SEBATAS TEMAN TIDUR

SEBATAS TEMAN TIDUR
47. Terkonfirmasi (Author POV)


__ADS_3

Sementara ditempat lain, Irina melamun didepan balkon kamarnya.


"Jadi, Elin benar-benar kekasih Javier? Itu artinya Liam tidak membohongiku," gumamnya sembari mengigitt kuku jarinya sendiri.


Irina tampak bimbang, awalnya ia tak percaya dengan kabar yang Liam berikan. Ia pikir Liam membohonginya dan ini hanyalah cara agar bisa mendekatinya lagi.


Irina memang bekerja di restoran sebelum Elin bekerja disana. Tidak ada unsur kesengajaan untuk pertemuan pertama tersebut. Namun, Irina tau jika Elin adalah adik dari Liam. Ia pernah melihat Elin dalam foto keluarga di sosial media Liam.


Mengetahui fakta itu, cukup membuat Irina mau bersikap baik pada Elin mengingat Liam juga selalu baik padanya meski Irina tau jika Liam melakukan itu karena sangat menyukainya.


Irina pun bukan pekerja sembarangan di restoran tersebut. Ia bekerja disana hanya untuk mengisi waktu luang saat ia bosan dengan bisnis keluarganya. Restoran itu milik salah seorang sepupunya, hingga ia memilih bekerja disana secara suka-suka.


Irina memakai nama Cathy agar tidak ada yang mengenalnya sebagai sosok dirinya sendiri karena ia memang terbiasa menyembunyikan identitas aslinya saat bekerja sesuka hati seperti itu.


Beberapa Minggu yang lalu, Elin tidak nampak bekerja lagi di restoran, padahal gadis itu baru saja masuk kerja. Meski banyak pelayan yang seperti Elin, alias keluar-masuk restoran untuk bekerja tapi Irina sedikit merasa kehilangan karena ia pikir dapat berteman baik dengan adik dari Liam tersebut.


Sejatinya, Irina memang sudah menganggap Elin sebagai temannya sejak pertemuan itu.


Tapi sekarang, pemikirannya berubah setelah hari ini. Setelah ia mengetahui jika Elin benar-benar memiliki hubungan spesial dengan Javier.


Awalnya, Irina tak mengetahui mereka ada hubungan. Ia mendapat kabar dari Liam beberapa hari lalu jika Javier akan segera menikah.


"Irina, apa kau tau jika Javier akan segera menikah?"


"Aku tidak mengetahui hal itu dan aku tidak mau mengetahuinya."


"Aku serius, Irina."


"Kau hanya mau mendekatiku lagi kan? Hingga membuat-buat cerita seperti ini agar aku menggubrismu?"


"Tidak, Irina. Aku serius bahkan sangat serius. Aku mendengar sendiri jika Javier akan menikah. Aku melihatnya di makam ibu tiriku."


"Makam ibu tirimu? Untuk apa Javier ke makam ibu tirimu?"


"Dia meminta restu disana, karena dia akan menikahi Elin, adikku."


"Kau bercanda? Apa kau yang mengenalkan mereka Liam?"


"Tentu saja tidak. Kau tau sendiri hubunganku dengan Javier tidak baik. Aku tak pernah mengenalkan mereka berdua."


Saat itu, Irina langsung terbayang wajah lelah Elin saat mereka sama-sama bekerja di Restoran. Tidak mungkin pilihan Javier jatuh pada Elin yang masih sangat muda. Apa selera Javier memang gadis seperti Elin?


Irina tidak serta-merta percaya begitu saja pada ucapan Liam dari sambungan telepon itu, hingga ia ingin membuktikannya sendiri.


****


Irina dengan kenekatannya untuk mengetahui semua fakta ini, mulai menelusuri alamat asli dimana Elin tinggal. Ia mencari tau data gadis itu dari restoran tempatnya bekerja dan mendapatkan info mengenai rumah yang sempat Elin sewa.


Dari rumah sewaan itu, ia tidak menemukan apapun. Hingga akhirnya ia lelah untuk mencari tau dimana keberadaan Elin sekarang.


Irina mencoba menanyakannya lagi pada Liam dihari itu. Namun, Liam pun tidak yakin dimana tempat tinggal Elin saat ini. Hanya saja, firasat Liam mengatakan bahwa Elin pasti tinggal bersama dengan Javier dihunian milik pria itu.


Irina yang memang mengetahui unit Apartment yang menjadi tempat tinggal Javier, mencoba mencari tau ke gedung tersebut, namun lagi-lagi ia tak mendapat apapun.


"Liam pasti mengada-ngada soal Javier yang akan menikahi Elin. Sepertinya aku tidak perlu mencari tau hal ini lagi. Liam pasti hanya mengerjaiku," batin Irina.


Untuk menghilangkan pemikirannya mengenai hal ini, Irina akhirnya memilih untuk menghabiskan akhir pekannya dengan berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan.


Tidak disangka saat ia makan disebuah Restoran Cina bersama seorang temannya, ia melihat sosok Elin yang menyeruput mie dengan sumpit disudut tempat makan tersebut.

__ADS_1


"Itu kan Elin. Wah, kebetulan sekali. Ada baiknya aku menemuinya saja. Aku sudah salah menyangka jika dia gadis yang akan dinikahi Javier. Ku pikir gadis polos sepertinya tidak mungkin bisa mengenal seorang Javier yang notabene-nya adalah pria berpengaruh. Circle Elin juga bukan di kalangan orang-orang seperti Javier," gumam Irina meyakinkan pada dirinya sendiri.


Akhirnya, Irina memberanikan diri untuk membuktikan kekeliruannya pada Elin. Ia pamit pada teman yang duduk disisinya dalam Restoran Cina tersebut.


"Aku kesana sebentar ya."


"Oke."


Irina bangkit dan berjalan pelan menghampiri Elin.


"Elin? Kau Elin kan?" Irina menyapa gadis itu.


Elin tampak menoleh ke arah Irina.


"Cathy?" sahut Elin.


"Wah, ternyata ini benar-benar dirimu. Kau sendirian saja?"


"Tidak, aku bersama pacarku. Kebetulan dia sedang ke depan untuk mengurus sesuatu," jawab Elin merujuk pada arah luar Restoran.


Irina tersenyum mendengar Elin sudah memiliki pacar. Itu pasti bukan Javier. Sekali lagi Irina meyakinkan dirinya sendiri bahwa tak mungkin gadis seperti Elin dapat mengenal Javier, apalagi Liam berkata tak pernah mengenalkan mereka berdua.


"Ya, ya, apa kabarmu Elin?"


"Seperti yang kau lihat, aku sehat dan baik-baik saja. Kau sendiri? Apa kau masih bekerja di Restoran itu?"


Irina pun menggeleng.


"Ayo duduklah disini. Aku ingin mendengar ceritamu. Kenapa kau tidak bekerja disana lagi," ajak Elin.


"Apa tidak apa-apa? Aku takut kekasihmu marah jika ada aku disini." Sebenarnya Irina juga penasaran sosok pacar Elin, sehingga ia mau membuktikannya sendiri bahwa itu memang bukan Javier.


"Tidak, dia bukan orang yang seperti itu. Dia justru akan senang kalau aku mempunyai teman."


"Sebenarnya aku bekerja di Restoran itu untuk mengisi waktu luang saja. Dan sekarang aku sudah memiliki kesibukan lain." Irina bertutur selayaknya tidak mencurigai Elin sama sekali.


"Kau sendiri kenapa tiba-tiba berhenti bekerja?" Irina balik bertanya pada Elin.


"Uhm, aku sudah pindah dari rumah yang ku sewa didekat restoran itu. Lagipula permasalahanku sudah selesai dan aku tidak diizinkan untuk kembali bekerja disana."


Pantas saja Irina tak menemukan Elin di rumah sewaannya. Ternyata Elin memang sudah pindah, pikirnya.


"Yah, tampaknya pilihan kita hampir serupa yaitu memilih meninggalkan Restoran itu, karena sebenarnya disana memang sangat melelahkan," respon Irina dengan sedikit cengiran.


"Yeah, kau benar," timpal Elin.


Mereka tertawa bersama sampai tidak menyadari jika pacar Elin sudah berjalan kembali ke meja tersebut.


"Elin?"


Elin tampak menoleh pada seseorang yang memanggilnya. Bersamaan dengan itu, Irina juga melihat pria yang baru saja tiba disana.


"Javier?" Seketika itu juga tubuh Irina rasanya menegangg, matanya pun membulat sempurna.


"Irina?" respon Javier yang juga tampak kaget. Mungkin dia tak menyangka jika dapat melihat Irina dan Elin bisa seakrab ini.


Irina tak sempat melihat bagaimana reaksi Elin saat Javier menyapanya dengan nama yang berbeda.


"Kalian saling mengenal?" Terdengar jika Javier sedang menanyai Elin.

__ADS_1


"Yah, dia salah seorang temanku saat bekerja paruh waktu di restoran," jawab Elin.


"Apa dia pacarmu itu, Elin?" Irina bertanya dengan suara bergetar. Ternyata keyakinannya salah kaprah. Elin benar-benar mengenal Javier dan kemungkinan kalau mereka akan menikah tidak bisa dipungkiri lagi.


Elin terlihat mau menjawab pertanyaan Irina, tapi Javier lebih dulu menyela.


"Apa makanmu sudah selesai? Kita pulang saja, Elin."


Irina melengos saat menyadari nada ke khawatiran yang Javier tuturkan pada Elin. Seketika itu juga, ia merasa iri dan menginginkan berada di posisi Elin.


"Tapi, Kak …"


Javier tampak menggenggam jemari Elin, seolah tak membiarkan gadis itu memprotes ajakannya. Kemudian, Javier benar-benar pamit pada Irina saat itu juga.


"Maaf kami tidak bisa berlama-lama disini. Permisi."


Seperginya Elin dan Javier, tubuh Irina terasa lemas bagai tak bertulang. Ia sudah mencintai Javier terlalu lama. Mereka sering bertemu dalam pertemuan bisnis yang melibatkan kedua perusahaan keluarga.


Meski begitu, sebenarnya mereka sudah saling mengenal sejak masih sama sama kuliah di universitas yang sama dan Javier selalu menolak perasaannya.


Kali ini, Irina benar-benar merasa kalah. Kalah oleh keadaan dan dikalahkan oleh seorang gadis polos seperti Elin.


Saat itu juga, Irina memilih pulang. Kemudian ia memikirkan hal ini didepan balkon kamarnya.


Sampai akhirnya, Irina menelepon Liam, untuk mengatakan apa yang sudah ia ketahui.


Irina tidak peduli jika Elin adalah adik dari Liam, karena dengan Liam mengadukan hal ini padanya, itu artinya pria itu akan berada di pihaknya.


Ya, Irina yakin Liam akan berpihak padanya karena pria itu begitu menyukainya dan mungkin sangat mencintainya. Lagipula, Elin hanyalah adik tiri Liam.


"Aku sudah memastikannya dan mereka memang memiliki hubungan," adu Irina pada Liam lewat sambungan seluler yang ia lakukan.


"Jadi, kau sudah percaya? Aku tidak mungkin membohongimu, Irina."


"Bisakah kau membantuku membuat mereka berpisah?"


"Kenapa aku harus melakukan itu? Jika mereka menikah itu justru akan membuatmu berhenti berharap pada Javier dan kesempatanku untuk mendekatimu semakin besar."


"Liam! Aku tidak mau siapapun memiliki Javier, jika aku tidak bisa memilikinya maka Elin pun tidak bisa!"


Terdengar suara tawa Liam diujung sana. Meski tanpa diminta oleh Irina pun, ia memang sudah bertekad untuk membuat rencana pernikahan kedua orang itu gagal. Bukan hanya karena ia memiliki dendam pada Javier yang selalu bisa mendapatkan apa saja. Tapi disisi lain, Liam juga masih mau memanfaatkan Elin yang bisa membuatnya mendapatkan banyak uang.


"Liam? Kau masih mendengarku? Kau mau memisahkan mereka, kan?"


"Calm down, Irina. Semuanya akan berjalan sesuai dengan keinginanmu."


"Thank you."


"Apapun untukmu," kata Liam dengan seringaiannya–meski Irina tak dapat melihat itu.


"... Tapi, semuanya tidak gratis," lanjut Liam.


Liam berpikir bahwa dia juga akan memanfaatkan hal ini untuk mendapatkan Irina. Liam adalah tipe orang yang selalu mengingat istilah sambil menyelam minum air.


"Jadi, apa yang kau mau? Katakan saja!" ujar Irina yang bersedia memberi Liam apapun, asal pria itu mau membantunya agar Elin tak bisa memiliki Javier–seperti dirinya.


"Dirimu," kata Liam penuh arti.


Dan kali ini, Liam benar-benar akan membuat semuanya berjalan seperti kehendaknya. Javier hancur karena kehilangan Elin. Memanfaatkan Elin lagi dan yang terpenting adalah mendapatkan Irina dari situasi ini.

__ADS_1


Liam takkan menyia-nyiakan kesempatan ini karena ia akan mendapatkan 3 hal sekaligus hanya dalam satu rencana.


...Bersambung …...


__ADS_2