
Kenapa kecupan Elin terasa amat nyata? Namun, Javier tidak menyia-nyiakan hal itu karena ia pun begitu merindukan Elin. Ia berusaha mengabaikan segala kejanggalan yang dirasakannya saat ini, hingga larut dalam pergumulann bibir mereka berdua.
"Apa kau masih mau menikah denganku, Kak?" tanya Elin setelah ciuman itu terlepas. Dahi mereka masih saling menempel satu sama lain dengan nafas keduanya yang terdengar menderu-deru.
"Aku tidak mungkin menolakmu," jawab Javier tepat didepan wajah Elin, membuat gadis itu tersenyum saat mendengarnya.
"Kak, maafkan aku ya. Aku sudah terlalu lama meninggalkanmu." Elin berujar sembari memegang satu pipi Javier menggunakan sebelah tangannya yang bebas, sedang yang satunya masih digenggam Javier seperti tidak ada tanda-tanda akan dilepaskan.
"Aku selalu memaafkanmu, hmm?"
Elin melerai jarak diantara mereka, lalu mengambilkan minuman untuk Javier.
"Kau pasti lelah karena baru tiba dari Kroasia. Minumlah," tawar Elin menyerahkan segelas minuman yang adalah jus buah kesukaan Javier.
Javier mengernyit, meski sejak tadi Elin sudah berusaha menyadarkannya bahwa dia tidak sedang berada dalam mimpi, tapi tetap saja Javier menganggap kehadiran Elin dihadapannya hanyalah mimpi belaka.
Namun, ucapan Elin barusan seolah gadis itu memang mengetahui kepulangannya dari Kroasia. Terdengar sangat nyata sekali.
Javier meraih gelas yang Elin berikan, namun tetap tak melepaskan tangan Elin sama sekali dari tangan yang satunya.
Javier meneguk jusnya dan merasa dia tak mau kembali pada kenyataan jika tanpa Elin.
"Andai aku bisa membawamu ke dunia lagi, maka aku akan melakukannya. Aku akan membayar berapapun untuk hal itu," batin Javier sambil menatap Elin lamat-lamat.
"Kenapa kau menatapku seperti itu, Kak?" tanya Elin yang melihat Javier terus menyorotnya dengan tatapan dalam.
"Tak apa," jawab Javier ambigu.
"Ayolah kak, katakan apa yang kau pikirkan." Elin mendesak pria itu.
Javier tertawa pelan. "Rasanya aneh sekali, aku pikir aku sudah lama tidak seperti ini."
"Seperti ini, maksudnya?"
"Tertawa lepas."
Elin menundukkan wajahnya. Jangankan Javier, ia pun demikian. Baru sekarang ia bisa tersenyum kembali setelah hari itu. Hari dimana ia sadar dari masa sekarat yang dilaluinya akibat kecelakaan yang direncanakan oleh Liam dan Irina.
"Kau harus menghukum mereka, Kak. Karena mereka sudah membuat kita hancur," jawab Elin yang diliputi rasa amarah. Bagaimana ia tidak geram jika mengingat kedua orang itu, mereka sengaja melakukan semua ini padanya dan Javier.
Javier menoleh pada Elin dengan tampang terkejut. "Mereka? Mereka siapa?" tanyanya tak paham. Kenapa tiba-tiba Elin membahas hal aneh, pikirnya.
"Irina dan Liam."
Dua nama yang barusan disebut Elin, seolah menyadarkan Javier pada kenyataan. Ia menatap sekitar seolah ingin mencari tau sebuah jawaban--bahwa yang saat ini ia rasakan dan saat ini sedang menemaninya--adalah benar-benar Elin.
Apa ini alasan ayahnya memintanya untuk segera pulang ke Hamburg? Agar ia bisa bertemu Elin secepatnya? Ya, tampaknya sekarang Javier mulai mengerti keadaannya. Tapi, bagaimana bisa Elin masih hidup? Lalu, siapa yang mereka makamkan 2 tahun lalu?
"Mereka merencanakan semuanya untuk melihat kehancuran kita, Kak. Kematianku dipalsukan. Hasil autopsi. Semuanya. Bahkan aku dijual menjadi budak dan menderita karena menyandang status itu."
__ADS_1
Mata Javier terbelalak. "Jadi kau benar-benar Elin dan ini bukan mimpi?" tanyanya.
Elin mengangguk cepat. "Sudah ku bilang ini bukan mimpi, Kak!" ujarnya.
Disitulah senyum yang sejak tadi terbit dikedua sudut bibir Javier menghilang. Bukan ia tak bahagia karena Elin telah kembali. Ia sangat bahagia untuk hal itu, tapi kenyataan dan berita yang baru saja Elin beritahukan kepadanya, menyulut emosinya yang sudah lama terpendam. Ini benar-benar sudah direncanakan secara matang, pikir Javier.
Cukup sudah selama 2 tahun ini Javier mencari jejak dan siapa dalang yang menyebabkan Elin dan Carla kecelakaan waktu itu. Sekarang, dia sudah mengetahui jawabannya. Meski dia sadar bahwa ini terlalu terlambat karena semuanya sudah terlanjur terjadi, tapi api dendam dalam diri Javier semakin membara, apalagi Elin mengatakan bahwa mereka menjualnya ke sebuah tempat perbudakan.
Javier menangkup kedua pipi Elin, kemudian berkata dengan tatapan dalamnya.
"Pegang kata-kataku hari ini. Aku akan menuntut balas pada mereka berdua, baik Irina ataupun Liam ... tidak akan ada yang luput dari kemurkaanku!" tukasnya.
...****...
Sebenarnya, malam ini juga Javier ingin kembali mengajak Elin pulang ke Apartmennya. Membuat suasana menjadi sama seperti 2 tahun yang lalu.
Sayangnya, Elara tidak mengizinkan hal itu. Dengan dalih bahwa Javier sudah tidak perlu ditemani tidur oleh Elin karena kini dia sudah sembuh dan bisa tidur sendiri.
"Biarkan Elin tetap disini, Jav."
"Tapi, Bu."
"Dia akan lebih aman di Mansion keluarga kita," ujar Elara.
Javier tau yang dimaksudkan ibunya itu ada benarnya, tapi ia masih sangat merindukan gadis itu?
"Kalau begitu, aku akan menginap disini."
Javier berdecak sekilas. "Bu, aku---"
"Tidak ada alasan, Jav. Ah ya, satu lagi. Jangan coba mengendap-endap ke kamar yang ditempati Elin."
Elara pun berlalu dari hadapan Javier saat itu juga, sementara Javier menepuk jidatnya sendiri karena batasan yang diberikan Elara untuknya.
Elin menahan geli disamping Javier. Ia juga tak bisa memilih karena disini bukan dia yang menentukan.
"Kita bisa tidur bersama lagi jika kita sudah menikah, Kak."
Javier menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tapi aku masih merindukanmu," ujarnya lembut.
"Aku juga. Tapi seperti yang ku katakan tadi. Keputusan Bibi Elara sudah benar."
"Hhhhhh ..." Javier mengesah panjang.
"Ya sudah, Kak. Aku akan kembali ke kamarku ya." Elin mau beranjak tapi Javier mencekal lengannya, pria itu menunjuk pipinya sendiri sebagai kode agar Elin mengecupnya disana.
Elin malah terkekeh, kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ayolah," desak Javier yang tiba-tiba berubah menjadi kekanakan jika bersama Elin.
__ADS_1
"Satu kali saja ya." Elin mencoba bernegosiasi karena biasanya jika Javier sudah berhasil dicium di pipi kiri, dia akan meminta di kanan lagi.
"Iya. Come on!"
Elin memajukan tubuhnya kemudian mengecup pipi kiri Javier dengan sangat singkat.
"Bye, Kak!" Elin melambaikan tangannya menuju letak kamarnya diujung ruangan.
"Loh, sudah?" gumam Javier yang keheranan. "Belum terasa, My Dear!" pekiknya, namun Elin tidak menghentikan langkah, gadis itu terus saja melambaikan tangannya seolah pekikan Javier bukanlah hal yang patut ia gubris.
Javier memutar bola matanya, hingga kemudian dia berjalan kearah ruangan kebesaran sang Ayah.
"Kau sudah bertemu dengannya?" tanya Shane begitu Javier bertatap mata dengannya.
"Hmm ..." Javier mengangguk.
"Kau sudah tau apa yang menimpanya?"
"Ya. Aku sudah mendengarnya."
"Lalu, apa keputusanmu?"
Javier diam seolah tidak mau mengatakan apa rencananya untuk Liam dan Irina kepada sang Ayah.
"Atau kau mau Daddy yang mengurusnya?" tawar Shane dengan seringaian tipis.
Javier tersenyum smirk. "Biar ini menjadi urusanku, Dad," tukasnya.
Shane mengendikkan bahu. "Yah, semua memang terserah padamu. Tapi Daddy menyarankan agar kau mengincar kepala kakaknya itu!" tukas Shane yang juga geram dengan semua yang terjadi.
Javier terkekeh singkat. Tak biasanya ia dan Shane sepemikiran. Biasanya, mereka selalu bertolak belakang. Inilah yang membuatnya ragu untuk mengatakan rencananya pada pria paruh baya itu. Ia tak mau ayahnya menentang apa yang ia rencanakan. Tidak disangka, ternyata Shane pun mau Javier berbuat kejam pada Liam.
"Dan Irina ... apa yang akan kau lakukan dengannya?" tanya Shane kemudian. Dia sudah mendapatkan info mengenai gadis bernama Irina itu dan dia juga sudah mengetahui bahwa Javier dan Irina adalah teman satu fakultas di universitas bisnis yang sama, dulu.
"Apakah harimau peliharaan Daddy mau memakan daging wanita busuk sepertinya?" tanya Javier dengan kilat dendam dimatanya.
Shane terkekeh kencang. Tidak menyangka pemikiran Javier sampai kesana. Dia tidak meragukan kekejaman putranya dalam membalas dendam. Terdengar kejam tapi itu memang pantas ketimbang kedua orang jahat itu hanya mendekam dibalik jeruji besi untuk beberapa tahun saja.
"Ide yang bagus," jawab Shane akhirnya.
"Baiklah. Tapi sebelum semua itu ku lakukan. Aku ingin menikah dengan Elin dulu secepatnya."
"Wah ... ternyata kau sangat menginginkan hal itu, Daddy pikir kau tetap pada keputusanmu untuk tidak menikah seumur hidup," ledek Shane pada sang putra.
Javier mengulumm senyum. "Aku hanya menginginkan Elin, selain dia aku tidak berminat," tukasnya.
"Yeah. Daddy tau bagaimana rasanya. Menikahlah secepatnya. Kau akan lebih terarah dan usiamu sudah terlalu tua untuk bermain-main."
"Kali ini ... aku setuju denganmu, Dad! Tapi, aku belum setua itu," ujarnya disertai kekehan kecil.
__ADS_1
...Bersambung ......