SEBATAS TEMAN TIDUR

SEBATAS TEMAN TIDUR
13. Permintaan yang dikabulkan


__ADS_3

Setelah mendapat ultimatum dan beberapa wejangan dari Kak Javier--panggilan baruku untuk Tuan Gladwin--akhirnya aku berada disini sekarang. Disebuah Rumah Sakit dimana ibuku di rawat. Sedikitpun aku tidak menyangka jika dia akan mengizinkanku keluar dari Apartmennya. Meski aku harus ditemani oleh salah satu ajudannya yang bernama Jack, tapi aku tetap mensyukuri kebaikannya yang telah mengabulkan permintaanku.


Aku tidak takut bertemu Liam disini karena dia tidak akan pernah menjenguk Ibuku.


Aku memasuki ruang ICU dimana ibu dirawat, sementara Jack menunggu di depan ruangan.


Saat aku datang, tidak ada perubahan yang signifikan pada kondisi ibu. Beliau masih tak berdaya dengan berbagai selang dan alat-alat kedokteran yang membantu kehidupannya.


Tanpa ku sadari, airmataku jatuh begitu saja. Aku menghambur demi memeluk ibu.


"Bu, maafkan aku baru bisa datang kesini lagi hari ini."


Aku ingin mengadu pada ibuku mengenai apa yang terjadi padaku, tapi aku takut jika sebenarnya ibu mendengar dan tau keadaanku yang sebenarnya.


"Bu, ibu harus kembali sehat ya. Aku baik-baik saja. Ibu jangan mengkhawatirkanku."


Aku mengelus sisi wajah ibu. Raut itu yang dulu berseri-seri sekarang tidak lagi. Yang ada hanya wajah pucat seolah tidak ada aliran darah dibalik sel-sel kulitnya. Aku benar-benar terenyuh melihat keadaan ibuku.


Aku menceritakan ibu tentang masa kecilku yang indah, meski tak ada respon dari tubuh ibu tapi aku tetap melakukannya. Aku tau ibu pasti mengingat semua momen yang ku ceritakan padanya. Tentang aku yang nakal, yang sering jatuh dari sepeda bahkan mengenai aku yang suka menjahili ibu dengan mengganti tulisan garam menjadi gula di toplesnya.


"Aku pulang dulu ya, Bu. Maaf jika nanti aku tidak bisa kesini setiap hari. Tapi, aku janji akan tetap berusaha mengunjungi ibu. Aku harap ibu segera sembuh. Kita akan memulai hidup baru, Bu."


Meski aku tak yakin--dengan keadaanku yang sekarang harus menempati Apartmen Kak Javier--bisa memberikan ibu kehidupan yang baru, tapi aku tetap mengatakannya pada ibu. Anggaplah itu sebuah doa atau sebagai kata-kata penghiburan untuk ibu, pun untuk diriku sendiri.


Aku mengecupi wajah ibu, mencium tangannya dan mengelus pundaknya yang tak berdaya. Airmataku terus mengalir seperti hujan yang deras.


Aku keluar dari ruangan itu masih dengan isak tangis saat tiba-tiba Jack memberiku ponsel dan mengatakan jika itu adalah panggilan dari Kak Javier.


"Ya, Kak?"


"Kau sudah d Rumah Sakit?" tanyanya dari seberang sana.


"Hmm, sudah dari setengah jam yang lalu."


"Bagaimana keadaan ibumu?"


Aku menghapus airmataku yang kembali meluncur membasahi pipi. "Belum ada perubahan."


"Aku mendoakan yang terbaik untuk kesembuhan ibumu."


"Terima kasih, Kak. Tidak ku sangka kau sebaik ini."


Tak ada jawaban dari Kak Javier, sampai akhirnya dia bersuara lagi namun dengan pembahasan yang lain.


"Jika sudah selesai, pulang ke Apartmen, ya. Lain kali, kau bisa menjenguk ibumu lagi. Aku berjanji."


"Thank you, aku akan segera pulang."


Aku menyerahkan ponsel pada Jack, disaat yang sama seorang perawat menghampiriku.

__ADS_1


"Dengan keluarga Nyonya Arbei?


"Ya, ada apa suster?"


"Bisa ikut ke ruangan administrasi?"


Keningku mengernyit, tapi respon tubuhku yang lain justru mengangguki permintaannya.


Sesampai di ruangan Administrasi, aku harus dihadapkan dengan kenyataan baru dimana deposit untuk biaya perawatan ibuku sudah habis dan tidak diperpanjang lagi. Tentu saja aku terkejut dengan hal ini.


"Jika biayanya tidak segera dibayar maka dengan sangat terpaksa pihak Rumah Sakit harus melepas semua alat-alat yang menunjang kehidupan Nyonya Arbei."


Bahuku meluruh, ingin menangis namun rasanya terlalu malu. Bukan, aku bukan menangisi kondisi ibu lagi tetapi aku menangis karena ternyata Liam setega ini pada aku dan ibuku. Bukankah dia berjanji akan tetap membiayai pengobatan ibu?


Apalagi setelah dia menjualku ke kasino. Seharusnya dia mendapatkan banyak uang, kan? Apa dia tidak ingat untuk mengisi deposit ke rumah sakit? Meski ibuku adalah ibu tiri bagi Liam tapi aku sangat tau betapa selama ini ibu juga menyayangi kakak tiriku itu.


Apa Liam tidak mempunyai sedikit saja rasa belas kasih pada ibuku?


"Bagaimana, Nona? Apa kau mau membayar biayanya sekarang? Pihak kami juga memberi tenggang waktu jika kau mau mencicilnya."


Aku kehilangan kata. Aku tidak memiliki uang untuk biaya pengobatan ibu. Bagaimana ini?


"Jika kau tidak memberi keputusan maka pihak kami berhak mengambil tindakan seperti yang tadi saya ucapkan, Nona."


"Tidak!" Aku menggeleng keras. "Jangan lepaskan alat-alatnya, biarkan ibuku tetap di rawat. Aku akan membayar biayanya."


"Baiklah, kami tunggu itikad itu dalam 2x24 jam, Nona."


Diperjalanan pulang, aku menatap jalanan lewat kaca jendela mobil yang dikemudikan oleh Jack. Aku bingung harus mencari uang darimana. Yang ada didekatku saat ini hanyalah Kak Javier. Tapi, apa dia mau membantuku? Aku takut dianggap tidak tau diri jika meminta uang padanya.


Sekelebat pikiran kotor mulai melintas dikepalaku. Apakah aku serahkan saja tubuh ini pada Kak Javier? Menjual diriku padanya dengan bayaran uang yang bisa membiayai pengobatan ibu?


Namun sisi lain dalam diriku menentang hal itu. Aku tidak boleh mengotori diri dengan tindakan seperti itu. Aku menggeleng keras, tapi aku juga tak punya pilihan lain.


"Liam, kau keterlaluan. Kau menjualku tapi kau tidak membiayai ibuku! Harusnya segala ucapanmu memang tidak usah ku percaya. Aku akan membalasnya suatu saat nanti," geramku dalam hati.


...****...


Membayangkan semua alat-alat yang membantu kehidupan ibu dilepas tanpa sisa, membuatku resah dan panik sendiri.


Hingga saat aku melihat kepulangan Kak Javier malam ini, pikiran jelekku muncul kembali.


"Kak ...?"


"Ya?"


"Apa kau lelah? Bisa kita bicara?" Tak ada keraguan dalam diriku. Pun tidak ada lagi ketakutan yang ku rasakan pada sosok pria itu. Aku harus mengatakan keputusanku. Semuanya demi ibu. Aku yakin Kak Javier sanggup membantuku. Dia memiliki banyak uang dan aku harap dia mau menerima penawaranku.


"Bicara? Soal apa? Bicaralah ..." katanya tenang.

__ADS_1


"Aku mendengar jika kakak pernah menghabiskan malam-malam yang panas bersama Kak Gwen sebelum adanya aku ditempat itu."


Kak Javier membuang muka, tampak tak senang dengan perkataanku, dia bahkan mendengkus pelan.


"Lalu?" tanyanya.


"Aku ingin tau, kenapa kakak tidak melakukan hal yang sama padaku? Apa aku tidak cantik? Atau kakak tidak tertarik padaku?"


Kak Javier malah tertawa sumbang. "Apa maksud pembicaraan ini, Elin?" tanyanya.


"Jawab aku, kak? Apa kakak tidak tertarik menghabiskan malam denganku? Apa kakak menganggapku masih seorang bocah?"


Kak Javier menggelengkan kepalanya. "Pembahasan macam apa ini, sudahlah ... aku mau mandi," katanya acuh tak acuh.


Aku menahan pergelangan tangan itu, sampai kak Javier mengehentikan langkahnya.


"Kak ... jika kau tidak tertarik padaku, kenapa kau membawaku ke tempatmu? Kenapa aku harus menemanimu tidur tanpa kau sentuh sama sekali?"


"Jadi kau berharap ku sentuh, begitu?"


Ujaran Kak Javier cukup mengagetkanku. Tentu saja aku tidak berharap dia menyentuhku, tapi sekarang aku mau memberikan penawaran padanya mengenai hal itu, agar aku bisa mendapatkan uang untuk biaya pengobatan ibu.


"Sebenarnya apa yang kau maksud, Elin? Aku tidak mengerti arah pembicaraanmu ini? Yang dapat ku simpulkan disini hanya ... hanya ... kau seperti mau menyerahkan diri padaku."


"Iya, Kak." Aku menjawab tanpa gentar, sebelum keberanianku hilang dan menciut. "Aku akan menyerahkan diri pada kakak," kataku lantang.


Kak Javier tertawa sumbang.


"Elin ... kau---" Sepertinya dia kehabisan kata.


"Aku serius, Kak."


"Aku tidak bisa meniduri bocah," jawabnya tanpa tedeng aling-aling.


Aku melengos. Jadi dia benar-benar menganggapku hanya bocah?


"Aku gadis dewasa, 19 tahun. Aku bukan bocah."


Kak Javier menyentil jidatku, membuatku meringis sesaat.


"Dengar, jangan meminta hal aneh, Elin. Kau kerasukan setan mana?" tanyanya.


Astaga, tidak tahukah dia jika aku sedang serius sekarang? Kenapa dia malah bercanda.


"Kak, aku serius. Lakukan yang kau mau padaku. Tapi, beri aku uang sebagai kompensasi."


Pria itu melebarkan kelopak matanya saat aku menyinggung soal uang.


"Uang? Kau butuh uang?"

__ADS_1


Aku mengangguk cepat. "Ya, aku membutuhkan itu secepat mungkin," kataku.


...Bersambung ......


__ADS_2