
Suara dengkuran halus menjadi pertanda bahwa Javier telah terlelap dalam tidurnya. Seketika itu juga mata Elin terbuka, ia tak benar-benar tidur sejak tadi. Ia hanya menunggu sampai Javier pulas.
"Maafkan aku, Kak," batin Elin. Elin melerai pelukan Javier di perutnya. Akhir-akhir ini Javier memang lebih sering memeluknya saat tertidur dan itu semakin membuat Elin serba salah. Skinship yang diberikan pria itu seolah menunjukkan sikap posesifnya pada Elin, tapi Elin tidak bisa terus menerima perlakuan itu dikala hubungan mereka tidak jelas seperti saat ini.
Elin bergerak dengan sangat perlahan. Kemudian mengambil travel bag yang sudah ia kemas. Meski ini sangat sulit tapi ia sudah terlanjur mengambil keputusan dan ucapannya untuk tetap tinggal hanyalah untuk mengalihkan perhatian Javier. Tampaknya ia memang harus pergi tanpa berpamitan jika tak mau dicegah lagi oleh pria itu.
Elin menatap Javier sekali lagi, dadanya seperti diremass kuat-kuat sehingga membuatnya sesak. Tapi mau bagaimanapun ia bertahan, ia tidak yakin Javier akan benar-benar bisa menyukainya sebagai seorang gadis. Elin merasa pesimis, meski Javier sudah berjanji untuk melakukan itu.
"Kau berhak mencintai tanpa dipaksa. Bukan melakukannya karena janjimu padaku. Aku tidak mau membebanimu dengan menuntutmu agar memiliki perasaan yang sama denganku."
Bagaimanapun, Elin tidak mau jika Javier terpaksa padanya. Jadi, Elin membiarkan Javier menata perasaannya lebih dulu, memahami apa yang dirasakan ketika Elin sudah benar-benar pergi.
Jika cinta itu akan datang, maka dia akan datang dengan sendirinya tanpa tuntutan dari Elin kepada Javier. Agar pria itu tidak pernah merasa terpaksa untuk mencintainya.
...****...
Javier sangat terkejut saat tidak menemukan Elin di seluruh penjuru Apartemen nya. Perasaan kesal, marah, sedih dan kecewa bercampur menjadi satu.
Bukankah semalam ia sudah berjanji pada Elin akan berusaha menyukainya sebagai seorang yang spesial dan takkan lagi menganggapnya sebagai bocah? Tapi kenapa Elin tetap pergi?
Javier ingin menelepon Jack saat itu juga untuk mencari Elin. Ia berusaha mengesampingkan rasa tidak sukanya terhadap kedekatan Elin dan Jack karena yang terpenting baginya saat ini adalah menemukan Elin.
Dalam satu kali panggilan, Jack langsung menerima telepon dari Javier dan mengetahui apa permasalahannya.
"Jadi saya harus mencarinya dan membawanya kembali kepada Anda, Tuan?"
Javier terdiam dengan ujaran yang Jack tanyakan. Apakah itu yang memang Javier inginkan? Sepertinya iya, tapi bagaimana dengan Elin? Apa Elin akan senang jika Javier melakukan hal itu? Tidak, Elin tidak akan senang karena itu sama dengan Javier memaksakan kehendaknya. Elin pasti akan merasa bahwa Javier kembali membuatnya seperti tawanan dan Javier tidak mau Elin menganggapnya seperti itu.
"Jika kau menemukannya, cukup beri tau aku dimana dia," putus Javier akhirnya.
Panggilan itu terputus. Javier menatap nanar ke arah langit-langit kamarnya. Bagaimana esok dia melewati malam tanpa Elin? Apakah bisa? Entahlah.
Satu hal yang sekarang baru Javier sadari adalah perubahan keputusan yang ia lakukan. Sebelumnya Javier tidak pernah memikirkan perasaan orang lain atas kehendak yang ingin ia perbuat. Tapi, kenapa sekarang ia harus memikirkan perasaan Elin, kenapa pula ia tak mau Elin jadi merasa seperti tawanan? Kenapa Javier harus menahan keinginannya, padahal ia pasti bisa menemukan keberadaan gadis itu lalu membawanya kembali demi kepentingannya yang masih membutuhkan gadis itu. Tapi Javier tidak melakukannya. Javier sadar bahwa kepergian Elin adalah pilihan gadis itu sendiri dan entah kenapa Javier menghargai itu.
"Aku bisa gila jika begini terus," gumam Javier sembari mengusap kasar wajahnya sendiri.
__ADS_1
...***...
Elin tiba disebuah kawasan padat penduduk yang tidak pernah masuk dalam list perjalanan hidupnya. Sebenarnya, Elin tak punya tujuan tapi ia kesini berdasarkan refrensi yang ia lakukan lewat internet melalui ponselnya.
Sebelumnya, Elin turun di halte terdekat dengan perumahan kecil yang akan disewanya. Perumahan itu masuk ke dalam golongan yang cukup kumuh tapi Elin tak punya pilihan karena uang yang ia punya tak cukup untuk menyewa tempat tinggal yang lebih layak.
Saat Elin tiba disana, ia langsung bertemu dengan developer yang menawarkan jasa sewa itu lewat iklan yang terpercaya di situs internet.
"Kau bisa melihat-lihat dulu rumah ini, jika kau berubah pikiran---"
"Tidak," sela Elin. Ia tidak mungkin berubah pikiran kala ia tak punya pilihan lain. "Aku akan mengambil sewa untuk tinggal disini selama 3 bulan kedepan," putusnya kemudian.
"Baiklah," kata wanita yang cukup tua itu, ia tersenyum semringah karena Elin mau menyewa rumah kecil tersebut. "Jika itu keputusanmu maka kau harus membayar sewanya didepan."
Elin mengangguk dan segera meraih sebagian uang yang ia miliki. Ia akan mencoba tinggal disini selama 3 bulan dan jika ia tak betah ia akan berpindah lagi dari rumah kumuh ini.
"Thank you, have a nice day." Wanita baya itu meninggalkan Elin didepan rumah dengan sebuah kunci yang juga ia serahkan pada Elin.
Elin menghela nafas panjang, kemudian mulai masuk ke rumah yang akan dihuninya mulai dari sekarang. Saat ia membuka pintunya, bahkan suara deritan pintu itu terdengar nyaring layaknya di film-film horor.
"Kau harus kuat Elin!" kata gadis itu menyemangati dirinya sendiri. "Tidak boleh menyesali keputusan yang sudah kau ambil," katanya merujuk pada keadaan.
Hari itu, Elin menghabiskan waktunya nyaris seharian untuk membersihkan rumah yang sangat kotor dan sudah lama tidak dihuni oleh orang lain.
Keadaan tempat itu mulai lumayan setelah Elin membersihkannya.
Saat malam hampir tiba, Elin baru selesai membereskan semuanya dan syukurnya ia mendapat sebuah kasur usang yang masih layak untuk ia tempati sebagai tempat tidurnya nanti.
Elin mandi dan setelah itu ia keluar dari rumahnya untuk berbelanja bahan makanan.
Melintasi satu blok dari rumahnya, ia melihat rumah lain yang sangat ramai dengan suara musik. Mungkin mereka sedang berpesta, batin Elin.
Elin tak mengabaikan pemandangan yang dilihatnya. Sayangnya seseorang dari rumah tempat diadakan pesta itu tampak melirik Elin yang menarik perhatiannya.
"Hai."
__ADS_1
Itu adalah seorang pria yang Elin yakini sudah mabuk.
Elin terus berjalan tanpa berniat menggubrisnya. Elin tau jika tindak kriminal ditempat seperti ini adalah yang wajar karena disini hukum seakan tidak berlaku. Bahkan jika kau kehilangan nyawa, mungkin mayatmu akan dilupakan selamanya tanpa ada pihak yang menyelidiki.
"Kau mau kemana, cantik?" goda pria pemabuk itu.
Elin merapatkan coat yang ia kenakan, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku dan bersiap untuk lari sekencang-kencangnya karena tidak akan ada yang peduli padanya meski ia menjerit sekalipun. Orang-orang disini termasuk kalangan yang cuek dan masa bodoh. Mereka takkan mau membahayakan diri sendiri demi menyelamatkan nyawa orang lain.
"Hei, jangan mengabaikan ku!" Rupanya pria itu mengikuti langkah cepat Elin, membuat degup jantung Elin terasa menggila karena ia tidak biasa diperlakukan seperti ini.
"Berhentilah!" Tiba-tiba pria itu menarik pergelangan tangan Elin dan seketika itu juga Elin menepisnya.
Elin benar-benar berlari kencang sekarang, bahkan ia sudah melewati supermarket yang ingin ia datangi untuk berbelanja. Ia bersembunyi didekat tempat yang menurutnya sudah cukup aman.
"Ah, shiiiiiittt!" umpatan Elin tertahan. Itu ia lakukan setelah pria yang mengikutinya tak nampak lagi. Sekarang rasanya Elin ingin menangis, apalagi membayangkan jika nanti ia akan kembali melewati jalan yang sama untuk menuju pulang ke rumah sewaannya.
...Bersambung ......
Jangan lupa dukung terus novel ini. Vote Senin nya kirimkan kesini yaaa🙏🙏
Ah, bagi yang bingung buat cari bacaan lain. Othor ada karya baru netas nih. Mampir yuk disana.
Ada dua ya, cari di profil othor. makasih.
MENCINTAI ADIK SAMBUNG
FOREVER HATE YOU
__ADS_1