SEBATAS TEMAN TIDUR

SEBATAS TEMAN TIDUR
55. Sebuah Video (Author POV)


__ADS_3

Sudah 2 tahun berlalu, dan seiring dengan waktu yang terus bergulir itu, pasti ada cukup banyak perubahan yang terjadi.


Semuanya tak mungkin sama seperti apa yang pernah ada di 2 tahun ke belakang.


Salah satunya adalah mengenai hidup Javier yang juga berubah setelah gadis yang akan dinikahinya ditemukan dalam kondisi tak bernyawa.


"Tuan, ada telepon dari ibu anda di Hamburg," ujar Jack yang setia mengikuti kemanapun Javier pergi.


"Hm, sambungkan padaku."


Javier menekan tombol yang ada di tablephone untuk menerima panggilan masuk dari ibunya.


"Jav? Apa kau baik-baik saja? Ibu mencoba menelpon ke ponselmu tapi selalu tidak tersambung," ujar Elara dari seberang sana.


"Aku malas mengaktifkan ponselku, Bu."


"Kenapa? Apa ada yang kau hindari?"


"Sudahlah, Bu. Aku tidak mau membahasnya."


"Ibu tau kau menghindari Vivian. Jangan begitu, Jav. Kau harus bisa membuka hatimu untuk dia."


"Kalau tidak ada hal penting, aku akan menutup teleponnya, Bu."


terdengar decakan Elara diseberang sana. "Ibu hanya mau kau hidup normal lagi, jangan seperti robot yang tidak peduli pada apapun. Hidupmu bukan hanya untuk bekerja, lalu menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk tidur berlama-lama."


"Maaf Bu, aku akan menutup telponnya." Dan Javier berkata bukan hanya untuk menggertak, melainkan dia benar-benar meletakkan gagang telepon di tempatnya hingga panggilan itu terputus.


Yang dikatakan Elara tentang Javier memang benar. Pria yang dulu sulit tidur karena merasa trauma dengan masa lalunya itu, kini justru lebih sering tertidur dan menghabiskan berjam-jam hanya untuk larut dalam dunia mimpinya.


Javier sadar jika ucapan ibunya tadi tidak salah, sejak pemakaman Elin waktu itu Javier mengalami kesedihan yang mendalam. Dia kehilangan rasa takut karena apa yang dia takutkan sudah terlanjur terjadi.


Begitupun soal traumanya dalam tidur. Jika dulu Javier merasa takut untuk tidur lelap tanpa Elin--karena terbayang masa lalu dimana terjadi kebakaran besar di villa neneknya--sekarang ketakutan itu sudah sirna, digantikan dengan dia yang selalu ingin tidur tanpa bisa terbangun lagi.


Ya, Javier seputus asa itu. Ia merasa semua orang yang dekat dengannya akan mengalami kesialan dan akhirnya pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya.


Kendati demikian, jika Javier merasa sudah lebih baik setelah menghabiskan waktunya berlama-lama dengan tidur, maka dia akan kembali ke realitas hidup hanya untuk menyibukkan diri dengan bekerja dan bekerja.


Itulah sebabnya Elara menjuluki Javier seperti robot sekarang.


Telepon diatas meja Javier kembali berdering, membuat pria itu jengah sendiri.


"Apa lagi Jack? Jika ini telepon dari ibuku lagi maka nanti saja menyambungkannya," ujar Javier pada Jack.

__ADS_1


"Tapi ibu anda mengatakan ada hal penting, Tuan."


"Sudahlah, nanti saja," hindar Javier.


Javier tidak tau jika Elara mau menyampaikan berita yang baru saja diterimanya beberapa detik lalu mengenai Elin.


Karena Javier tak mau menerima teleponnya, Elara berinisiatif untuk mengurus hal ini tanpa Javier. Meski dia ragu atas berita yang baru saja dia terima mengenai Elin yang masih hidup, tapi ia tetap harus memastikannya.


...****...


"Hallo, Mrs. Gladwin ... aku adalah Nathan, orang yang meneleponmu tempo hari."


Elara tersenyum tipis pada pemuda yang memperkenalkan diri padanya saat ini. Elara tak ingin ditipu oleh orang-orang yang mau memanfaatkannya, sehingga Elara mengajak Nathan bertemu disebuah Restoran terbuka dan didampingi beberapa orang yang mengawalnya.


"Aku tidak punya banyak waktu, jadi bicaralah langsung mengenai hal pentingnya saja." Elara berucap dengan penuh ketenangan pada Nathan membuat pemuda itu sungkan sendiri.


"Baiklah, Nyonya."


Nathan tidak pernah tau mengenai Elara yang adalah ibu kandung Javier--pria yang harusnya menikahi Elin--yang Nathan tau adalah jika wanita didepannya ini merupakan kerabat Elin yang pasti akan membantunya. Nathan tidak menyangka jika ternyata Elin mempunyai kerabat dari keluarga terpandang seperti Elara.


"Kau mengatakan bahwa budak di rumah Nenekmu adalah kerabatku yang bernama Elin dan dia ingin meminta bantuan ku untuk menebusnya?" Elara menahan senyumnya karena mengira Nathan sedang mengada-ada.


"Yeah. Kau pasti mengenal Elin, Nyonya. Dia bahkan memberikan alamat rumahmu agar aku bisa mengirimkan surat mengenai info ini," papar Nathan.


"No! Elin masih hidup, dia ada dirumah nenekku. Kau harus menolongnya dengan menebusnya, Nyonya!"


Elara tertawa pelan. Tawa yang terdengar renyah sekali. "Kau cukup tampan, tapi lebih bagus kau mencari pekerjaan lain dan jangan menipuku, Nak," tukasnya.


"Aku tidak menipumu. Aku memiliki buktinya."


Elara menipiskan bibir. "Elin sudah meninggal dan aku menyaksikan pemakamannya didepan mata kepalaku sendiri. Entah siapa yang kau maksud dan meminta ditebus olehku... tapi maaf, aku tidak bisa mempercayaimu."


Elara berdiri, menganggap pertemuannya dengan Nathan hari ini hanyalah bermain-main dan cuma membicarakan hal konyol saja.


"Aku tidak menemuimu hanya untuk berkata omong kosong, Nyonya. Ada baiknya kau melihat dulu bukti yang akan aku tunjukkan."


Ucapan Nathan mampu membuat Elara terdiam padahal dia sudah berdiri untuk beranjak dari tempat itu.


"Coba lihatlah video ini. Kau bisa menilai jika dia Elin atau bukan. Seseorang menjebaknya dan bisa ku pastikan jika yang kau saksikan dalam pemakaman bukanlah jasad Elin yang sebenarnya," tukas Nathan sembari memperlihatkan ponselnya pada Elara.


Elara melihat apa yang sedang Nathan tunjukkan melalui Smartphone itu. Matanya terbelalak melihat seorang gadis yang sangat dikenalinya ada disana.


"Bibi, aku tau kau tidak akan mempercayai Nathan begitu saja. Untuk itu aku membuat video ini agar kau mengetahui jika aku benar-benar Elin yang kau kenal. Aku tidak tau apa yang kalian pikirkan mengenai aku yang sudah lama menghilang. Aku juga tidak tau apa kalian mencariku atau tidak. Tapi, aku hanya meminta bantuan dan belas kasihmu, tolong bantu aku keluar dan bebas dari tempat ini, Bibi."

__ADS_1


Nathan menjeda videonya setelah melihat Elara terpana akan ujaran Elin dari rekaman tersebut.


"Bagaimana bisa?" lirih Elara.


"Yah, dia sudah berada satu tahun dikediaman nenekku. Sebagai budak," jelas Nathan.


"Apa?" Mata Elara terbelalak. "Bu-budak?" tanyanya memastikan.


"Yah."


"Kenapa kau mau menolongnya?" tanya Elara dengan suara tercekat.


Nathan hanya tersenyum merespon pertanyaan wanita paruh baya itu.


"Apakah aku bisa melihatnya dan memastikan sendiri jika dia dalam keadaan sehat?" tanya Elara kemudian.


Nathan mengangguk. "Tapi kau harus mengeluarkannya sebagai Sherin, bukan Elin," pintanya.


"Maksudmu?" Elara mengernyit dalam.


"Mengenai Elin yang tiba-tiba ada di tempat perbudakan lalu dibeli oleh nenekku, juga tentang seseorang yang dimakamkan, yang anda kira itu adalah Elin yang sudah meninggal. Aku pikir ada pihak yang memang sengaja menyusun semua rencana ini. Elin dibuat seolah-olah meninggal didepan Anda, Nyonya. Ku pikir semua itu agar tidak ada kerabat yang mencari keberadaan Elin lagi. Ini sudah jelas kan jika ada pihak yang sengaja melakukannya?" papar Nathan.


Elara terdiam, mencerna segala yang Nathan katakan dan ia menyimpulkan jika semua itu masuk diakal.


"Kau benar."


"Maka dari itu, biarkan Elin tetap memakai nama Sherin. Anggaplah dia budak yang kau tebus dari rumah nenekku. Ini bukan permintaanku tapi permintaan Elin sendiri yang hanya berjaga-jaga untuk keselamatan dirinya. Elin takut jika orang jahat yang mencelakainya masih memantau keberadaannya dan mengetahui bahwa dia sudah ingat semuanya."


Nathan menarik nafas sejenak.


"Karena selama ini Elin berpura-pura amnesia, dia juga berlagak lumpuh untuk melindungi dirinya sendiri."


"Ya Tuhan ..." Elara tidak menyangka jika nasib Elin sepelik dan semenyedihkan ini.


"Kapan Anda mau menemuinya, maka segera katakan padaku agar aku bisa mengatur waktu pertemuannya."


"Hari ini juga, Nak."


Nathan sedikit terkejut dengan pernyataan Elara. "Really? Itu artinya kau sudah benar-benar percaya dengan penjelasanku?" tanyanya.


"Ya. Aku mempercayaimu."


...bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2