SEBATAS TEMAN TIDUR

SEBATAS TEMAN TIDUR
65. Ekstra Part 2


__ADS_3

Javier dan Elin berjalan menyusuri pinggiran pantai tanpa mengenakan alas kaki mereka. Angin berhembus semilir dengan matahari yang tidak terlalu terik.


Javier menghentikan langkah mereka, kemudian memegang kedua pundak istrinya, dia menatap manik mata Elin lamat-lamat, membuat Elin penasaran apa yang ingin Javier katakan kepadanya.


"Ada apa?" tanya Elin.


"Aku sudah menemukan Liam," jawab Javier memulai.


Elin mengerjapkan matanya, namun sesaat setelahnya dia melengos dan membuang pandangan ke arah samping.


"Aku akan menghukumnya. Menurutmu, apa yang harus ku---"


"Terserah padamu saja, Kak!" sela Elin dengan tampang jengah.


"Kau yakin tidak mau menemuinya dulu? Bagaimanapun dia tetaplah Kakakmu," kata Javier.


Elin tersenyum sinis. "Kakak? Aku tidak pernah merasa jika dia adalah kakakku."


"Kau tidak menganggapnya sebagai kakakmu karena dia sudah menjualmu, lalu merencanakan kecelakaan waktu itu?"


"Yah, itu faktor terkuat. Tapi dia juga tidak pernah menganggapku. Jauh sebelum hari itu ... aku sudah lebih dulu membencinya. Dulu aku sempat menganggapnya, berfikir jika dia adalah seorang kakak yang mampu melindungiku sebagai adiknya. Tapi ternyata dia sangat jahat. Dia menyiksaku. Dia memukuliku setiap hari tanpa belas kasih," ungkap Elin yang sejurus kemudian menitikkan airmatanya.


Javier terenyuh atas kenyataan ini, dia juga baru mengetahui jika Elin mengalami penyiksaan seperti itu dari Liam, bahkan ketika Elin masih tinggal di rumah orangtuanya sendiri.


"Apa bekas luka diperutmu juga karena ulahnya?" tanya Javier. Tadinya dia cukup penasaran kenapa di perut Elin ada semacam kulit yang agak menghitam, Javier pikir itu adalah bekas dari kecelakaan Elin waktu itu, makanya dia tidak menanyakannya lebih lanjut, tapi mendengar pengakuan Elin sekarang Javier jadi ingin mengetahui kebenarannya.


"Ya, itu karena dia meletakkan setrika panas di perutku."


Javier terbelalak. Seperti apa kehidupan Elin sebelum bertemu dengannya? Javier memang tak pernah menanyakannya.


"... sejak saat itu, aku selalu menganggap Liam tidak lebih dari orang asing. Aku tidak mau bertemu dengannya, karena dia akan selalu memanfaatkan perasaanku untuk memberinya pengampunan," tandas Elin.


"Baiklah. Kalau begitu, aku artikan ucapanmu ini sebagai tanda bahwa kau menyerahkan semua keputusan mengenai Liam kepadaku."


Elin mengangguk mantap dan disaat itu juga Javier membawa Elin ke dalam dekapannya.


"Pastikan agar aku tidak perlu bertemu dengannya dilain hari. Aku tidak mau melihatnya sampai kapanpun lagi." Elin tersengguk-sengguk didalam pelukan Javier dan pria itu mengangguk sebagai respon atas ujaran istrinya.


...***...


Irina menangis setiap hari memohon ampunan dari wanita yang ia ketahui bernama Carla. Irina tau jika wanita tomboi ini adalah bodyguard yang mengalami kecelakaan bersama Elin, 2 tahun yang lalu. Sehingga, tanpa perlu dijelaskan oleh Carla mengenai kesalahannya, Irina sudah langsung sadar diri dan merasa takut atas pembalasan Carla terhadapnya.


"Harus berapa kali aku meminta maaf padamu, Nona. Aku mohon kau memaafkan aku. Ampuni aku dan jangan siksa aku seperti ini lagi." Irina menjerit diujung kalimatnya karena sebuah benda penuh duri kembali menusuk-nusuk tapak kakinya yang sudah berdarah-darah. Benda itu akan menekan otomatis dikakinya setiap beberapa menit sekali.


Carla tak menggubris ujaran Irina sama sekali, ia hanya tersenyum masam setiap kali wanita itu meminta pengampunannya.


"Atau, lebih baik kau bunuh saja aku. Aku sudah tidak kuat menahan rasa sakitnya. Jangan siksa aku lagi." Irina kembali berbicara setiap bendanya terlepas dan kembali memekik jika benda yang sama menusuk kakinya.

__ADS_1


Irina merasa lebih baik dia mati ketimbang merasakan kesakitan yang terus menerus seperti ini. Dia benar-benar tersiksa. Belum lagi kakinya seperti sudah tak bisa ia gerakkan. Hanya ada rasa sakit.


"Ini belum seberapa," tukas Carla yang akhirnya berbicara. "Lagipula, kau memang akan mati nanti, tapi ini belum waktunya," sambungnya menekankan.


Mendengar ujaran Carla justru membuat Irina menahan nafas. Meski ia tau pada akhirnya ia akan diha-bi-si. Tapi, tetap saja hal itu membuat jantungnya berdegup kencang.


Sebuah dorongan pintu yang keras, membuat Irina dan Carla refleks menoleh ke arah pintu masuk.


Disana, ada Javier yang baru tiba untuk melihat apa yang Carla perbuat pada Irina.


"Jav. Tolong, tolong lepaskan aku, bantu aku, Jav!" jerit Irina yang antusias melihat kedatangan Javier. Dia pikir Javier mau memaafkannya? Apa dia sudah gila? Justru Javier akan jauh lebih kejam memperlakukannya ketimbang apa yang Carla lakukan, hanya saja dia masih tidak mau mengotori tangannya karena Irina. Dia hanya menunggu tahap akhir karena keputusan memang berada ditangannya.


"Jav, ku mohon, Jav! Aku akan melakukan apapun untuk menebus segala kesalahanku!"


Javier mengabaikan segala yang Irina ucapkan, dia menatap pada Carla diujung sana. "Apa kau sudah puas menghukumnya?" tanyanya pada wanita tomboi itu.


"Saya masih mengincar tangannya, Tuan," jawab Carla.


Mendengar itu, Irina menelan salivanya dengan sulit. Apa maksud Carla? Apa setelah tapak kakinya, maka tusukan-tusukan ini juga akan dirasakan oleh tangannya juga?


"Tolong bunuh saja aku sekarang!" kata Irina dengan pasrah.


Javier malah tertawa sumbang mendengarnya.


"Kau pikir, semua ini kau yang menentukan?" Javier semakin terkekeh.


Javier menatap Irina lekat-lekat. "Kau lihat aku, kan?" tunjukknya pada diri sendiri. "Aku ... yang berhak menentukan kelanjutan hidupmu!" tukasnya menekankan.


"Ingatlah rencana awal kita, Tuan," kata Carla mengingatkan.


Javier kembali berdiri tegak, merapikan pakaiannya yang nyaris kusut karena perbuatannya sendiri.


"Baiklah, kau urus dia. Semakin berdarah semakin bagus," kata Javier disertai seringaian yang tampak mengerikan. Mata Irina membola melihatnya.


"Apa rencana kalian?" tanya Irina sebelum Javier meninggalkan tempat itu.


Javier mengendikkan bahu cuek, kemudian Carla menyahut.


"Menjadikanmu pangan untuk harimau."


"Kalian pasti bercanda, kan?" Irina tertawa sumbang yang terdengar sangat getir.


"Tuan Gladwin tidak pernah main-main saat memutuskan sesuatu." Carla bersedekap, menatap Irina dengan tatapan mencemooh.


"Jangan. Jangan!!!" Jeritan Irina seperti sound pengiring langkah Javier yang berjalan meninggalkan tempat itu.


...***...

__ADS_1


Yang kedua Javier kunjungi hari ini adalah Liam. Karena Elin juga sudah menyerahkan keputusan kepadanya maka Javier datang kesana dengan sepasang sarung tangan yang sudah ia kenakan.


Liam tampak dalam posisi tergantung yang sama seperti dua hari yang lalu. Bedanya, kini dia lebih lemah membuat Javier menyunggingkan senyum smirk khas-nya.


"Javier ..." Liam bersuara dengan suara beratnya.


"Hmm?" Javier bergumam merespon panggilan Liam.


"Jangan menghukumku lebih berat dari ini."


"Aku tau. Maka hari ini hukumanmu akan dihentikan."


"Benarkah?" Liam tampak semringah dari posisinya yang terbalik saat melihat keberadaan Javier dibawah sana.


"Ya. Kau tau kalau aku selalu merealisasikan ucapanku," jawab Javier.


"Kalau begitu, segera lepaskan ikatanku ini. Kau tau, aku merasa sangat tersiksa dalam posisi ini. Aku bahkan tidak bisa menghitung waktunya, tapi aku merasa ini sudah terlalu lama."


"Yeah, kau benar. Aku juga tak mau berlama-lama lagi."


Javier meraih pistolnya dan mengokang nya saat itu juga. Menyadari hal itu, Liam pun berusaha melepaskan diri, dia menggeliat dalam posisinya yang terikat.


"Jav... Jav apa yang aku lakukan?"


"Membebaskanmu dari rasa sakit, melepaskanmu dari hukuman," jawab Javier dengan suara serak khas-nya.


Javier mengarahkan pistolnya ke arah Liam diatas sana, menjadikan pria itu targetnya.


"Aku memberimu 2 opsi, yang pertama adalah aku menembak kepalamu dan yang kedua adalah aku memutuskan urat lehermu."


Liam meraung-raung memohon pengampunan Javier yang tidak Javier gubris sama sekali. Dia tetap melanjutkan ujarannya pada pria yang harusnya menjadi kakak iparnya tersebut.


"Namun opsi hanyalah opsi, Liam. Nyatanya, tetap aku yang menentukan," gumam Javier, dan DOR ... dia menekan pelatuknya saat itu juga, membuat peluru langsung bersarang di kepala Liam.


Darah menetes seiring dengan kepala Liam yang tertembak, namun Javier masih menyaksikan jika pria itu masih bernafas.


Javier merasa belum puas dengan sekali tembakan saja. Dalam pikirannya, selalu terbayang bagaimana penyiksaan yang Liam lakukan pada Elin, hingga karena siksa itulah yang menyebabkan bekas luka ada ditubuh istrinya.


DOR !


DORR!!!


2 peluru berikutnya kembali melesat, sekaligus membuat Liam meregang nyawa saat itu juga. 1 di jantung Liam dan yang satunya lagi di leher pria itu.


Javier menyeringai puas. Dilemparkannya pistol yang dia jadikan alat untuk mengeksekusi Liam kemudian mencampakkan sarung tangannya juga.


Javier keluar dari ruangan pengap itu dan berujar pelan pada Willy yang berdiri disisi pintu.

__ADS_1


"Urus dia dan bersihkan semuanya."


...****...


__ADS_2