SEBATAS TEMAN TIDUR

SEBATAS TEMAN TIDUR
40. Mulai mengingat (Author POV)


__ADS_3

Elin dan Javier akhirnya tiba di Apartmen pria itu beberapa belas menit kemudian. Tak tanggung-tanggung, Javier mengendari motor yang sudah lama tidak Elin lihat dia gunakan. Terakhir Elin melihatnya adalah saat Javier terburu-buru pergi ke kantornya karena dia telat bangun akibat terlalu nyenyak tidur disisi Elin.


Soal Nathan? Tentu saja Elin tidak begitu menggubrisnya. Meski Elin tau jika tadi Nathan berniat membelanya dari Javier, tapi tetap saja disini sosok Nathan lah yang asing bagi Elin dan dia membiarkan saja pemuda itu saat Javier mengajaknya untuk pulang ke Apartmen. Elin tak perlu merasa tak enak pada Nathan karena ia merasa ucapan Javier ada benarnya yaitu ini adalah urusan mereka bukan Nathan.


"Kau tau, kau sangat membuatku marah!" kata Javier begitu Elin menghempaskan bo kongnya di sofa ruang tamu.


"Kenapa kau marah? Aku merasa tidak melakukan kesalahan apapun," jawab Elin.


"Oh ya? Apa menurutmu tinggal di tempat yang penuh dengan tindakan kriminalitas adalah sesuatu yang patut ku benarkan? Lalu, saat kau dekat pemuda tadi ... itu sebuah hal yang tidak salah?"


"Apa kau harus peduli dengan hidupku? Ku pikir kau sudah membebaskanku, kak? Kenapa kau masih harus ikut campur dan memata-matai aku? Bahkan kau menganggap aku salah jika aku dekat dengan lelaki lain," ujar Elin kesal.


Javier menatap Elin tak percaya yang dibalas dengan tatapan nyalang oleh gadis itu.


"Kau ..." Javier kehilangan kata. "Sudahlah!" katanya ingin segera beranjak. Setidaknya, Elin sudah aman saat ini karena sudah berada di Apartmennya.


"Kenapa kau harus datang lalu mengakui sebagai calon suamiku? Kenapa kau harus ikut campur, kan?" Elin mendesak Javier untuk menjawab hal ini.


Javier tak menyahut, dia tetap dalam posisi membelakangi Elin.


"Kenapa kau harus melarangku dekat dengan Nathan. Dia bahkan masih sekolah dan kau marah ..." Elin tersenyum getir di posisinya.


Ah, jadi namanya Nathan. Kenapa Javier tak suka saat Elin menyebutkan nama lelaki lain dihadapannya?


Javier membalik badan, menatap Elin sepenuhnya. Ia dapat melihat raut kebingungan dan marah yang jelas terpancar dari gadis itu. Wajar jika Elin heran dengan sikapnya, wajar jika Elin bertanya-tanya kenapa ia melakukan semua ini. Apa alasannya?


"Kau tau, aku melakukannya karena ..."


"Karena apa?" hardik Elin keras. Ia tak mau Javier mempermainkannya lagi dan menguasai hidupnya, sementara perasannya ditolak mentah-mentah oleh pria itu.


"Karena ..." Javier menarik nafasnya dalam. Sepersekian detik berikutnya, dengan langkahnya yang jenjang ia sudah tiba dihadapan Elin dan memaguutt bibit gadis itu hingga membuat Elin sangat syok dan terkejut.


Perasaan marah dan dongkol Elin seakan luruh seketika karena ciuman Javier yang menuntut namun terasa sangat lembut dan penuh perasaan.


Javier melepas bibirnya dari bibir Elin saat merasa jika Elin akan kehabisan oksigen untuk bernafas. Dalam jarak yang sangat dekat bahkan ujung hidung mereka yang masih saling bersentuhan, Javier akhirnya berkata lirih namun sarat akan keseriusan.


"I love you, cintai aku lagi dan menikahlah denganku."


Demi apapun, dunia Elin terasa berputar cepat sekarang. Ia membalas tatapan Javier yang sangat teduh, Elin seakan masuk dan terlarut dalam bola mata Javier yang penuh keseriusan tersebut dan disaat itulah ia seperti terhempas pada masa lalu yang mulai diingatnya.


"Elin, aku membelikan mu boneka. Coba lihat, ini untukmu."

__ADS_1


"Kau baik sekali kak. Thank you."


"Aku menyayangimu, Elin. Tapi aku lebih suka adik lelaki ketimbang perempuan."


"Aku memang bukan adikmu, Kak."


"Kalau begitu, aku takkan menganggapmu adik lagi."


"Jadi?"


"Aku akan menganggapmu sebagai gadis yang spesial."


"Apa kau mau mengajakku berkencan?"


"Yah, of course. Kita tunggu sampai kau dewasa, Elin."


Potongan ingatan yang sempat Elin lupakan kini bercokol kembali dikepalanya. Ia ingat, bahwa sejak dulu javier sudah tidak menganggapnya sebagai adik kecil karena Javier mau menganggap Elin adik jika Elin adalah seorang lelaki.


"Bonekanya?" gumam Elin tiba-tiba.


Javier mengerutkan dahi, ia mendengar sekilas apa yang tadi Elin gumamkan.


"Boneka? Boneka apa?"


"A-apa?" Javier langsung mengingat boneka yang Elin maksud. "Kau ingat pada boneka itu?" tanyanya.


"Yah. Aku baru saja mengingatnya. Dimana boneka itu, Kak?"


"Maafkan aku, Elin. Boneka itu ikut terbakar saat kebakaran di villa yang ku tempati bersama Nenekku. Aku membawa boneka itu kemanapun sejak kau pergi."


Kelopak mata Elin melebar, ia ingat jika ia tak sempat membawa Boneka pemberian Javier saat meninggalkan Mansion keluarga Gladwin. Elin mengingat kenangan yang hilang tersebut.


"Kenapa kau mendadak menanyakan Boneka itu?" tanya Javier mengelus bibir Elin yang basah karena ulahnya.


"Ya, tiba-tiba aku mengingat masa kecil kita."


Javier tersenyum. Hal ini turut meruntuhkan ego dalam dirinya. "Benarkah?" tanyanya antusias.


Elin mengangguk.


"Lalu, bagaimana dengan ajakanku?"

__ADS_1


"Ajakan?" Elin keheranan. Dia belum mencerna kalimat Javier tadi karena terbawa euforia kesenangannya saat mengingat masa lalu yang sempat terlupakan.


"Kita menikah. Aku sudah menyadari kalau aku jatuh cinta padamu."


"Apa segampang itu untuk mencintaiku?" gimana Elin bertanya pada diri ya sendiri.


"Yah. Hanya aku yang terlambat menyadarinya. Aku tak mau semakin terlambat lagi," ujar Javier kemudian.


Elin tersenyum. "Jika aku menerima maka kita akan menikah?" tanyanya memastikan.


"Tentu saja. Kita tak perlu menunggu apapun lagi karena aku sudah menyatakan perasaanku padamu."


Elin menarik nafas panjang, ia takjub pada Javier yang akhirnya mengaku mencintainya tapi ada keraguan dalam dirinya mengenai hal itu.


"Kau mengatakan mencintaiku ... agar aku tak pergi lagi dari hidupmu, dan tetap bisa menjadi teman tidurmu. Begitu?"


Javier menggeleng. "No. No. Lupakan soal teman tidur. Aku takkan menganggapmu sebatas itu lagi. Kali ini aku benar-benar serius. Kita akan menemui kedua orangtuaku untuk membicarakan hal ini."


"Apa buktinya jika kau melakukan ini atas dasar kau mencintaiku, kak? Aku takut ini hanya akal-akalanmu saja agar aku kembali padamu, padahal sebenarnya perasaanmu padaku biasa saja."


"Oh God!" Javier mengusap kasar wajahnya sendiri. Sekarang ia tau bahwa ia memang harus meyakinkan Elin terkait hal ini. "Kau mau bukti apalagi? Apakah harus ku katakan jika seharusnya saat ini aku dirawat karena sakit tapi aku lebih memilih mengendarai motorku untuk menjemputmu dan menjauhkanmu dari lelaki bernama Nathan itu?" ujarnya panjang lebar.


Sekarang Elin mengulumm senyum, namun kemudian dia menyadari sesuatu.


"Kak ... kau sakit?" Elin menatap khawatir pada Javier.


"Yah, aku sakit sejak kau pergi. Bertanggung jawablah dengan cara menikah denganku."


Elin tak habis pikir kenapa sekarang Javier yang bertingkah sangat mendesaknya seperti ini.


"Kelihatannya kau benar-benar sakit, Kak. Apa dokter memberimu obat yang membuatmu berhalusinasi?"


Javier tertawa pelan dan kemudian membawa Elin ke dalam rengkuhannya.


"Jangan pergi lagi. Aku tidak bisa meski itu hanya sehari tanpamu."


"Karena kau membutuhkanku sebagai teman tidurmu?" sarkas Elin.


"Yah, tapi yang paling utama disini karena aku merasa kehilanganmu, my love."


Mata Elin berbinar-binar saat mendengar ucapan Javier. Ia terlalu senang sekarang. Bahkan tidak pernah terpikir olehnya mendapat panggilan seperti itu dari seorang Javier. Apakah Javier mulai bucin dengannya sekarang? Wah, Elin ingin bertepuk tangan saat ini juga.

__ADS_1


...Bersambung ......


DUKUNGANNYA MANA? KLIK LIKE, TAP SUBSCRIBE, BERIKAN GIFT DAN TINGGALKAN KOMENTAR KALIAN GUYS❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2