
Untuk pertama kalinya, aku menginjakkan kaki ke Rumah Sakit ini untuk ikut menjenguk Bibi Arbei. Ya, aku memutuskan menemani Elin kesini bukan semata-mata karena takut dia kabur dari pengawasanku, tapi karena aku pun ingin melihat keadaan Bibi Arbei. Walau bagaimanapun juga, beliau adalah seseorang yang pernah menjagaku ketika aku masih kecil, bahkan dia lebih dulu mengasuhku daripada putrinya sendiri, mengingat jika dia sudah bekerja di Mansion orangtuaku sebelum dirinya menikah.
Karena Bibi Arbei masih berada dalam ruang ICU, aku dan Elin akan menjenguknya secara bergantian. Awalnya Elin terkejut ketika tau aku juga hendak melihat ibunya. Jelas saja dia heran, karena dia tidak pernah ingat bahwa aku pernah mengenal ibunya di masa lalu.
Namun, aku tidak mau menjelaskan padanya terkait hal itu. Aku hanya mengatakan ingin melihat kondisi ibunya dan ku yakinkan dia bahwa itu tidaklah salah. Hingga akhirnya, Elin pun menyetujui.
Elin lebih dulu membesuk Bibi Arbei di ruangan tersebut dan aku menunggu di luar.
Beberapa saat kemudian, Elin keluar dari ruangan ICU dengan wajahnya yang sembab.
"Sudah?" tanyaku dan gadis itu mengangguk.
Aku melangkah dan melewati tubuh Elin di ambang pintu. Tapi, belum sempat jemariku memegang handle untuk memasuki ruangan dimana Bibi Arbei dirawat, tiba-tiba Elin mencekal lenganku hingga membuatku menghentikan langkah kakiku.
"Apa sebelumnya kau pernah mengenal ibuku, Kak?"
Aku mengernyit beberapa saat, apa Elin mulai ingat masa lalu dimana aku adalah anak dari majikan ibunya dulu?
"Kenapa tiba-tiba kau menanyakan itu?" Alih-alih menjawabnya, aku malah mengajukan pertanyaan juga.
"Tidak ada. Aku hanya heran kenapa kau mau membuang-buang waktumu yang berharga hanya untuk melihat ibuku."
"Aku akan menjawabnya setelah aku menjenguk ibumu," kataku meyakinkan. "Tunggulah sebentar," lanjutku seraya melangkah masuk ke ruangan yang sudah diambang mata.
Dalam ruangan senyap yang hanya memperdengarkan suara EKG yang terpasang, aku melihat tubuh Bibi Arbei yang terbujur kaku seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan dari dirinya. Aku cukup terenyuh melihatnya, usia bibi Arbei itu lebih muda dari ibuku, tapi dia sudah menderita penyakit yang menyebabkannya harus mengalami kesakitan parah seperti ini.
"Apa kabar, Bi? Apa bibi mengingatku? Ini aku Jav," kataku berbisik didekat ibu kandung Elin itu.
Aku melihat tidak ada respon dari Bibi Arbei terkait perkataanku, kendati demikian aku tetap mengajaknya mengobrol.
"Bi, maaf karena terlalu lama datang. Seharusnya aku lebih cepat kesini untuk membesuk Bibi."
Aku memegang jari-jemari pucat milik Bibi Arbei, entah kenapa aku merasa dia seperti ibu sendiri dan sekarang rasa sedih mulai melingkupiku dalam ruangan ini.
"Apa Elin ada menceritakan tentangku pada Bibi?" Aku berucap lirih, melihat kondisi bibi Arbei yang tidak berkutik sedikitpun membuatku ingin menangis sekarang, mungkin karena aku turut mengingat kebaikannya disaat bersamaan.
"Aku bertemu Elin kurang lebih dua bulan yang lalu, Bi. Maaf jika aku memanfaatkan Elin untuk kepentinganku sendiri."
Aku menarik nafa dalam-dalam hingga akhirnya aku mendapatkan satu keputusan final yang terbersit begitu saja kala aku melihat kondisi bibi Arbei saat ini.
"Tapi, Bibi tenanglah, aku berjanji akan menjaga Elin dan dia akan tetap aman bersamaku."
Entah kenapa aku harus membuat sebuah janji yang cukup besar pada bibi Arbei terkait kehidupan putrinya, tapi aku tidak menyesalinya.
__ADS_1
"Semoga bibi lekas sembuh dan segera pulih kembali."
Aku berbalik namun tanganku terasa disentuh hingga membuatku refleks berbalik saat itu juga.
"Bibi Arbei?"
"Jav ..."
Suara itu seperti berbisik, sangat pelan bahkan nyaris tak terdengar.
"Ya Tuhan, kau sudah sadar, Bi?" Aku sangat terkejut dengan hal ini, tanganku segera meraih tombol panggilan untuk mengadukan kondisi Bibi Arbei yang mendadak sadar. Ini seperti sebuah keajaiban yang terlalu tiba-tiba muncul didepan mata kepalaku sendiri.
Selesai memanggil dokter untuk segera datang ke ruang ICU dimana bibi Arbei dirawat, aku hendak keluar dari sana untuk memberitahukan pada Elin terkait keadaan ibunya tapi Bibi Arbei lebih dulu berbicara lagi dengan suaranya yang lemah.
"Jav ..."
"Iya, Bi? Aku akan memberitahu Elin dulu kalau bibi sudah sadar."
Wanita itu menggeleng dengan pelan sekali. "Jagalah Elin, Jav..." pintanya dengan nada memohon. Pelupuk matanya berair karena airmata yang menggenang disana, aku tau dia sedang memelas padaku.
"Hmm, aku akan menjaganya..." kataku sambil mengangguk-angguk kan kepala. Aku sudah menjanjikan hal ini tadi, bahkan sebelum bibi Arbei sadar.
Wanita paruh baya itu seperti ingin berucap lagi, tapi aku tidak mendengar jelas apa yang dia ucapkan kali ini.
Belum sempat bibi Arbei mengulangi perkataannya yang kurang jelas, Dokter dan dua orang perawat datang berbondong-bondong memasuki ruangan tersebut, lalu aku diminta untuk menunggu diluar.
Begitu aku keluar aku langsung dihadapkan dengan Elin yang seakan ingin menginterogasi ku saat itu juga.
"Aku akan menjelaskannya,"ucapku seolah tau isi kepala Elin yang ingin menanyakan kondisi ibunya.
Aku mengajak Elin duduk di kursi tunggu yang ada disana. Kami duduk bersisian dengan tatapan yang saling mengabaikan. Pandangan kami berdua sama-sama lurus ke depan tanpa berniat saling menatap satu sama lain.
"Katakan, Kak."
"Ibumu sadar saat aku hampir pergi dari ruangannya," jelasku memulai.
"Bagaimana bisa? Selama ini aku selalu memancingnya untuk sadar tapi ibu tidak pernah menunjukkan tanda-tanda itu."
"Mana ku tahu, Elin. Memangnya aku bisa mengatur hal itu?"
"Memangnya apa yang kau katakan pada ibuku, Kak?"
"Tak ada. Aku hanya mengatakan agar beliau segera sembuh dan kembali pulih."
__ADS_1
"Selain itu?" desak Elin.
"Aku hanya menyebutkan namaku. Itu saja."
"Jadi benar kalau kau dan ibuku saling mengenal? Bagaimana bisa? Kapan dan dimana?"
"Jangan memikirkan hal itu, yang terpenting sekarang adalah kondisi Bibi Arbei."
"Ah, kau bahkan tau nama ibuku." Elin tampak terperangah tak percaya.
"Sudahlah, Elin. Yang jelas keadaan ibumu yang utama sekarang."
Elin hendak protes tapi keluarnya dokter dan para perawat dari ruang ICU membuatnya mengalihkan atensi dariku.
"Bagaimana keadaan ibu, Dokter?" Elin langsung menyambut Dokter tersebut dengan pertanyaannya.
"Nyonya Arbei sudah sadar," kata Dokter dengan senyum semringah. "Ini sebuah mukjizat dan kami masih terus memantau kondisi vit@lnya. Untuk selanjutnya, jika beliau menunjukkan tanda-tanda kesembuhan yang lebih baik, maka kita bisa melakukan tindak pengobatan untuk kankernya," jelasnya kemudian.
"Apa ibu bisa keluar dari ruang ICU?"
"Untuk saat ini, belum. Beliau akan lebih baik berada di ICU untuk beberapa waktu lagi."
"Baiklah. Terima kasih, Dokter."
Aku cukup bisa mendengar percakapan mereka disana meski aku tidak meresponnya sama sekali. Dalam hati aku bersyukur jika Bibi Arbei benar-benar sembuh.
"Apa ibu ada mengatakan sesuatu padamu, Kak?" Elin kembali menanayaiku.
"Sudah ku bilang---"
"Jangan menutupinya, Kak. Ibu ada bilang apa?" sergah Elin menyela perkataanku.
"Ibumu hanya memintaku untuk menjagamu."
Elin berdecih, seperti tidak menyukai perkataanku.
"Why? Kau tidak suka dengan permintaan ibumu?"
"Ya, aku tidak menyukainya. Karena ibu meminta pada orang yang salah. Kau bukan orang yang patut menjagaku, Kak. Karena aku bukan siapa-siapa bagimu!" ucapnya keras.
Apa yang sebenarnya terjadi pada Elin, kenapa dia mendadak berubah? Kenapa sekarang dia menunjukkan sikap seolah dia amat tidak menyukaiku? Apa ini bentuk pertahanan dirinya demi menghindariku?
...Bersambung .......
__ADS_1