
"Aku takut, Kak." Elin mengesah, mengadukan segala keresahannya ketika tiba-tiba Liam datang ke Rumah Sakit lalu tanpa sengaja bertemu dengannya. Atau justru memang ini yang direncanakan Liam? Entahlah.
"Tenang, ok? Kita bicarakan ini ditempat lain." Javier masih memeluk Elin sambil mengelus rambutnya dengan ritme teratur.
Sedetik kemudian, matanya mengarah pada Carla seolah memberi kode pada wanita tomboi itu.
"Tunggu disini, aku akan bicara pada Carla sebentar."
"Tapi, Kak?"
"It's oke, Elin. Sebentar saja," kata Javier menenangkan gadis yang masih tampak syok tersebut.
Carla menghampiri Javier yang menunggunya disisi lain dan itu tidak terlalu jauh dari posisi Elin. Javier memberi pesan pada Carla untuk menjaga dan memantau kondisi Arbei karena ia akan membawa Elin untuk menenangkan gadis itu. Javier juga berpesan mengenai Liam.
"Kau ingat wajah kakaknya Elin, bukan?"
Dan Carla mengangguk, dia cukup mahir dan teliti dalam hal mengamati seseorang.
"Jika dia kembali ke Rumah Sakit, segera hubungi aku."
"Baik Tuan."
"Kalau bisa, kau juga mencegahnya menemui ibu Elin karena aku khawatir dia memiliki tujuan lain,"
"Saya akan melakukannya," jawab Carla kemudian.
Javier kembali ke sisi Elin, merengkuh pundak gadis itu lalu membawanya keluar dari area Rumah Sakit.
"Aku ingin kau mengatakan padaku apa yang kakakmu lakukan hingga kau tidak berhenti menangis seperti ini."
Elin menatap Javier dengan wajahnya yang sendu. Tak lam, pria itu membawa Elin masuk ke dalam mobilnya.
Didalam perjalanan, hanya ada keheningan. Javier akan menanyai Elin lagi apabila mereka telah tiba di tempat tujuan.
"Apa kita akan menginap di hotel lagi?" tanya Elin membuka percakapan. Wajahnya masih tampak muram, tapi airmatanya sudah tak mengalir lagi, dia telah berhenti menangis sepenuhnya dan terlihat lebih tenang dari sebelumnya.
"Tidak, kita kembali ke Apartmen."
"Tapi ibu--"
"Carla menjaganya," potong Javier saat itu juga.
Mobil berhenti di lampu merah dan saat itu dimanfaatkan Javier untuk melirik Elin sekali lagi.
"Kau oke?"
"Huum, ku sudah baik-baik saja sekarang," jawab Elin pelan, lebih seperti bergumam namun Javier mendengarnya.
"Kau akan lebih baik jika dirumah."
"Rumah yang mana maksud kakak? Apa aku masih memiliki rumah," kata Elin disertai dengan senyum mirisnya.
__ADS_1
Javier tertegun, ia cukup terenyuh dengan kenyataan ini.
"Apartmenku adalah rumahmu, Elin."
"Whoa, sejak kapan?"
"Ku pikir kau menganggapnya begitu karena itu tempat tinggalnya selama sebulan terakhir," jawab Javier apa adanya.
Elin tersenyum kecut, entah apa yang ada dipikirannya. Javier tidak pernah tau jika bagi Elin Apartmen yang Javier sediakan untuknya bukan ia anggap sebagai rumah. Memang ia tinggal disana, tapi tempat itu lebih seperti penjara yang menawan dia didalamnya. Meski akhir-akhir ini Javier sudah memberinya akses untuk keluar masuk dari sana tapi Elin selalu merasa menjadi tawanan Javier karena pria itu tidak pernah mempercayai Elin untuk bepergian sendirian.
"Kita sampai," celetuk Javier saat tiba di basement Apartmennya.
Elin membuka seatbelt, kemudian hendak membuka pintu ketika ternyata pintu itu sudah dibukakan oleh Javier lebih dulu dari arah luar.
"Thank," kata Elin singkat. Mereka berjalan beriringan dengan Javier yang sesekali melirik pada Elin yah nampak banyak diam.
Tiba di kediaman mereka yang terhubung langsung dengan lift, keduanya masuk dan menghempaskan diri di sofa ruang tamu dengan posisi bersampingan.
"Katakan, apa yang Liam lakukan padamu." Javier memulai segala hal yang sejak tadi ingin ia tanyakan pada Elin tapi ia menahannya hanya karena posisi mereka yang masih berada di Rumah Sakit.
"Di bilang dia sudah mencariku kemana-mana."
"Untuk apa dia mencarimu lagi?"
"Dia senang aku berhasil keluar dari kasino Tuan Aro."
Javier tertawa sumbang. "Senang? Kenapa dia harus senang, bukankah dia yang menjualmu disana?" tanyanya sarkasme.
"Yah, dia sudah mendapatkan uang dari menjualku disana dan kini aku bebas jadi dia merasa bisa menjualku lagi ditempat lain."
Elin mengangguk. Matanya kembali berair. "Karena baginya, aku hanyalah barang yang bisa dia jual kesana kemari," tuturnya dengan suara berat.
"Apa kau tidak bilang jika kau sekarang bersamaku?"
"Aku terlalu takut membawa-bawa namamu dalam masalah pribadiku bersama Liam."
Elin memang tak pernah tau jika Javier dan Liam saling mengenal, tapi Javier tak suka disaat Elin ditindas oleh Liam dan gadis itu tidak mempunyai power untuk melawannya. Seandainya saja Javier ada disana ketika Liam datang, maka ia akan mengatakan bahwa kini Elin adalah miliknya. Dala. artian ia yang sudah menebus Elin dari kasino milik Aro. Tapi, bicara soal itu, apa Aro mengatakan pada Liam bahwa Javier yang menebus Elin ditempatnya?
"Apa dia tidak ada menyebut namaku atau menanyakan siapa yang menebusmu hingga kau bisa lepas dari kasino Aro?" tanya Javier akhirnya.
Elin tidak menjawab dengan suara, ia hanya menggeleng dan airmatanya kembali mengalir deras.
"Apa dia mengancammu?" tebak Javier kemudian.
Dan Elin menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan menandakan tebakan Javier benar, Liam sudah mengancamnya.
"Apa yang dia katakan padamu?"
Elin menggeleng. Masih dengan tangan yang membekap wajahnya sendiri, dia seperti enggan bertatapan dengan Javier.
"Katakan, apa yang dia katakan untuk mengancammu!" desak Javier.
__ADS_1
"Dia memintaku untuk pulang besok. Atau jika tidak, dia akan berbuat nekat untuk membahayakan nyawa ibu," jawab Elin dengan tergugu.
Mata Javier membulat sempurna, kejahatan Liam dalam mengintimidasi Elin membuatnya geram.
"Dan kau akan melakukan permintaannya? Dia akan menjualmu lagi!"Javier mendengkus sembari mengusap kasar wajahnya sendiri.
"Tentu aku tidak akan melakukannya, Kak!"
"Why?"
"Karena aku masih terikat kesepakatan denganmu!"
Javier tersenyum miring, tapi ia lebih senang Elin melawan Liam karena keberaniannya sendiri bukan karena kesepakatan mereka. Tapi ini lebih baik setidaknya Elin sudah menolak permintaan Liam.
"... dia marah saat aku menolak permintaannya, dan dia ingin memukulku tadi, tapi Carla berhasil mencegah sebelum dia melakukannya."
Javier menghela nafas lega mendengar penjelasan Elin karena jika saja Liam berani menyentuh Elin maka Javier tak segan menghabisinya malam ini juga.
"Aku akan mengurus semuanya. Mengenai Liam juga mengenai ibumu. Semuanya akan baik-baik saja."
"Apa yang kau rencanakan, Kak?"
"Kau percaya padaku, kan? Jadi, tenanglah..."
Elin menangis dengan tatapan memelas ke arah Javier.
"Aku percaya padamu, Kak. Hanya kau penopangku saat ini. Bahkan jika pada akhirnya kau mendorongku ke jurang, aku bisa apa?" jawab Elin dengan nada penuh ironi.
Baru kali ini Javier melihat Elin sangat frustrasi, sehingga keadaan itu membuatnya ingin kembali menenangkan gadis itu.
Javier menyentuh pipi Elin membuat mata gadis itu mengarah padanya.
"Kau dan ibumu akan aman, Liam tidak akan macam-macam denganmu lagi. Kau bisa mempercayai semuanya padaku dan aku tidak akan mendorongmu ke jurang. Trust me, oke?"
Elin mengangguk dalam tatapan keduanya yang saling terkunci. Gadis itu seakan terhipnotis oleh ucapan Javier hingga tidak bisa menolak segala perlakuannya.
Javier mengusap sisa-sisa airmata yang membekas di pipi Elin dengan jempolnya, kemudian tersenyum lembut didepan wajah gadis itu.
"Ibumu aman bersama Carla. Jadi jangan terlalu memikirkannya."
Elin mengangguk sekali lagi dalam keadaan yang sama, tak mampu berucap apapun disaat wajah Javier sangat dekat dengan wajahnya seperti saat ini.
"Mau obat penenang alami?"
Elin menaikkan sebelah alisnya saat Javier mengucapkan kalimat tersebut, tapi kemudian ia tau apa yang Javier maksud dengan 'obat penenang' kala bibir pria itu sudah mendarat di bibir Elin yang kenyal.
"Bibirmu terasa manis, Elin."
Sekali lagi Elin tak dapat berkata-kata, karena selanjutnya Javier membaringkannya di sofa sedang pria itu berada diatas tubuhnya.
"Bagaimana kalau kita melanjutkan hal yang tertunda pagi tadi?" bisik Javier ditelinga Elin membuat seluruh tubuh Elin dialiri rasa panas.
__ADS_1
...Bersambung ......
Dukung karya ini dengan cara like, subscribe dan tinggalkan komentar. Votenya juga dikasih ya🙏