
Javier memasuki kediaman orangtuanya begitu ia tiba di Hamburg pada hari yang sama.
"Jav?" Elara menyambut kepulangan putranya. Senyum wanita itu seolah menunjukkan aura kebahagiaan yang terpancar jelas hingga dapat dirasakan oleh Javier.
"Apa ibu sebahagia itu saat melihatku kembali?" tanya Javier yang mengulumm senyumnya karena melihat respon Elara yang berlebihan.
"Ya, ibu sangat merindukanmu. Sini, peluk ibu, Boy!"
Javier menggeleng samar atas ungkapan sang ibu, ia menahan geli karena sikap aneh ibunya, namun akhirnya ia menghampiri Elara juga kemudian memeluk wanita yang telah melahirkannya tersebut.
"Kau terlihat banyak pikiran. Ibu tidak suka melihatmu seperti ini."
"Apa kelihatan sekali, ya? Pekerjaanku sangat banyak akhir-akhir ini, Bu."
"Bukan pekerjaanmu yang banyak, tapi kau yang sengaja mencari-cari hal untuk kau kerjakan."
Javier menipiskan bibir. "Dimana Daddy, Bu? Kenapa dia begitu mendesakku untuk pulang?" tanyanya.
"Dimana lagi Daddy mu, pasti dia sedang di halaman belakang dan memberi makan ikan-ikannya," jawab Elara dengan senyuman.
Javier menghela nafas singkat. "Baiklah, aku akan menemuinya disana. Sepertinya dia sedang kesepian karena tidak berdebat denganku selama dua Minggu kepergianku," kelakarnya.
Javier hendak beranjak, namun Elara mencekal pergelangan tangan pria itu.
"Sebelum kau ke halaman belakang, bolehkah ibu menanyakan sesuatu lebih dulu."
Javier kembali menoleh pada sang ibu, bahkan kini dia mengernyit cukup dalam hanya karena merasa jika ibunya mulai serius saat ini.
"Mengenai apa, Bu?"
"Soal Vivian." Elara berharap Javier paham apa yang ingin dia tanyakan, meski dia belum memberikan pertanyaan secara gamblang pada putranya itu.
"Aku sudah mengatakan pada ibu. Aku tidak bisa, Bu." Dan ternyata Javier mengerti maksud ibunya.
"Apa ini masih ada hubungannya dengan kau yang belum bisa melupakan Elin?"
Javier mengesah panjang. "Aku tidak mau membahasnya, Bu."
"Apakah perasaanmu pada Elin masih sama seperti dulu?" tanya Elara menuntut jawaban jujur dari mulut putranya.
"Yah. Aku belum bisa mengatasi permasalahan mengenai hatiku sendiri. Aku tidak pernah berpikir untuk menikah selain dengan Elin, jadi maaf ... ku pikir aku tidak akan pernah bisa membuka hati untuk gadis manapun lagi. Meski itu Vivian sekalipun."
Elara sudah membuka mulutnya untuk merespons pernyataan Javier, tapi pria itu kembali bersuara.
"... jangan paksa aku lagi, Bu." Javier menggeleng-gelengkan kepalanya. "Karena aku tidak akan bisa bersama Vivian, aku tidak mau menyakitinya lebih dari dalam lagi, aku tak mau dia semakin berharap padaku, ku rasa semuanya sudah cukup," paparnya menekankan.
Elara mengangguk. "Yah, kali ini ibu tidak akan memaksamu lagi. Ibu akan menutup hal mengenai Vivian dan semua keputusan berada di tanganmu."
"Oke, Bu. Aku akan menemui Daddy di halaman belakang," putus Javier.
"Ibu akan menelepon Aunty Connie dan akan mengatakan bahwa kau dan Vivian tidak dapat bersama."
"Thank, Bu."
Javier pun berjalan meninggalkan Elara, tanpa pernah ia ketahui bahwa yang akan dia temui dihalaman belakang bukanlah sang Ayah, melainkan gadis yang sudah membuatnya merasakan kehilangan teramat sangat.
...****...
__ADS_1
Shane dan Elara mengatakan pada Elin bahwa Javier akan pulang hari ini juga. Untuk itu, Elin bersiap untuk menemuinya.
Sebelumnya, gadis itu mandi dan mematut diri didepan cermin. Dia tidak tau apakah Javier masih memiliki perasaan yang sama dengannya atau tidak. Tapi, tentu Elin berharap bahwa pria itu tetap mencintainya.
Elin pikir, waktu selama 2 tahun mungkin bisa merubah segalanya. Termasuk perasaan pria itu terhadapnya, jadi Elin juga harus menyiapkan diri jika nanti Javier sudah tak mencintainya lagi.
Elin menunggu Javier di halaman belakang. Ia duduk disebuah kain kemah yang sengaja ia bentangkan diatas rerumputan disana.
Elin menata banyak makanan dan minuman diatas kain kemah itu. Agar suasana sore ini bisa ia nikmati layaknya bertamasya disana bersama pria yang amat ia rindukan selama 2 tahun belakangan.
Elin mau menyaksikan pemandangan matahari terbenam bersama Javier dari tempat itu, meski itu hanyalah halaman belakang kediaman Shane dan Elara dan bukan kategori tempat yang romantis--tapi ia tetap mau menciptakan momen berkesan karena ini merupakan pertemuan kembali antara dia dengan Javier setelah cukup lama tak bersua.
"Minuman sudah, snack juga sudah. Kurang apalagi ya?" Elin bergumam sambil mengetuk jari di dagunya sendiri.
Elin merasa jauh lebih baik setibanya ia di Mansion kedua orangtua Javier semalam. Ia tidur dengan nyenyak bahkan makan dengan layak. Sampai akhirnya, ia mendengar kabar bahwa Javier akan tiba sore ini di tempat yang kini ia tinggali.
"Uhm, sepertinya bagus jika ada buah." Elin tau Javier sangat menyukai buah jeruk. Sepertinya ia akan kembali ke dapur untuk mengambil jeruk di lemari pendingin.
Ketika Elin tiba di dapur, ia mendengar suara Elara yang tengah berbicara dengan seseorang. Dari suaranya, itu adalah Javier.
Dapat mendengar suara itu lagi seperti sebuah anugerah bagi Elin. Dalam posisinya yang berada didepan kulkas, gadis itu meneteskan airmata haru. Betapa ia merindukan pemilik suara itu.
Bayangkan saja, selama dua tahun ini ia tidak bertemu Javier, bahkan tidak berkomunikasi dengan pria itu. Ini adalah momen yang paling Elin tunggu-tunggu.
Elin tau Javier tidak dapat melihat keberadaannya di dapur, sehingga Elin dengan cepat mengambil jeruk yang ingin dia tata di kain kemahnya.
Elin juga tidak mendengar jelas apa yang Elara dan Javier bicarakan karena mereka ada diruang yang cukup berjarak dengan dapur yang saat ini Elin singgahi, lagipula Elin memang tidak berniat untuk menguping disana, jadi dia hanya fokus pada jeruk-jeruk yang mau diambilnya.
Bersamaan dengan Elin yang berjongkok untuk menyusun jeruk dalam keranjang buah, disaat itulah Javier berjalan ke arah halaman belakang. Sehingga Javier tetap tak melihat keberadaan Elin, pun Elin yang tidak menyadari jika Javier sudah lebih dulu ke halaman belakang sebelum Elin sempat kembali kesana.
"Dad?" Javier mencari Ayahnya di halaman belakang, tepatnya didekat kolam ikan koi yang dipelihara Shane, namun Javier tidak mendapati pria paruh baya itu disana.
"Astaga ... dimana dia?" gerutu Javier.
Bukankah ibunya mengatakan bahwa sang ayah berada disana tapi kenapa tidak ada?
Javier ingin beranjak, mungkin Shane sudah kembali ke kamar atau ke ruangan yang lain didalam mansion itu.
Namun, saat Javier berbalik badan, sebuah jeruk menggelinding dari arah berlawanan dan berhenti tak jauh dari kakinya.
Tatapan Javier jatuh pada jeruk itu, ia sedikit merunduk lalu berjongkok untuk memungutnya, kemudian kembali berdiri untuk melihat siapa yang membawa jeruk tersebut.
Sebuah senyuman yang sudah lama tidak Javier lihat, kini berada tepat di depan matanya. Tampak Elin disana, dia mengenakan dress putih selutut yang nampak sangat pas ditubuhnya. Hanya saja, Javier mengernyit saat melihat perubahan fisik gadis itu yang terlihat semakin kurus saja.
Javier ingin menangis saat itu juga. Dia mendadak merasa menjadi pria tercengeng didunia.
"Apa kabar, Kak?"
Dan suara itu, akhirnya benar-benar membuat Javier meneteskan airmatanya. Payah. Dia benar-benar payah.
Javier mematung ditempatnya, dengan sebuah jeruk yang masih berada ditangannya. Niat hati ingin mengembalikan jeruk ini pada si pembawa--yang tadinya ia kira adalah salah seorang pelayan dikediaman orangtuanya--tapi nyatanya ia salah menduga.
"Kak, apa kau tidak merindukanku?"
Javier masih diam saja, sampai akhirnya Elin mendekat padanya dan mengusap airmata yang jatuh dipipinya.
Disaat itulah Javier tersentak, merasakan sentuhan yang paling ia rindukan. Jika ini mimpi, tolong jangan ada yang membangunkannya.
__ADS_1
"Ba-bagaimana bisa?" Suara Javier akhirnya keluar, namun itu terdengar bergetar.
"Aku sangat merindukanmu, Kak. Tapi sepertinya kau tidak merindukanku karena kau hanya diam dan tidak mau memelukku."
Javier menggeleng mengartikan bahwa yang Elin katakan tidaklah benar. Tentu dia sangat merindukan gadis itu. Sangat, sangat merindukannya. Didetik berikutnya, Javier segera merengkuh Elin dan membawanya kedalam pelukan.
"I miss you, i miss you so much," bisik Javier ditelinga Elin yang berada dalam pelukannya.
Elin bernafas lega karena sepertinya perasaan Javier untuknya masih sama seperti sediakala. Namun, ia merasakan jika pelukan Javier semakin erat.
"Kak, aku---aku sesak nafas," ujar Elin dengan susah payah.
Javier segera melerai pelukan mereka. Ia tertawa, tapi ia juga menangis.
"Hahaha ... kenapa kau selalu muncul di mimpiku seperti ini, My Dear? Inilah yang menyebabkan ku ingin selalu tertidur akhir-akhir ini," papar Javier semringah.
Elin menangkup pipi Javier, ia kembali menyunggingkan senyuman terbaiknya.
"Kau tampak kurus. Apa kau tidak makan dengan baik di alam sana?"
Elin hampir tergelak mendengar penuturan Javier, namun ia tidak meledakkan tawanya.
"Ayo kita duduk disana. Aku sudah menyiapkan tempat untuk kita berdua," ujar Elin menunjuk pada kain kemahnya yang sudah tertata beberapa makanan ringan dan minuman.
"Ayo!" Javier masih mengira jika sekarang ia berada di dunia mimpi.
Mereka duduk di kain bermotif kotak-kotak dengan warna merah putih tersebut, lalu menatap langit yang mulai menjingga.
Javier terus menggenggam tangan Elin tanpa berniat melepasnya.
"Aku mau mengupas buah jeruk untuk Kakak, bisa tolong lepaskan dulu tanganku?"
Javier menggeleng. "Aku tidak mau."
"Jadi, tidak mau makan jeruk?" tawar Elin.
"No."
"Aku sudah membawakannya untukmu, Kak."
"Jeruk itu tidak lebih penting darimu. Jika aku melepaskan tanganmu maka kau akan menghilang lagi nanti."
Elin tertawa pelan. "Tidak, aku tidak akan menghilang lagi. Aku sudah berada disini, kan?" ujarnya.
"Aku tetap tidak mau. Kau selalu berkata begitu tapi akhirnya kau selalu menghilang dan setelah itu aku akan langsung terbangun dari tidurku. Jadi aku tidak mau."
Sekarang, Elin tau jika ternyata Javier menganggapnya berada di dunia mimpi.
"Aku disini, Kak. Bukan didalam mimpimu. Ini bukan mimpi, ini kenyataan." Elin berusaha menyadarkan Javier.
Javier tertawa sumbang, mana dia percaya begitu saja dengan ucapan Elin. Ia malah menyatukan jari jemari mereka agar pegangannya di tangan Elin semakin erat.
"Mungkin ini akan membuatmu percaya bahwa kau sedang tidak bermimpi." Setelah mengucapkan kalimat itu, Elin mengecup bibir Javier hingga pria itu membeku ditempatnya.
...Bersambung ......
JANGAN LUPA DUKUNGANNYA GUYS🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1