
Waktu berlalu, hari pun berganti minggu. Tanpa ku sadari aku sudah tinggal bersama Kak Javier selama 1 bulan di Apartmennya.
Hari-hari yang ku lalui, sama setiap harinya. Aku akan sibuk sejak pagi. Menyiapkan segala keperluannya sebelum berangkat bekerja, juga membuatkannya sarapan. Aku sudah selayaknya pasangan untuk pria itu tapi kenyataannya tidak demikian.
Kak Javier membebaskan kan aku untuk menjenguk ibu di Rumah Sakit. Dia juga memberiku akses untuk keluar dari Apartmen. Lambat laun peraturannya mulai melunak, dia tidak mengekangku. Dia hanya memintaku harus sudah berada di Apartmen setiap pukul setengah 6 sore dan tentu saja aku tidak diizinkan pergi sendiri. Kemanapun tujuanku, Jack akan selalu ada untuk mengawasi.
Ku pikir aku akan berusaha untuk kabur dari keadaan ini. Nyatanya lambat laun aku merasa nyaman dengan kehidupan yang baru bersama Kak Javier. Dia bukan pria breng sek yang akan menyentuhku. Dia pria yang mampu menjagaku meski berkali-kali dia mengatakan jika dia melakukan semua itu sebatas untuk kepentingannya sendiri yang masih membutuhkan aku sebagai teman tidurnya.
Satu hal yang ku takutkan dari semua hari yang ku lalui bersamanya. Terbiasa. Aku takut kebiasaanku bersamanya justru menghadirkan sebuah rasa yang berbeda. Apalagi aku sudah mengakui jika aku nyaman bersamanya. Tak ada lagi rasa takut. Yang ada aku sering sekali gugup jika berada dalam jarak yang begitu dekat dengannya.
Seperti saat ini. Entah sejak kapan aku merasa jantungan setiap kali dia bergabung disatu selimut yang sama denganku. Jika dulu aku merasa demikian karena takut, sekarang tidak begitu. Jantungku bertalu cepat bukan karena rasa takut lagi tetapi lebih karena gugup luar biasa.
Aku ... ingin dia berbasa-basi padaku. Aku mengharap dia menanyakan aktivitasku hari ini. Dan entah kenapa aku mau dia bercerita hal remeh-temeh denganku sebelum benar-benar langsung tertidur seperti biasanya.
Ah, apa yang kau harapkan Elin? Begitulah bisik dihatiku mencoba memperingatkan diri ini. Tapi, diam-diam aku merasa mulai mengaguminya. Sosok ini, pria yang begitu baik dimataku--entah sejak kapan.
"Ehm, Kak?" Ku beranikan diri untuk memanggil pria yang sudah berbaring dan tampak ingin langsung memejamkan matanya. Kami jarang terlibat percakapan mengenai diri kami masing-masing, entah kenapa aku jadi tertarik ingin mengetahui tentang dirinya. Apa itu lancang? Atau justru aku melewati batas yang seharusnya?
"Kenapa?" Kelopak mata itu terbuka, wajahnya sedikit ditolehkan kepadaku yang juga berbaring disisinya.
"Tadi aku menjenguk ibu."
"Aku tau, Elin."
Entah kenapa juga, sekarang aku merasa senang setiap dia menyebut dan memanggil namaku, terdengar khas sekali dengan suaranya yang serak itu.
"Ya. Aku hanya ingin memberitahu," jawabku keki. Padahal aku ingin dia menanyakan hal lain padaku, itu sebabnya aku memancingnya bicara.
"Tidurlah, Elin."
Selalu kalimat yang sama yang Kak Javier ucapkan disaat seperti ini.
"Aku belum bisa tidur, Kak."
__ADS_1
"Jangan begadang. Aku tidur duluan."
"Ngg--ya, kak." Aku menghela nafas pendek saat melihat pria itu menghindar dengan cara membalik badan dan pamit untuk tidur.
"Yahhh ..." Dalam hatiku bersorak kecewa.
Aku menatap langit-langit kamar, diiringi dengan suara nafasku dan kak Javier yang bersahut-sahutan. Aku cukup bisa mendengar itu dikeheningan kamar.
"Thank you, Kak," gumamku.
Jika dulu aku sempat merasa membencinya karena dia sama seperti yang lain, yang menganggapku seperti barang untuk diperjual-belikan, tapi sekarang aku tidak menganggapnya begitu. Kak Javier satu-satunya orang yang memanusiakan aku selain ibu. Dia yang menyelamatkanku dan mengeluarkanku dari gelapnya kehidupanku sebulan lalu saat sempat tinggal dan bekerja di Kasino milik Tuan Aro.
Mungkin pria ini memang yang sengaja dikirim Tuhan sebagai penolongku. Aku mengaguminya dan lambat laun mulai merasa dia adalah salah satu bagian terpenting dalam hidupku. Aku belum pernah merasakan rasa seperti ini tapi aku merasa Kak Javier adalah satu orang yang melengkapi cerita hidupku. Aku rasa aku menyayanginya karena aku tidak mampu membayangkan jika aku harus sendirian tanpa dirinya.
...***...
"Hari ini mau menjenguk ibumu lagi?" Kak Javier bertanya disela-sela sarapan paginya.
"Iya, Kak."
"Apa ada perubahan akan kondisi ibumu?"
Aku menarik nafas panjang. "Belum," jawabku menundukkan kepala.
"Kenapa?" tanyanya dengan intonasi yang lembut.
"Aku takut, Kak." Suaraku berubah, ku pikir ada getaran disuaraku saat aku menjawab Kak Javier kali ini.
Lalu, didetik berikutnya aku justru sudah berada dalam dekapan pria itu. Dia merangkul ku, lalu membawaku ke dadanya. Aku menangis disana tapi disaat yang sama aku juga merasa tenang dalam posisi seperti ini. Jantungku berdetak dua kali lebih cepat, aku tidak menyangka Kak Javier akan memberi tindakan semacam ini untuk menghiburku yang sedih kala mengingat kondisi ibu.
"Aku tau ketakutanmu. Tapi, kau harus percaya jika semua yang terjadi padamu sampai hari ini adalah bentuk kekuatanmu. Kau pasti bisa melewatinya karena kau kuat. Hmm?"
Aku merasakan saat dia mengelus-elus punggungku dengan ritme teratur.
__ADS_1
Jangan dulu akhiri semua ini, Kak. Aku masih nyaman.
Aku mengangguk dalam pelukannya. Kak Javier menepuk-nepuk pelan punggungku kemudian dan responku justru melingkarkan kedua tangan di pinggangnya yang lebar. Aku mendongak demi melihat reaksinya karena aku dapat merasakan tubuh kak Javier yang mendadak kaku.
Disaat aku menatapnya dari posisiku, Kak Javier juga melihatku. Kami bertatapan satu sama lain sampai pada akhirnya aku merasa dia sudah memangkas jarak diantara kami.
"Aku berangkat. Aku takut terlambat."
Aku tersentak dan membuka kelopak mataku yang sempat memejam saat tadi hidung kami hampir bersentuhan. Aku mengerjap keheranan saat Kak Javier beringsut menjauh dari tubuhku. Aku terdiam dan menatapnya nanar.
Ah, apa yang ku pikirkan? Apa yang sebenarnya ku harapkan? Kenapa aku begini.
"Kak ..." Suaraku tercekat saat memanggilnya yang kini justru terlihat terburu-buru seperti hendak menghindariku.
"Aku pergi, Elin. Jika nanti kau pergi ke rumah sakit, jangan lupa mengabariku dan jangan pulang telat."
Aku hanya bisa mengangguki perkataannya. Aku benar-benar merasa jika dia menghindariku padahal... ah, sudahlah.
Aku menatap punggung lebar itu yang perlahan menjauh dan mengulang dibalik koridor.
"Kak, sepetinya aku menyukaimu, Kak."
Untuk pertama kalinya, aku mengakui hal itu pada diriku sendiri. Seharusnya aku merasa bahagia karena pada akhirnya aku bisa merasakan rasa semacam ini untuk pertama kalinya dalam hidupku. Tapi mengingat sosok yang ku sukai itu adalah Kak Javier maka aku harus siap patah hati.
Bagaimana tidak, sejak awal aku tau jika dia hanya membutuhkanku untuk menemaninya tidur, bukan untuk berbalas rasa yang dinamakan cinta.
Apa iya aku jatuh cinta padanya? Kenapa?
Jawabannya adalah siapa yang tidak jatuh hati pada sosok itu. Visualnya sempurna, dia juga pekerja keras meski sampai sekarang aku belum tau apa pekerjaan yang digelutinya sampai semua orang tunduk padanya. Dia tidak se breng sek yang ku bayangkan. Dia memperlakukanku dengan baik. Dia menyelamatkan ibuku dan dia memberiku kehidupan yang layak tanpa kekurangan didalam Apartmennya.
Jadi, gadis mana yang mampu menolak pesona dan kebaikannya itu? Termasuk aku yang merasakan kebaikannya secara langsung.
...Bersambung .......
__ADS_1
Selanjutnya, POV Javier ya. 🙏 Yang masih ada vote, boleh kasih ke sini yaa😍 maaf lama gak up, sibuk banget yg mau lebaran ini. ☺️☺️☺️