
Hampir 25 menit berlalu, akhirnya aku mendengar seseorang mengetuk pintu kamarku. Buru-buru aku menyahut sembari mengusap jejak airmata yang mengering di pipiku.
Saat aku membuka pintu, ku lihat Sharen disana.
"Ada apa, Kak?"
"Aro ... ehm, maksudku Tuan Aro memanggilmu."
"Baiklah, aku akan menemuinya. Aku akan membasuh wajahku dulu, sebentar."
Sharen mengangguk. Tangannya terulur dan menepuk-nepuk pundak ku.
"Kau harus kuat, Elin. Terkadang ada hal yang mau tak mau harus kau jalani meski itu bertolak-belakang dengan kehendakmu." Dia menatapku dengan senyuman sendu dan kalimat yang menguatkan.
"Thank you, tapi aku tetap ingin menentang hal yang bertolak-belakang itu."
"Aku tau kau tidak akan menyerah. Berusahalah sampai kau menemukan titik terang, tapi istirahatlah jika kau lelah."
Aku memeluk tubuh Sharen sejenak, karena aku membutuhkan kekuatan lebih sebelum benar-benar menemui Tuan Aro lalu menerima hukumanku.
Saat aku turun ke lantai 3, tepatnya ke ruangan khusus milik Tuan Aro. Aku hanya bisa menundukkan kepala dalam-dalam saat menatap sorot matanya yang tidak bersahabat.
"Kau! Kenapa kau bekerja malam ini?" tanya pria itu setelah beberapa saat hening merajai.
Aku justru heran mendengar pertanyaannya itu. "Bukannya cutiku tidak berlaku, oleh karena itu aku mengikuti Kak Gwen yang memintaku bekerja di lantai 3," tuturku terus terang.
"Gwen?" Suara Tuan Aro terdengar keras, aku dapat melihat tangannya mengepal disana.
Tuan Aro mendengkus keras, sampai akhirnya dia kembali mengeluarkan suaranya lagi.
"Berkemaslah, Elin."
Aku mengangkat wajahku dan menatap pria jangkung itu lamat-lamat. "Apa aku dikeluarkan? Aku bebas dari sini?" tanyaku dengan perasaan membuncah.
Tuan Aro menyunggingkan senyum miring. "Ya, kau keluar dari sini tapi ... kau mendapat pekerjaan baru karena kesalahanmu malam ini. Anggap ini hukuman untukmu," katanya.
"A-apa?" tanyaku tergagap. Apa aku akan ditempatkan ditempat lain yang justru lebih parah dari gedung perjudian milik Tuan Aro? Jika ya, maka lebih baik aku mengakhiri hidupku saja ketimbang aku harus menerima hukuman yang akan membuatku menjadi gadis hina seumur hidupku.
"Kemas barang-barangmu dan didepan sudah ada yang menunggumu."
"Aku tidak mau!" sergahku.
Tuan Aro malah tertawa sumbang. "Apa kau pikir pendapatmu akan diperhitungkan disini? Jangan banyak protes, Elin! Menurutlah, karena kau sudah ku jual dengan uang yang sangat banyak! Tinggalkan tempatku secepatnya, karena kau hanya ku beri waktu 20 menit untuk berkemas."
__ADS_1
Berapa kali aku harus menangis dalam sehari? Apa kesalahanku sampai se-fatal ini? Sehingga aku kembali harus diperjual-belikan pada orang lain yang tidak ku kenal?
"Aku ... tidak ... mau." Ku tekankan kata-kata itu namun Tuan Aro justru menjentikkan jarinya agar kedua orang bodyguard yang selalu setia mendampinginya bergerak untuk mengeluarkanku dari ruangannya.
"Ayo, Nona! Kau harus segera pergi!" usir mereka kompak.
Aku menatap nanar pada Tuan Aro, berharap dia berbelas kasih untuk menarik semua kata-katanya yang sudah menyuarakan soal menjualku pada pihak lain.
Aku terisak dengan kuat, lirih dan menyesakkan. Aku benar-benar dijadikan semacam barang yang bisa diperjualbelikan dan di pindahkan kesana dan kesini.
Berpikir cepat, aku kembali merencanakan untuk kabur saat aku keluar dari gedung ini nanti. Dengan tekad itu maka ku kemas semua barang-barangku. Barang yang dibawakan Liam saat pertama dia mengantarku kesini. Aku baru menyadarinya saat tiba di kamar yang ku tempati dan semua itu sudah diletakkan disana.
"Aku tidak akan diam. Aku akan berusaha untuk kabur!"
...***...
Begitu aku keluar dari pintu besar yang letaknya di sisi belakang gedung, aku hendak berlari sekencang-kencangnya demi meraih gerbang yang ada disana.
Sayangnya, lagi-lagi itu tak semudah perkiraanku. Dua orang pria berjas hitam dengan tampang tegas menungguku didekat gerbang. Mereka seperti ajudan. Ku pikir merekalah yang dikatakan tuan Aro--mereka yang ditugaskan menungguku.
"Nona Medeline? Ayo, sebelah sini!" Mereka mengiringku pada sebuah mobil hitam berkilat yang terparkir.
Dengan gelagat gugup, aku menggeleng untuk menolak tawaran mereka.
Aku kembali menggeleng dengan kekeras-kepalaanku. Meski sebenarnya aku tau usaha kaburku akan sia-sia, mengingat mereka berdua dan aku hanya sendirian. Belum lagi hari sudah sangat larut saat kejadian ini berlangsung.
Aku ingin mengelabui mereka.
"Aku ... mau ke toilet," ujarku. Aku tau alasan ini sangat klise, tapi aku tidak memiliki kalimat lain yang bisa ku jadikan sebagai bahan untuk mengelabui keduanya.
"Baiklah, kami antar ke toilet yang ada di luar gedung," kata salah satu dari mereka. Pria itu merujuk pada bagian belakang gedung kasino milik Tuan Aro, disana memang terlihat sebuah tulisan yang menyatakan bahwa ada sebuah toilet kecil disana.
Aku mengangguk saja. Mereka mengikutiku kembali masuk ke area gedung lalu sepertinya mau menungguku didepan pintunya.
"Aku risih jika ditunggui. Kalian bisa menunggu di dalam mobil saja. Atau didepan gerbang. Aku tak mungkin kabur," kataku polos.
Mereka mengangguk. Tak ku sangka akan segampang ini mengelabui keduanya. Mereka berjalan ke arah mobil saat aku baru saja memasuki toilet tersebut. Aku dapat tau karena sebenarnya aku mengintip sedikit dibalik dindingnya.
Didalam toilet, aku berpikir lagi bagaimana caranya agar aku bisa lari dari pengawasan mereka. Tapi sampai beberapa menit berlalu aku tidak mendapatkan ide untuk bisa ku realisasikan.
Aku keluar dari area toilet, dan syukurnya kedua bodyguard itu sudah tidak ada disana.
"Mereka benar-benar menungguku di gerbang?" Aku bermonolog.
__ADS_1
Hatiku sedikit tenang karena ini. Aku akan lari lewat pintu samping, pikirku.
Namun, begitu pergerakanku hampir mencapai ke tujuanku itu, tiba-tiba aku merasa tubuhku terangkat. Aku dipanggul bagai sekarung beras.
"Lepaskan aku! Aku mau pulang!" Aku marah dan berteriak. Aku memukuli punggung orang yang membopong tubuhku diatas bahunya.
Orang itu diam saja, terus berjalan membawaku. Aku tak dapat melihat wajahnya dari posisiku sekarang tapi aroma aftershave yang ia kenakan membuat mataku membola karena mengingatkanku akan seseorang.
"Tolong, jangan paksa aku!" mohonku.
"Kau bilang mau pulang? Mau pulang kemana? Ke rumah Kakak yang sudah menjualmu itu?"
Suara serak ini ... jadi benar jika dia adalah orang yang sempat ku ingat saat tak sengaja menghirup aromanya tadi.
"T-Tuan Gladwin?"
Bersamaan dengan saat aku berucap demikian, tubuhku terasa diturunkan dari gendongan. Lalu, aku sedikit didorong masuk ke dalam sebuah mobil.
Kini, aku sudah terduduk di kabin belakang, tepatnya disebelah pria yang tadi ku tebak dan ku sebut namanya.
"Tuan?" Aku menyorotnya dengan tatapan penuh tanya.
"Mulai sekarang kau akan ikut denganku," ucap Tuan Gladwin, dingin seperti biasanya.
Aku menghela nafas panjang. Kemudian tertawa miris. "Jadi, kau yang membeliku, Tuan?" tanyaku sarkasme.
Tuan Gladwin mengendikkan bahunya acuh tak acuh.
"Aku bukan membelimu, aku menebusmu dari kasino milik Aro."
Aku semakin tertawa sumbang sekarang. "Ternyata aku salah menilaimu, Tuan. Ku pikir hanya kau yang menganggapku manusia, ternyata kau juga sama. Menganggapku sebatas barang yang bisa dilelang juga diperjual-belikan."
Aku tak dapat menahan kekesalanku lagi, hingga aku meluapkannya pada Tuan Gladwin yang tidak merespon tuduhanku.
Pria itu malah membuang pandangannya ke arah luar jendela mobil, kemudian memberi titah pada salah seorang yang duduk di balik kemudi.
"Jalan, Will!"
Ya, dia mengabaikan segala kalimat yang ku lontarkan kepadanya. Aku jadi merasa semakin tidak beruntung. Dan pikiranku sekarang justru sudah kemana-mana.
Apa yang akan dilakukan Tuan Gladwin padaku? Apa dia akan mempekerjakanku juga? Ditempat semacam apa? Pasti dia akan menempatkan ku di tempat yang bisa membuat uangnya cepat kembali. Bukankah tadi Tuan Aro bilang jika aku sudah dijual dengan uang yang sangat banyak? Ternyata aku dijadikan barang untuk bisnis mereka.
Tanganku mengepal kuat membayangkan hal-hal apa yang akan ku jalani kedepannya dibawah titah sang Tuan Penguasa yang bahkan Tuan Aro saja nampak tunduk padanya.
__ADS_1
...Bersambung .......