
Javier menatap pada jasad seseorang yang terbujur kaku dan ditutupi oleh sehelai kain putih. Ya, saat ini Javier berada di dalam sebuah ruang jenazah Rumah Sakit–karena beberapa saat lalu ia mendapat info bahwa di tempat ini ada seorang pasien kritis akibat kecelakaan lalu lintas dan tidak memiliki identitas.
Namun sayangnya, saat mereka tiba di Rumah Sakit tersebut, pasien itu baru saja mengembuskan nafas terakhirnya. Begitulah info yang mereka terima dari salah seorang petugas penjaga disana.
Karena hal itu pula, akhirnya mereka harus berada disini. Dikamar Jenazah untuk mengenali jasad tersebut.
Javier harus membuka kain penutupnya dan memastikan langsung jika itu bukan Elin atau justru memang calon istrinya.
Namun, entah kenapa nyali Javier menciut untuk menyaksikan pemandangan yang akan segera dilihatnya. Javier tidak siap jika itu benar-benar Elin.
"Kau harus melihatnya, Jav. Pastikan jika itu bukan Elin," desak Cassie yang ikut masuk ke ruang jenazah tersebut.
"Aku tidak bisa, Cassie."
"Kenapa kau jadi pengecut seperti ini?" kesal Cassie. "Atau aku saja yang memastikannya," lanjutnya sembari menggeser tubuh Javier agar menyingkir dari depan brangkar jenazah itu.
Dengan tangan yang juga bergetar, akhirnya Cassie membuka kain yang menutupi wajah raga tanpa nyawa itu dan seketika itu juga gadis itu bergumam lirih.
"Astaga …"
"Apa?" tanya Javier penasaran, ia tak mau menatap pada jasad yang sudah terbuka kain penutupnya itu namun mendengar gumaman Cassie cukup membuatnya penasaran mengenai siapa yang Cassie lihat disana. Apakah itu benar-benar Elin?
"Aku tidak bisa mengenalinya. Wajahnya hancur," bisik Cassie dengan suara yang nyaris berbisik.
"Ya, Tuhan." Javier mengusap wajahnya frustrasi. Apakah ia benar-benar harus melihat sendiri dan menyaksikannya? Jika itu memang Elin, Javier tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.
"Cobalah kau lihat, Jav… aku yakin kau bisa mengetahui dia Elin atau bukan," kata Cassie yang suaranya mulai serak, sepertinya gadis itu manangis sekarang.
Tanpa menunggu persetujuan Javier, Cassie meninggalkan ruang jenazah. Ia merasa terpukul dan syok menyaksikan mayat yang berakhir sangat nahas dalam keadaan seperti itu.
Dengan kepala yang masih tertunduk, akhirnya Javier kembali melangkah mendekati brangkar dimana jasad tersebut terbujur kaku.
Nafas Javier terdengar menderu, sampai akhirnya ia memberanikan diri untuk melihat lebih jelas demi mengenali ciri-ciri jenazah itu secara spesifik.
Javier membuang pandangan saat ia sudah melihat wajah jasad tersebut yang hancur dan dipenuhi darah. Ia kembali menarik nafas dalam demi mencari hal lain yang bisa membuktikan jika itu bukanlah Elin.
Melihat dari bentuk tubuh dan warna rambutnya, itu memang tampak seperti Elin. Tapi, Javier tetap mau menampik hal itu karena ia tau ada banyak gadis yang memiliki postur serta rambut yang mirip dengan Elin di negara ini.
__ADS_1
Dan Javier menyadari jika pakaian yang dikenakan memanglah milik Elin. Javier lantas menggeleng tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Ini tidak mungkin," lirih Javier dengan suara tercekat. Tubuh Javier luruh ke lantai, bersamaan dengan itu ia tak sengaja menyenggol lengan jasad tersebut hingga tangan gadis tanpa nyawa itu ikut jatuh dipandangan mata Javier.
"Tidak … kau pasti bukan Elin!" Javier histeris saat menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri jika dijari gadis itu tersemat cincin yang biasa Elin gunakan. Itu memang bukan pemberiannya, tapi Javier tau jika itu adalah aksesoris kepunyaan Elin.
Javier kembali berdiri, karena disaat yang sama ia teringat liontin Elin–yang dulu pernah diberikan oleh ibunya. Elin selalu menggunakan liontin itu, bahkan ketika tidur.
Dengan perlahan dan hati-hati, Javier menyentuh leher jasad sang gadis demi membuktikan rasa ingin tahunya. Dia ingin melihat ada atau tidaknya liontin itu.
...***...
Beberapa saat kemudian, Javier keluar dari ruang jenazah dan menemui Cassie serta Jack yang masih menantinya disana.
"Bagaimana, Jav?"
Javier mengangguk lemah, sorot matanya tampak kosong dan itu diartikan oleh Cassie bahwa jasad gadis yang ada di ruang Jenazah adalah benar-benar Elin.
"Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri," gumam Javier yang tampak sangat hancur.
"Kau yakin itu dia? Kita masih bisa menunggu hasil otopsi jenazah itu, Jav."
...****...
Javier menatap hampa pada orang-orang yang datang silih berganti dalam prosesi pemakaman pada pagi menjelang siang itu.
Dalam hati, Javier selalu mengingkari jika yang hari ini dikuburkan adalah jenazah kekasihnya, Elin.
Beberapa teman dan kerabat yang sudah lama tak nampak bahkan datang ke tempat duka tersebut. Meski tak mengenal Elin secara personal, tapi mereka semua menghargai Javier dan khawatir pada keadaan pria itu.
Karena walau bagaimanapun, seharusnya besok adalah hari pernikahan Javier dengan Elin. Tapi ternyata, mereka tidak diizinkan bersama, karena menurut mereka semua Elin lah yang telah pergi untuk selamanya.
"Kau harus kuat, Jav."
Uncle Sakha turut menguatkan keponakannya itu, tapi Javier seolah tidak mendengar semua kata penghiburan yang mereka berikan kepadanya. Ia seperti orang yang hidup tapi mati.
Elara dan Shane turut mengkhawatirkan Javier, karena semuanya terjadi begitu cepat. Mereka takut psikis sang putra yang akan kalah akibat kejadian ini. Bahkan undangan pernikahan Javier dan Elin sudah disebar meski itu hanya untuk para kerabat saja.
__ADS_1
Dalam posisinya yang juga hadir di pemakaman itu, Irina tersenyum kecil. Sorot matanya tidak mampu menutupi rasa bahagia--saat ia bisa menyaksikan secara langsung--bagaimana kehancuran Javier hari ini.
Meski demi melihat hal ini Irina harus pasrah mengorbankan tubuhnya untuk dinikmati Liam semalam, tapi sekarang ia mereguk manisnya dan tidak ada penyesalan sedikitpun dalam hatinya.
Irina tidak bodoh untuk mempertontonkan raut bahagianya di depan orang-orang yang berkabung. Ia menutupi matanya dengan sebuah kaca mata hitam dan berjalan menghampiri Javier disana.
"Jav, aku turut berduka cita atas kepergian Elin. Bagaimanapun, aku sempat mengenalnya meski sangat singkat, dia gadis yang baik dan pintar. Aku juga mendoakan semoga dia diberi tempat terbaik disisi Tuhan. Dan untukmu, tetaplah hidup dengan baik, Jav."
Javier bahkan tidak tau jika yang berbicara dan menjabat tangannya saat ini adalah Irina. Meski kemarin ia sempat mencurigai gadis ini, tapi pemikiran itu segera terlupakan karena terganti dengan rasa sedih yang teramat dalam akibat menemukan jasad Elin yang sudah tidak bernyawa.
Sementara Jack yang berdiri disamping Javier, memperhatikan gerak-gerik Irina. Ia ingat jika sebelumnya Javier sempat menyebut nama gadis ini sekilas. Tapi melihat kedatangan Irina ke pemakaman, Jack memiliki kesimpulan bahwa Irina tak ada kaitannya dengan kecelakaan yang menimpa Elin dan Carla, entahlah. Apa dia harus curiga?
...***...
"Seharusnya kau ikut kesana dan menyaksikan wajah hancur Javier dari jarak dekat, Liam." Irina tertawa sumbang setelah menemui Liam ditempat persembunyiannya.
"Aku tidak mungkin kesana, karena yang Javier tau ... aku pergi ke luar kota setelah menerima uang dari Elin waktu itu."
Irina manggut-manggut. "Ya, kau benar. Hahaha, rasanya aku puas sekali, Liam. Dia hancur, sama sepertiku yang hancur perlahan-lahan karena terus mengharapkannya."
Liam melingkarkan kedua tangannya di pinggang Irina. "Bukankah ideku sangat brilian?" tanyanya percaya diri.
Irina mengangguk. "Yah, kau benar-benar cerdas menyusun strategi ini," paparnya.
"Kalau begitu, aku mau melanjutkan lagi malam pa nas kita, Sayang," bisik Liam seduktif.
Irina sedikit menghindar, namun ia juga sadar jika ia masih membutuhkan Liam untuk rencana lainnya. Lagipula, semalam mereka sudah terlanjur melakukannya meski sebenarnya Irina kesal karena Liam menjebaknya hingga membuatnya pasrah untuk melakukan hal itu.
"Baiklah, kita akan melakukannya lagi tapi berjanjilah untuk menghancurkan Elin juga setelah dia benar-benar sembuh nanti."
"Tentu saja. Bukankah aku sudah memiliki rencana untuk menjualnya lagi?" Liam menarik satu sudut bibirnya hingga menunjukkan wajah licik pria itu.
"Jangan jual di ditempat judi yang sama. Kalau perlu, jual saja dia menjadi budak," saran Irina.
"Tenanglah, Sayang. Aku sudah menemukan orang yang tepat untuk membeli Elin. Dia akan berubah menjadi gadis bi nal," katanya yakin.
Mendengar itu, Irina semakin merasa senang. Hingga kali ini, ia akan berusaha menyenangkan Liam secara sadar.
__ADS_1
"Come on, kita harus bersenang-senang diatas penderitaan Javier."
...Bersambung…...