SEBATAS TEMAN TIDUR

SEBATAS TEMAN TIDUR
67. Ekstra Part 4


__ADS_3

Elin melihat pemandangan pantai dari balkon kamar yang ditempatinya. Tidak peduli pada angin malam pantai yang seakan menusuk sampai ke tulang-tulangnya. Ia larut dalam keadaan itu sampai suara baling-baling helikopter yang terdengar mendekat mampu mengalihkan atensinya.


Elin tau persis siapa yang akan turun dari transportasi itu, tapi dia tak beranjak sama sekali dari posisinya.


Beberapa menit kemudian, Elin merasakan tubuhnya menghangat, seseorang dari belakangnya menyelimuti tubuhnya.


"Diluar sangat dingin, kenapa kau masih memilih disini?" bisik Javier ditelinga Elin.


"Aku menunggu suamiku pulang," jawab Elin apa adanya karena pesan Javier sebelum pergi adalah memintanya untuk menunggu pria itu.


Javier menipiskan bibir, membalik posisi Elin agar berhadapan dengannya.


"Terima kasih sudah mau menungguku."


Elin tersenyum. "Aku akan selalu melakukannya," katanya.


Javier mengelus kedua pundak Elin dengan jemarinya. "Tapi, kau tidak perlu menungguku diluar balkon seperti ini, kau bisa menungguku di tempat tidur," usulnya.


"Yah. Tapi itu bisa membuatku mengantuk."


"Benar juga. Tapi apa sekarang kau sudah mengantuk?"


Elin menggeleng, pertanda dia belum ingin tidur.


"Apa kau tertarik jika aku mengajakmu melakukan aktivitas yang lain?" tanya Javier penuh arti.


"Aktivitas lain misalnya?"


"Mandi. Bersamaku."


Elin tertawa pelan, kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya.


Hap. Javier segera membawa tubuh Elin dalam gendongan--di kedua tangannya.


Elin tergelak menikmati perlakuan Javier. Ia berpegangan pada pundak suaminya yang bidang.


"Tunggu disini." Javier meletakkan tubuh Elin dengan hati-hati didalam bathub, kemudian dia beranjak untuk mengatur suhu keran demi mengisi air hangat.


Javier kembali kehadapan Elin dengan gerakan bersemangat. Dia membuka kemejanya sendiri, menyisakan celana pendek saja ditubuhnya. Sementara Elin hanya berperan menjadi penonton yang menyimak setiap pergerakan Javier yang tampak se k si dimatanya.


"Oke, sekarang giliranmu." Javier mendekat pada Elin, membuka pakaiannya dengan sedikit tergesa.


"Aku tidak kemana-mana, Kak. Jangan terlalu buru-buru," kata Elin memperingatkan Javier yang tampak exited sekali.


"Aku hanya begitu merindukanmu."


Javier berhasil membuka piyama Elin bahkan melucutii semuanya tanpa sisa. Menyisakan istrinya dengan penampilan polos bak bayi yang baru lahir.


Elin menunduk malu setiap kali Javier menatapnya seperti ini. Jujur saja, dia tidak percaya diri dengan bentuk tubuhnya sendiri.


"Kau sangat indah, sayang," bisik Javier ditelinga Elin dengan nada seduktif. Hal itu memberikan gelombang tersendiri bagai menyengat diri Elin.


Javier menyergap bibir istrinya yang sudah tidak tahan untuk dia habisi sehabis-habisnya.


Sesaat setelahnya, Elin dibuat melayang oleh permainan lidah Javier di leher, tulang selangka, dan terakhir hinggap di dadanya.


"Ah, Kak!!" Elin mengerangg, pasrah dengan segala kenikmatan yang akan diberikan Javier pada tubuhnya.


Tangan Elin ditujukan Javier pada miliknya yang masih tertutup oleh celana, dengan keadaan tubuh mereka yang sudah terendam separuhnya oleh air hangat yang mengisi bathub.


Mengikuti nalurinya, Elin membuka celana pendek Javier dan memegang milik pria itu, membuat Javier ikut mendesahh nikmat karena sentuhan tangan mungil Elin disana.


"Yah, itu hebat!" puji Javier atas permainan tangan Elin.

__ADS_1


Dan entah bagaimana, Javier yang tidak tahan menahan gelombang has ratnya langsung melakukan penyatuan untuk mereka berdua.


Elin terkesiap untuk sejenak, merasakan benda--yang sebenarnya tidak asing lagi untuknya--kembali memasuki dirinya.


"Are you oke?" tanya Javier sembari mengecupi seluruh permukaan wajah Elin.


"I'm oke, lanjutkan, Kak," lirih Elin yang beberapa saat kemudian mulai menikmati permainan mereka.


Permainan yang awalnya perlahan, lambat laun menjadi memanas dan menggebu-gebu.


Elin sudah mencapai pelepasannya 3 kali, sampai akhirnya Javier juga mencapai puncak yang sama dengan perasaan yang luar biasa.


...***...


Setelah beberapa hari memutuskan tinggal dir resort yang ada di Javeline Island, hari ini Javier dan Elin kembali ke kediaman mereka di pusat kota Hamburg. Tepatnya di Apartmen yang dulu mereka tempati bersama.


"Ah, akhirnya aku bisa kesini lagi." Elin menjatuhkan bo kongnya pada sofa yang masih terlihat sama seperti beberapa tahun yang lalu.


"Apa kau merindukan Apartmenku?" tanya Javier.


"Tentu saja, aku merindukan tempat ini, dimana kita semakin dekat setiap harinya," jawab Elin dengan senyuman manisnya.


"Ya kau benar. Karena itulah aku selalu merindukanmu jika berada disini. Aku selalu memimpikan mu meski pada saat itu aku menganggapmu sudah tiada," kata Javier mengingat masa-masa sulitnya ketika Elin dinyatakan meninggal.


"Semuanya sudah terlewati, Kak. Anggaplah itu sebagai pelajaran untukmu ... siapa tau aku yang pergi lebih dulu dari dunia ini," kata Elin terdengar serius.


Javier menghentikan pergerakannya hanya karena ujaran yang baru saja Elin katakan. Dia menoleh pada istri kecilnya itu dan menggeleng keras-keras.


"Jangan berbicara tentang kematian. Aku tidak bisa membayangkan jika aku harus kehilanganmu lagi, Elin."


Elin sedikit gentar karena ujaran Javier yang keras. Baru kali ini Elin melihat Javier dalam mode seperti ini. Bahkan saat dia baru mengenal Javier dulu, meskipun Javier kaku dan dingin tapi dia tak pernah setegas ini pada Elin terkait sesuatu hal.


"Maafkan aku, Kak."


Javier tau ia sudah berkata terlalu keras pada Elin, dia menyesal dan segera menghampiri sang istri di sofa.


Javier memeluk Elin erat, selama hidup Elin baru kali ini dia merasakan kasih sayang dan cinta yang begitu besar untuknya selain dari ibu kandungnya sendiri. Bahkan Ayahnya, tidak seperti Javier. Berapa kali Elin harus bersyukur atas kepemilikannya akan pria ini?


Tentu saja Elin memaafkan Javier, sebagaimana pria itu yang juga selalu memaafkannya.


"Aku punya kejutan untukmu."


"Apa?" tanya Elin.


"Nanti malam, kita akan makan malam diluar."


"Lalu, apa kejutannya?"


"Kalau aku mengatakan sekarang, itu namanya bukan kejutan tapi pemberitahuan."


Elin terkekeh disusul suara tawa renyah Javier yang juga merasa lucu dengan kalimatnya sendiri.


Menjelang malam, Elin bersiap untuk acara makan malam yang tadi Javier katakan. Sebenarnya ia cukup penasaran hal apa yang ingin Javier tunjukkan padanya.


Dan saat mereka memasuki sebuah restoran mewah dengan aksen lampu-lampu yang romantis. Elin tetap tidak bisa menebak kejutan macam apa yang akan dia terima dari suaminya.


"Aku mau merealisasikan janjiku padamu," celetuk Javier sesaat setelah mereka duduk di kursi masing-masing.


"Janji apa?"


"Mengucapkan terima kasih padanya."


"Padanya?" ulang Elin dengan nada bertanya. Ia bingung apa yang Javier maksud disini, sampai akhirnya seseorang hadir ditengah-tengah makan malam romantis mereka berdua.

__ADS_1


"Nathan?" Elin menutup mulutnya yang ternganga. Ia tak menyangka jika yang dimaksudkan Javier disini adalah pemuda itu. Dan jika Javier mengatakan bahwa ini adalah kejutan untuknya. Ya, Javier tidak salah, karena Elin benar-benar terkejut saat melihat kehadiran Nathan.


"Hai ..." suara Nathan menyapa Elin dan Javier disana.


"Nath, apa kabarmu?" sambut Elin yang berdiri dari duduknya seketika itu juga.


"I'm great, aku sangat baik." Nathan mengulas senyuman simpul.


"Duduklah," kata Javier mempersilahkan pemuda yang sengaja diundangnya tersebut.


"Aku senang dapat melihatmu lagi, Nath," cicit Elin sungguh-sungguh. Meski ujarannya itu sedikit membuat telinga Javier panas, tapi Javier berusaha bersikap biasa saja, toh Elin adalah miliknya sekarang dan keputusannya mempertemukan Elin dengan Nathan setelah menikahi wanita itu sudah benar-benar tepat.


"Aku juga. Aku bahagia melihat keadaanmu sekarang yang jauh lebih baik dan kau terlihat ..." Nathan ragu mengatakannya, namun dia juga tak bisa memendam hal itu. "... kau terlihat sangat cantik," pujinya kemudian.


Apa Javier harus menyaksikan istrinya dipuji terang-terangan didepan matanya seperti ini? Awalnya dia mau menyela tapi yang dikatakan Nathan memang benar jika Elin memang sangat cantik jadi dia masih memilih diam.


"Kak, kau membuatku terkejut dengan kehadiran Nathan disini," ujar Elin pada Javier.


"Yeah, makanya aku mengatakan bahwa ini sebuah kejutan."


Elin tertawa pelan tampak sangat elegan. Nathan tak berkedip melihatnya, meski dia juga tau jika pria yang saat ini ada diantara dia dan Elin adalah pria yang sama yang dulu mengatakan bahwa dirinya adalah calon suami Elin. Whatever ... Nathan tak peduli, dia tetap menunjukkan ketertarikannya pada Elin secara terus terang dihadapan pria bernama Javier tersebut.


Namun sayang, euforia kebahagiaan Nathan harus disudahi sampai disana setelah mendengar pernyataan Javier selanjutnya.


"Ku dengar, kau adalah orang yang menyelamatkan Elin. Banyak membantunya dan membelanya. Kau juga yang mengabarkan tentang keadaannya hingga dia bisa kembali pada kehidupan yang semestinya. Aku selaku suami Elin, khusus mengundangmu kesini untuk mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya atas semua bantuanmu."


Suami? Apa Nathan tidak salah dengar?


"Su-suami?" tergagap Nathan mengatakan kata itu.


Javier mengangguk dengan mantap. "Ya, Elin adalah istriku. Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih padamu, Tuan Nathaniel Adams," paparnya.


Nathan menatap Elin seolah-olah ingin mendengar pengakuan langsung dari bibir perempuan itu dan nyatanya Elin mengangguk setuju atas pernyataan yang Javier katakan.


"Y--ya, aku menolong Elin karena keinginanku sendiri dan tanpa paksaan dari siapapun," jawab Nathan berusaha menguatkan dirinya sendiri meski sebenarnya ia merasakan ada yang nyeri di ulu hatinya.


"Meskipun begitu, aku tetap ingin memberimu tanda terima kasih," lanjut Javier.


Elin mengangguk setuju dengan ujaran suaminya. Dia melirik Nathan sekilas dan menyunggingkan senyum yang seolah meyakinkan Nathan untuk menerima tanda terima kasih dari Javier.


"Ini ... mungkin ini tidak seberapa dibandingkan dengan Elin-ku yang berharga," tutur Javier sembari mengangsurkan sebuah kotak kecil berbentuk persegi kearah Nathan.


Meski Nathan merasa miris saat Javier mengucapkan kata 'Elin-ku', tapi akhirnya ia masih bisa bersuara untuk merespon pemberian Javier.


"Apa ini?" tanya Nathan.


"Kau boleh membukanya sekarang atau nanti, terserah padamu saja."


Nathan membuka kotak itu didepan Javier dan Elin lalu menemukan sebuah remote mobil disana. Dia tersenyum miring.


"Terimakasih atas hadiahmu, tapi aku tidak bisa menerima ini."


Javier menggeleng. "Kau harus menerimanya. Hadiah itu mungkin sudah berada di kediamanmu yang ada di Berlin," paparnya.


Dan Nathan mendengkus pelan, jika begini dia tak bisa mengembalikan mobil dari Javier karena pasti neneknya yang sudah lebih dulu melihat kendaraan itu disana.


"Baiklah. Terima kasih banyak," jawab Nathan yang pasrah pada akhirnya.


"Kau layak mendapatkannya, Nath. Kau begitu baik saat menolongku," kata Elin.


Nathan hanya tersenyum sendu mendengarnya. Padahal, dia ingin sekali mendapatkan yang lebih layak dari sekedar mobil yaitu diri Elin sendiri.


Namun, Nathan tau pasti jika kini Elin sudah bahagia dan dia tau itulah tujuan sesungguhnya saat dia memutuskan untuk melepaskan Elin dari kediaman neneknya.

__ADS_1


"Aku bahagia melihatmu sudah bahagia, Elin. Selamat atas pernikahan kalian." Nathan berusaha lapang dada. Lagipula, alur hidupnya masih panjang. Seperti pesan Elin, dia adalah pemuda baik yang pasti akan menemukan seorang gadis yang juga baik.


...****...


__ADS_2