
Saat tiba dikediamannya, Nathan terperangah tak percaya saat melihat jenis mobil yang dihadiahkan Javier untuknya. Sebuah mobil sport keluaran terbaru yang tampak sangat mewah. Bugatti Chiron.
Pemuda itu menggaruk kepalanya yang tak gatal, sesaat setelah itu dia dikejutkan oleh suara teriakan sang nenek.
"Nathan ... coba lihat, ada yang mengirimkanmu mobil sport ini. Apakah ini mimpi?" suara neneknya terdengar heboh sekali. Wajar saja, yang biasa menaiki mobil sekelas ini bukanlah kalangan mereka. Meski Nathan dan neneknya juga termasuk orang yang berkecukupan, tapi masih berpikir sepuluh kali untuk membeli mobil semacam ini.
"Iya, Nek." Respon Nathan yang tampak biasa itu membuat sang nenek mengernyit keheranan.
"Kau tidak senang?"
"Mobil itu hanya akan membuat kita susah membayar pajaknya," kata Nathan realistis.
"Ah, kau ini... seperti orang miskin saja," keluh sang nenek. "Jangan memikirkan itu. Jika nanti kau sudah lulus kuliah dan bekerja lalu sukses, hanya sebatas pajak mobil akan sangat ringan untuk kau keluarkan," lanjutnya membuka pikiran Nathan.
"Terserahlah," ujar Nathan acuh tak acuh. Dia masih tak menyangka dengan hadiah ini tapi jauh didalam lubuk hatinya pun dia masih tak rela dengan status Elin yang akhirnya telah dinikahi Javier.
"Ngomong-ngomong, siapa orang yang memberikanmu hadiah semahal itu? Pasti dia orang yang sangat kaya," kata Letty yang terus mengoceh sangking antusiasnya dengan mobil kinclong didepan rumahnya.
"Suami Elin," jawab Nathan lesu.
"Elin? Elin siapa?" Nenek terus menanyai Nathan karena masih penasaran.
"Sudahlah, Nek. Aku sedang tidak mood membahasnya."
"Kenapa?"
"Karena Elin lebih berharga bagiku daripada mobil mahal itu."
Letty terkekeh mendengarnya, dia pikir Nathan sedang patah hati sekarang.
"Kau tau, tidak semua yang kau inginkan bisa kau dapat. Tapi nenek senang karena akhirnya kau bisa menyukai gadis lain, daripada kau terus memikirkan Sherin."
Nathan mengesah panjang. "Elin itu Sherin, Nek," jelasnya.
"Apa?" Letty terkejut tampak syok. Bagaimana mungkin Elin yang dimaksud Nathan adalah mantan budak mereka. Dan hadiah mobil yang sekarang ada dipekarangan mereka kata Nathan adalah pemberian dari suami wanita itu? Tidak mungkin, terdengar mengada-ada.
"Iya, Nek. Elin itu Sherin. Gadis yang dulu menjadi budak dirumah ini. Dia sudah menikah dengan pria itu."
"Berarti suaminya sangat kaya? Apa pria itu sudah tua? Kenapa dia memilih Sherin, seperti tidak ada pilihan lain saja."
Nathan menggeleng. "Tidak. Pria itu mungkin berusia awal 30-an," katanya menerka.
"Bagaimana bisa? Meskipun Sherin sangat cantik tapi dia lumpuh dan ..."
"Cukup, Nek! Kita tutup pembahasan soal ini."
Letty memasang wajah masam kemudian mengangguk malas. Namun dia dapat menyimpulkan jika hadiah untuk Nathan yang diberikan oleh orang kaya itu adalah sebagai bentuk rasa terima kasih karena sudah membebaskan Elin dari perbudakan.
"Yah, walaupun kau patah hati tapi nikmatilah hadiahmu karena itu sudah terlanjur diberikan untukmu," kata Letty mengingatkan Nathan.
Nathan hanya mendengkus pelan. Sepertinya dia harus berusaha melupakan Elin lebih keras lagi, karena mencoba mendekati perempuan yang sudah bersuami bukanlah gayanya.
...****...
Mengenai hubungan Javier dan Vivian, yang tadinya diusung oleh Elara dan Connie--ibu Vivian--memang terpaksa harus dihentikan.
Elara sudah mengatakan hal itu pada Connie--bahwa Javier dan Vivian tidak mungkin bersama dan perjodohan mereka dibatalkan karena Javier yang terus menolak--sejak saat Elin kembali ditemukan dan Javier masih tetap kekeuh menginginkan Elin sebagai pasangannya.
Akan tetapi, sampai saat ini Elara belum memberitahukan pada keluarga Vivian mengenai pernikahan Javier dan Elin yang sudah dilaksanakan. Lagipula, pernikahan itu memang digelar secara mendadak dan tertutup.
Untuk hal itulah, hari ini Elara datang kepada keluarga Vivian untuk bicara secara baik-baik demi menjaga hubungan baik diantara mereka yang sudah lama terjalin. Elara tidak mau Vivian atau Connie mendengar kabar ini dari orang lain, apalagi bulan depan Javier dan Elin sepakat untuk mengadakan pesta pernikahan yang mungkin akan dihadiri banyak orang dan relasi.
"Jadi, Javier sudah menikah?" Vivian tentu syok dengan kabar ini. Dia tidak menyangka sama sekali.
"Ya, maafkan bibi yang terlambat mengabarkan karena ini terjadi begitu mendadak."
"Bagaimana bisa Javier menikah dengan orang lain sementara perjodohannya dengan Vivian baru dibatalkan seminggu yang lalu?" Connie tampak tidak senang dengan kabar ini.
"Maafkan aku untuk hal ini, Connie. Kebetulan yang dinikahi Javier adalah calon istrinya yang dulu."
Connie tampak semakin kaget sekarang. "Hah? Bukankah gadis itu sudah meninggal 2 tahun yang lalu?" tanyanya tak percaya.
"Kenyataannya dia masih hidup," jawab Elara dengan senyuman simpul.
__ADS_1
Connie menggeleng tak percaya. Dia pikir itu semua tidak mungkin. Pasti Javier sudah menjalin hubungan dengan gadis lain disaat hubungannya dengan Vivian masih terikat dalam sebuah rencana perjodohan.
"Jujur saja, aku kecewa dengan berita ini, Elara," kata Connie terang-terangan. "Aku pikir jangan menutupi kesalahan Javier dengan mengatakan bahwa dia menikahi gadis yang dulu hampir dia nikahi. Bilang saja apa adanya," lanjutnya ambigu.
"Maksudmu?" tanya Elara tak paham.
"Javier sudah menjalin hubungan itu dibelakang Vivian kan?"
Elara tersenyum getir. "Aku sudah mengatakan yang sebenarnya, Connie. Bahwa Elin memang masih hidup, dia kami temukan di Berlin dan selama ini ada orang yang menjebaknya. Untuk itulah aku datang kesini agar tidak ada kesalahpahaman diantara hubungan pertemanan kita. Aku mewakili Javier untuk meminta maaf padaku dan Vivian. Lagipula, sejak awal memang tidak ada hubungan yang terjalin diantara mereka. Itu hanya sebatas rencana perjodohan. Masih rencana," kata Elara menekankan diujung kalimatnya.
Wajah Connie berubah pias, dia tau apa yang Elara ucapkan itu benar. Lagipula, Javier memang tidak pernah mengatakan menyetujui perjodohan itu. Selalu Vivian yang mengejar pria itu dan itulah alasan yang sebenarnya membuat Connie merasa tersinggung. Javier menolak mentah-mentah putrinya yang berharga.
"Baiklah, aku juga minta maaf karena telah berprasangka buruk pada putramu, Elara." Connie menggenggam punggung tangan Elara. Ia juga masih mau berhubungan baik dengan keluarga Gladwin yang banyak menyokong usaha suaminya.
"Aku juga sudah menerima hal ini, Bibi," timpal Vivian. "Selama ini Javier selalu dingin padaku, aku tau itu akan sangat menyakitkan jika hubungan kami berlanjut hingga pernikahan. Aku turut bahagia atas pernikahan Javier, karena akhirnya dia menemukan gadis yang dicintainya untuk dijadikan istri," paparnya lapang dada.
Elara tersenyum pada Vivian. "Kau sangat dewasa menyikapi hal ini, Vivi. Bibi harap kau juga segera menemukan pria yang mencintaimu. Bibi tau kau adalah gadis yang baik maka dari itu bibi sempat mau menjodohkan mu dengan Javier, tapi kita tidak pernah tau rahasia jodoh karena kita hanya bisa memilih namun yang menentukan hanyalah Tuhan," katanya realistis.
Vivian dan Connie mengangguk. Mereka menerima permintaan maaf Elara yang tulus dan semoga jalinan hubungan pertemanan mereka tetap seperti sedia kala meski Vivian dan Javier tidak berjodoh.
...****...
...3 Tahun kemudian ......
Elin berdiri di podium yang cukup tinggi, dia menyunggingkan senyum yang sangat manis dan mulai mengeluarkan suaranya secara perlahan.
"Selamat pagi, hari ini ... dengan perasaan terhormat, saya dapat berdiri disini untuk mengucapkan kata-kata dan kalimat perpisahan saya untuk semua teman, dosen dan para staff pengajar yang sudah banyak membantu saya selama berkuliah di universitas ini. Saya mengucapkan thank you so much for all, kalian luar biasa. Saya juga mau mengucapkan terima kasih untuk support yang selalu saya terima dari suamiku, juga keluargaku. Aku percaya, kehidupan yang lebih baik sedang menanti kita diluar sana. Semoga kita semua terberkati."
Elin menjauhkan mikrofon dari bibirnya, bersamaan dengan kalimatnya yang selesai terucap, tepukan tangan juga terdengar memecah Aula tempat berlangsungnya acara wisuda tersebut.
Sementara Javier ikut bertepuk tangan dari kursi hadirin, sejak tadi dia memperhatikan Elin yang melaksanakan acara kelulusan. Dia diundang sebagai tamu dan tentu saja dia takkan melewatkan kesempatan itu--dimana dia bisa menyaksikan senyum semringah wanita yang dicintainya.
Elin sudah lulus dari universitasnya dengan gelar yang dia impian-impikan. Satu lagi mimpinya menjadi kenyataan. Dia sedikit berlarian menuruni anak tangga lalu menubruk tubuh Javier yang menunggunya dibawah sana.
"Kau hebat." Javier menangkup pipi Elin dan membenarkan toga yang dikenakan istrinya itu. "Aku bangga padamu, Honey," paparnya kemudian.
Elin tersenyum lembut. Dia mengacungkan 2 jari ke arah Javier, membuat pria itu kebingungan.
Elin mengulumm senyum. "Dua mimpiku sudah terwujud, Kak," jelasnya.
"Lalu?"
"Ada satu mimpi lagi yang belum tercapai."
Javier mengangguk. "Yah, apa kau sudah siap mewujudkan mimpi itu bersamaku?" tanya Javier yang tau keinginan terakhir Elin yaitu memiliki keturunan darinya.
"Huum." Elin mengangguk cepat. "Aku sudah sangat siap setelah semua yang kulalui sampai disini," ungkapnya.
"Baiklah. Kita akan membuatnya."
"Membuatnya?" ulang Elin dan nyaris tergelak.
"Yah, membuat anak. Kita akan melakukan bulan madu kedua. Kau siap?"
"Ah, aku menyukai hal itu."
Javier terkekeh pelan. Dia tidak sabar melakukan hal yang sekarang menjadi kesukaan Elin dan tentu kesukaannya juga.
"Aku juga menyukai 2 hal didunia ini," kata Javier berbisik.
"Apa?" tanya Elin ingin tahu.
"Hal pertama yang kusukai adalah kau, dan yang kedua ..." Javier sengaja menggantungkan kalimatnya.
"Yang kedua apa?" desak Elin.
"Yang kedua aku menyukai saat kau keenakan karena ulahku," ujarnya pelan sambil bermain mata.
"Astaga ... me sum sekali!" gerutu Elin.
"Sudahlah, ayo kita segera pergi dari sini. Aku jadi tidak sabar untuk melihatnya," kata Javier.
"Melihat apa?"
__ADS_1
"Melihat wajahmu yang keenakan!"
Elin mencubit pinggang Javier dengan keras, membuat pria itu memekik karena merasakan kesakitan yang tidak main-main.
...****...
Kehamilan Elin benar-benar terjadi setelah mereka menghabiskan waktu bulan madu selama 2 bulan di Paris.
Elin belum mau melakukan USG karena dia mengatakan masih terlalu dini untuk melakukan tindakan itu. Lagipula, Elin ma semuanya menjadi kejutan.
"Kau tetap bisa melakukan USG tanpa tau jenis kelaminn bayinya, Sayang " Javier meyakinkan Elin untuk melakukan hal itu demi melihat perkembangan bayi mereka.
"Suamimu benar, Sayang. Lagipula, ibu lihat-lihat perutmu itu cukup besar untuk kehamilan yang baru 4 bulan," kata Elara yang heran melihat perut buncit Elin.
"Iya, Bu. Aku sudah mengatakannya pada Elin. Dokter bilang detak jantung bayinya juga terlalu kencang, tapi Elin bersikeras untuk tidak melakukan USG," serobot Javier lagi.
"Ya, baiklah. Kita akan melakukan USG tapi biar saja jenis kelaminnyaa nanti tetap menjadi kejutan," kata Elin akhirnya.
Elara dan Javier setuju dan mengiyakan keinginan Elin tersebut.
Sampai pada akhirnya mereka kembali ke dokter obgyn untuk melakukan USG 4 dimensi yang dapat memperlihatkan keadaan dalam rahim Elin dengan sangat jelas.
"Wah, seperti dugaanku, bayinya lebih dari satu." Dokter Pricilla mengatakan apa yang dilihatnya dari layar USG. Dia menjelaskan bahwa Elin mengandung 3 bayi kembar.
"Benarkah?" Javier speechless. Dia menatap Elin dengan tatapan berkaca-kaca tampak terharu sekali.
"Ya Tuhan, ini seperti harta karun yang tumbuh didalam perutku," kelakar Elin. Pantas saja perutnya sangat besar diusia yang biasanya masih bisa bebas bergerak.
Elin tidak menggemuk saat mengandung, berat badannya proporsional, hanya perutnya saja yang membentuk bulatan besar yang tampak menggairahkann dipandangan mata Javier.
"Kau tampak semakin se k si saat mengandung. Ku pastikan kau akan mengandung lagi setelah ini, karena aku selalu bergairahh melihatmu," kata Javier yang semakin lama usia pernikahan mereka malah semakin nakal saja pada istrinya. Dia mengatakan itu setiap mereka sudah bersiap untuk tidur.
"Ah, Kak! Jangan menggangguku!" Elin mendorong Javier agar menjauh, dia pikir Javier hanya akan beringsut sedikit, nyatanya suaminya itu malah terjatuh dilantai.
"Auww!!" Javier meringis, memegangi bo kongnya sendiri.
Meski tubuh Elin lebih kecil dari Javier, tapi sejak hamil dia seolah mempunyai tenaga ekstra, mungkin dibantu oleh tiga anak yang ada diperutnya.
"Ma--maafkan aku kak!" kata Elin menyesali perbuatannya. Elin bergerak hendak membantu Javier naik tapi Javier malah terkekeh.
"Apa ada yang lucu?" tanya Elin.
"Tidak ada, aku menertawakan diriku sendiri. Kau belum melahirkan saja aku sudah kalah, bagaimana jika anak-anak kita telah lahir dan berkomplot denganmu... ah, kami pasti selalu memperebutkanmu nanti," katanya sambil terus tertawa.
"Sepetinya seru ya, Kak."
Dan Javier mengangguk, ia sudah tidak sabar untuk melihat bayi-bayinya lahir
Beberapa bulan kemudian Elin melahirkan bayi mereka lewat operasi caesar. 2 bayi berjenis kelaminn laki-laki dan satu diantaranya perempuan.
"Siapa nama mereka?"
"Dylan, Dyrta dan Dylara."
...****...
Terima kasih buat yang sudah baca karya othor sampai disini. Ekstra Part nya sudah selesai ya 🙏 Semoga kalian semua puas dengan endingnya.
Follow IG othor @cintiarizky 🙏
Sampai ketemu di novel on going othor yang lainnya ya.
MENCINTAI ADIK SAMBUNG (TEENLIT)
FOREVER HATE YOU (ADULT)
49 Days : Masuk Ke Tubuh Pria Vegetatif (Fantasi-Transmigrasi)
Semoga kita semua sehat selalu ya all Readers❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1