
Kring kring …
Bell pertanda makanan siap disajikan terdengar, disusul suara seseorang yang memanggil Elin ketika gadis itu melintas.
"Elin, ini makanan untuk meja 21, tolong antarkan pesanan ini, ya."
"Oke," jawab Elin. ia mengulas senyuman meski sebenarnya ia sudah sangat lelah sekali. pekerjaan di restoran itu seakan tidak ada habisnya. Dari Elin datang sampai menuju jam pulang, ia seakan tak diberi kesempatan untuk bersikap tenang. Elin benar-benar tampak sibuk.
Elin menunjukkan loyalitas bekerjanya dan berusaha bekerja sepenuh hati. Sampai saat ini, ia juga belum mendapatkan pekerjaan sampingan lain, jadi biarlah sekarang ia bekerja semaksimal mungkin di Restoran tersebut.
Elin mengambil makanan dan meletakkannya di atas nampan. Dengan perlahan, ia mulai membawa itu menuju meja nomor 21.
Elin menyajikan makanannya dimeja tersebut, sangking lelahnya ia tak memperhatikan dengan jelas siapa tamu yang duduk di meja 21 namun saat Elin menyapa tamu itu, ia mulai sadar jika ia mengenal sosok ini.
"Selamat menikma— kau?" ucap Elin yang melotot melihat adanya Nathan disana.
Lelaki muda itu memasang wajah datar, bahkan terkesan tidak mengenali Elin. Sejatinya ia memang tidak tau bahwa itu adalah Elin dan menyadarinya saat mendengar suara sang gadis.
"Kau bekerja disini?" tanya Nathan.
"Jangan berlagak tak tau. Kau menyeramkan jika terus menjadi penguntit," sindir Elin.
"No, no. Aku tidak tau. Sungguh, aku tidak menyangka akan bertemu denganmu lagi disini. Aku memang senang makan disini sepulang sekolah," akuinya terus terang.
Elin memutar bola matanya, jengah. Ia tak percaya dan menganggap ucapan Nathan adalah buatan.
"Kalau kau tidak percaya, ya sudah. Aku tidak mempunyai kewajiban untuk membuatmu percaya," ujar Nathan.
Elin segera pergi dari hadapan Nathan, lagipula ia takut terjadi keributan disana dan berujung dengan pemecatan dirinya.
Elin mulai merasa terganggu dengan sikap Nathan yang ia rasa sengaja membuntutinya. Padahal memang sejatinya itu tidak disengaja dan hanya sebuah kebetulan tapi menurut Elin tidak ada yang namanya kebetulan. Ia tetap menganggap Nathan adalah penguntit.
"Semuanya terasa aneh karena selalu kebetulan," gerutu Elin sambil kembali menuju dapur.
"Hei, kau kenapa?" tanya Cathy.
"Uhm, tak apa."
"Semuanya baik-baik saja?"
"Yeah, all is well," dusta Elin. Ia berusaha menutupi risih dihatinya terkait soal Nathan.
"Kau akan pulang sebentar lagi, kan? Jam kerjamu akan habis di pukul 2. Ayo, bersiap-siaplah," kata Cathy memberi saran.
"Bolehkah aku bersiap sekarang?"
"Yah, tentu saja."
Elin segera berlalu dan menuju tempat berganti pakaian. Dia bersiap untuk pulang.
__ADS_1
Elin meregangkan sejenak ototnya yang terasa pegal. Ia merasa sangat lelah. Bagaimana bisa ia bekerja ditempat lainnya lagi jika di restoran ini saja tenaganya seakan terkuras habis?
Elin keluar dari area itu beberapa menit kemudian dan ia berpamitan pada Cathy, Zoya dan Pablo yang bekerja di dapur.
Elin juga menyapa para chef yang masih harus melanjutkan jam kerja mereka, karena tidak semuanya mengambil jam paruh waktu seperti Elin.
Ketika Elin sudah benar-benar keluar dari Restoran, ia kembali dikejutkan dengan Nathan yang berdiri tak jauh dari sana. Kali ini, sepertinya Nathan memang tengah menunggunya.
Elin mencoba mengabaikan saja, ia tidak suka dengan sikap Nathan yang seolah mendekatinya.
"Kau akan pulang?"
Elin memilih diam dan terus berjalan menuju halte bis terdekat.
"Sorry, harus berapa kali ku katakan aku tidak tau jika kau bekerja di restoran yang itu."
"Bisakah kau diam?" sungut Elin.
Nathan mengangkat tangannya pertanda menyerah. "Maaf jika kau tidak nyaman denganku," tuturnya penuh penyesalan.
"Ya, memang seharusnya begitu."
Nathan justru tersenyum mendengar sikap terus-terang Elin. Ia semakin tertarik dengan gadis itu.
"Apa kau mau jadi pacarku?"
"Dasar aneh. Bocah sepertimu lebih baik belajar dengan giat saja!" jawab Elin yang terang-terangan mengolok Nathan.
Nathan malah kembali tertawa. "Kau juga pasti masih bocah, lihat wajahmu itu," katanya.
Elin menyentuh pipinya. Ia pernah mendengar dari orang-orang di Kasino jika wajahnya terlihat babyface, tapi kali ini Nathan juga mengatakannya.
"Setidaknya aku lebih tua darimu," kata Elin cuek. Nathan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Mereka tiba di halte Bis dan mulai naik ke kendaraan tersebut. kali ini mereka dapat kursi di pojok belakang dan Nathan langsung menempati jok disamping Elin.
"Jadi, kau tidak bersedia menjadi pacarku?" tanya lelaki muda itu kembali.
Elin menggeleng samar, masih tak menyangka dengan sikap Nathan yang seperti ini.
"Kau pemuda asing yang tiba-tiba mengajakku berpacaran. Yang benar saja!" Ujar Elin keras.
"Baiklah, mulai sekarang aku akan berusaha agar tidak tampak asing dimatamu. Siapa tau dengan begitu kau mau menerima ajakanku untuk berpacaran."
Elin melengos, ia memilih menggunakan hansfree dan mengabaikan Nathan disana.
Sangking lelahnya, Elin tertidur didalam bis. Dan Nathan melihat hal itu. Pemuda itu tersenyum dan membiarkan Elin yang tanpa sadar mulai bersandar di bahunya.
"Kau sangat imut," gumam Nathan memuji Elin.
__ADS_1
Beberapa waktu kemudian, bis berhenti di perhentian terakhir. Hal itu akhirnya membuat Elin terbangun. Elin menyadari jika halte yang harusnya menjadi tempatnya turun sudah lewat, ia menatap sekeliling dan sadar jika Nathan juga tertidur disebelahnya. Tidak ada orang lain lagi dalam bis tersebut, hanya mereka berdua.
Bersamaan dengan itu, sopir bis mengatakan jika mereka telah tiba di perhentian terakhir dan dianjurkan untuk turun.
Elin menyenggol lengan Nathan hingga pemuda itu terbangun.
Nathan mengucek matanya dan mendapati Elin yang melotot padanya.
"Kau kenapa terus saja berada didekatku? Bahkan saat aku melewati halte yang seharusnya, kau juga ikut-ikutan tertidur, huh!"
Nathan tampak memindai sekeliling. ia sadar bahwa mereka sudah diperhatikan terakhir.
"Kau terlalu nyaman tidur dipundakku, aku tidak tega membangunkanmu. Tanpa ku sadari, akhirnya aku juga ikut tertidur," akuinya terus terang.
Elin tak percaya dengan ujaran Nathan. Ia keluar dari bis itu dan melewati tubuh tinggi Nathan begitu saja.
Saat Elin turun, ia justru menemukan sesuatu yang membuat ludahnya sulit untuk tertelan.
"Sudah cukup bermainnya, Elin. Sekarang saatnya untuk pulang!"
Ada Javier disana dengan wajah yang sangat tak bersahabat, bahkan rahang pria itu tampak mengeras.
Tak lama, Nathan juga turun dari Bis dan melihat jika disana ada seorang pria dengan setelan rapi yang berbicara pada Elin.
"Ada apa, Elin? Siapa dia?" tanya Nathan yang tak mau jika Elin mengalami masalah dengan orang lain. Ia berniat membantu Elin.
"Uhm …" Elin menatap Nathan sekilas, ia tau jika kemarahan Javier saat ini pasti ada kaitannya dengan lelaki muda ini. "Tidak ada apa-apa, dia hanya …"
"AKU CALON SUAMINYA." Javier menatap tajam pada Nathan. "Dan aku mau menjemputnya pulang saat ini juga," katanya keras.
Nathan tidak paham dengan situasi ini, tapi ia tak mungkin percaya begitu saja dengan ujaran pria yang mengaku sebagai calon suami Elin itu.
"Kak, apa-apaan!" Tak lama, Elin menyuarakan protes.
"Kita pulang, Elin. Sudahi semua ini karena aku tidak akan membiarkanmu terus."
Elin menggeleng. Ia tak mau Javier memaksanya pulang, apalagi ia melihat kemarahan yang jelas terpancar dikedua bola mata Javier.
"Aku tidak mau, Kak. Ini sudah menjadi pilihanku!"
"No, Elin. Kita akan menikah."
Javier ingin menarik tangan Elin tapi Nathan kembali bersuara.
"Jangan memaksanya!"
Javier menoleh pada Nathan dan tersenyum smirk. "Ini bukan urusanmu," katanya dingin.
...Bersambung …....
__ADS_1