
Disisi lain, setelah perbuatan jahat yang mereka lakukan 2 tahun yang lalu, Irina dan Liam justru hidup tanpa rasa berdosa.
Meninggalkan Elin ditempat penjualan budak yang jauh dari tempat tinggal mereka--membuat kedua orang itu tidak pernah memikirkannya lagi. Irina dan Liam seakan lupa dengan apa yang telah mereka perbuat.
Kehancuran Javier waktu itu mereka anggap sebagai pencapaian terbesar dan mencoba mengubur apa yang telah terjadi, seolah tak pernah melakukan sebuah tindak kejahatan.
Keduanya hidup seperti biasa. Irina dengan dunia bisnisnya yang bergerak di bidang parfum dan Liam kembali menjadi pria yang tidak pernah puas di meja judi.
Tentu saja Liam masih selalu menyukai Irina. Dia tidak pernah menghabiskan malam bersama wanita lainnya setelah dia mendapatkan Irina sepenuhnya waktu itu.
Hanya saja, akhir-akhir ini Irina sangat sulit dihubungi. Padahal, sejak mereka bersekongkol untuk menghancurkan Javier dan menyiksa hidup Elin, Irina tidak pernah menolak ajakan Liam--meski awalnya Liam harus menjebak Irina lebih dulu agar mendapatkan tubuhnya, tapi lama kelamaan Irina juga menikmati permainan mereka, setidaknya begitulah yang Liam kira.
Malam ini, Liam kalah berjudi. Dia bahkan sudah kehilangan rumah peninggalan orangtuanya pada tahun lalu--karena telah menjaminkan surat tanah dan bangunan itu untuk modalnya bersenang-senang.
Mungkin karena keadaan Liam yang juga sudah tak punya apa-apa membuat Irina menjauhi dan menghindarinya, lagipula Irina sudah tak membutuhkannya lagi setelah semua tujuannya tercapai.
Mungkin saja.
Jika Irina begitu, Liam tentu sebaliknya. Sekarang Liam bukan hanya menyukai Irina saja, tetapi dia juga membutuhkan perempuan itu untuk mencapai pelepasannya. Liam hanya menginginkan Irina sebagai partner se ks nya. Ibarat candu yang harus dia dapatkan.
"Kau kemana Irina?" gerutu Liam saat panggilannya ke nomor Irina selalu dialihkan. Sudah nyaris 2 bulan ini dia tidak bertemu Irina sama sekali.
Terakhir, mereka menghabiskan malam panas di sebuah hotel 4 bulan yang lalu. Setelah itu, pertemuan mereka terjadi beberapa kali. Tidak seintens dulu. Juga tidak ada pergumulan di tempat tidur lagi.
"Sepertinya kau mulai menghindariku, ya?" Liam berbicara sendiri, seolah Irina ada didepannya.
Tak lama, pria itu terkekeh sumbang, seringaian tipis muncul disudut bibirnya.
"Tidak semudah itu, kau tidak akan ku lepaskan, Irina," tekad Liam.
Liam bangkit dari tempatnya sekarang, yang mana tadinya dia sedang menikmati minuman keras di sebuah club' malam yang berada tepat disebelah tempatnya berjudi.
Liam tidak terlalu mabuk, ia masih cukup sadar untuk mengendarai mobil menuju ke Apartmen Irina.
Sebenarnya bukan hanya malam ini Liam mencari Irina disana, tentu dia sudah datang berulang kali ke tempat itu, namun tak pernah menemukan Irina.
Kali ini, Liam ingin kembali mencari perempuan itu disana. Siapa tau Liam akan menemukannya.
Dan sepertinya ini adalah malam keberuntungan Liam, dia melihat mobil Irina terparkir di basement Apartmen.
"Kau tidak bisa menghindar dariku, Sayang," gumam Liam.
Liam akan menghukum Irina karena berani berniat mencampakkannya. Meski tidak ada kesepakatan yang jelas tentang hubungan diantara mereka, tapi Liam selalu menganggap Irina sebagai kekasihnya.
__ADS_1
Apalagi yang terjadi pada mereka bukan hanya sekedar one night stand. Mereka sudah melakukannya berkali-kali, bahkan Liam tau Irina juga menyukai permainannya, pun dia yang sudah ketergantungan dengan perempuan itu.
Liam menekan password apartemen Irina yang dia hafal luar kepala, tapi ternyata kode itu sudah diganti.
"Sh i t!" Liam mengumpat, meski begitu dia sangat yakin jika Irina ada didalam Apartmennya.
Liam menekan bel namun tidak ada tanda-tanda jika Irina akan membukakan pintu untuknya.
"Si a lan! Sepertinya kau mau bermain-main denganku, Irina."
Liam mendengkus, kemudian berfikir cepat. Dia akan berlagak pergi dari tempat itu dan akan menunggu Irina di mobilnya saja.
Nanti jika Irina pergi, perempuan itu pasti akan menuju letak mobilnya di basement dan disaat itulah Liam akan menyergap Irina.
...****...
Satu jam lamanya Liam menunggu didalam mobilnya, dia sudah mau menyerah dan pergi meninggalkan tempat pengap itu, namun ternyata dia dikejutkan oleh sepasang sejoli yang tampak berjalan ke arah mobil Irina dengan gelagat yang sangat mesra.
Tentu Liam sangat mengenali pemilik tubuh itu. Itu adalah Irina dan sosok pria disebelahnya--yang tidak Liam kenali.
Irina tampak tersenyum sembari sesekali menatap pada sang pria dan si pria melingkari tangannya di pinggang Irina sambil berjalan berdampingan.
Melihat pemandangan itu, membuat hati Liam panas. Dia segera keluar mobil dan menghadang pasangan itu.
"Jadi ini ulahmu di belakangku!"
"Kau siapa?" Pria yang bersama Irina bertanya.
Liam menyeringai. Tidak berniat menjawab, dia langsung meninju pria itu dengan tangan kanannya, membuat Irina langsung kaget dan memekik histeris.
"Jonas!!!!" Irina mau melindungi pria itu, yang membuat Liam semakin geram.
"Aku mencarimu selama 2 bulan ini dan kau bersama pria lain!" marah Liam menunjuk wajah Irina yang memegangi lengan pria bernama Jonas yang baru saja dipukul Liam.
"Kau ini apa-apaan Liam? Bahkan tidak ada hubungan diantara kita!" tukas Irina menohok perasaan Liam.
"Jadi hubungan kita selama 2 tahun ini, kau anggap apa?" bentak Liam yang kalap karena jawaban Irina.
"Just have fun, Liam. Berhentilah mengejarku karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah menyukaimu!"
Sekali lagi Liam terperangah mendengar kata-kata Irina yang menyakitkan. Dia yang berekspektasi terlalu tinggi bahwa selama ini Irina mulai menyukainya. Irina mulai tertarik dan tergantung padanya. Nyatanya, perempuan itu hanya memanfaatkannya disaat dia membutuhkan bantuan Liam karena tak dapat menyusun serta menjalankan rencana sendirian.
Liam kembali menarik kerah baju Jonas, ingin memukulinya bertubi-tubi secara membabi-buta, sayang sekali pergerakannya kali ini sudah dapat dibaca oleh Jonas sehingga pria itu mampu melawan.
__ADS_1
Irina histeris melihat kedua pria itu saling memukul dihadapannya.
"Berhenti! Stop! Aku bilang berhenti!" pekik Irina sambil terisak.
Liam cukup babak belur karena balasan pukulan yang dilakukan Jonas, tapi Irina tidak mempedulikannya sama sekali. Perempuan itu justru memeluk Jonas yang tampak terengah-engah setelah dapat membalas Liam dengan tinjunya.
"Pergilah dari kehidupanku, Liam. Lupakan aku. Kau pasti bisa melakukannya seperti aku yang sudah melupakan Javier. Bagiku, tak ada hubungan diantara kita. Anggap semua yang terjadi adalah effort karena keberhasilan rencana kita dimasa lalu."
"Irina ..." lirih Liam. Ia tak menyangka perempuan ini begitu kejam mematahkan hatinya.
"Apa kau pikir aku mau dengan pria pecundang sepertimu! Kau seperti parasit yang lama kelamaan bisa menghancurkan ku dan kehidupanku. Kau bahkan tidak masuk dalam list pria yang ku inginkan," ucap Irina sembari menarik tangan Jonas menjauh dari tempat itu.
Pecundang. Ya, sepertinya julukan itu cocok untuknya, pikir Liam yang akhirnya hanya bisa terdiam melihat kepergian Irina bersama Jonas.
Pria bernama Jonas itu menyempatkan untuk menoleh sejenak pada Liam dan menunjukkan senyum miringnya yang seakan mengejek Liam disana.
Tentu saja itu semakin menyulut kemurkaan Liam.
"Baiklah, Irina. Karena kau sudah mengatakan aku sebagai pecundang. Ada baiknya aku membuktikan padamu bagaimana kelakuan pecundang yang sesungguhnya."
Liam takkan pernah lupa jika Irina juga mengatakan dirinya seperti parasit, padahal tidak sekalipun Liam pernah memanfaatkan keuangan Irina untuk kepentingan dirinya sendiri. Dia memang penjudi, tapi dia berjudi dari uang dan harta yang memang miliknya. Meski kini dia tak punya apapun lagi, tak sekalipun dia berniat menjadikan Irina sebagai sumber uangnya, dia hanya membutuhkan perempuan itu untuk kebutuhannya dan lebih daripada itu, dia benar-benar mencintai Irina.
...***...
Setelah malam itu, Liam kembali menghabiskan malam-malam berikutnya dengan mabuk-mabukan di club'. Sampai seseorang asing yang tidak dikenalnya datang menghampiri pria itu.
"Siapa kau?" tanya Liam dengan sempoyongan.
Pria yang berdiri tepat dihadapan Liam segera membuka masker dan topi yang ia kenakan.
Untuk sejenak, Liam sedikit tertegun dengan sosok yang kini ada dihadapannya. Sampai seseorang itu berbicara pada Liam untuk mengatakan tujuannya.
"Aku memberimu opsi, yang pertama kau ingin ku tembak tepat di kepala atau yang kedua aku memutuskan urat lehermu."
Liam tertawa sumbang. Dia menepuk pundak pria yang kini duduk disampingnya. "Hahaha, Javier. Sudah cukup lama kita tidak bertemu," katanya basa-basi dengan suara khas mabuk.
"Yah, tapi aku tidak suka berbasa-basi," ungkap Javier membuat wajah Liam pias seketika.
Seperti yang Javier katakan tempo hari. Dia yang akan menghabisi Liam dengan tangannya sendiri.
"Kau tau, Irina yang memintaku melakukan semuanya," oceh Liam yang sudah mabuk.
Javier tersenyum smirk, sia-sia saja dia mengajak bicara seorang pemabuk. Tidak akan ada gunanya dan hanya membuang-buang waktunya.
__ADS_1
Javier berdiri, berjalan meninggalkan Liam disana sembari menjentikkan jari. Seketika itu juga, orang-orang Javier langsung membawa tubuh Liam untuk beranjak meninggalkan Club' malam itu.
...Bersambung ......