
Dengan berat hati, akhirnya Elin berjalan menuju supermarket karena tuntutan perutnya yang sudah memberontak akibat lapar. Siang tadi Elin sudah melewatkan makannya karena sibuk membereskan rumah yang disewanya, sehingga malam ini ia benar-benar harus mengisi perut demi kesehatannya sendiri.
Elin hanya berbelanja beberapa bahan makanan, kemudian keluar dari supermarket yang dikunjunginya.
Membayangkan harus melewati rumah yang tadi mengadakan pesta, serta kemungkinan bertemu lagi dengan pria pemabuk yang tadi--membuat nyali Elin menciut, namun mau tak mau ia harus melewatinya.
Elin membuang rasa takutnya, ia tidak perlu merasa seperti itu dikala nasibnya sendiri jauh lebih mengerikan.
"Baiklah, kau pasti bisa, Elin," bisik hati Elin kepada dirinya sendiri.
Elin menarik nafas dalam-dalam dan berjalan pelan melewati blok demi blok menuju arah rumah sewaannya.
Saat Elin kembali melintasi rumah yang hingar-bingar karena adanya pesta tersebut, ia mendadak was-was namun berusaha berjalan dengan tenangnya. Elin takut ada yang menyergapnya disana, syukurnya ia tiba juga di rumah dalam keadaan tidak kurang satu apapun.
"Ini bahkan belum sehari, aku masih harus melewati jalanan itu setiap hari," gerutu Elin sambil menutup dan tak lupa mengunci pintu kediamannya.
Elin membuka kertas belanjaannya kemudian mulai melahap roti isi yang ia beli.
"Bertahanlah, Elin. Sampai kau menemukan tempat tinggal yang lebih layak." Lagi-lagi Elin hanya bisa menyemangati dirinya sendiri.
Sementara disana, Javier sudah mendapatkan informasi dari Jack mengenai keberadaan Elin. Dengan rahang mengeras, ia menahan kekesalannya saat tau dimana Elin tinggal.
"Kau yakin dia ada disana?" tanya Javier pada Jack.
"Iya, Tuan."
"Tapi tempat ini rawan kriminalitas," kata Javier yang masih tak percaya dengan semua yang Elin pilih.
Javier terpaksa membiarkannya hanya demi menghargai keputusan Elin. Tapi Javier sangat berharap Elin kembali padanya, meski itu hanya meminta bantuannya untuk memberi tempat tinggal yang lebih layak.
"Apakah saya harus menjemputnya dan membawanya kembali, Tuan?" tanya Jack yang kembali ingin memastikan keinginan Javier.
"No. Biarkan dulu dia dengan pilihannya. Aku ingin tau seberapa lama dia bertahan dengan semua ini," jawab Javier yang langsung dimengerti oleh Jack.
"Uhm, Jack. Satu lagi..."
Sang Asisten itu kembali menoleh saat Javier kembali bersuara.
"Pantau gerak-gerik Liam. Aku tidak mau dia mengetahui keberadaan Elin karena dia pasti akan memanfaatkannya."
"Yes, Sir."
...****...
Elin memasuki beberapa cafe dan Restoran yang tak terlalu jauh dari tempat tinggalnya saat ini. Ia melamar pekerjaan paruh waktu disana dan berharap beberapa tempat itu akan menerimanya. Elin akan mengambil 3 tempat kerja sekaligus jika waktunya bisa ia sesuaikan dan tidak bentrok.
Satu restoran menerimanya, sebuah keberhasilan kecil bagi Elin dan disyukurinya dengan sangat. Restoran itu beroperasi hingga malam hari, tapi Elin berharap dia ditempatkan paruh waktu agar ia bisa mencari pekerjaan lainnya.
__ADS_1
"Kau diterima. Kapan kau bisa mulai bekerja?"
"Besok," jawab Elin semringah.
"Baiklah, silahkan datang kesini besok. Kau akan menempati jadwal pagi. Pukul 8 hingga pukul 2 siang."
"Oh, thank you."
"Selamat bergabung, semoga kau bisa bekerja sama dengan baik, Ms. Medeline."
"Yah, panggil aku Elin."
"Oke, Elin."
Elin keluar dari area itu beberapa belas menit kemudian. Wajahnya tampak bersemangat dan semringah. Ia tidak sabar menunggu besok dan akan segera bekerja.
Sekarang, tujuan Elin adalah ke toko lain yang bisa menerimanya di jam kerja sore hingga malam hari. Elin akan berusaha dan bekerja keras untuk menghidupi dirinya sendiri. Dia pikir itu akan berhasil.
"Kau belum memiliki pengalaman kerja sama sekali?" Seorang pria dengan tubuh tambun melakukan sesi interview untuk Elin disebuah toko yang menjual alat-alat olahraga.
"Yah, aku belum memilikinya, aku hanya pernah bekerja paruh waktu untuk menjual majalah dan surat kabar di emperan jalan," akui Elin secara terus terang dan apa adanya.
Pria tambun itu terkesan dengan kepolosan Elin. Ia berniat memberi Elin kesempatan untuk bekerja.
"Jadi, kapan kau bisa memulai pekerjaan ini?"
"Baiklah. Mulailah bekerja dengan giat. Apa kau tak masalah jika bekerja di pagi hari?"
"Uhm, sebenarnya ..." Elin tampak ragu, namun ia harus mengutarakan kecocokan waktu kerjanya dengan Restoran yang tadi juga menerimanya sebagai pelayan. "... aku baru diterima juga sebagai pelayan di Restoran X, jika boleh, bisakah aku bekerja disini dari sore hingga malam hari?" tanyanya kemudian.
Pria tambun itu tampak berpikir. "Jadi kau sudah bekerja di restoran? Jika begitu, maaf aku tidak bisa mempekerjakanmu disini," katanya dengan wajah penuh penyesalan.
"Why?" lirih Elin. Padahal ia sudah sangat senang mendapat dua pekerjaan sekaligus hanya dalam satu hari.
"Aku membutuhkan pekerja untuk waktu penuh. Ku pikir kau bisa bekerja disini dari jam 10 pagi hingga 5 sore."
"Aku sudah terlanjur menerima pekerjaaan di Restoran."
"Kalau begitu maaf, kau tidak bisa mengisi lowongan pekerjaannya."
Elin akhirnya pergi dari tempat itu. Ia tau semuanya takkan semudah yang ia bayangkan. Tapi, mendapat satu pekerjaan saja sudah lebih dari cukup untuk Elin. Sebenarnya Elin mau bekerja di dua atau tiga tempat sekaligus karena ia mau mengumpulkan uang, Elin punya keinginan untuk memasuki dunia universitas.
"Apa harapanku terlalu tinggi?" gumam Elin. Ia menendang sebuah kaleng softdrink yang tercecer dijalan. "Ah, siapa yang mempedulikan harapanku," katanya dan menatap jika kaleng yang baru saja ditendangnya malah mengenai seseorang.
"Arkh!!" Seseorang itu memekik.
Elin jadi gelagapan. "Mati aku," rutuknya pada diri sendiri. "Habislah aku," ujarnya kemudian. Elin berniat kabur namun orang yang terkena kaleng softdrink itu justru meneriakinya.
__ADS_1
"Hei, kau!"
Elin mati kutu, lelaki itu malah menghampirinya.
"Ups!" Elin memasang cengiran. "Sorry, aku tidak sengaja," katanya dengan wajah menyesal.
Lelaki yang tampak sangat muda itu awalnya mau marah, tapi melihat wajah imut Elin, ia tak jadi mengeluarkan sumpah serapahnya.
"Kalau aku tidak berteriak padamu pasti kau sudah melarikan diri, kan?" ujarnya pada Elin.
Tak mengelak, Elin justru mengangguk.
"Sekali lagi, maafkan aku. Hidupku sedang tidak beruntung," ucap Elin sambil mengacungkan dua jari membentuk huruf V.
"Ya, ya, hidup memang tidak selalu beruntung. Karena itu, jika kau mau aku tidak membesarkan hal ini, maka berkenalan lah denganku."
Elin mengerjap, tapi sedetik kemudian dia paham apa keinginan lelaki ini. Elin memutar bola matanya, lelaki itu justru terkekeh karena sikap yang ditunjukkan Elin.
"Aku serius, jika kau tidak mau maka aku akan memperbesar masalah ini. Kau mempunyai dua kesalahan. Yang pertama adalah kau membuang sampah sembarangan dan itu jelas dilarang, yang kedua kau membuat sampah kaleng itu mengenai pelipisku. Coba kau lihat? Ini pasti akan meninggalkan bekas luka," katanya panjang lebar.
Elin menghela nafas kasar. "Itu bukan sampah milikku," ujarnya mencoba membela diri.
"Tapi tetap saja ini karena dirimu, kan?" Lelaki itu menunjuk pada pelipisnya yang memang tampak sedikit tergores.
"Baiklah. Aku Elin." Elin mengulurkan tangannya pada lelaki muda itu.
Lelaki itu tersenyum dan segera menyambut tangan Elin. "Nathan," ujarnya kemudian.
"Sudah, kan?"
"Sudah." Nathan tersenyum puas.
"Baiklah, aku akan segera pergi."
"Apa kau tidak mau bertanggung jawab atas luka di pelipisku ini?"
"Ku pikir dengan kita berkenalan tadi sudah merupakan bentuk tanggung jawabku," kata Elin yang kini nyolot.
Nathan mengulumm senyum, ia senang melihat sikap Elin yang blak-blak-an.
"It's oke, maaf jika perkataanku membuatmu kesal. Sebagai permintaan maafku yang tulus, bagaimana kalau aku mentraktirmu minum?" katanya masih berusaha mendekati Elin.
Elin menggeleng samar. "Sepertinya kau sudah sering melakukan hal ini pada banyak gadis," oloknya.
"Tidak juga. Hanya pada gadis yang menarik perhatianku," jawab Nathan dengan seulas senyum yang tidak surut.
...Bersambung ......
__ADS_1
Dukung karya ini terus yaaaaa biar bisa aku lanjutin terussπππππ makasih banyak yang masih stay baca sampai bab ini. semoga kita sehat semuanya yaaa