibirnya. "Uhm, maksudku ... kamar kalian," sambungnya memperjelas.
"Ada baiknya kita langsung ke kamar untuk melihat hadiah dari Cassie. Bagaimana menurutmu, Sayang?" tanya Javier pada Elin dan Elin yang penasaran langsung menyetujui usul Javier begitu saja.
Cassie terkikik diposisinya, sekali lagi dia bermain mata pada Javier dan pria itu geleng-geleng kepala sebagai respon atas tingkah absurd sang sepupu.
"Pasti ada yang dia rencanakan," batin Javier menebak gelagat Cassie.
...The End ......
Tamat ya? Iya, tamat disini. Tapi tenang, othor kasi part extra nanti sampai tuntas semuanya😆 termasuk hukuman buat Liam, Irina dan kelanjutan tentang Nathan. Othor gak akan gantungin cerita tentang mereka. ok✌️
Yang udah baca sampai end, makasih banyak yaaa🙏 semoga kita semua sehat selalu.
Follow IG othor @cintiarizky .
__ADS_1