SEBATAS TEMAN TIDUR

SEBATAS TEMAN TIDUR
54. Terus terang (Author POV)


__ADS_3

Elin yang dikenal dengan nama Sherin dalam rumah Letty--Nenek Nathan--selalu menjadi pelampiasan para pelayan yang bekerja disana hanya karena statusnya lebih rendah dari mereka yaitu seorang budak.


Letty, tidak mempermasalahkan jika para pelayannya mengganggu Elin juga memintanya untuk melakukan hal-hal yang dibatas wajar.


Hari ini, Elin kedapatan bertugas untuk menyikat kamar mandi lagi. Ini adalah pekerjaan ang paling Elin benci karena dia harus menyikat lantai sambil duduk di ubin yang lembab dan dingin karena ia masih berpura-pura lumpuh didepan semua orang dalam rumah itu.


Jika Elin ditinggalkan dengan pekerjaan itu begitu saja, mungkin dia bisa menyikat kamar mandi sambil berjongkok atau berdiri dan membungkuk layaknya orang normal biasa. Namun sayangnya, saat Elin melakukan sesuatu ia selalu diperhatikan oleh salah satu pelayan yang menyebalkan.


"Kau harus menyikat yang itu juga, bo doh!" Pelayan yang bernama Debora itu menunjuk ke arah lain sambil mengumpat Elin, dia bahkan tidak memiliki sedikit saja empati pada Elin yang harus menyeret tubuhnya ke arah yang dia maksud. Meski Elin tidak benar-benar lumpuh, tapi seharusnya Debora memiliki hati nurani untuk Elin yang dia ketahui tak bisa berjalan, namun nyatanya tidak. Dia memang yang paling keterlaluan.


"Debora, jangan terlalu memaksanya!" cicit Sofie, salah seorang pelayan yang lain. Elin rasa, hanya wanita itu yang memiliki sedikit rasa kemanusiaan.


"Tidak usah mengasihaninya. Bukankah dia sudah ditebus mahal oleh nyonya? Dia hanya budak dan Nyonya Letty juga tidak akan menyalahkan kita jika kita benar-benar menyiksanya."


"Terserah kau saja. Aku hanya memperingatkanmu karena jika terjadi sesuatu pada Sherin, kau akan terlibat dalam sebuah masalah. Apalagi Tuan Nathan selalu memperlakukannya berbeda."


"Ah, aku tidak peduli. Kapan lagi aku bisa menyuruh-nyuruh orang lain? Biasanya hanya aku yang diperintah ini dan itu."


"Tapi kau juga tak boleh melampiaskannya pada Sherin. Ingat, dia itu penyandang disabilitas. Jangan terlalu memberatkannya."


Elin hanya diam mendengar perdebatan antara Debora dan Sofie yang memang sering terjadi. Ia pun melanjutkan untuk terus menyikat kamar mandi--sampai suara seseorang yang sekarang tak asing lagi ditelinga--mulai terdengar memasuki dapur.


"Mana Sherin?" Itu adalah Nathan.


Dan Elin bersyukur karena pemuda itu datang tepat pada waktunya sebab Elin sudah merasa tidak tahan lagi untuk terus melanjutkan pekerjaannya sebab dia mulai menggigil.


"Dia ... dia ada di kamar man--mandi, Tuan." Sofie yang menyahut, sementara Debora terlihat berkilah dengan berpura-pura ikut menyikat dinding kamar mandi, padahal sejak tadi wanita itu hanya duduk memperhatikan Elin yang bekerja.


"Astaga, Sherin!" Nathan langsung berderap masuk ke kamar mandi tersebut, melewati tubuh tambun Debora begitu saja lalu mengangkat tubuh Elin dan didudukkan di kursi rodanya.


"Apa yang kalian lakukan!" sentak Nathan tak terima.


"Dia hanya diminta menyikat kamar mandi oleh Nyonya Letty," jelas Debora dengan raut takut-takut.


"Sh ii t!" Nathan mengumpat, entah ditujukan untuk siapa tapi Elin yakin jika dia geram atas kelakuan neneknya sendiri.


"Ayo ku antar ke kamarmu," ujar Nathan yang kemudian mendorong kursi roda Elin menuju letak kamar gadis itu yang ada di dekat lorong menuju paviliun pelayan.


"Kau tidak apa-apa?"


Elin menggeleng, dia mengulas senyuman tipis menyadari raut kekhawatiran yang diusung Nathan.


"Thank you, tapi bisakah kau jangan menunjukkan ekspresi seperti itu."


"Aku mengkhawatirkanmu," jawab Nathan yang kembali membantu Elin untuk naik ke tempat tidur.


Elin menggeleng. "Tidak perlu mengkhawatirkan budak seperti aku," katanya."


"Aku tidak bisa."


"Kalau memang kau peduli padamu, bisakah aku mempercayaimu satu hal."

__ADS_1


"Apa?" tanya Nathan tampak bersemangat.


"Aku memiliki kerabat di Hamburg. Bisakah kau membantuku untuk menghubungi mereka."


Nathan tampak terdiam lama, ia tidak rela jika gadis yang dia ketahui bernama Sherin ini pergi dari kediaman neneknya begitu saja. Bukankah jika Nathan menelepon kerabat yang dimaksud itu sama saja dengan mengembalikan Sherin ke tempat asalnya?


"Kau tidak bisa ya?"


Nathan meneguk salivanya dengan sulit. Ini seperti pilihan yang berat. Namun ia tak boleh egois karena untuk apa gadis ini berada disini jika dia selalu disiksa. Bahkan Nathan tak tega melihatnya.


"Aku akan membantumu," jawab Nathan mantap. "Tapi, kenapa kau baru mengatakannya sekarang? Kau bahkan sudah menghabiskan waktu nyaris satu tahun berada disini dan tidak pernah bilang bahwa kau memiliki kerabat yang bisa dihubungi. Jika kau mengatakannya lebih awal, mereka juga bisa lebih cepat untuk membebaskanmu dari rumah nenekku!" sambungnya kemudian.


"Thank you." Elin menatap Nathan dengan serius dan dua iris mata berwarna hazel itu turut membalas tatapannya. "Aku butuh waktu yang cukup lama, agar orang yang menjebakku lengah dan tidak mencurigai ku lagi. Aku juga butuh waktu untuk meyakinkan diriku sendiri, bahwa kau adalah orang yang dapat ku percaya dalam hal ini," lanjutnya.


"Of course, aku mempercayaimu sejak awal."


"Meskipun aku sudah membohongimu?" tanya Elin memastikan.


Nathan tidak menjawab, sampai akhirnya ia bersuara setalah beberapa detik terdiam.


"Jika kau membohongiku, aku tetap percaya padamu bahwa kau memiliki alasan yang kuat untuk melakukan hal itu."


Tatapan Nathan sangat meyakinkan Elin sehingga dengan satu tarikan nafas didetik berikutnya, Elin mengatakan jati dirinya yang sebenarnya.


"Kau tidak salah mengenaliku. Aku memang Elin yang sempat kau kenal," akuinya.


Kelopak mata Nathan melebar, ia terpana beberapa saat mendengar pengakuan Elin dan kedua sudut bibirnya langsung membentuk senyuman yang tidak bisa ia tahan lagi.


"Jadi kau benar-benar Elin? Oh, God ... Bagaimana bisa kau berada ditempat perbudakan itu?"


Nathan langsung menutup bibirnya sendiri.


"Ups, sorry."


"Ceritanya panjang, kapan-kapan aku akan menceritakannya padamu."


Nathan tampak semringah sekali, kemudian dia mengingat satu hal terakhir ketika ia bertemu dengan Elin di 2 tahun yang lalu.


"Kau tidak jadi menikah? Bukankah pria yang menjemputmu waktu itu mengatakan jika kau adalah calon istrinya? Atau jangan-jangan dia yang menyebabkanmu seperti ini dan harus berada diposisi ini?" serobot Nathan tak tanggung-tanggung.


Elin menggeleng samar. "Harusnya aku memang menikah dengannya tapi karena semua kejadian yang menimpaku, semuanya jadi be--ran--takan." Elin berucap dengan berat dan tersendat-sendat, kembali ia mengingat Javier. Entah apa nasib pria itu sekarang setelah pernikahan mereka gagal. Apa Javier mengira Elin sengaja pergi meninggalkannya? Atau justru Javier mencarinya kemana-mana? Entahlah.


"Mungkin kau memang belum berjodoh dengannya, Elin."


Elin tersenyum lembut. "Belum bukan berarti tidak, Nath ..." tuturnya.


"Itu artinya kau masih berharap untuk menjadi istri dari pria itu?"


"Bisakah kita membahas hal yang tadi ingin ku mintai pertolonganmu saja?"


"Kenapa?" Nathan mengernyit karena Elin ingin menghindar dari pembicaraannya.

__ADS_1


Elin bukan tak dapat menilai jika Nathan kembali mengharapkannya setelah tau jika dia adalah Elin. Apalagi, pemuda itu tau jika kini Elin dan Javier gagal menikah.


"Kau terlalu muda untuk membahas soal pernikahan," ujar Elin berkelakar.


Nathan bersungut-sungut. "Awal tahun nanti umurku sudah 20 tahun dan kau masih juga menganggapku bocah seperti dulu? Bahkan aku tidak mengenakan seragam itu lagi," katanya merujuk pada pakaian sekolahnya.


"Sudahlah, Nathan. Aku sedang tak mau membahas hal ini dulu. Bisakah kau membantuku saja?"


"Ya tentu. Apa yang bisa ku lakukan?"


Elin meminta agar Nathan menghubungi keluarganya. Keluarga mana lagi yang Elin punya, tentu saja keluarga Javier di Hamburg. Tapi Elin tak mengatakan hal itu pada Nathan demi menjaga privasi dan perasaan Nathan sendiri tentunya.


"Mereka akan mengganti biaya yang sudah dikeluarkan Nenekmu untuk menebusku waktu itu." Elin yakin jika Elara akan selalu membantunya meski kini Elin sudah tak mendengar kabar tentang keluarga itu lagi. "... dengan kata lain, mereka akan menebusku dari rumah nenekmu ini, Nath," sambungnya.


Akan tetapi, Nathan menolak ide Elin. Ia merasa Elin berhak keluar dari rumah neneknya secara baik-baik.


"Kau jelas bukan seorang budak. Kau memiliki hak asasi untuk keluar dari rumah nenekku sebagai Elin bukan sebagai Sherin yang mereka anggap seorang budak."


"No!" Elin menggeleng-gelengkan kepalanya. "Cukup hanya kau yang tau identitas ku yang sebenarnya. Jangan biarkan siapapun tau. Nenekmu atau pelayan di rumah ini."


"Why?" lirih Nathan.


"Karena aku sedang menyembunyikan identitas ku. Jika aku keluar dari sini sebagai Elin maka orang-orang jahat yang pernah menjualku ditempat perbudakan itu akan tau bahwa aku masih hidup dan tidak menjadi budak lagi."


Nathan pikir yang dikatakan Elin ad benarnya. Meskipun Nathan tidak mengetahui siapa orang jahat yang Elin maksud tapi ia menghargai keputusan Elin yang tak mau identitas aslinya terbongkar.


"Baiklah. Bagaimana soal kelumpuhan mu?"


Elin menggeleng. "Aku bisa berjalan," katanya pelan.


"Really?"


"Yeah."


"Aku senang menjadi orang pertama yang kau beritahu soal kenyataan ini."


"Jangan berlebihan, Nath!"


"Baiklah, aku akan menghubungi kerabatmu untuk mengatakan mengenai dirimu. Tapi, aku tidak mau Nenek curiga jika tiba-tiba ada orang yang mau menebusmu disini, jadi aku akan menyiapkan siasat untuk membantumu."


"Sekali lagi, aku mengucapkan terima kasih yang besar untukmu, Nath. Kau pemuda yang baik."


"Maka pertimbangkanlah aku untuk menjadi---" Ucapan Nathan tak berlanjut karena tiba-tiba saja seseorang memanggil nama pemuda itu.


"Nathan! Nathan! Kau dimana?" Itu adalah Letty yang mencari sang cucu.


"0Pergilah, Nath. Nenekmu akan marah besar jika tau kau berada disini."


Nathan berdecak lidah sekilas, sebelum akhirnya berucap pelan,


"Thank you kau sudah mempercayaiku. Aku tidak akan mengecewakanmu dan aku akan membantumu bebas dari perbudakan ini."

__ADS_1


Nathan pun segera berderap pergi sebelum Neneknya menyadari jika sejak tadi Nathan ada dikamar Elin yang dia panggil dengan sebutan 'Sherin'.


...Bersambung.......


__ADS_2