SEBATAS TEMAN TIDUR

SEBATAS TEMAN TIDUR
6. Pertemuan kembali


__ADS_3

"Masuk!"


Dan akhirnya aku harus menyusul belakangan ke lantai 5, setelah sebelumnya memilih untuk ke toilet lebih dulu. Ini semua karena perkataan Gwen sangat menyentil sisi hatiku yang terdalam. Aku membutuhkan ruang untuk meredakan rasa sakit saat dihina seperti itu.


Entah kenapa Tuan Gladwin harus memilihku lagi, hingga menyebabkan ku harus berada dalam posisi seperti ini.


Tadinya, aku bahkan sempat berniat untuk melarikan diri lewat celah yang ada di kamar mandi, nyatanya itu tidak segampang ekspektasi ku. Alhasil, aku harus benar-benar kembali menghadapi Tuan Gladwin disini karena akhirnya dia yang lebih dulu masuk ke ruangan yang ada di lantai 5.


Ruang yang menyediakan fasilitas bak kamar hotel bintang 5 itu selalu menjadi pilihannya. Ini adalah kali kedua ku berada disini bersama pria yang sama pula.


"Mau disana sampai pagi?" Dingin pria itu menyapaku yang masih mematung di ambang pintu.


Aku menggeleng-gelengkan kepala.


"Tutup pintunya!" titah Tuan Gladwin dan aku melakukannya juga meski dengan ragu-ragu.


Kali ini tidak ada hal seperti kemarin dimana dia menyerahkan bathrobe untuk ku kenakan. Tuan Gladwin masuk ke kamar mandi sendirian, sedang aku bingung harus melakukan apa selain berdiri dengan kepala yang menunduk.


Beberapa menit berlalu, pria itu keluar dari kamar mandi hanya mengenakan secarik handuk yang membalut tubuh bagian bawahnya. Aku spontan membuang pandangan karena tidak nyaman menyaksikan pemandangan itu, meski naluri kegadisanku merasa penasaran melihat tubuh Tuan Gladwin tapi aku berusaha mengenyahkan pemikiran semacam itu.


Tidak sekalipun aku berani bertatap atau beradu mata dengannya. Aku takut, karena tatapan pria itu selalu mengintimidasi.


"Kau sudah mandi?"


Kenapa dia bertanya begitu, apa penampilan dan aroma tubuhku seperti orang yang belum mandi? Tapi tidak mungkin aku menyatakan hal itu padanya, aku hanya merespon pertanyaannya dengan anggukan.


"Baguslah. Ini sudah sangat larut. Jadi, tidurlah."


"A-apa?" tanyaku terdengar tak yakin dengan ujarannya barusan.


Tuan Gladwin tidak menyahut, dia mengambil ransel yang diletakkan didekat sofa lalu tampak mengeluarkan sesuatu.


"Ini, pakailah ... aku yakin kau tidak nyaman menggunakan pakaian seperti itu untuk tidur," katanya merujuk pada gaun yang ku kenakan.


Ragu aku menerima bungkusan darinya, tapi akhirnya tanganku berhasil meraih itu dan mengetahui jika isinya adalah piyama lengkap.


Tuan Gladwin tidak mengatakan apapun lagi, dia juga tampak mengambil sesuatu dari ranselnya--yang ku lirik jika itu adalah sebuah celana pendek.


Sementara aku masih terheran-heran dengan hal ini. Namun, buru-buru aku masuk ke bilik kamar mandi dan mengesah panjang dibalik pintunya.

__ADS_1


"Syukurlah jika dia memang tidak berniat macam-macam padaku. Tapi, apa iya? Atau ini hanya cara awal darinya agar aku tidak melawan?" batinku terus bertanya-tanya.


Tak ingin terus larut dengan pemikiran itu, aku memilih mengenakan piyama yang tadi diberikan Tuan Gladwin padaku. Siapa sangka ternyata itu adalah piyama yang tampak sangat sopan. Berlengan panjang, lengkap dengan celananya yang juga menyentuh mata kakiku.


Aku keluar dan menghampiri sisi tempat tidur dengan perasaan gugup, karena Tuan Gladwin sudah berbaring disana. Lagi-lagi aku takut ini hanya semacam taktik Tuan Javier untuk mencapai maksud yang sebenarnya.


"Tidur, Elin."


Suara serak itu kembali menyadarkan ku.


"Ah, ya, Tuan."


Perlahan tapi pasti, aku mulai menaiki ranjang dan ikut membaringkan tubuh disamping pria bertampang dingin itu. Jika ku perkirakan, usianya mungkin setara dengan Liam. Sekitar 28 atau 29 tahun. Tapi, entahlah. Aku tidak seberani itu untuk menanyakannya atau terlibat percakapan yang lebih pribadi padanya.


Yang paling membuatku heran, Tuan Gladwin kembali tertidur pulas dengan dengkuran sesaat setelah aku ikut bergabung di selimut yang sama dengannya. Aku sampai speechless dibuatnya. Ternyata dia benar-benar tidak menyentuhku sama sekali.


Haruskah aku kembali bersyukur atas hal ini?


Tapi, mengingat perkataan Gwen pagi tadi, jika mereka berdua selalu menghabiskan malam bersama dengan panas, cukup membuatku bingung. Kenapa jika denganku Tuan Glawin tak seperti itu? Pertanyaan itu muncul begitu saja, bukan karena aku ingin ditiduri olehnya tapi bukankah ini memang aneh?


...***...


Nyatanya, pria itu masih tertidur disampingku dan ... apa ini?


Meski Tuan Gladwin masih lelap, tapi Aku dapat merasakan jika kini tangannya berada diatas perutku seperti tengah memeluk dengan posesif. Aku sedikit tersentak dengan hal ini, juga merasa tak nyaman karena terlibat skinship dengannya.


Perlahan aku memegang tangan besar itu dan berniat memindahkannya. Namun, pergerakanku itu justru membuat Tuan Gladwin terbangun.


"Elin?"


"Y--ya, Tuan."


"Jam berapa ini?"


Aku melirik jam dinding untuk menemukan jawabannya. "Jam 6, Tuan."


Seketika itu juga Tuan Gladwin terduduk. "Astaga, aku terlalu nyenyak," gumamnya yang masih dapat terdengar di indera telingaku.


"Aku harus pulang, lain kali kalau aku tertidur sampai jam ini, kau harus segera membangunkan ku."

__ADS_1


"Baik, Tuan. Maaf aku tidak tau. Lain kali aku akan membangunkan Tuan."


"Hmm ..." Tuan Gladwin sibuk memakai bajunya karena semalaman dia memang tidur dengan berte-lan-jang dada.


Aku hanya bisa melihat setiap pergerakannya dari posisiku dengan perasaan yang entah bagaimana.


Tak berapa lama, Tuan Gladwin mengenakan jaket kulitnya dan mengambil dompetnya. Dia lalu mengeluarkan lembaran uang tunai yang pada akhirnya diserahkan ke arahku.


"Ambilah, Elin."


"Bukankah Tuan sudah membayar lewat Tuan Aro?"


"Ini diluar itu. Aku hanya mau memberimu."


"Yang kemarin sudah terlalu banyak," jawabku jujur.


Tuan Gladwin mengulas senyum tipis. "Aku tidak punya banyak waktu untuk memaksamu, jadi ... ambil atau aku tidak akan memberimu tip lagi sampai kapanpun."


Akhirnya aku menerima uang itu, bukan karena aku memang ingin, tapi karena aku menghargai pria yang sejak tadi sudah mengulurkan uang tersebut ke arahku.


Setiap aku menerima uang seperti ini, aku jadi merasa benar-benar murahan. Aku menghela nafas panjang untuk meredakan gejolak amarah yang timbul dalam diriku. Nyatanya, aku memang sudah menjelma menjadi gadis seperti itu sekarang. Rasanya aku mulai membenci diriku sendiri.


"Aku pulang." Tuan Gladwin mengambil helm fullface nya diatas meja. "Ah, ya ... satu lagi, besok mungkin aku tidak datang, jadi ambilah cuti," katanya.


"Cuti?" ulangku yang tak mengerti maksud perkataannya. Bagaimana bisa aku mengambil cuti sedang aku baru bekerja dua hari?


"Ya, aku akan mengatakannya pada Aro."


Aku hanya diam tanpa bisa menjawab lagi. Bukankah ini seperti Tuan Gladwin yang mengistimewakan ku?


Pria itu pun berlalu dari kamar yang kami tempati. Kendati demikian, aku tidak mau terburu-buru dengan langsung keluar juga.


Seperginya Tuan Gladwin, aku bangkit dari tempat tidur dan menyibak gorden jendela. Aku berencana untuk kabur kembali lewat jendela ini.


Ku coba menekan kuncinya dengan niat menemukan celah untuk melarikan diri. Aku tidak mau terus terjebak disini. Stelah sedikit usaha karena itu terkunci dengan erat, akhirnya jendelanya terbuka juga. Ingin sekali aku berteriak karena aku sudah berhasil membukanya.


...Bersambung ......


Mohon dukungannya untuk novel ini agar terus berlanjut. Dengan cara kirim vote, gift, like dan tinggalkan komentar di tiap babnya. makasih ya guys❤️

__ADS_1


__ADS_2