SEBATAS TEMAN TIDUR

SEBATAS TEMAN TIDUR
45. Kencan (Author POV)


__ADS_3

Karena hari ini weekend, Elin berinisiatif untuk mengajak Javier jalan-jalan. Momen yang tidak pernah mereka lakukan bersama. Apakah itu perlu? Tentu saja iya, pikir Elin.


"Ayo bangun, Kak, aku mau mengajakmu berkencan seharian ini."


Javier merapatkan pelukannya kembali pada Elin, namun beberapa detik kemudian ia seperti tersentak saat menyadari keinginan gadisnya itu.


"K-kencan?"


"Iya, ayo kita berkencan layaknya pasangan lainnya."


"Aku sudah terlalu tua untuk melakukan hal itu."


Elin menepuk pelan lengan Javier. "Tapi aku belum tua. Aku mau merasakan hal itu sebelum akhirnya melepas masa lajangku dengan menikahimu," protesnya.


Javier menghela nafas pelan, yang dikatakan Elin benar dan ia tak dapat menepis hal itu. Lagipula berkencan memang tidak ada salahnya dan meskipun Javier merasa sudah terlalu tua untuk melakukan kegiatan itu, tapi tidak ada larangan untuk dia melakukannya.


"Lagipula, siapa bilang kau sudah tua. Kau belum tua, kak. Belum genap 30 tahun," tutur Elin yang tampak berpikir kemudian. "Ehm, aku tidak salah, kan? Berapa usiamu? Astaga, aku tidak tau usia calon suamiku sendiri," gerutunya sambil cekikikan.


Javier duduk dari posisi yang sebelumnya berbaring. "Kalau ku katakan aku sudah 45 tahun, apa kau percaya?" candanya.


"Tentu saja tidak!" Sahut Elin secepat kilat.


Lalu sepersekian detik berikutnya Javier mengecup dahi Elin. "Aku masih muda, masih 16 tahun, Sayang," ucapnya dengan suara yang di lebih-lebihkan.


Elin terbahak. "Kalau begitu kau masih kecil, coba panggil aku kakak," kelakarnya.


"Kak Elin …" ucap Javier dengan mengedip-ngedipkan kedua matanya.


Elin semakin terkekeh. "Ternyata kau bisa bertingkah seperti ini. Aku pikir kau tidak bisa berlaku konyol ternyata aku salah persepsi," ujarnya.


"Ya, aku melakukan ini untuk membuatmu tertawa. Apa kau terhibur?"


Elin mengangguk. "Sangat, thank you," katanya.


Javier akhirnya berdiri dan ingin segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri lebih dulu.


"Jadi berapa usiamu, kak?" tanya Elin yang belum mendapatkan jawaban pasti akan hal itu.


Javier menoleh sekilas tanpa menghentikan langkahnya.


"Aku sebenarnya kakek-kakek 70 tahun yang hari ini akan berkencan dengan gadis 19 tahun," paparnya sambil tergelak.


Elin berdecak lidah. "Perasaan dulu dia adalah pria yang sangat serius, kenapa sekarang dia menjadi konyol seperti ini?" gerutunya.


***


Javier dan Elin akhirnya sudah siap untuk momen kencan pertama mereka. Javier bahkan mau menggunakan motor Ducati nya, agar mereka lebih terlihat seperti pasangan muda yang lain.


"Apa ini caramu menolak tua?" sarkas Elin ketika ia menaiki boncengan motor milik Javier.


"Hahaha, aku memang menolak tua. Kau tau, aku ini seperti makhluk immortal yang tidak akan pernah menua," canda Javier.


Elin memutar bola matanya jengah, meski begitu ia senang sekali karena sekarang Javier bukan lagi sosok yang kaku seperti dulu. Setidaknya, pria ini mau bercanda dengannya dan itu membuat nilai tambah tersendiri untuk sosok Javier yang sudah nyaris sempurna dimata Elin.


"Apa kau seorang vampir?" Elin memilih meladeni ucapan Javier, kendati demikian ia tetap saja menahan geli saat mengatakannya.


"Huum, bisa dibilang begitu. Apa kau mau aku menghisapp darahmu?" Javier berkata sembari mulai menyalakan mesin motornya dan mereka akan segera keluar dari basement Apartmen tersebut.


"Hahaha, pembahasan macam apa ini?" Tawa Elin akhirnya meledak, bersamaan dengan motor Javier yang meluncur membelah jalan raya.


"Kita mau kemana?" pekik Javier karena suaranya teredam oleh besarnya suara motornya sendiri, juga suara riuh kendaraan yang lain.


"Aku mau makan, nonton, makan es krim dan jalan-jalan," jawab Elin yang juga memekik.


"Apakah begini resiko berkencan dengan seorang bocah?" olok Javier.

__ADS_1


"Apa kau keberatan? Apa begini konsekuensinya jika aku berkencan dengan Bapak Tua?" sarkasnya membalas ujaran Javier.


Mereka berdua tertawa dalam perjalanan karena pembahasan ini belum berakhir juga.


Sebenarnya Javier senang, karena hanya bersama Elin, ia bisa menjadi dirinya sendiri. Tak ada yang perlu dirisaukan. Tak ada yang perlu ditutup-tutupi. Javier tau jika pilihannya tidak salah lagi. Elin adalah gadis yang paling tepat untuk mendampinginya menghadapi hari-hari.


Beberapa belas menit berkendara, akhirnya motor yang dikemudikan Javier tiba disebuah pusat perbelanjaan yang paling besar di pusat kota. Rencananya mereka akan menonton di bioskop yang terdapat didalamnya.


"Aku mau nonton film itu," kata Elin menunjuk sebuah film ber-genre romantis.


"Kau yakin?"


"Apa tidak boleh?" Elin menatap Javier dengan tatap penuh harap khasnya.


"Tentu saja boleh. Apapun yang kau minta akan aku turuti," kata Javier lembut.


Tentu saja Elin langsung kegirangan, padahal ia pikir Javier akan menolak menonton film semacam itu, karena disana masih banyak genre film lain yang ditayangkan. Horor, aksi dan komedi. Elin kira Javier akan mengalihkannya ke film-film semacam itu, ternyata Javier menyetujui pilihannya begitu saja tanpa memprotes.


Setelah memesan minuman dan popcorn dalam ukuran besar, keduanya memasuki studio dan duduk bersisian satu sama lain.


Lampu ruangan mulai diredupkan dan lambat laun padam. Hanya menyisakan cahaya dari layar lebar yang akan segera memutar film yang akan mereka saksikan.


Javier menggenggam jari-jemari Elin sembari menyaksikan film yang menurut Elin akan menyenangkan. Sebenarnya Javier tidak tertarik dengan filmnya, tapi demi menjaga perasaan Elin akhirnya ia pun menontonnya juga.


"Kapan terakhir kali kau berkencan, kak?" tanya Elin disela-sela kegiatan menonton mereka.


"Ini yang pertama bagiku," jawab Javier.


Elin berdecih kemudian tertawa pelan. "Ayo jujurlah, aku ingin tau mengenai dirimu," katanya sedikit mendesak.


"I'm serious, aku tidak pernah berkencan selama 29 tahun hidupku. Aku terlalu sibuk bekerja dan ingin membuktikan pada Daddy bahwa aku layak menjadi penerusnya."


Elin menatap Javier serius, tatapan mereka bertemu dalam suasana redup tersebut. "Jangan bilang kalau kau juga tidak pernah berpacaran. Aku tidak akan mempercayai hal itu," tuturnya.


Javier mengulas senyum tipis. "Yeah, aku pernah berpacaran beberapa kali. Tapi aku tidak pernah berkencan dengan mereka," paparnya mengendikkan bahu acuh tak acuh.


"Begitulah, hingga akhirnya aku ditinggalkan. Tidak ada yang benar-benar bisa memahami kesibukanku. Dan sebelum aku memutuskan hubungan yang membosankan itu, mereka yang lebih dulu meninggalkanku," katanya disertai kekehan.


"Pasti kau patah hati berkali-kali, karena ditinggalkan, Kak," cemooh Elin.


"Tidak juga, karena sejak awal aku tidak serius dengan mereka. Mereka yang memaksaku untuk berpacaran, aku tidak pernah mengatakan menyukai mereka."


"Kau keterlaluan, Kak." Elin geleng-geleng kepala.


Javier mengangguk. "Ya, tapi itu hanya masa lalu dan sekarang aku sudah memilikimu," katanya penuh rasa syukur.


"Apakah kau juga tidak menyukaiku?" tanya Elin memastikan. "Aku tidak mau bernasib sama seperti mantan-mantanmu itu yang tidak kau anggap, tidak kau ajak berkencan, sampai mereka lelah dan akhirnya pergi meninggalkanmu," sarkasnya.


Javier tertawa. "Aku akan mengatakan menyukaimu setiap hari, selalu menganggapmu milikku, juga mengajakmu berkencan sampai kau sendiri yang bosan, dan akhirnya kau tidak akan pernah berniat meninggalkanku," katanya.


"Apakah aku beruntung?" Elin menatap Javier dengan senyuman yang dikulumm.


"Yeah, kau mendapatkan semua dariku. Bahkan aku menggadaikan perasaanku padamu, jadi—"


"Jadi?" sela Elin.


"Jadi … jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku lagi dan selamanya."


***


Selesai menonton, Javier dan Elin menyusuri mall untuk melihat barang-barang keluaran terbaru.


"Berbelanja lah, selama ini semua kebutuhanmu selalu dibelikan oleh Carla. Aku tau kau pasti punya keinginan untuk memilih keinginanmu sendiri," kata Javier didepan fashion store yang memajang banyak pakaian wanita.


Elin mengernyit. "Tapi aku tidak memerlukannya, aku sudah punya banyak, kan?" protesnya.

__ADS_1


"Ya, seperti yang ku bilang tadi. Semua yang ada disana bukanlah pilihanmu sendiri, jadi saat ini aku memberimu kesempatan untuk memilih apa yang kau sukai."


Elin pun melihat-lihat sekitar. Pandangannya jatuh kepada gaun berwarna peach yang di pajang pada sebuah manekin. Sepertinya gaun itu dikeluarkan oleh brand terkenal ataupun dirancang oleh desainer ternama. Entahlah, yang jelas gaunnya sangat menarik perhatian Elin.


Elin mendekati manekin tersebut dan memegang bahan kain yang digunakan untuk gaunnya, itu terasa sangat halus dan dingin. Gaun ini pasti sangat nyaman digunakan. Elin melirik bandrol harganya dan seketika itu juga matanya membola melihat jejeran angka yang terdapat disana.


"Apakah hanya sepotong gaun harus diberi harga semahal ini?" batin Elin. Dia memang norak, meski ia tau kualitas bahan tersebut sangat bagus, tapi jiwa diri yang terbiasa susah selalu menolak harga yang fantastis dan terasa tak masuk akal seperti itu.


"Apa kau menyukainya? Kau boleh membelinya jika kau mau."


Mendengar ujaran Javier, Elin lekas-lekas menggelengkan kepala.


"Kenapa?"


"Itu mahal sekali," kata Elin berbisik ditelinga Javier.


Hampir saja Javier meledakkan tawanya.


"Jadi kau tidak mau?"


"Mau, tapi itu mahal. Aku tidak memiliki uang sebanyak itu, itu melebihi harga daging impor, juga melebihi gajiku satu bulan di restorant yang pernah menjadi tempatku bekerja."


Sekali lagi, Javier menahan geli.


"Kau ingat aku pernah memberimu kartu?" tanya Javier akhirnya.


"Kartu? Yang berwarna hitam itu?" Elin memastikan.


Javier memang pernah memberi Elin kartu kredit yang tidak pernah Elin gunakan sama sekali untuk kebutuhannya sendiri. Elin hanya menggunakan itu untuk membelanjakan kebutuhan makanan mereka dan memenuhi isi kulkas di Apartmen Javier.


Bahkan, setelah Elin kabur dari kediaman Javier waktu itupun, ia tidak pernah ingat lagi soal kartunya, padahal ia bisa menggunakannya untuk memenuhi kebutuhannya saat dia kehabisan uang ketika menghabiskan sebagian uangnya hanya untuk menyewa satu unit rumah dilingkungan kumuh.


"Hm, yang itu. Memangnya kenapa dengan kartu itu?"


"Kau masih menyimpannya, kan?"


Elin mengangguk.


"Kallau kau mau gaun ini, kau bisa membelinya dengan kartu itu."


"Benarkah? Apa limid di kartunya akan cukup?" tanya Elin polos.


Javier mengacak rambut Elin. "Itu unlimited, kau tau artinya kan?" ujarnya.


Mata Elin langsung membulat sempurna, ia tidak menyangka jika selama ini Javier memberikannya akses kartu yang tidak memiliki batas dan bisa digunakan untuk apapun yang ingin ia beli. Padahal waktu itu Javier belum mengatakan memiliki perasaan padanya, tapi sepercaya itukah Javier, hingga memberinya kartu semacam itu?


Tepukan pelan yang Javier lakukan dipundak Elin, seolah menyadarkan gadis itu dari lamunannya.


"Ayo, aku ingin melihatmu berbelanja dan menggunakan kartu itu."


Dan Elin masih bergeming ditempatnya seolah mencerna ucapan Javier barusan.


"Tapi, Kak…"


"Sudahlah, Elin. Jangan berpikir terlalu lama. Kau bahkan bisa meminta apapun dariku."


Elin meneguk ludahnya sendiri dengan cepat, apa begini rasanya berpacaran dengan seorang billionare?


"Apa kau sekaya itu, kak?" Akhirnya Elin bertanya setelah ia benar-benar membeli gaun yang tadi ia sukai.


Javier mengendikkan bahu acuh tak acuh. "Kau meragukanku?" tanyanya.


"Aku cuma takut lepas kendali dan membuatmu bangkrut karena jumlah belanjaanku yang sangat banyak."


"Astaga Elin …" Javier akhirnya tertawa juga setelah sejak tadi dia menahan hal itu. "Aku tidak akan bangkrut jika kau hanya membeli satu gaun itu. Sekarang apa lagi? Aku jadi benar-benar mau kau membelanjakan banyak barang disini," sambungnya.

__ADS_1


...Bersambung…...


__ADS_2