
Setelah mengantarkan Cassie ke Mansion keluarga, Javier memilih langsung kembali ke Rumah Sakit.
Sesampainya disana, ia hanya melihat Elin dan Carla, tanpa adanya Jack.
Javier tidak langsung menyapa Elin, ia hanya duduk di kursi kosong yang berada tepat disebelah kiri Elin.
Melihat itu, Carla langsung menjauh setelah sebelumnya menunduk hormat pada pria itu.
Elin juga sudah melihat kehadiran Javier, namun ia mengabaikannya seolah pria itu tidak ada disana. Elin enggan menyapa Javier lebih dulu karena ia masih kesal pada pria itu.
"Ku dengar Bibi Arbei drop lagi?" Javier memulai pembicaraan tanpa menoleh pada Elin disebelahnya.
"Hmmm," respon Elin dengan lesu.
"Apa kau akan menginap disini malam ini?"
"Ya, sepertinya begitu. Aku tidak bisa meninggalkan ibuku."
"Baiklah," ujar Javier. Pria itu bangkit tanpa mencegah keinginan Elin meski sebenarnya ia belum tau bisa terlelap tanpa Elin atau tidak malam ini. Javier tak mau egois, bagaimanapun Arbei juga membutuhkan Elin disana.
Lagipula, Javier juga masih kesal atas kedekatan Elin dan Jack didepan mata kepalanya sendiri. Untuk hal itu pula, Javier tidak mau menghalangi Elin Meksi sebenarnya ia mau memperjelas mengenai hubungan Elin dan asistennya--malam ini juga.
"Aku pulang ke Apartmen. Kabari aku perkembangan kesehatan ibumu," kata Javier berlagak tak acuh.
Elin hanya mengangguk atas ujaran yang Javier berikan. Ia juga tak berniat melarang apapun yang ingin pria itu lakukan karena Elin tau itu bukan hak nya.
Mereka berdua selayaknya sedang perang dingin. Javier dengan kecemburuan yang tak disadarinya, pun Elin karena kekesalannya akibat melihat Javier bersama perempuan lain.
Javier hampir meninggalkan koridor ruang tunggu tersebut, ketika Elin menyuarakan rasa penasarannya.
"Apa malam ini kau akan ditemani oleh perempuan tadi?"
Pertanyaan Elin berhasil membuat langkah Javier terhenti, namun dia tidak menoleh ke belakang untuk menatap pada Elin disana.
Disaat itulah, Elin kembali tersadar bahwa pertanyaannya melewati ranah pribadi Javier.
"Uhm, maaf ... aku tau ini bukan urusanku, jadi lupakan saja," kata gadis itu kemudian.
Javier masih tercenung ditempatnya. Lagi-lagi tuduhan Cassie yang mengatakan bahwa ada cinta dan cemburu dimatanya membuat ia berpikir keras. Ditambah lagi pertanyaan Elin yang sepertinya sedang mencurigai hubungannya dengan Cassie.
__ADS_1
"Ini memang bukan urusanmu, tapi jika kau sangat ingin mengetahuinya maka aku akan menjawabnya," kata Javier.
Elin tersentak akan ujaran dingin pria itu, sampai akhirnya ia harus merasa sakit ketika Javier melanjutkan kalimatnya.
"Ya, malam ini aku akan bermalam dengan Cassie," lanjut Javier membuat hati Elin seperti di remass kuat.
Javier tidak mau hanya dirinya yang merasakan kesal karena melihat Elin bersama Jack, sehingga ia membuat kebohongan itu agar Elin juga merasakan apa yang ia rasakan. Padahal tanpa Javier tau, sejak awal Elin memang sudah kesal padanya hingga membawa-bawa Jack untuk membalas kelakukan Javier.
Elin tak mampu berkata-kata lagi sekarang, ia hanya bisa menatap punggung Javier yang perlahan berjalan menjauh.
Elin merasa hatinya sangat sakit, karena pada akhirnya ia tau bahwa Javier menjadikannya seperti cadangan disaat pria itu membutuhkan.
"Dia hanya memilihku disaat kekasihnya tidak ada. Sekarang dia melupakanku dan tidak membutuhkan aku karena kekasihnya sudah disini," batin Elin merasa sangat sakit.
...***...
Kondisi kesehatan Arbei menurun drastis, padahal beberapa hari lalu dia sudah mulai membaik dan perkembangannya pun mulai stabil. Tim kesehatan juga sudah mulai membicarakan untuk memindahkan Arbei ke ruang perawatan biasa.
Hal ini tentu membuat Elin sangat terkejut saat dokter kembali mengatakan bahwa ibunya berada dalam kondisi kritis.
Semalaman, Elin tidak bisa tidur. Meski ia tak diizinkan masuk ke ICU untuk melihat dokter yang memberi tindakan pada sang ibu, tapi tetap saja pikiran Elin tertuju pada wanita yang melahirkannya itu.
Elin tidak tau kenapa ibunya seperti ini, ia mau ibunya kembali memiliki semangat untuk sembuh. Apalagi Elin tidak memiliki siapapun lagi kecuali ibunya sendiri.
Seluruh tulang Elin rasanya melunak, ia tidak sanggup berdiri saat mendengar berita kematian ibunya. Kakinya lunglai bak jelly yang tidak bisa ditegakkan.
"Ms. Elin? Kau baik-baik saja?" tanya Carla.
Elin tak merespon, tatapannya tampak menerawang dan kosong.
"Ms. Elin!!!" pekik Carla, untungnya wanita tomboi itu sigap memegang tubuh Elin yang mendadak ambruk hampir mencapai lantai dingin Rumah Sakit.
Saat itu juga, Elin langsung dibawa ke ruang perawatan karena tak sadarkan diri.
...***...
Javier datang ke rumah sakit dengan terburu-buru. Suara langkah kakinya seakan memenuhi lorong yang sunyi itu.
Javier tiba disana saat waktu masih sangat dini, ia mendengar kabar bahwa Arbei telah tiada juga kabar mengenai Elin yang pingsan.
__ADS_1
"Dimana dia?" tanya Javier saat melihat Carla berdiri didepan ruang perawatan.
Carla tau yang Javier maksud adalah Elin, sehingga wanita itu segera menunjuk pada ruangan dibelakangnya.
"Ms, Elin ada didalam, Sir."
Javier gegas menekan handle pintu dan masuk ke ruangan dimana Elin berada.
Saat Javier masuk, tatapan Elin juga langsung tertuju pada pria itu.
"Elin?"
"Kak?"
Suara mereka nyaris bersamaan. Javier langsung duduk di pinggiran bed hospital yang ditempati Elin kemudian tanpa ba-bi-bu ia merengkuh tubuh kurus gadis itu.
"Ibuku sudah tiada, Kak!" Elin terisak dalam pelukan Javier. Pria itu mengangguk dalam posisinya sembari mengelus punggung Elin yang bergetar.
"Aku tidak memiliki siapapun lagi, Kak!" tatap Elin kemudian.
Javier menggeleng, ia melerai pelukannya sedikit kemudian menangkup wajah Elin dengan kedua jemarinya sembari menatap lekat ke dalam netra gadis itu.
"Listen to me, jangan berkata begitu, kau masih memiliki aku," kata Javier yang berusaha menenangkan sang gadis.
Elin tidak menyahut, ia justru merespon ucapan Javier dengan tangisan yang lebih kencang. Javier kembali memeluk Elin dengan erat. Ia juga terkejut sekaligus terpukul dengan berita kematian Arbei.
"Apa kau tetap mau disini terus?" tanya Javier kemudian. Javier mendengar dari Carla bahwa Elin tidak mau melihat jenazah ibunya karena merasa tidak sanggup.
"Aku tidak bisa, Kak!"
"Jadi kau benar-benar akan tetap disini? Apa kau tidak mau melihat ibumu untuk yang terakhir kali?"
Elin menggeleng, ia kembali menangis dengan histeris.
"Pergilah, Elin. Lihat dan berilah penghormatan terakhir untuk mendiang ibumu. Kau akan menyesal jika tidak melakukannya," kata Javier mengingatkan.
Elin terdiam, ia membuang pandangan ke arah jendela ruang yang menampakkan pemandangan kota Hamburg. Pikiran dan perasaannya terasa berkecamuk.
"Ayo, aku akan menemanimu," ajak Javier lagi. Ia berusaha membujuk gadis itu namun Elin masih tak bergeming sedikitpun.
__ADS_1
...Bersambung ......
Dukung karya ini dengan cara like, subscribe dan tinggalkan komentar. Votenya juga dikasih ya🙏