
Ada beberapa pekerjaan yang tak bisa digantikan oleh orang lain, sehingga mau tak mau Javier harus meninggalkan Elin di Rumah Sakit tanpa penjagaannya.
"Dia Carla, dia yang akan menjagamu disini."
Javier mengenalkan seorang wanita muda kepada Elin, tanpa menatap wajah gadis itu.
"Hallo, aku Elin." Elin mengulurkan tangan ke arah wanita yang berpenampilan tomboi tersebut, kemudian Carla menyambutnya.
Sebenarnya, Elin tak mengerti kenapa Javier malah mengenalkannya pada orang baru untuk menjaganya. Bukankah selama ini ia dalam penjagaan Jack? Apakah ini ada kaitannya dengan ucapan yang sempat Elin sampaikan, mengenai rasa nyamannya bersama Jack? Padahal Elin tidak bermaksud serius waktu itu, ia hanya membuat lelucon dengan maksud menyindir sikap Javier yang sering meminta Jack untuk menjaganya.
"Boleh aku tau kenapa harus dia yang menjagaku? Kemana Jack?" tanya Elin yang berusaha menatap Javier, namun pria itu enggan membalas tatapan Elin, Javier tampak menghindar, mungkin tak mau Elin memahami ketakutannya tentang kedekatan sang gadis dengan asistennya.
"Kenapa kau malah menanyakan Jack lagi? Apa aku butuh izinmu untuk hal ini?" ujar Javier kesal.
Elin berdecak malas. Meski sebenarnya ia bertanya demikian bukan karena benar-benar peduli pada asisten Javier tersebut, dia hanya ingin tau kenapa Javier malah meminta bantuan orang lain yang belum dikenalnya, tapi Javier mengartikannya berbeda. Dimata Javier, Elin terlalu mengkhawatirkan Jack sehingga Javier kesal sendiri. Padahal, jika ditanya kenapa ia kesal, Javier pun tak tau alasannya.
"Aku harus pergi sekarang, kau akan aman bersama Carla."
Tanpa menunggu izin dari Elin, pria itu segera berlalu setelah kalimatnya selesai diucapkan.
Elin menghela nafas kasar, kemudian dia menatap Carla yang tampak memasang wajah datar.
"Kau tidak perlu repot menjagaku, aku akan berada di ruang tunggu khusus keluarga pasien yang di rawat di ICU. Kau bisa menungguku disini saja," kata Elin merujuk kursi tunggu yang ada di depan ruangan yang akan dimasukinya.
...***...
Hari itu, Javier kembali disibukkan oleh rutinitas mengenai pekerjaan. Ia bersama Jack beberapa kali meninggalkan area perusahaan untuk bertemu klien yang akan membuat kesepakatan kerja.
Pertemuan itu tak bisa ditunda karena sebenarnya hari ini merupakan hari ganti yang juga sudah Javier siapkan untuk bertemu klien-nya karena dihari yang seharusnya pertemuan itu sudah pernah ditundanya.
"Apa kau mendapat kabar dari Carla mengenai Elin?" tanya Javier begitu kembali ke kantor diikuti derap langkah Jack dibelakangnya.
__ADS_1
"Belum, Tuan."
Javier mengangguk dalam posisinya yang tetap berjalan menuju ruangan kebesarannya.
Sampai di mejanya, Javier meminta Jack untuk segera mengecek perihal pekerjaan mereka yang sudah memakan waktu hampir setengah harian.
Tanpa terasa kini sore pun tiba. Waktu menunjukkan pukul 5 lewat enam belas menit ketika ponsel Jack terdengar meraung-raung ingin segera diangkat.
"Hallo?" Jack menyahut panggilan dari Carla. Hanya beberapa detik mendengar perkataan Carla dari seberang telepon, wajah Jack langsung berubah pias.
Kejadian itu tidak luput dari pandangan mata Javier yang akhirnya bertanya pada sang asisten.
"Ada apa?" Pertanyaan Javier bertepatan dengan telepon Jack yang sudah usai.
"Nona Elin---"
"Ada apa dengannya?" sergap Javier yang langsung kalut begitu mendengar nama Elin disebut.
"Tadi ... Nona Elin--- bertemu dengan kakaknya, Tuan."
"Apa yang terjadi?"
"Carla berhasil menanganinya, kakaknya juga sudah pergi, tapi Nona Elin terus menangis sekarang."
Javier mendengkus, ia kesal kenapa Liam datang setelah ia meninggalkan Elin bersama Carla, andai pria itu datang ketika Elin bersamanya ia tidak segan-segan untuk membuat perhitungan.
Sejak awal, Javier bertekad tidak akan mengganggu Liam karena ia tak mau bertindak gegabah sehingga pria itu menjadi tau keberadaan Elin. Javier juga tak mau Liam mengetahui jika kini Elin sudah bebas dari Kasino milik Aro. Kendati demikian, Javier sadar jika cepat atau lambat Liam akan mengetahuinya juga.
Javier hanya mencoba menahan diri untuk tidak membereskan Liam tanpa alasan yang jelas. Tapi sekarang, jika Liam kembali mengusik Elin, Javier yang akan menghadapinya karena ia sudah memiliki sebuah alasan.
...****...
__ADS_1
"Dimana dia?"
Pada akhirnya, Javier kembali lagi ke Rumah Sakit untuk menemui Elin. Melupakan segala pekerjaannya yang pasti akan sedikit terbengkalai hanya demi melihat kondisi gadis itu setelah pertemuan dengan Liam.
Mengenai tindakan yang Javier lakukan ini, ia menolak tegas untuk mengakui bahwa ia memiliki kepedulian lebih pada Elin. Javier hanya tau jika ini dia lakukan demi janjinya pada Arbei yang sudah menitipkan Elin kepadanya, juga pada Elara yang mengkhawatirkan Elin. Javier sudah terlanjur tidak mau mengecewakan kedua orangtua itu. Meski tanpa disadarinya, didalam dirinya memang sudah tumbuh rasa khawatir yang sangat besar.
"Dia ada disana, Tuan." Carla menyahuti pertanyaan Javier sembari menunjuk ke arah sudut koridor dimana disana terhubung langsung pada Balkon Rumah Sakit.
Javier mengangguk sekilas pada Carla, lalu berjalan menuju posisi dimana Elin berada.
Disana, Javier melihat punggung kecil itu membelakanginya, Elin melihat pemandangan senja dari pagar pembatas Rumah Sakit. Javier tau bahu Elin masih berguncang menandakan sang empunya masih menangis, terbukti jika sayup-sayup suara isakan terdengar di indera pendengaran Javier sekarang.
"Elin ..." sapa Javier lembut.
Elin tidak langsung menoleh, mungkin dia belum menyadari kedatangan Javier, pun tidak mendengar panggilan pelan dari bibir pria itu.
Semakin dekat posisi Javier pada keberadaan Elin, membuat tangan Javier terulur untuk menyentuh pundak gadis itu, namun ia ragu hingga dengan segera menarik kembali jemarinya.
"Elin?" Kembali Javier memanggil nama gadis tersebut. Kali ini Elin membalikkan tubuh, ia menoleh dan mendapati Javier yang berdiri tepat dibelakangnya.
Wajah Elin basah oleh airmata, hidungnya memerah dengan pipi yang tampak memucat.
Tatapan Javier terkunci pada pandangan sendu Elin dengan matanya yang sembab. Membuat Javier tak tahan saat melihatnya.
Mulut Elin terbuka, ingin mengadu pada Javier mengenai apa yang terjadi padanya, namun belum sempat ia melakukannya, Javier lebih dulu bergerak untuk merengkuh tubuhnya.
Javier membawa Elin ke dalam dekapannya, dan kali ini tindakan itu berhasil membuat Elin kembali menangis sejadi-jadinya.
"Kak Javier ...."
"Tenanglah, ada aku disini."
__ADS_1
...Bersambung ......
Jangan lupa dukung karya ini terus yaaa❤️