SEBATAS TEMAN TIDUR

SEBATAS TEMAN TIDUR
31. Pegang Kata-katamu (Author POV)


__ADS_3

Hari itu, mau tak mau Elin menyaksikan prosesi pemakaman ibunya. Dengan wajah sembab dan tubuh yang lesu Elin tampak kosong dan berantakan.


Javier merangkul Elin disisinya sembari berusaha menguatkan gadis itu.


Tidak banyak yang hadir ke upacara pemakaman ibunya, karena Elin memang tidak memiliki kerabat lainnya. Sebagian besar pelayat adalah kolega dari mendiang ayah tirinya yang sempat mengenal sang ibu. Disana juga ada teman Arbei semasa sama-sama menjadi pelayan di beberapa tempat, terakhir juga adanya keluarga Javier yang turut hadir disana untuk memberikan penghormatan terakhir kepada wanita yang telah melahirkan Elin tersebut.


Diantara cukup banyak orang itu, ada Liam yang hadir ditengah-tengah mereka. Dia menyamarkan diri dengan kacamata hitamnya.


"Bagaimana mungkin Elin begitu dekat dengan Javier?" Begitulah yang ada dibenak Liam saat melihat tubuh adik tirinya ditopang oleh Javier dalam prosesi pemakaman tersebut.


Liam tidak pernah tau jika yang menebus Elin dari Kasino adalah Javier, karena Aro hanya mengatakan bahwa Elin sudah tak disana tanpa menyebutkan siapa dan apa yang menyebabkan Elin berhasil keluar dari tempat tersebut.


Elin sendiri tidak menyadari lagi suasana dan keadaan yang ada disana. Ia juga tidak mengetahui kedatangan Liam ke tempat duka tersebut. Yang ia tau saat ini hanyalah ibunya yang sudah pergi untuk selamanya.


Liam tau akan sangat sulit mendekati Elin lagi apabila ada Javier diantara mereka. Padahal, Liam sudah menunggu saat-saat ini tiba dimana ia bisa memanfaatkan adik tirinya kembali dan menghasilkan banyak uang. Tapi disatu sisi, ia juga sadar jika Javier adalah pengusaha yang berpengaruh dan bukab tandingannya.


"Aku akan memikirkan bagaimana caranya menemuimu lagi, Elin," gumam Liam dengan senyum smirk-nya. Melihat dari gelagatnya, sepertinya Javier sangat melindungi Elin dan itu membuat dia tertarik untuk semakin mengganggu sang adik tiri.


Secara perlahan dan tanpa menimbulkan jejak untuk dicurigai, Liam pergi dari tempat itu tanpa ada yang menyadarinya.


Sementara prosesi pemakaman terus berlanjut sampai akhirnya Elin merasa tidak sanggup bertahan disana ketika peti mati ibunya benar-benar sudah ditutup kembali oleh tanah.


Elin jatuh pingsan lagi dan kali ini Javier yang menangkap tubuhnya secara spontan.


...****...


Blam ...


Javier menutup pintu ruang perawatan dimana Elin berada didalamnya. Ia keluar dari sana setelah merasa jika gadis itu baik-baik saja. Tekanan darah Elin sangat rendah, ia juga mengalami dehidrasi karena kekurangan cairan tubuh. Untuk itu, Javier membiarkan Elin dirawat beberapa waktu di Rumah Sakit.


Saat Javier keluar dari ruangan itu, ia melihat kedua orangtuanya sudah berada disana.


Jika Javier terbiasa mengobrol dengan ibunya, maka kedatangan ayahnya hari ini cukup membuat Javier terkejut. Namun, ia menyimpulkan kehadiran ayahnya kali ini karena tadi beliau sempat menghadiri pemakaman Bibi Arbei.


Javier melirik Elara, dan ibunya itu memberi kode lewat sorot mata.


Javier merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Dia bisa menyimpulkan ini karena kunjungan Ayahnya ke hadapannya saat ini. Bukankah seharusnya mereka sudah pulang sejak prosesi pemakaman selesai? Pasti ada yang ingin dibicarakan oleh pria tua itu, pikir Javier.


Javier melirik Carla yang setia menunggu disana sebagai bentuk penjagaan bagi Elin.

__ADS_1


"Jaga dia, aku akan mengobrol dengan ayah dan ibuku," pesan Javier pada Carla.


"Yes, Sir!" sahut Carla sembari mengangguk sopan.


Javier segera menghampiri Ayah dan ibunya yang memasang wajah serius di kursi tunggu.


"Ada yang ingin dibicarakan denganku?" tanya Javier memulai.


Shane--Ayah Javier--mengangguk. Melihat isyarat itu, Javier paham bahwa mungkin pembicaraan ini akan cukup penting. Ia mengajak kedua orangtuanya mengobrol di Restoran yang ada di seberang Rumah Sakit dan memesan sebuah private room.


Sekarang, Javier dan kedua orangtuanya sudah duduk bersama mengelilingi sebuah meja bundar.


"Jav, ibu dan Daddy sudah merundingkan hal ini dengan kepala dingin." Elara memulai perkataannya lebih dulu didalam ruangan tersebut.


Javier mengernyit, tak paham hal apa yang akan dibahas saat ini sampai harus merundingkan dengan Ayahnya.


Javier tidak dekat dengan Ayahnya, bahkan untuk urusan perusahaan, Javier jarang mendiskusikannya dengan Shane. Javier mempunyai hak yang sama besar dengan Ayahnya. Kendati demikian, bukan berarti mereka bermusuhan, mereka hanya memiliki perbedaan prinsip yang cukup jelas. Dan komitmen yang kadang bertentangan. Mereka memiliki watak yang sama-sama keras.


Untuk itulah Javier sangat menghindari pertemuan dengan Ayahnya, karena jika itu terjadi maka perdebatan akan sangat sulit terelakkan.


Meski begitu, Javier sangat bangga pada Ayahnya dan dia sangat menghormati pria yang membuatnya bisa hadir didunia tersebut.


"Mengenai Elin," kata Shane yang langsung menimpali.


Javier sedikit tegangg mendengar Ayahnya menyebut nama Elin. Ia takut sang Ayah membuat keputusan yang bertentangan dengan prinsipnya.


"Ada apa dengan Elin?" Javier menipiskan bibir, masih berusaha menutupi kegugupannya tentang pembahasan mereka kali ini.


Javier menatap kedua orangtuanya bergantian, menunggu jawaban dari mereka, tapi Elara dan Shane tidak langsung menjawab pertanyaan putranya.


Shane menarik nafas dalam, wajah tuanya seakan tidak mampu menutupi sisa-sisa ketampanannya. Garis wajah itu pula yang ia turunkan pada Javier, hingga sang putra layaknya duplikatnya ketika ia muda. (Yang tau visual Shane di Novel satunya, wajah Javier duplikat bapaknya ya✌️)


"Jav, Daddy sudah mendengar hubunganmu dengan Elin."


Javier tau hal ini yang akan dibahas Ayahnya, lalu apalagi? Ia menunggu dengan cemas hal apa yang akan kembali dikatakan oleh sang Ayah, karena biasanya ayahnya selalu to the point tanpa berbasa-basi.


"Dua pilihan, Jav!" Shane menatap lekat ke dalam netra sang putra. "Nikahi Elin atau tinggalkan dia tanpa menyakitinya," tukasnya keras.


Tubuh Javier membeku dengan mata yang saling menatap pada Ayahnya.

__ADS_1


Disana, Elara juga menghela nafas pelan saat kalimat suaminya sudah tercetus didepan putra mereka.


"Kenapa, Dad? Kenapa harus mencampuri hal yang menjadi urusan pribadiku?" tanya Javier dengan nada tak percaya.


"Urusan pribadimu?" Shane geleng-geleng kepala. "Kau masih putra Daddy, Jav! Apa Daddy harus membiarkanmu terus tinggal dengan Elin tanpa sebuah ikatan? Meski di negara ini tidak akan mempermasalahkannya, tapi kau membawa nama besar keluarga di belakang namamu!" berangnya.


"Elin hanya metode terapi ku, Dad!" protes Javier. Masih merasa tak salah akan tindakannya.


"Kalau kau tak bisa menikahinya, maka tinggalkan dia! Pilihannya hanya ada dua, Javier!" tekan Shane.


"Aku akan meninggalkannya, tapi tidak sekarang. Paling tidak, sampai aku sembuh."


"Coba kau lihat siapa yang juga bersama kita, Jav! Ini ibumu, dia seorang perempuan, sama seperti Elin. Jadi, jika kau masih menghargai ibumu, Daddy mohon kau hargai juga Elin dan jangan menjadikannya seperti alat. Kau ingat betul jika ibunya baru dimakamkan siang tadi."


"Aku tau, Dad," kata Javier lesu. Ia seperti tak punya pilihan sekarang. Baru kali ini Javier tampak kesulitan untuk mengambil keputusan.


"Jadi kau akan meninggalkannya setelah merasa sembuh?" tanya Shane lagi.


Javier mengangguk gamang.


"Baik, Daddy pegang keputusanmu. Daddy beri kau waktu satu bulan, meskipun tidak ada perubahan untuk kesembuhanmu, maka kau tetap harus meninggalkannya sesuai dengan apa yang kau pilih hari ini."


Wajah Javier kembali terangkat untuk menatap keseriusan sang Ayah. Ia tampak terkejut dengan ujaran Ayahnya.


Javier menatap sang ibu, berusaha meminta pembelaan, tapi Elara hanya menggeleng pasrah seakan keputusan suaminya sudah benar dan telah mereka sepakati bersama.


"Daddy harap, kau bisa memegang kata-katamu hari ini, Jav. Kau tau betul jika seorang pria sejati adalah yang bisa dipegang kata-katanya."


Javier hanya diam, entah kenapa sekarang ada perasaan menyesal dihatinya karena ia memilih untuk meninggalkan Elin suatu saat nanti. Entahlah. Perasaannya mendadak gusar.


"Ingat, Jav! Daddy tidak pernah memaksamu untuk meninggalkannya, tapi ini adalah keputusanmu sendiri."


Kedua orangtua itu pun pergi tanpa menyentuh pesanan minuman mereka sama sekali, meninggalkan Javier yang menatap nanar ke arah langit-langit ruangan.


"Apa keputusanku sudah tepat?" batin Javier merasa ada sebongkah batu besar yang menimpa pundaknya saat ini juga.


...Bersambung ......


...Jangan lupa dukung karya ini dengan vote, gift, like dan tinggalkan komentarnya guys ❤️💚...

__ADS_1


__ADS_2