
Elin menghela nafasnya, mencoba menetralkan detak jantungnya yang terasa berdegup lebih cepat dari biasanya.
Bagaimana tidak, saat ini Elin sudah berada didepan Mansion keluarga besar Gladwin ditemani oleh Javier disisinya. Tangan pria itu menggenggam erat jari jemari Elin seolah memberikan kekuatan padanya.
Elin menatap Javier sejenak saat pria itu menanyainya.
"Sudah siap?"
Akhirnya Elin pun mengangguk, lalu Javier membawanya masuk ke kediaman keluarga besarnya.
Kedatangan mereka langsung disambut oleh kedua orangtua Javier yang sudah menunggu keduanya.
"Apa kabar, Elin?" Elara memasang senyum semringah, memeluk Elin lalu mencium pipi gadis itu kiri dan kanan.
"Aku baik, Bibi." Elin mengulas senyum kemudian menyapa Shane yang juga tersenyum padanya disana.
"Baiklah, Jav. Ayo kita segera memulai makan malamnya agar bisa membahas ke hal yang lebih serius," kata Shane pada putranya.
Javier mengangguk, ia mengandeng pinggang Elin sampai ke meja makan dan tak lupa menarik kursi untuk gadis itu.
"Thank you," ucap Elin pada Javier.
Javier pun mengangguk samar kemudian duduk tepat disisi Elin.
Semuanya makan dalam suasana tenang dan khidmat.
Ketika makan malam itu sudah selesai dilakukan, mereka akhirnya berkumpul di ruang keluarga untuk membahas topik utama yang membawa langkah Elin dan Javier sampai di kediaman kedua orangtuanya tersebut.
"Aku akan menikahi Elin, Dad ... Bu," kata Javier memulai dengan ucapannya yang to the point.
Tentu saja itu cukup mengejutkan bagi Elara dan Shane. Meski sebelumnya Shane telah memberi pilihan pada Javier, tapi dia memberi waktu untuk sang putra menjawab salam sebulan ke depan. Nyatanya, hanya dalam tempo beberapa hari saja Javier sudah mendapat keputusan.
"Apa kau yakin dengan keputusanku ini?" tanya Shane dengan suara bariton khas-nya.
Javier mengangguk mantap.
"Apakah kalian menikah karena memikirkan pola tidur dsn kesehatanmu saja atau---"
"Aku menyadari bahwa aku mencintai Elin, Bu," sela Javier dengan penuh keyakinan.
Melihat itu, Elara tersenyum begitupun Shane yang duduk disisi istrinya.
"Baguslah kalau kalian sudah menyadari perasaan masing-masing."
"Thank you, Bu."
"Daddy senang karena kau menikahi gadis yang kau cintai, Jav."
__ADS_1
"Terima kasih, Dad." Javier menghampiri Sang Ayah kemudian memeluknya. "Thank you telah memberikanku jalan agar aku menjadi lelaki sejati," paparnya.
Melihat tekad yang ada dalam mata putranya, Shane pun merasa tenang membiarkan Javier untuk benar-benar menikahi Elin. Shane menepuk pundak putranya beberapa kali sebagai bentuk dukungan terhadap sang anak.
"Jangan mengecewakan kedua orangtuamu, terutama jangan mengecewakan gadis yang sudah kau pilih menjadi istrimu. Ini adalah pilihanmu sendiri, Jav!"
Javier menipiskan bibir kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Bagaimana denganmu, Elin?"
Elin mematut senyum yang tampak malu-malu, tapi kemudian dia mengangguk pertanda menyetujui pernikahan ini.
...****...
"Kak, izinkan aku pulang ke rumah yang ku sewa tempo hari ya." Elin menatap Javier yang terus saja menggandeng tangannya meski mereka sudah keluar dari Mansion besar keluarga Gladwin.
"Untuk apa?" Javier refleks memutar tubuh menjadi ke arah Elin sepenuhnya hanya karena ucapan gadis itu barusan.
"Aku ingin mengambil barang-barangku yang tertinggal disana."
"Memangnya apa saja barang-barangmu itu?"
"Hanya koper berisikan baju dan underwearku," jawab Elin apa adanya. Dia menggigiit bibir diujung kalimat.
"Kalau hanya itu, kau tak perlu repot mengambilnya kesana."
"Memangnya kenapa, kak?" Dahi Elin mengernyit mendengar jawaban Javier.
Elin memutar bola matanya. "Aku tau kau punya banyak uang--"
"Of course, yes!" sela Javier.
"Tapi tidak begini caranya, Kak," kata Elin yang tetap menyambung kalimatnya yang sudah dipotong Javier.
Ada hal yang ingin dihindari Javier yaitu pertemuan kembali antara Elin dan Nathan. Harus Javier akui jika kehadiran pemuda itu cukup mempengaruhi keputusannya pun membuatnya sadar bahwa ia tak ingin miliknya disentuh oleh orang lain. Ya, Elin adalah miliknya dan Javier sudah meng-klaim hal itu.
Oleh sebab itulah, Javier tak mengizinkan Elin untuk kembali ke rumah sewaannya karena bisa saja hal itu kembali membuat Elin bertemu dengan Nathan meskipun Javier tak tau dan tak mencari tau dimana tempat tinggal pemuda itu yang sebenarnya.
Yang jelas, Elin mengenal Nathan sejak dia memutuskan tinggal di perumahan padat penduduk itu, kan?
"Jika kau pikir aku akan membiarkanmu pergi lagi... "Javier menggelengkan kepala. "Absolutely no!" tukasnya penuh penekanan.
Elin akhirnya mengalah, ia tak mau mendebat Javier, yang ia tau Javier pasti akan marah jika ia mencoba melawan keinginannya.
"Baiklah, Kak." Hal lain yang membuat Elin seperti ini bukan hanya karena perasaannya yang masih sangat besar untuk pria itu, tapi karena ia juga mau menghargai Javier. Kelak, Javier yang akan menjadi kepala keluarga dalam rumah tangga mereka, kan?
Rumah tangga? Uhm, mengingat itu pipi Elin mendadak memerah seketika.
__ADS_1
"Kau sakit?" tanya Javier yang agak khawatir melihat rona di pipi Elin, ia takut Elin demam karena cuaca memang sedang buruk akhir-akhir ini.
"Tidak, Kak."
Tangan Javier terulur dan memegang dahi Elin untuk memastikan kecurigaannya.
"Kau terasa hangat," kata Javier dengan tampang khawatir.
"Aku selalu begitu jika didekatmu," akui Elin dengan rona wajah yang semakin memerah.
Javier tertawa pelan. Ia memegang pipi Elin yang merona kemudian mengelusnya.
"Mine ..." gumam Javier yang membuat Elin tersenyum lembut.
Rintik hujan tiba-tiba mengenai wajah Javier, pria itu mengadah ke langit seolah ingin memprotes keadaan karena dia masih mau bersama Elin disana tanpa beranjak kemanapun.
"Sepertinya akan turun hujan, Kak."
Javier tak mengindahkan perkataan Elin, ia hanya terfokus pada bibir gadis itu yang tampak bergerak--seiring dengan kata demi kata yang Elin ucapkan.
"Kak?"
"Apa kau mencintaiku?"
"Yah, i love you," jawab Elin mantap.
Saat itu juga, Javier menyatukan bibirnya dengan bibir Elin didepan mobil yang bahkan belum mereka naiki sejak tadi. Dia melakukannya dengan perlahan dan tidak tergesa-gesa.
Jika biasanya Javier mencium Elin dalam keadaan gamang karena belum menyadari perasaannya sendiri. Kali ini, tidak. Justru sebaliknya, Javier ingin Elin merasai perbedaan ciumannya ketika ia sudah mengungkapkan cintanya pada gadis itu.
Mendapat perlakuan itu, Elin pun membalas ciuman Javier dengan tak kalah intens-nya. Meski ia amatir dalam hal ini, tapi Elin berusaha mengikuti naluri kegadisannya yang membuat bibirnya bergerak untuk meladeni Javier sepenuh hati. Ciuman itu terasa seperti Elin tengah meluapkan apa yang selama ini ia tahan didalam dirinya.
Dalam keadaan itu, hujan benar-benar turun membasahi bumi dan tentu saja menimpa sepasang insan yang sedang berpagutt mesra. Namun, hal itu sama sekali tidak membuat mereka menghentikan apa yang sudah terlanjur dimulai. Keduanya seolah tak rela jika ciuman itu diakhiri sampai disini saja.
Hingga tak pelak, tentu saja mereka menjadi basah kuyup.
Berciuman ditengah hujan adalah sesuatu yang tidak pernah Elin impikan, itu momen yang hanya bisa ia lihat didalam drama romantis atau di film bergenre adult yang pernah ia tonton secara sembunyi-sembunyi.
Karena takut jika harus berkhayal terlalu tinggi, Elin pun tidak pernah memikirkannya.
Namun kenyataannya, inilah yang Elin rasakan sekarang.
Elin pun tersenyum disela-sela ciuman mereka, sampai akhirnya Javier melepaskan pagutannyaa dari bibir Elin saat nafas mereka sudah diambang batas dan terasa terengah-engah.
Javier tersenyum sambil menatap lekat pada netra Elin yang tampak berpendar berkilauan karena efek cahaya lampu dan sebab tetesan air hujan yang membasahi.
"I love you, Medeline Arcela Forza," ungkapnya. Dan itu adalah momen termanis yang pernah ia rasakan bersama Elin, mengalahkan beberapa ciuman yang ia lakukan sebelum hari ini.
__ADS_1
...Bersambung ......
...DUKUNGANNYA MANA? KLIK LIKE, TAP SUBSCRIBE, BERIKAN GIFT DAN TINGGALKAN KOMENTAR KALIAN GUYS❤️❤️❤️❤️❤️❤️...