SEBATAS TEMAN TIDUR

SEBATAS TEMAN TIDUR
38. Aku tidak bahagia (Author POV)


__ADS_3

Elin merasa lega begitu ia tiba di kediamannya. Syukurnya ia bisa menghindar dari ajakan lelaki bernama Nathan itu dan tidak mendapat pemaksaan darinya.


Elin pikir ia sudah terlepas dari Nathan di hari yang sama, sayangnya ia kembali bertemu pria itu lagi di keesokan harinya.


"Kau penguntit ya?" ujar Elin to the point.


Nathan tidak menjawab, ia justru hanya merespon ujaran Elin dengan seulas senyuman.


Meski begitu, entah kenapa tak ada rasa takut dihati Elin pada lelaki muda tersebut. Terlebih, hari ini Elin melihat Nathan yang mengenakan almamater sekolahnya.


"K-kau masih sekolah?" tanya Elin akhirnya.


"Ya. Memangnya kenapa?"


"Tidak ada," kata Elin mengingkari keterkejutannya saat menyadari jika Nathan masih lah siswa di jenjang senior high school.


"Kau pasti tidak menyangka jika aku masih bersekolah, kan?"


Elin akhirnya mengulumm senyum. "Ya, ternyata lelaki yang berniat menggodaku adalah seorang bocah," katanya blak-blakkan.


Nathan tertawa pelan. Dia senang melihat Elin yang akhirnya bisa tersenyum didepannya. "Jangan menganggapku bocah. Aku sudah 17 tahun," katanya kemudian.


Elin hanya menggeleng samar dan tidak menjawab pernyataan Nathan.


"Kau mau kemana?" tanya Nathan.


"Ah, aku harus bekerja," jawab Elin terus terang.


Nathan menipiskan bibir sembari tetap menyamakan langkah dengan Elin.


Mereka tiba di halte bis dan sama-sama menaiki kendaraan umum tersebut.


"Jangan membuntutiku terus," protes Elin yang melihat Nathan berdiri dibelakangnya karena mereka tak mendapatkan tempat duduk lagi.


"Ini memang transfortasi ku ke sekolah," jawab Nathan jujur.


Elin hanya melengos saat mendengarnya. Sampai di perhentian bis selanjutnya, Elin pun turun dan Nathan melambaikan tangannya pada gadis itu.


"Have a nice day, Elin," pekik Nathan pada Elin.


Sekarang Elin memasuki Restoran yang akan menjadi tempatnya mencari pundi-pundi uang. Dia mendengarkan pengarahan seniornya dan mencoba merekam semua aturan yang diberikan.


"Hai, Elin. Aku Cathy." Seorang pelayan lain tampak memperkenalkan diri pada Elin dan disambut baik oleh gadis itu. Elin pikir, ia juga membutuhkan teman ditempat baru.

__ADS_1


Elin mendapat banyak saran dari Cathy, termasuk tatacara melayani tamu agar dinilai sopan.


Lambat laun Elin mulai terbiasa dengan pekerjaannya disana.


...***...


Ditempat lain, Javier tidak bisa tertidur semalaman karena ketidakhadiran Elin di tempat tidurnya. Ia merasa sudah ketergantungan dengan gadis itu dan keputusan Elin yang pergi benar-benar mempengaruhi hidup Javier.


Javier membutuhkan waktu yang lama untuk merasa tenang dan mencoba untuk tertidur, sayangnya ia selalu gagal. Alhasil, malam ini dia terpaksa mengonsumsi obat tidur untuk dapat mengistirahatkan tubuhnya.


Pagi-pagi sekali, Javier sudah terbangun. Ia merasa keadaan tubuhnya tidak baik. Javier mengalami pusing luar biasa, ia memang tak terbiasa mengonsumsi obat tidur kalau tidak dalam keadaan sangat terpaksa.


"Jika begini terus, aku bisa jatuh sakit yang lebih parah," keluh Javier sambil memegang kepalanya yang terasa berat.


Sebuah suara notifikasi dari ponselnya, membuat Javier meraih benda pipih itu. Dan ketika membukanya, tubuh Javier seakan menegangg dengan jantung yang berdebar cepat.


Itu semua karena Javier menerima sebuah pesan yang berisikan gambar dimana Elin sedang berjalan bersama seorang pria muda. Mereka tampak cocok seolah tak ada kesenjangan umur diantara keduanya.


Entah kenapa, darah Javier seperti mendidih saat melihatnya, Ia tidak menyukai kabar yang baru ia terima.


"Siapa dia?" gumam Javier dengan pemikiran yang bertanya-tanya. Apalagi dalam foto itu, Elin dan lelaki muda itu tampak saling tersenyum.


Digambar berikutnya, Javier melihat jika Elin dan lelaki itu menaiki bis yang sama.


Javier semakin tak bersemangat, bukan hanya karena tubuhnya tapi juga karena perasaan tak enak dihatinya. Akhirnya Javier mengabari pada Jack bahwa ia tak dapat mengikuti meeting hari ini. Padahal itu sangat penting. Daripada meeting itu jadi kacau karena keadaan dirinya yang juga kacau, lebih baik Javier tidak menghadiri rapat penting tersebut.


Menjelang siang, Javier dikejutkan dengan kedatangan Cassandra ke apartemennya. Cassie melihat Javier dengan tatapan iba.


"Hai, Jav. Ku dengar kau sakit," ujar Cassie. Cassie tau mengenai hal itu karena ia terlibat dalam bisnis baru yang kebetulan hari ini dibahas dalam meeting, karena itulah tujuan utama Cassie berkunjung ke negara dimana Javier berada. Dia sedang mengerjakan proyek baru dengan melibatkan Javier didalamnya.


"Jangan mengasihaniku," jawab Javier tak acuh.


"Bukan begitu maksudku, Jav!" Cassie masuk ke dalam apartmen Javier dan duduk di sofa ruang tamu. Ia meletakkan bungkusan yang ia bawa. Bungkusan itu berisi makan siang untuk Javier, ia tau Javier akan membutuhkan itu. "Jangan merasa dikasihani karena aku yang paling tau bagaimana rasanya akan hal itu," ujarnya terus terang.


Javier memijat pelipisnya, ia pikir ia salah bicara. Cassie memang terlahir dengan penyakit jantung turunan dan dia sering dilarikan ke rumah sakit, hal itu pula yang membuatnya rutin mengonsumsi obat. Ingat kan, pertemuannya dengan Elin yang menyebabkan Elin salah sangka padanya, itu terjadi di rumah sakit dan waktu itu dia sedang menebus obatnya ditemani oleh Javier.


"Maaf, aku tidak bermaksud menyinggungmu," kata Javier akhirnya.


"It's oke, aku sudah terbiasa."


Javier menghela nafas panjang.


"Mana Elin?" tanya Cassie yang tidak tau jika Elin sudah pergi sejak dua hari yang lalu.

__ADS_1


Javier menggeleng lesu.


"Apa artinya gelenganmu itu?" tanya Cassie lagi. Ia tampak terkejut dengan respon yang Javier berikan.


"Dia pergi," kata Javier lemah.


"No. No. Jangan bilang jika kau sakit seperti ini karena ada kaitannya dengan kepergian Elin."


Javier mengendikkan bahu acuh tak acuh.


"Oh, Jav. Kau ini bo doh sekali!" geram Cassie. "Aku sudah memperingatkanmu!" katanya keras.


"Sudahlah, itu pilihannya sendiri."


"What? Dan kau tidak mencegahnya?" Cassie angkat tangan dengan kepasrahan Javier yang terlihat tidak berusaha untuk mempertahankan Elin.


"Apakah aku harus melakukannya?"


"Yeah, kau harus!" kata Cassie mantap.


Javier menggeleng lagi sembari memijat pelipisnya untuk yang kesekian kali.


"Jika kau membiarkannya seperti ini, itu tandanya kau siap untuk kehilangannya selamanya. Dengar Jav, seseorang yang cocok denganmu, mencintaimu, sekaligus bisa mengatasi traumamu ... itu cuma Elin. Dan kau dengan lagaknya mau membiarkan dia pergi. So damned!" umpat Cassie blak-blakkan.


Javier semakin pusing dengan lontaran ucapan Cassie yang to the point itu.


"Jika kau hanya datang untuk memarahiku, maka pulanglah."


"Aku bukan memarahimu, aku mau kau sadar Jav. Kau mencintainya! Kau saja yang bo doh!"


"Entahlah," lirih Javier.


"Baru kali ini aku melihatmu tidak punya komitmen. Kau lemah, Jav!" Cassie mengambil tasnya kemudian bangkit dari duduknya, ia kesal dengan Javier. "Aku pulang! Aku tidak mau menemuimu sampai kau sadar bahwa tindakanmu ini salah!" berangnya sambil berlalu.


Javier menghela nafas panjang kembali, ia meraih ponselnya dan melihat lagi foto Elin bersama pria muda asing itu.


"Apa kau sudah bahagia saat terbebas dariku?" tanyanya seolah bicara pada Elin.


"Sayangnya aku tidak, Elin. Aku tidak tenang saat kau memutuskan pergi. Aku tidak bahagia saat kau sudah menjauh," lanjutnya frustrasi.


...Bersambung .......


DUKUNGANNYA MANA? JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, BERIKAN GIFT DAN VOTE.❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2