SEBATAS TEMAN TIDUR

SEBATAS TEMAN TIDUR
43. Keinginan (Author POV)


__ADS_3

Menjelang hari pernikahan mereka, Elin dan Javier berniat untuk mengunjungi makam mendiang Arbei.


Javier berniat menjemput Elin setelah meeting-nya selesai hari ini.


"Maafkan aku karena harus menghadiri meeting, ini karena aku sudah menunda pertemuannya hingga dua kali. Tapi nanti aku akan langsung menjemputmu," kata Javier dengan raut tak enak pada Elin.


"It's oke, Kak. Itu tak masalah. Kita bisa ke makam ibu di sore hari."


Javier mengulas senyum tipis dan mengusap rambut Elin dengan penuh kasih sayang.


"Baiklah, aku berangkat sekarang, My Dear."


"Hmm ..." Elin mengangguk-anggukkan kepalanya.


Javier mencuri ciuman di pipi Elin, membuat gadis itu geleng-geleng kepala sambil terkekeh, kemudian setelah itu barulah Javier benar-benar beranjak dari Apartmennya.


Dalam dua hari sekali, seorang maid yang ditugaskan Javier akan tetap datang untuk bersih-bersih. Javier tidak pernah menuntut Elin untuk membersihkan rumah. Kendati demikian, sesekali Elin tetap kekeuh untuk melakukan pekerjaan rumah karena dia bosan jika terus bersantai.


Untuk hari ini, Elin memutuskan untuk menghabiskan waktunya dengan menonton film di ruang tv setelah Javier berangkat ke kantornya. Elin sudah mempunyai banyak list film untuk ia tonton.


Namun lama kelamaan Elin mulai bosan dengan film-nya. Ia justru memikirkan soal permintaan Javier yang ingin mereka menikah secepatnya.


Sebenarnya ada satu kendala lagi yang membuatnya bimbang untuk menerima pernikahan itu dengan cepat. Meski sekarang ia yakin Javier telah mencintainya tapi Elin masih memiliki cita-cita yang tidak pernah ia ungkapkan pada Javier sama sekali.


Elin ingin merasakan menjadi mahasiswa. Ia mau duduk di bangku kuliah seperti teman-temannya yang lain. Untuk itulah ia belum menjawab ajakan Javier terkait tanggal pernikahan mereka.


Elin bingung apakah ia harus menyatakan hal ini pada Javier atau tidak. Ia ingin mengenyam bangku pendidikan meski hanya sampai S1 saja.


Dalam kebimbangan itu, akhirnya Elin beranjak dari duduknya. Ia masuk ke dalam ruang yang dijadikan Javier sebagai ruang untuk bekerja. Disana Elin meminjam laptop milik Javier yang selalu tersedia disana.


Elin mulai berselancar dalam dunia internet, ia ingin mencari tau syarat-syarat untuk memasuki dunia universitas. Sebenarnya dulu Elin pernah ditawari beasiswa karena ia salah satu siswa berprestasi tapi ia tidak dapat mengambil jalan itu ketika tiba-tiba ibunya divonis sakit. Perhatian Elin langsung tertuju ke ibunya, hingga kemudian Liam--kakak tirinya--memanfaatkan keadaan tersebut dan membuat hidup Elin benar-benar harus berakhir ditangan pria itu.


Jujur saja, sampai saat ini Elin belum bisa melupakan segala kejahatan yang pernah ia terima dari Liam. Dendam dihatinya pada sang kakak masih ada hingga sekarang dan niat untuk membalas pria itu pun masih sangat besar dalam dada Elin.


Tapi Elin cukup bersyukur karena akhirnya ia bisa terlepas dari belenggu hidupnya bersama Liam.


Cukup lama Elin mencari tau mengenai universitas yang ingin ia masuki. Meski ia belum mendiskusikan ini pada Javier, pun belum tentu ia benar-benar bisa berkuliah lagi tapi tak ada salahnya untuk berangan dan mengetahui tentang impiannya itu.


Pukul 3 sore waktu setempat, Javier langsung pulang ke Apartmen dan tidak menemukan Elin dimanapun. Ia mencari-cari gadis itu dan ternyata Elin berada diruang kerjanya.


Elin tampak tertidur di sofa dalam posisi duduk dan memangku laptop yang layarnya tampak menyala.

__ADS_1


"Apa yang dia lakukan?" batin Javier penasaran.


Javier mendekat dan melihat apa yang Elin cari di laptopnya. Layar benda pipih itu menunjukkan bahwa Elin sedang membaca artikel tentang sebuah universitas yang cukup elite di negara mereka.


Javier mengerutkan dahi, kemudian mulai ikut duduk disisi Elin tanpa berniat membangunkan gadis itu sedikitpun.


Dengan sangat perlahan, Javier meraih laptop dari pangkuan Elin dan melihat lebih detail histori halaman yang sempat Elin kunjungi.


"Apa kau mau berkuliah?" gumam Javier.


Javier menghela nafas berat, ia tau usia Elin yang belum genap 20 tahun itu adalah masa-masa dimana seharusnya Elin mengenyam bangku pendidikan.


Kenapa mendadak Javier merasa egois dengan mengajak Elin menikah? Apa ini alasan Elin tidak mau menyebutkan tanggal untuk pernikahan mereka? Jadi Elin masih ingin kuliah?


Bersamaan dengan itu, Elin tampak terbangun dari tidurnya. Ia sedikit tersentak saat mengetahui jika Javier sudah duduk disisinya sambil menatap layar laptop yang harusnya masih berada ditangan Elin.


"Kau sudah bangun?"


"Kapan kau pulang, Kak? Maaf aku ketiduran," kata Elin tampak gelagapan. Elin berani bertaruh jika sekarang Javier tengah bertanya-tanya mengenai Elin yang berada dalam ruang kerjanya.


Akan tetapi, saat menyadari kembali jika laptop yang tadi ia gunakan sudah berada di pangkuan Javier maka Elin menyimpulkan jika pria itu sudah mengetahui segala tentangnya.


Akhirnya Elin tak bisa mengelak dan terus menutupi keinginannya tersebut. Ia mengaku pada Javier mengenai hal itu.


"Apa ini yang menghambatmu untuk menikah denganku?"


Dengan ragu Elin menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, aku menyetujui jika kau kuliah. Aku sendiri yang akan membiayainya," putus Javier.


Elin tentu senang tapi dia tidak bisa menerima bantuan Javier secara cuma-cuma karena status mereka belumlah menikah dan hanya sebatas ikatan sepasang kekasih saja bukan suami istri.


"Aku tidak bisa menerima bantuanmu karena aku belum menjadi siapa-siapa untukmu, Kak."


"Tapi kau calon istriku," kata Javier tenang.


"Tapi tetap saja kita belum menikah."


"Jadi apa keputusanmu?"


"Ku dengar perusahaan Gladwin menjadi salah satu donatur untuk universitas yang ku impikan. Itu perusahaan keluargamu kan, Kak? Mereka biasa memberi beasiswa untuk anak-anak berprestasi."

__ADS_1


"Jadi maksudmu---"


"Iya, Kak. Aku mau mencoba jalur beasiswa itu. Biarkan aku membuktikan bahwa aku layak."


"Lalu pernikahan kita?" Javier menatap Elin serius, Elin tentu saja tau jika ada kekecewaan dalam tatapan itu dan dia merasa cukup bersalah akan hal ini.


Elin menggenggam kedua tangan Javier. "Berikan aku waktu, Kak. Sampai aku benar-benar mendapatkan beasiswa itu, kita akan menikah. Tidak masalah jika aku harus menjadi mahasiswa dan merangkap menjadi istrimu," tuturnya meyakinkan Javier.


Javier menghela nafasnya, meski berat tapi ia juga harus menghargai keinginan Elin bukan memikirkan egonya saja.


"Sebenarnya kau tidak perlu bersusah payah, Elin. Jika kau menganggap bahwa kau belum menjadi siapa-siapa untukku, maka kita menikah dan kau akan menyandang status sebagai istriku, aku akan membiayai kuliahmu jika kau memang menginginkannya. Semudah itu. Tidak ada bedanya, kan? Lewat beasiswa semuanya akan terasa lebih lama," ujar Javier panjang lebar.


"Maka dari itu aku memintamu menunggu, Kak. Aku mau berusaha dulu."


"Aku tidak bisa menunggu hal itu, Elin. Maka ku beri kau jalan pintas," kata Javier dengan seringaiannya.


Elin memutar bola matanya.


"Haha, untuk apa kau memiliki aku jika keinginanmu untuk kuliah saja harus mengharapkan beasiswa itu. Aku tidak akan mengizinkannya karena prosesnya sangat lama."


"Sebenarnya yang membuatmu tidak mengizinkan aku melalui jalur beasiswa karena kau tidak bisa menunggu prosesnya yang lama itu, kan? Karena jika aku melewati proses itu sama dengan kau semakin lama menunggu hari pernikahan kita?" tebak Elin menatap mata Javier lamat-lamat.


"Yup. Kau memang cerdas, Sayang. Jadi, kita menikah secepatnya dan kau juga bisa kuliah secepat yang kau mau."


Elin memijat pelipisnya. Terkadang Javier selalu menganggap enteng segalanya. Wajar saja karena memang Javier mempunyai akses untuk mempermudah hal itu tapi apa salah jika Elin mau mencoba usahanya sendiri?


"Bagaimana?" tanya Javier mendesak Elin. Keadaan ini justru bisa dimanfaatkannya agar Elin mau mempercepat pernikahan mereka.


Elin yang awalnya mengira keinginannya untuk berkuliah akan menunda pernikahan mereka justru jadi berpikir keras sekarang.


"Ku pikir dengan aku mau kuliah, kau akan berniat menunda pernikahannya, tapi kenapa justru sebaliknya? Kau malah mendesakku untuk menikah secepatnya agar bisa membiayai kuliahku?" Elin pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Sementara disana Javier hanya mengulas senyum smirk andalannya sebagai respon atas ujaran Elin. Di tampak sangat santai meski awalnya tadi dia sedikit gamang jika pernikahan mereka benar-benar akan ditunda cukup lama.


"Sudahlah, jangan banyak berpikir, karena tidak akan ada yang ditunda lagi soal pernikahan kita. Dan segeralah bersiap karena kita akan mengunjungi makam ibumu sebentar lagi."


Jika Javier sudah membuat keputusan seperti ini, Elin jadi merasa jika dia tidak mempunyai kesempatan untuk menolak. Kesempatan yang Elin miliki hanyalah berkata iya dan iya.


"Baiklah ..." ujar Elin dengan pasrah.


...Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2