
Elin dan Javier tiba di Apartmen namun keduanya hanya diam sejak diperjalanan tadi. Tidak ada yang berusaha memecah keheningan diantara mereka seolah keduanya sedang amat meresapi suasana senyap ini.
Elin sendiri hanya memilih duduk di sofa tanpa berani menyuarakan keinginannya.
Javier membiarkannya, dia pun sedang tidak dalam mood yang baik setelah elin terang-terangan menolak ajakannya untuk menikah. Hari ini, kesepakatan mereka berdua untuk tetap tinggal bersama sudah benar-benar selesai. Itu artinya Elin akan bebas memilih tujuannya selanjutnya.
"Uhm, aku meminta izinmu untuk mengemasi barang-barangku, Kak."
Setelah sekian lama diam, akhirnya Elin bersuara. Meski itu ia lakukan tanpa berani mengangkat pandangan karena ia tak mau beradu mata dengan netra se-kelam malam milik Javier.
"Hmm," respon Javier dingin, ini mengingatkan Elin pada sikap pertama pria itu diawal pertemuan mereka ketika di Casino. Javier kembali ke mode utama, dimana sikapnya terkesan datar seolah sulit untuk tersentuh.
Elin bangkit dan masuk ke kamar yang biasa ia tempati bersama Javier. Tidak disangka ketika ia berada disana justru membuat perasaannya semakin sedih sebab mengingat segala kebersamaannya dengan Javier selama dua bulan belakangan ini.
"Aku harus bisa," batin Elin. Ia menarik nafas sepenuh dada, lalu mulai berusaha berkemas.
Elin mengingat jika dia masih memiliki simpanan uang. Itu adalah uang fee yang Javier berikan ketika Elin masih bekerja di Kasino dan sempat menemaninya dua malam.
"Ini akan aku gunakan untuk melanjutkan hidupku."
Meski yang itu cukup banyak, tapi Elin tau bahwa ia tak mungkin terus mengandalkan uang itu untuk bertahan hidup karena uangnya pasti akan segera menipis. Elin berpikir untuk mencari pekerjaan setelah keluar dari Apartmen Javier.
Beberapa menit berselang, Elin selesai mengemasi semua barangnya karena memang dia tak memiliki banyak untuk dibereskan.
"Kau benar-benar akan pergi?"
Elin tersentak, itu adalah suara Javier yang menanyakannya. Pria itu tampak berdiri diambang pintu kamar.
"Yah," jawab Elin seadanya.
"Tidak bisakah kau tinggal untuk sebulan lagi?"
Elin mendengar nada bergetar dari suara Javier. Apakah sekarang Javier tengah memohon padanya? Tidak mungkin, pikir Elin.
"Tapi kau sendiri yang mengatakan bahwa kesepakatan kita berakhir setelah aku menjawab ajakanmu."
"Aku tau."
"Kalau begitu, biarkan aku pergi." Elin mengangkat travel bag-nya. Dia siap pergi saat ini juga.
Javier mencekal lengan Elin yang mau melewati tubuhnya begitu saja.
"Ini sudah cukup malam. Jangan pergi sekarang, menginap lah untuk malam ini," kata Javier menahan kepergian gadis itu.
Elin mematut seulas senyum. Senyum yang jika ditelaah maka terdapat kepedihan disana.
__ADS_1
"Aku sudah tiba pada keputusanku kak. Jadi, sudah saatnya aku pergi sekarang juga."
"Aku tidak memaksamu untuk segera pergi, Elin," tekan Javier. Ia menatap Elin penuh keseriusan, begitupun Elin membalas tatapan Javier dengan sorot yang sama.
"Aku ... harus pergi, Kak." Elin menepis tangan Javier yang sejak tadi masih mencekal pergelangan tangannya.
"Apa kau tidak memikirkanku?" Javier kembali melirih, bahkan kini wajahnya tampak sangat memelas.
Elin menggeleng samar. Haruskah ia menjawab pertanyaan Javier itu? Bahkan setiap hari ia selalu memikirkan pria itu sepanjang waktu.
"Aku pamit, Kak."
Javier terdiam dan Elin mulai melangkah keluar untuk meninggalkannya.
"Apa ini bentuk dari rasa sukamu padaku, Elin?" geram Javier yang mampu menghentikan langkah Elin sekali lagi.
Elin mematung ditempatnya, sulit sekali bibirnya menjawab pertanyaan Javier yang ini.
"Kau bilang menyukaiku tapi kau meninggalkanku, huh!"
Lagi-lagi Elin terdiam. Ia tidak bisa melangkah karena ucapan Javier seperti menahannya.
Javier melangkah cepat, menghampiri tubuh Elin yang seakan terpasak didepan pintu keluar Apartmennya.
"Beritahu aku, apa yang harus ku lakukan agar kau tidak pergi."
Elin menggeleng dalam dekapan Javier yang semakin mengerat.
"... aku belum bisa tanpa dirimu, Elin."
Sekarang Elin hendak terisak sangking terenyuh melihat sikap Javier yang benar-benar tampak memelas padanya.
"Jangan bersikap begini, kak. Aku tidak layak mendapat perlakuan ini darimu. Kau seorang yang berkuasa, tidak seharusnya kau memohon kepadaku," ucap Elin dengan suara tercekat.
"Tapi aku benar-benar belum bisa tanpamu. Beri aku waktu. Jangan cepat ini. Katakan, katakan padaku apa yang harus ku lakukan agar kau mau bertahan sebentar lagi. Aku akan berusaha untuk sembuh sebelum kau pergi, Elin."
Elin menarik nafasnya dalam-dalam. Sampai akhirnya kalimat yang sejak tadi ia tahan tercetus dari bibirnya.
"Jika kau benar-benar mau melakukan sesuatu agar aku tetap bertahan disini, bisakah kau berusaha menyukaiku, Kak?"
Javier terdiam. Tak lama ia mengangguk.
"Of course, aku sudah menyukaimu. Jika aku tidak menyukaimu, aku tidak mungkin menahanmu lebih lama lagi bersamaku."
"Bukan suka dalam hal membutuhkan, Kak. Tapi menyukai dalam artian lebih," tutur Elin.
__ADS_1
Javier tak menjawab, ia membalik tubuh Elin agar berhadapan dengannya.
"Kau tidak bisa melakukannya kan, Kak?" tebak Elin. "Kalau begitu, jangan tahan aku untuk tetap bersamamu," sambungnya.
Javier menggeleng. "Aku akan melakukannya. Aku akan berusaha untuk menyukaimu lebih daripada sekarang," ujarnya yakin.
"Really?" Mata Elin membola. Ia tak menyangka Javier akan memberi jawaban secepat itu atas permintaannya.
"Ya, asal kau tetap disini."
"Tapi, aku tidak yakin kau bisa menyukaiku disaat kau masih menganggap aku sebagai seorang bocah."
Javier terkekeh sekarang, meski begitu raut sendu karena takut Elin pergi masih tampak jelas dalam raut wajahnya.
"Apakah aku akan mencium bocah? Aku tidak akan melakukan itu jika aku masih menganggapmu bocah."
Ujaran Javier membuat pipi Elin merona, ia jadi teringat akan momen dimana Javier benar-benar menciumnya.
"Jadi... bisakah kau tetap tinggal disini bersamaku?"
Elin tau hatinya akan goyah sekarang. Paalagi Javier berjanji akan berusaha menyukainya.
"Aku tidak mau kau memberiku harapan palsu, Kak."
"Baiklah, aku harus melakukan apa agar kau percaya padaku bahwa aku akan berusaha?"
Elin menggeleng, dia tidak tau harus meminta Javier untuk melakukan apa.
Tidak disangka tiba-tiba pria itu malah berlutut didepan Elin, membuat Elin menjadi gelagapan karenanya.
"Kak, apa yang kau lakukan?" protes Elin.
"Aku akan terus begini sampai kau berubah pikiran dan tidak meninggalkanku secepat ini."
Elin kembali menghela nafas dalam-dalam. Terkadang ia bingung menafsirkan sikap Javier. Pria itu sangat sulit ditebak dan di prediksi. Terkadang dia bersikap tak acuh. Javier juga terang-terangan mengatakan bahwa dia tidak tertarik pada Elin dan meminta Elin untuk melupakannya, tapi sekarang sikap Javier justru tampak seperti seorang yang sangat takut ditinggalkan oleh Elin.
"Baiklah, Kak. Aku akan tetap disini malam ini."
"Sampai sebulan kedepan," ralat Javier.
Elin hanya menggeleng tak habis pikir dengan keputusan pria itu. Semuanya terasa serba salah bagi Elin dikala ia sendiri juga tak tega meninggalkan Javier secepatnya. Apakah lain kali ia tak perlu pamit pada Javier jika ia ingin pergi?
...Bersambung ......
...Jangan lupa dukung karya ini dengan vote, gift, like dan tinggalkan komentarnya guys ❤️💚...
__ADS_1