SEBATAS TEMAN TIDUR

SEBATAS TEMAN TIDUR
66. Ekstra Part 3


__ADS_3

Jika sebagian orang yang baru menikah akan memilih untuk menghabiskan waktu bersama pasangan dengan berbulan madu, tapi Javier tidak memilih hal serupa. Dia memutuskan untuk menyelesaikan segala permasalahannya lebih dulu barulah ia bisa menjalani rumah tangganya dengan tenang.


Liam sudah Javier singkirkan, sedang Irina masih berada ditangan Carla. Rencananya hari ini Javier mau melihat penghukuman terakhir untuk perempuan itu.


Elin sendiri, tidak pernah menanyakan kemana tujuan Javier yang tampak sibuk selepas pernikahan mereka. Meski tak diucapkan, Elin seakan tau apa yang Javier lakukan. Apalagi, suaminya itu pernah menyinggung soal Liam padanya, tempo hari. Elin tidak pernah menanyakan apa yang Javier lakukan pada Liam. Dia juga tak ingin mengetahuinya. Tapi, Elin yakin kepergian Javier ada kaitannya dengan pria yang pernah menyandang status sebagai kakaknya itu.


"Sayang, untuk sementara tetaplah disini... tunggu aku kembali." Ucapan yang sama seperti kemarin Javier ucapkan dihadapan Elin. Kalimat itu semacam isyarat bagi istrinya bahwa dia akan melakukan suatu hal yang tak dapat ia utarakan secara terus terang.


"Ya, berhati-hatilah, Kak." Elin mengusap-usap rahang suaminya itu dengan gerakan lembut.


Javier mengambil tangan Elin dan mengecupnya singkat. "Pasti," jawabnya.


Elin menyaksikan kepergian Javier menuju helikopter yang menunggunya, karena saat ini mereka memang masih berada di Javeline Island-sejak acara pernikahan mereka waktu itu. Dan hari ini adalah kali kedua Javier pergi meninggalkan Elin dengan menggunakan transfortasi udara tersebut--membuat Elin yakin jika sebenarnya Javier pergi ke luar pulau--untuk suatu urusan yang ada kaitannya dengan Liam ataupun Irina.


Elin kembali memasuki resort dan menutup pintu kamarnya. Sebenarnya ia merasa sunyi setiap Javier pergi, apalagi keluarga mereka sudah pada kembali ke kediaman masing-masing. Tapi mau bagaimana lagi, Elin juga tidak bisa memaksa agar Javier tetap tinggal disisinya. Elin memiliki keyakinan bahwa apa yang Javier lakukan kemarin dan hari ini adalah demi ketenangan mereka berdua. Elin juga tau jika sebenarnya Javier juga belum rela meninggalkannya sendirian dalam waktu yang seharusnya mereka habiskan hanya berdua saja.


Hampir satu jam sejak kepergian Javier tadi, Elin memilih untuk mengotak-atik ponselnya dan berselancar didunia maya. Sampai dimenit berikutnya, dia terkejut mendapatkan pesan terkait penerimaannya di sebuah universitas yang dulu pernah ia incar untuk menjadi mahasiswa disana.


"Hah? Aku akan menjadi mahasiswa disini?" gumam Elin sambil terperanjat duduk dari posisi yang sebelumnya berbaring.


Elin masih keheranan karena dia belum pernah mendaftar ke universitas itu, pun belum sempat melakukan pendaftaran lagi setelah ia kembali ke Hamburg.


Tercenung beberapa saat akhirnya Elin harus dikagetkan dengan suara dering ponselnya sendiri dan ternyata itu dari Javier.


"Kau sudah menerima pemberitahuannya?" tanya Javier diseberang sana.


"Jadi kepergianmu hari ini, karena mau mengurus pendaftaran kuliahku?" Elin balik bertanya.


"Salah satunya karena itu," jawab Javier.


Elin tersenyum dalam posisinya meski Javier tak dapat melihat itu.


"Kuliah akan dimulai di awal bulan. Jadi, masih ada waktu dua Minggu lagi untuk kita menghabiskan waktu bulan madu kita," papar Javier disertai tawanya kemudian.


"Terima kasih, Kak. Kau mewujudkan hampir semua mimpiku," kata Elin.


"Hampir? Memangnya apa lagi mimpimu yang belum ku wujudkan?"


"Mimpiku yang pertama adalah menjadi istrimu, mimpiku yang lain adalah mengenyam bangku pendidikan di universitas. Dan yang belum adalah ..." Elin ragu mengatakannya.


"Apa?" tuntut Javier.


"Untuk saat ini aku belum mau untuk langsung merealisasikannya, mungkin setahun atau dua tahun lagi," kata Elin yang membuat Javier menebak-nebak apa kiranya hal yang diinginkan istrinya itu.

__ADS_1


"Aku jadi penasaran," kata Javier mengakui. "Coba katakan apa itu? Ingat, kau tidak memiliki privasi apapun lagi didepanku, Sayang."


"Oke, baiklah. Aku bermimpi memiliki keturunan darimu. Melahirkan bayi-bayi lucu untuk kita dan kehadiran mereka akan mempererat ikatan pernikahan kita."


"Aku juga," sahut Javier cepat. "But, as you wish ... kita bisa memprosesnya satu atau dua tahun ke depan. Sekarang, kita menundanya dulu? Begitu?" ujarnya memastikan.


"Great," kata Elin manggut-manggut diposisinya.


"Baiklah. Apapun untukmu, Honey. Sekarang aku masih memiliki urusan lain. Jadi, maaf teleponnya harus ku tutup."


"Ya, Kak. Thanks husband."


Javier tertawa pelan kemudian benar-benar menutup panggilan tersebut.


...****...


Javier berdiri bersedekap menghadap sebuah kaca besar yang menjadi pembatas antara posisinya dengan hutan asli yang menjadi tempat tinggal harimau peliharaan sang Ayah.


Tentu saja Shane tidak memelihara itu secara ilegal, tapi ayah Javier itu hanya menunjuk diri sebagai donatur tetap untuk menjadi pemasok makanan bagi Horison--nama harimau tersebut.


Harimau itu jenis albino dengan warna putih dan cukup langka. Karena Shane memiliki jiwa petualang yang tinggi sejak dia muda, juga mencintai satwa, maka dia memutuskan untuk membuat Horison berada dibawah kendalinya alias pemilik harimau itu secara tidak langsung.


Memelihara binatang buas dirumah tidak dibenarkan oleh nurani Shane sehingga tetap membiarkan hewan buas itu tetap berada pada habitatnya. Dia membangun semacam tempat yang bisa menghubungkan langsung ke hutan yang dekat dengan satwa kesayangannya itu.


"Kau sudah tiba?"


Lamunan Javier terhenti saat mendengar suara sang Ayah, dia berbalik dan mendapati Shane disana.


"Aku tiba sekitar 10 menit yang lalu," jelas Javier.


"Maafkan Daddy agak telat, tadi ibumu agak rewel," canda Shane pada putranya.


Javier hanya terkekeh sekilas, kemudian kembali menatap pada pemandangan hutan didepannya.


"Apa kau sudah bertemu Horison?"


"Belum. Tapi dia akan segera kesini saat melihat aku membawakan makanan untuknya," jawab Javier ambigu.


Tapi, Shane tentu mengerti makna dibalik kalimat Javier. Lagipula, dia kesini pun atas undangan dari putranya itu.


"Kau yakin akan membuatnya menjadi makanan Horison?" tanya Shane kemudian.


Javier tak menoleh sedikitpun pada Shane disampingnya, dia kembali menatap lurus-lurus ke depan. Dia tidak mau terpengaruh lagi oleh ucapan orang lain, karena dia sudah tiba pada keputusan akhir sebagaimana rencana awal yang diusungnya.

__ADS_1


"Horison sudah lama sekali tidak memakan daging manusia. Dia sudah terbiasa memakan daging binatang yang disediakan." Shane tidak bermaksud mengubah mindset Javier mengenai rencana putranya itu, akan tetapi dia mau menguji keseriusan Javier atas hal ini agar tidak ada penyesalan dikemudian hari.


"Aku sangat yakin," kata Javier.


"Daddy yakin kau membuat keputusan dengan kepala dingin jadi, baiklah ... bagaimana kalau kita mulai saja pertunjukkannya?" usul Shane bersemangat.


Javier menyunggingkan satu sudut bibirnya, kemudian menjentikkan jari dan beberapa orang-orangnya memasuki ruang yang berbentuk seperti labirin kaca tersebut.


Tentu mereka datang tidak dengan tangan kosong, melainkan bersama Irina yang sudah tampak sangat berantakan bahkan mengerikan.


Rambut wanita itu berantakan, kakinya berjinjit-jinjit tak berani menyentuhkannya ke lantai karena terdapat luka yang masih berdarah. Sementara tangannya juga sudah terdapat luka yang sama. Rupanya Carla benar-benar mengincar tangan wanita itu.


Javier menatap kedatangan Irina dengan sengit yang dibalas oleh wanita itu dengan tatap ketakutan


Dibeberapa sisi kaca, terdapat lubang seukuran kepala manusia yang biasa dijadikan sarana untuk melemparkan daging pangan untuk dikonsumsi si harimau, Horison.


"Lubang itu tidak akan muat untuk memasukkannya ke sana," gumam Javier pada sang Ayah.


Shane tersenyum. "Tenanglah, ada alternatif lain," katanya sembari mengendikkan dagu ke arah pintu kaca yang biasa digunakan sebagai akses keluar masuk hutan bagi orang-orang yang mumpuni di bidang tersebut. Biasanya pintu itu dimasuki oleh pawang atau dokter yang akan memeriksa keadaan Horison ataupun memberinya suntikan obat ketika harimau itu sakit.


Irina meronta diposisinya saat sadar jika dia benar-benar akan dijadikan panganan untuk Harimau yang ada di hutan sana.


"No! No! Jangan lakukan itu. Kalian akan menyesalinya," ujar Irina setengah mengancam.


"Aku tidak peduli," jawab Javier tak acuh.


"Keluargaku akan menuntutmu, Javier!" jawab Irina marah.


"Silahkan saja. Mereka takkan memiliki bukti untuk menyalahkan aku," jawab Javier santai. "Kau akan menjadi santapan harimau itu, lalu tidak meninggalkan bekas sama sekali," jelasnya yang lagi-lagi terdengar sangat mengentengkan semua hal.


"Breng sek! K e p a r a t!' Irina mengumpat Javier dengan kata dan kalimat yang sama berulang-ulang, namun apa peduli Javier? Dia takkan memiliki hati untuk wanita kejam ini.


"Polisi akan mencariku yang tiba-tiba hilang," jawab Irina jumawa.


"Mereka akan lelah mencarimu karena bahkan bangkaimu tidak akan ditemukan dimanapun kecuali mereka mau membelah perut harimau itu!" Javier menunjuk kearah hutan dan bersamaan dengan itu Horison tampak muncul dari ujung sana.


"Lepas! Kalian semua lepaskan aku!" Irina mencoba melepaskan diri dari orang-orang yang memegangi tubuhnya, tapi sia-sia saja karena usahanya takkan berhasil sebab dia hanya sendiri, mengalami luka tangan dan kaki, bahkan dia juga kekurangan energi, sementara yang memeganginya adalah para pria berbadan kekar dan besar, Irina kalah sebelum memulai pelariannya yang pasti akan gagal.


"Jav, kasihani aku, Jav. Ku mohon, Jav!" Suara lirih Irina terdengar semakin menjauh seiring dengan tubuhnya yang diseret paksa--menuju pintu penghubung yang akan membawanya masuk ke hutan yang ada disana.


Baru saja kaki Irina menginjak tanah hutan, dia segera berlari kesana kemari karena Horison langsung mengejarnya akibat bau anyir dari darah yang keluar dar tangan dan kakinya.


Sementara Javier dan Shane melihat kejadian itu dari posisi mereka disebalik kaca, layaknya menonton pertunjukan yang cukup seru.

__ADS_1


...****...


__ADS_2