
Setelah membeli beberapa barang, Javier baru sadar bahwa mereka hari ini menaiki motor dan barang-barang belanjaan itu akan sulit dibawa nantinya.
Mau tak mau, akhirnya Javier menelepon asistennya untuk menjemput belanjaan mereka.
Sebenarnya Javier bisa meminta agar semua barang itu dikirim ke kediamannya, tapi Javier enggan melakukannya karena merasa itu tidak efisien dan lambat.
"Jack, bisakah kau ke pusat perbelanjaan M?"
"Baik, Tuan." Jack menyahut dari sebrang panggilan.
"Oke, aku menunggumu di Restoran China yang ada di lantai 2." Javier langsung memutus panggilannya setelah Jack mengerti arahan yang ia berikan.
"Apakah Jack yang akan membawa semuanya?" tanya Elin sambil mengunyah mie yang dia pesan di restoran tersebut.
"Ya, jangan tertarik padanya," kata Javier mengingatkan.
Elin memang sudah lama sekali tidak bertemu langsung dengan Jack. Terakhir kali mungkin saat ibunya masih dirawat di rumah sakit. Dan sekarang Elin tau bahwa ini pasti ada kaitannya dengan Javier yang sengaja membuat jarak diantara dia dengan Jack. Apa ini masih ada kaitannya dengan Javier yang cemburu pada asistennya sendiri? Kalau mendengar dari penuturan Javier barusan sepertinya pria ini memang masih takut jika Elin akan tertarik pada Jack.
"Kak, kita akan menikah sebentar lagi. Apa yang kau takutkan?" tutur Elin lembut sembari mengelus punggung tangan Javier.
"Tapi tetap saja. Aku tidak bisa melupakan bagaimana dulu kau bersemangat saat menceritakan tentang Jack dan mengatakan akan mulai mendekatinya."
"Astaga." Elin mengesah panjang. "Waktu itu aku tidak benar-benar serius, kak. Aku hanya merasa Jack lebih sering bersamaku untuk mengawal kemanapun aku pergi."
"Ya, tapi sekarang ada aku yang akan selalu mengikuti kemanapun kau pergi."
"Maksudku … jangan cemburu lagi padanya. Aku tidak mungkin tertarik padanya, waktu itu akalu hanya bercanda."
"Cemburu? Aku tidak cemburu," bantah Javier dengan cueknya.
"Jadi, apa arti dari sikapmu ini?"
"Entahlah, yang jelas aku tidak akan membiarkanmu dekat dengannya lagi dan kalau nanti kau perlu diberikan bodyguard maka Carla bisa menjagamu untuk menggantikan aku yang mungkin sedang sibuk dan tidak bisa menunda pekerjaan."
Elin menggaruk pelipisnya sekilas. "Kau selalu saja sulit mengartikan perasaanmu sendiri, kak," tuturnya pelan.
Beberapa saat kemudian, Jack benar-benar datang ke Restorant tersebut. Ia menelepon Javier untuk memberitahukan keberadaannya.
"Tunggulah di luar, kau tidak perlu masuk ke restoran. Aku yang akan menemuimu disana."
Sangking tak mau Elin bertemu dengan Jack, Javier sendiri yang beritikad menemui asistennya itu didepan restoran. Elin sampai geleng-geleng kepala melihatnya.
"Tunggulah disini, aku menemui Jack didepan." Javier bergerak sembari membawa bungkusan belanjaan mereka untuk diserahkan pada Jack.
"Apakah itu yang dia katakan tidak cemburu?" Gerutu Elin sembari melihat punggung Javier yang berjalan menjauh dari tempat duduk mereka.
Elin melanjutkan memakan mie nya tanpa menghiraukan apapun yang Javier lakukan. Terserahlah. Yang jelas dia memang tidak pernah bermaksud untuk benar-benar mendekati Jack.
Saat sedang menikmati makanannya sendirian, seseorang menyapa Elin disana.
"Elin? Kau Elin kan?"
Elin pun menoleh ke sumber suara tersebut.
"Cathy?" sapa Elin, itu adalah salah seorang teman yang ia kenal cukup singkat ketika bekerja di Restoran tempo hari.
"Wah, ternyata ini benar-benar dirimu. Kau sendirian saja?" tanya Cathy.
"Tidak, aku bersama pacarku. Kebetulan dia sedang ke depan untuk mengurus sesuatu," kata Elin merujuk pada arah luar Restoran.
__ADS_1
"Ya, ya, apa kabarmu Elin?"
"Seperti yang kau lihat, aku sehat dan baik-baik saja. Kau sendiri? Apa kau masih bekerja di Restoran itu?" Tanya Elin.
Cathy menggeleng.
"Ayo duduklah disini. Aku ingin mendengar ceritamu. Kenapa kau tidak bekerja disana lagi," ajak Elin.
"Apa tidak apa-apa? Aku takut kekasihmu marah jika ada aku disini."
"Tidak, dia bukan orang yang seperti itu. Dia justru akan senang kalau aku mempunyai teman."
Cathy akhirnya duduk disebelah Elin.
"Sebenarnya aku bekerja di Restoran itu untuk mengisi waktu luang saja. Dan sekarang aku sudah memiliki kesibukan lain."0
Elin sudah dapat menebak sebenarnya, sejak mengenal Cathy ia dapat melihat jika penampilan gadis itu bukan seperti orang yang kekurangan uang.
"Kau sendiri kenapa tiba-tiba berhenti bekerja?" Cathy balik bertanya pada Elin.
"Uhm, aku sudah pindah dari rumah yang ku sewa didekat restoran itu. Lagipula permaslahanku sudah selesai dan aku tidak diizinkan untuk kembali bekerja disana."
"Yah, tampaknya pilihan kita hampir serupa yaitu memilih meninggalkan Restoran itu, karena sebenarnya disana memang sangat melelahkan," respon Cathy.
"Yeah, kau benar," timpal Elin.
Mereka tertawa bersama sampai tidak menyadari jika Javier sudah berjalan kembali ke meja tersebut.
"Elin?"
Elin menoleh pada Javier masih dengan sisa-sisa tawanya, bersamaan dengan itu Cathy juga melihat Javier yang berada disana.
"Irina?"
Mereka berdua tampak kaget, sama halnya dengan Elin yang mendengar jika Javier memanggil Cathy dengan nama lain.
"Kalian saling mengenal?" Tanya Javier pada Elin.
"Yah, dia salah seorang temanku saat bekerja paruh waktu di restoran," jawab Elin apa adanya.
"Apa dia pacarmu itu, Elin?" Tanya Cathy yang memiliki nama lain, Irina.
Elin mau menjawab pertanyaan Cathy tapi Javier lebih dulu menyela.
"Apa makanmu sudah selesai? Kita pulang saja, Elin," ujar Javier yang tampak menghindar.
Elin mengernyitkan keningnya, ia bingung kenapa respon dan sikap Javier mendadak berubah.
"Tapi, Kak …"
Javier menggenggam jemari Elin, kemudian dia pamit pada Cathy.
"Maaf kami tidak bisa berlama-lama disini. Permisi."
Elin harus pasrah saat Javier menarik tangannya untuk segera meninggalkan tempat itu. Ia belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi dan ia pasti akan menuntut jawabannya dari Javier nanti.
Sepanjang perjalanan menuju pulang, hanya ada keheningan. Tak ada satupun dari Javier maupun elin yang mau bersuara lebih dulu. Suara deru motorlah yang menjadi pengiring kepulangan mereka.
Tiba di Apartmen, Elin tidak bisa menahan lagi rasa penasarannya. Ia ingin menanyakan langsung pada Javier. Kapan dan kenapa Javier bisa mengenal Cathy.
__ADS_1
"Kak …"
"Elin …"
Suara mereka nyaris serentak. Javier minta Elin yang lebih dulu bersuara namun Elin pun meminta agar Javier mengatakan apa yang ingin diucapkannya.
"Jangan bergaul lagi dengan Irina."
"Maksud kakak Cathy?"
"Ya. Siapapun namanya yang kau kenal."
"Kenapa? Aku mengenal jika dia adalah orang yang baik."
"Darimana kau mengenalnya?"
"Sudah ku katakan bahwa dia salah seorang rekanku waktu bekerja di restoran."
"Berapa lama kau bekerja disana? Sehari … dua hari? Kau tidak mengenalnya cukup baik jadi dengarlah kata-kataku. Jangan pernah bergaul lagi dengannya," kata Javier menekankan.
"Kau ini kenapa kak? Kau melarangku bergaul dengan Cathy yang dulu banyak membantuku saat bekerja di resto? Kau berkata seolah-olah kau yang mengenalnya dengan cukup baik—"
"Ya, Elin. Yah … aku mengenalnya dengan cukup baik," tukas Javier menyela perkataan Elin.
Elin terdiam beberapa saat, seolah tengah mencerna perkataan Javier lalu dia tiba pada sebuah kesimpulan.
"Apa dia mantan kekasihmu?" tanya Elin akhirnya.
"No!" jawab Javier lugas.
"Ah, mungkin dia pernah menjadi gadis yang kau incar untuk didekati."
"Bukan. Ini lebih kepada dia yang dulu pernah terobsesi padaku. Kalau sekarang aku tidak tau. Maka dari itu aku mau kau menjauhinya dan jangan bergaul dengannya karena dia adalah gadis yang diluar prediksi."
Elin sudah membuka mulutnya untuk menyuarakan protes tapi perkataannya tak bisa terucap karena Javier kembali melanjutkan.
"... Dia gadis yang sama dengan gadis yang dicintai Liam. Dialah pemantik permusuhan antara Liam dengan aku."
"What?" Dahi Elin berkerut dalam, syok dan terkejut karena nama Liam disebut oleh Javier. "Maksudmu … Liam kakak tiriku?" tanyanya memastikan.
"Ya, Elin. Selama ini aku selalu meminta orang-orangku untuk memantau Liam dari kejauhan. Tapi aku melupakan Irina. Dia luput dari pantauanku. Yang aku takutkan adalah pertemuanmu dengannya saat bekerja di restoran itu … sebenarnya sudah direncanakan."
Elin semakin dibuat bingung dengan ucapan Javier.
"Irina selalu mengejarku, sejak dulu. Aku tidak menggubrisnya, aku takut dia menaruh dendam padaku karena penolakan ku dan marah saat tau aku akan menikahimu. Sudah ku bilang dia adalah gadis yang sulit ditebak."
Elin mulai dapat menarik maksud dari kekhawatiran Javier padanya.
"Apa mungkin dia bisa menyakitiku?"
"Mungkin saja!" jawab Javier cepat.
Saat itu juga, Elin merasa tubuhnya meremang. Jika saja ia tak mengetahui fakta ini lebih awal, mungkin Elin takkan pernah tau jika Cathy adalah Irina. Gadis yang terobsesi pada Javier, juga gadis yang dicintai oleh Liam–kakak tirinya.
Apa yang akan terjadi jika saja Elin lambat mengetahui fakta ini? Bisa saja ia dalam bahaya, kan? Entahlah.
"Mulai sekarang, waspadalah. Ehm, satu lagi … bagaimana jika kau mulai berlatih bela diri? Aku akan cukup tenang jika kau mempunyai kemampuan itu," usul Javier yang akhirnya disetujui oleh Elin.
...Bersambung …...
__ADS_1